
Tiga penculik bayaran was-was ketika merasakan harimau makin dekat. Dan ketika harimau bergerak, ketiga orang itu berlari ke arah pria berseragam sekitar dua langkah, menunduk kemudian berbelok ke samping.
Paula dan satu rekannya berbelok kiri. Sementara supir palsu belok kanan. Gerakan tiba-tiba membuat para pria berseragam hitam yang panik langsung menembakkan timah panas, saat ketiga penculik bayaran berlari ke arah mereka. Tapi karena ketiganya segera menunduk dan berbelok, maka timah panas itu mengenai harimau yang ada di belakang.
Harimau yang terkena tembakan mengubah targetnya. Yang tadinya ingin memangsa buruan terdekat jadi memilih buruan yang menyerangnya. Kesempatan itu digunakan tiga penculik bayaran untuk kabur.
Tembakan bertubi-tubi tidak membuatnya roboh. Harimau bahkan berhasil membunuh salah satu dari mereka. Dan mau tidak mau satu bahan peledak pun dilontarkan. Agar pertarungan tidak berkepanjangan. Serta mengurangi korban luka-luka akibat serangan harimau itu. Harimau hancur berkeping-keping.
Panthera Tigris yang melihat kejadian itu mulai menerka-nerka persenjataan musuhnya. Dari mana benda itu dikeluarkan. Dan apa saja yang menjadi senjata mereka. Serta kemampuan tiap senjata.
"Jika adu senjata, maka senjataku sudah pasti kalah," gumam Panthera Tigris.
Tapi kemudian ia ingat tentang berburu. Bahwa senjata tidak selalu menjadi faktor keberhasilan. Tapi juga tehnik berburu.
"Jika berburu, aku tidak perduli hewan buruanku mati atau hidup. Tapi mereka ini bukan hewan buruan. Apa aku harus membunuh mereka?" Lagi-lagi Panthera Tigris berpikir.
"Tidak-tidak boleh. Aku tidak boleh membunuh mereka. Para bayi itu, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Pasti ini karena tidak mendapatkan nasehat baik dari orang dewasa." Suami Oryza Sativa masih dilema.
Sementara satu pria berseragam memandang kawan satu timnya yang tergigit harimau di bagian pangkal paha. Lukanya cukup parah tapi belum membuatnya kehilangan nyawa.
"Bagaimana ini, lukanya cukup parah?" tanya pria itu pada teman-temannya.
"Peraturan tetap peraturan yang menjadi penghambat tidak boleh ikut menjalankan misi. Jadi biarkan dia beristirahat!" seru pria tegap yang tampaknya paling disegani.
Para pria berseragam saling pandang lalu mengangguk dan bersiap untuk berangkat. Tapi satu dari mereka masih berjongkok di dekat pria yang terluka itu.
__ADS_1
"Jangan, aku masih bisa bergerak. Aku masih bisa me_"
Ucapannya pria yang terluka parah itu terhenti saat urat nadi dilehernya putus dan mengalirkan cairan kental berwarna merah. Pria yang tadi berjongkok di sampingnya kembali menyimpan sebilah senjata tajam yang baru saja ia gunakan.
Akhirnya para pria berseragam yang diikuti oleh Panthera Tigris secara diam-diam melanjutkan perjalanan. Lalu mereka tiba-tiba berhenti berjalan saat melihat kelompok wanita dan para bayi yang sedang mengungsi.
"Kenapa mereka berhenti?" tanya Panthera Tigris memicingkan matanya.
Panthera Tigris pun meneliti situasi dan menyadari kalau para pria berseragam hitam sedang mengamati penduduk asli. Dan ia terkejut saat melihat salah satu dari mereka mengeluarkan benda hitam. Benda yang diketahui oleh Panthera Tigris sebagai benda penghancur.
"Kita ledakkan saja mereka semua," ujar salah satu dari para pria berseragam yang tersisa.
Semua mengangguk. Setelah memastikan kalau Cresen tidak ada di antara mereka. Saat ia mencoba melempar bahan peledak itu, tanpa sepengetahuannya, sebuah anak panah melesat. Lalu mengenai tangan yang memegang bahan peledak tersebut.
Para penduduk pulau menoleh ke arah ledakan. Mereka yang sudah melihat secara langsung akibat dari ledakan ketakutan. Para bayi menangis. Dan mereka pun berlari lebih cepat ke tempat pengungsian.
Panthera Tigris sempat terkejut dengan tindakannya. Karena tanpa sengaja ia telah membunuh manusia. Rasa bersalah membuatnya kehilangan keseimbangannya. Dan terjatuh.
Saat terjatuh ia mendengar suara orang-orang berteriak ketakutan. Mereka mengira kalau para pria berseragam hitam ada di sekitar mereka. Sebab mereka tidak tahu kalau pria-pria itu telah tewas di tempat persembunyiannya.
Tanpa menghiraukan rasa sakitnya, suami Oryza Sativa itu segera bangkit dan mendatangi kelompok pengungsi. Para pria yang mengawal para pengungsi wanita hampir saja melukai Panthera Tigris dengan panah.
Dengan gesit suami Kepala Suku itu berkilah. Lalu berseru, dan membuat para penduduk pulau yang menangis terdiam. Saat Panthera Tigris muncul di hadapan mereka, rasa lega pun menghampiri para pengungsi.
Mereka berlutut, tapi segera dicegah oleh Panthera Tigris. Dan melihat kalau istrinya tidak ada bersama mereka. Ia juga melihat kalau jumlah penduduk tidak sebanyak yang ia ketahui.
__ADS_1
"Di mana istriku? Dan ke mana yang lainnya?" tanya Panthera Tigris.
Cenayang maju ke depan dan menarik tengkuk Panthera Tigris lalu menempelkan jidad mereka. Dengan cepat info**rmasi berbagi dari memory seorang cenayang ke suami Kepala Suku tersebut.
"Aku tidak menyangka mereka sekejam itu," katanya geram.
"Tuan, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan. Hutan-hutan mulai berbahaya. Asap api ada di mana-mana dan mengurangi jarak pandang. Senjata para bayi dari dunia lain sangat ajaib. Kita tidak bisa menandinginya saat alam baik-baik saja. Apa lagi setelah kebakaran di mana-mana," kata Cenayang.
"Baiklah kalau begitu. Tapi aku akan mencari istriku dahulu. Lalu kami akan segera menyusul!" ujar Panthera Tigris.
Mereka pun berpisah. Rasa bersalah telah membunuh pria berseragam hitam telah sirna. Dan ia menjadi sangat geram. Secepatnya ia mencoba kemampuannya untuk melacak keberadaan sang istri.
Menggunakan ikatan batin yang telah terjalain sejak pertama kali terjadi penyatuan di antara mereka berdua. Ia memusatkan pikirannya. Dan membuat Oryza Sativa mendapatkan signal keberadaan suaminya.
"Panthera Leo sedang terluka dan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Saat ini aku sedang menolongnya dengan kemampuanku. Tapi tidak cukup membantu!" ujar Oryza Sativa.
Lalu ia memerintahkan burung raja wali untuk membawa mereka ke tempat Panthera Tigris berada. Tapi saat pesawat musuh yang sedang berperang dengan pesawat tim kakek Cresen melihatnya, mereka memberikan tembakan ke arah Oryza Sativa.
Pesawat dari tim pihak kakek mencoba menghalangi. Dan Oryza Sativa berhasil menjauh meskipun sayap burung raja wali sempat terkena tembakan dan membuat gerakannya menjadi sedikit oleng. Sehingga hampir membuat Oryza Sativa dan Cresen hampir terjatuh.
"Gawat... kami harus segera turun. Putraku sudah tidak sadarkan diri dan mereka masih mengejar kami."
Dengan segera Oryza Sativa mengarahkan burung raja wali untuk terbang lebih rendah dan memasuki hutan. Cukup kesulitan terbang mengunakan kecepatan yang sama saat di atas hutan. Jadi mau tidak mau kecepatan terbang burung raja wali pun berkurang.
Oryza Sativa kesulitan berkonsentrasi mempertahankan kondisi Cresen agar tidak memburuk. Sebab serangan masih mengarah pada mereka. Sehingga Cresen yang tadinya tenang kini mulai kejang.
__ADS_1