
"Kalau tidak percaya, ikutlah denganku. Jika aku berbohong, tembak saja mereka semua. Atau jika kalian ingin memakannya hidup-hidup juga boleh." Dengan wajah serius ia berkata pada Cresen.
Sekilas anggota tim pencari Cresen melirik pada pria yang tadi mengeluarkan selembar foto. Tapi kemudian melihat ke arah Cresen dan sekitarnya.
"Setuju!" seru Cresen.
"Kalian ikat mereka semua. Dan pastikan tidak akan ada yang bisa kabur. Juga jangan perlalukan mereka seperti bayi. Kalau perlu, perlakukan mereka seperti buruan!" Cresen memperingati penduduk pulau.
Akhirnya Cresen memutuskan untuk pergi ke tepi pantai. Mengandalkan kompas, anggota tim pencari membawa mereka ke tepi pantai. Tempat lokasi pesawat kakek Cresen berada.
Agar lebih cepat tiba di pantai, pria itu dibawa dengan keranjang oleh penduduk pulau. Sedangkan Cresen berada dalam keranjang yang dibawa Kepala Suku. Setelah tiba barulah mereka keluar dari keranjang.
"Mana? Di mana kakekku? Dasar pembohong!" teriak Cresen saat tiba di hutan dekat tepi pantai.
Ia melihat dari celah pagar. Namun tidak seorang pun berada di tepi pantai.
"Aku tidak bohong, izinkan aku mendekat dan memberi isyarat pada mereka. Karena mereka ada di dalam air," ujar pria berseragam.
Cresen berpikir sejenak sambil menatap tajam pada pria berseragam tersebut. Lalu lagi-lagi ia menyuruh seseorang untuk mengikat pria itu lebih kuat.
"Nanti dia bisa mati," ujar penduduk pulau.
Mereka tidak tega memperlakukan pria berseragam itu dengan kasar. Tapi saat Cresen melototinya penduduk pulau langsung mengencangkan ikatannya.
"Sekarang pergi ke tepi pantai dan panggil kakekku keluar!" perintah Cresen pada pria berseragam.
"Kalau aku diikat seperti ini, bagaimana Aku bisa bicara pada mereka. Sebab Aku hanya bisa berbicara dalam kode-kode. Jadi tanganku harus bebas," ujar pria berseragam.
Cresen mendengus kesal, akhirnya menyuruh penduduk pulau untuk melepas ikatan pada bagian tangan orang itu. Tapi ikatan pada kaki orang itu diperbayak.
"Bagaimana aku bisa berjalan seperti ini," keluh pria berseragam itu lagi.
Cresen menempelkan telapak tangan kiri di keningnya.
"Mau pergi dan memanggil kakekku atau aku keluarkan isi kepalamu?" Cresen mengancam sambil menodongkan senjata api rampasannya.
"Oh, baiklah, aku rasa aku bisa berjalan," kata pria itu.
Ia pun berjalan seperti pingiun. Keluar dari pagar kayu. Dan cukup memakan waktu untuk tiba di tepi pantai agar bisa terlihat jelas dari pesawat. Sementara Cresen dan lainnya memperhatikan gerak-gerik pria itu dari celah pagar.
"Lihat, ada seseorang di tepi pantai yang baru saja keluar dari dinding kayu pulau itu!" seru seseorang di dalam pesawat.
Kakek Cresen yang ketiduran pun terbangun.
__ADS_1
"Aneh, di mana tim yang lain? Kenapa hanya ada dia sendiri," gumam orang itu lagi.
Sambil membaca kode-kode yang dibuat oleh pria di tepi pantai.
"Tuan, dia bilang tuan Cresen sudah di temukan!" serunya.
"Bagus, ayo kita keluar!" perintah kakek.
"Tunggu. Dia sedang terikat. Dan itu artinya ada yang mengawasinya. Berbahaya jika kita keluar sekarang."
Pria di tepi pantai masih terus mengulang kode yang sama. Dan tidak ada reaksi apapun.
"Kenapa tidak ada yang keluar? Apa tidak ada lagi pesawat di sana? Apa kami ditinggalkan di pulau ini begitu saja?" batin pria itu.
Sementara penduduk pulau yang mengawasi bingung melihat pria berseragam itu.
"Kenapa dia menari? Sedang apa dia sebenarnya?" tanya mereka pada Cresen.
Cresen mulai bosan akhirnya memutuskan untuk keluar. Penduduk pulau mengikuti langkahnya.
"Lihat, ada manusia raksasa di pulau itu!" seru pilot pesawat.
Kakek Cresen memandang ke layar monitor. Hanya ada manusia kecil di antara penduduk asli pulau. Dan orang itu menodongkan senjata pada pria berseragam.
"Keluar kalian! Atau pria ini akan mati!" teriak Cresen.
Lalu pria itu menunjuk gerakan baru. Yang mengatakan kalau, Cresen kini bersamanya.
"Dia bilang kalau yang berbadan kecil itu adalah Cresen? Kenapa hitam sekali?" ujar si pilot.
"Ayo cepat keluar. Dia cucuku atau bukan. Aku ingin melihatnya secara langsung!" ujar kakek Cresen bersiap keluar.
Pesawat mereka akhirnya muncul di laut. Dan pria berseragam di tepi pantai bernapas lega.
"Lihat! Itu pesawatnya!" seru pria itu.
Pesawat tersebut mendekat. Namun ada jarak tertentu pesawat itu bisa menepi. Selanjutnya mereka yang masih ada di pesawat keluar. Dan menggunakan perahu karet untuk ke tepi pantai.
"Paus itu mengeluarkan manusia!" seru penduduk pulau.
"Semuanya waspada. Persiapkan senjata kalian!" ujar Cresen.
Penduduk pulau yang tercengang melihat pesawat itu pun kembali mengarahkan perhatian pada Cresen. Kebingungan namun melakukan seperti apa yang Cresen ucapkan.
__ADS_1
"Apakah mereka manusia dari duniamu? Apa para bayi di sana harus ditakuti?" tanya Oryza Sativa.
"Ya, mereka sangat jahat. Jadi jangan percaya pada siapapun. Bahkan padaku juga sekalipun," ujar Cresen.
Maka para penduduk pulau bersiaga.
Perahu karet sudah dekat dan Cresen akhirnya melihat kakeknya turun dari perahu karet. Mata Cresen menatap tidak percaya. Senjata api di tangannya pun diturunkan.
"Kakek," gumamnya hampir tidak terdengar.
Tanpa komando kedua kaki Cresen melangkah hendak menyambut kakeknya. Tapi ia malah ditangkap oleh Oryza Sativa. Lalu menaruh Cresen dalam keranjang.
"Oryza Sativa, lepaskan aku!" teriak Cresen.
"Tenanglah, aku akan melindungimu. Jadi diamlah di dalam," kata Oryza Sativa.
Para penduduk pulau ikut melakukan hal yang sama. Membentengi Cresen. Panthera Tigris maju ke depan dengan senjatanya. Penduduk pulau yang lain juga ikut angkat senjata. Melihat hal itu kakek Cresen dan pilot pesawat mundur. Sang pilot mengangkat senjatanya, berpikir untuk melindungi kakek.
Dengan segera Cresen keluar dan melompat dari keranjangnya. Segera ia berlari ke depan dan mengangkat tangan. Mencoba menghentikan terjadinya aksi saling melukai.
"Tahan. Ini aku. Cresen!" teriaknya.
Kakek Cresen sangat mengenal suara cucunya. Selain kulitnya yang hitam, perawakan Cresen tidak berubah sedikitpun. Ia maju ke depan. Untuk melihat lebih jelas.
Sementara Panthera Tigris yang melihat Cresen berdiri di depan, segera mengangkatnya dan memasukkannya kembali ke dalam keranjang. Sebelum yang lain melakukan hal yang sama. Kakek Cresen melihat hal itu menjadi kebingungan.
"Jangan keluar. Bukankah mereka bayi jahat? Nanti kamu terluka!" seru Panthera Tigris.
Cresen terdiam. Tapi kemudian ia mengerti, kalau karena ucapannyalah yang sudah membuat penduduk pulau salah paham.
"Bukan, dia itu kakekku! Dia bukan orang jahat!" kata Cresen.
Panthera Tigris dan lainnya menurunkan senjatanya. Saat mendengar kalau Cresen mengatakan bahwa dua orang di depan sana bukan orang jahat. Begitu juga dengan yang lainnya. Melihat hal itu kakek Cresen menekan senjata api di tangan sang pilot ke bawah.
"Ada Cresen di sana. Bagaimana kalau ia terluka," ujarnya.
Sementara pria yang diikat kesulitan melepaskan diri. Karena lilitannya sangat banyak. Dan terjatuh di pasir saat membuka ikatan di kakinya. Sehingga Cresen dan lainnya menoleh padanya.
"Bisakah aku dilepaskan sekarang?" tanyanya.
"Lepaskan dia!" seru Cresen pada salah satu penduduk pulau.
Lalu berjalan menuju kakeknya. Kakek Cresen menunggu di tempatnya. Tapi kemudian ia juga berjalan meninggalkan sang pilot. Langkah kaki mereka berdua makin cepat dan akhirnya mereka berlari dengan kecepatan mereka masing-masing. Hingga akhirnya mereka berpelukan.
__ADS_1
"Kakek aku merindukanmu!" ujar Cresen hampir menangis karena bahagia.
"Kakek juga! Kakek sangat merindukanmu! Untunglah kamu baik-baik saja!" balas kakek berseru penuh haru.