
Tapi anak itu tidak mengindahkannya. Ia justru dengan asik mengumpulkan kepiting-kepiting yang bahkan tidak bisa diam di istana pasirnya. Dan membuat tempat itu hancur.
"Hei, jangan lari...!" teriaknya pada para kepiting.
Ia pun mendadak merasa heran sebab hari tiba-tiba gelap. Dan ternyata gelombang air yang besar datang. Oryza Sativa merasa ia tidak cukup waktu untuk mengejar anak itu. Maka dengan kekuatannya ia menahan air tersebut sehingga air itu tampak seperti tidak bisa mengalir menuju pulau karena ada lapisan yang melindungi tempat tersebut.
Corazòn hanya diam terpana melihat air itu tidak bergerak. Sampai Panthera Tigris datang dan membawanya menjauh dari tempat itu. Kepala Suku merasa lega. Ia perlahan mengurangi kekuatannya. Air mulai bergerak lagi.
Oryza Sativa mengatur agar air itu bergerak perlahan menuju laut. Dan mencoba membuat gelombangnya lebih tenang. Agar pulau itu aman dari hantaman gelombang. Tapi hal itu justru membuat masalah di daratan lain. Dan tsunami menjadi lebih tinggi di daerah itu. Bahkan beberapa pulau terdekat, tenggelam seutuhnya.
Oryza Sativa menurunkan jarak terbang burung raja wali dan mendarat. Lalu putra dan suaminya ikut naik bersama menuju perkampungan. Seluruh penduduk telah berkumpul di tengah lapangan. Dan merasa lega sebab Kepala Suku dan yang lainnya baik-baik saja.
"Kepala Suku, apakah anda yang menghentikan gelombang besar tadi?" tanya Cenayang khawatir.
Oryza Sativa hanya tersenyum dan tidak lama ia pun kehilangan keseimbangannya.
"Istriku!"
"Mama!"
Panthera Tigris dan Corazòn menangkap tubuh Oryza Sativa yang tidak berdaya. Wanita itu mengeluarkan banyak tenaga melebihi batasnya. Dan akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Beberapa hari berlalu, wanita itu belum juga membuka matanya. Dan hanya berbaring di rumah. Semua orang berduka dan membicarakannya. Dari perbincangan mereka Corazòn menangkap informasi kalau mamanya sakit adalah akibat ulahnya.
Untuk menebus kesalahannya ia berpikir harus melakukan sesuatu. Yaitu mencari seorang dokter dan membawanya ke pulau. Di tengah malam, secara diam-diam Corazòn menyelinap ke luar. Melakukan hal yang sama seperti dilakukan Cresen saat melarikan diri. Tetapi dengan tujuan yang berbeda.
Dengan kekuatannya ia mampu merubuhkan sebatang kayu lalu mendorongnya ke laut. Menjadikan benda itu sebagai perahunya. Ia cukup kesulitan untuk menggunakan kayu itu sebagai perahu dan sebatang ranting sebagai kayuhnya. Akhirnya ia memutuskan berenang dengan memegangi kayu tersebut.
__ADS_1
Semua berjalan dengan lancar sampai akhirnya ia menyentuh lapisan pelindung. Cenayang terbangun dan merasakan hal tersebut. Ia mengira gangguan berasal dari luar. Sehingga ia mengerahkan kekuatannya untuk mempertebal lapisan pelindung itu.
Arus pusaran air semakin kencang. Dan Corazòn merasa kesulitan untuk keluar dari area tersebut. Hingga ia merasa kesal dan kekuatannya muncul tanpa ia sadari. Lapisan pelindung hilang untuk sesaat dan Corazòn berhasil keluar.
Saat Corazòn keluar dari seluruh lapisan pelindung, Panthera Tigris tiba-tiba terbangun. Lalu terkejut melihat tempat putranya tadi berbaring sudah kosong. Ia segera bangkit berdiri dan melihat kamar Corazòn namun anak itu tidak dia temukan di sana.
"Corazòn..." gumamnya.
Segera ia melihat ke arah pintu. Dan ternyata pintu itu sedikit terbuka. Panthera keluar dan mencoba mencari Corazòn tanpa membuat keributan. Sangkanya anak itu sedang buang air kecil. Tapi setelah ia lelah mencari, ia pun tidak bisa tinggal diam dan memanggil nama kedua putranya.
"Panthera Leo...! Corazòn...!" teriaknya dengan membuat corong dengan kedua telapak tangannya.
Panthera Tigris terus berteriak sampai seluruh penduduk akhirnya terbangun. Dan mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Cenayang segera keluar dari rumahnya. Lalu menemui Panthera Tigris dan mengajaknya ke pantai.
"Aku merasakan firasat buruk. Ayo kita segera ke pantai!" ajaknya.
Saat tiba di pantai, Cenayang dan Panthera Tigris melihat pagar yang sudah tumbang dan satu batang pohon telah dilepaskan.
"Apa ada binatang buas yang berasal dari laut dan menangkap putraku?" tanya Panthera Tigris pada Cenayang dengan suara yang bergetar.
"Tidak, tapi salah satu dari putramu yang berpikir untuk pergi," jawab Cenayang.
Panthera Tigris mencoba mengirim sinyal pada putranya. Untuk mencari tahu keberadaannya. Tapi tidak ada apa pun yang ia dapatkan.
"Putramu sudah melewati lapisan pelindung. Ia kini berada di dunia lain," tutur Cenayang.
"Kalau begitu aku harus mengejarnya," ujar suami Oryza Sativa berlari ke air. Tapi Cenayang menahannya.
__ADS_1
"Tunggu, Tuan tidak bisa pergi begitu saja. Di luar sana berbahaya."
"Jika di luar sana berbahaya, maka aku harus segera cepat menemukan bayiku!" katanya kalap. Cenayang melepas genggamannya.
"Tolong jaga istriku. Aku akan membawa putraku pulang."
Pantheta Tigris segera berenang secepat mungkin dengan mengandalkan instingnya. Berenang ke arah berlawanan dengan lokasi pulau. Sementara Corazòn kini melihat sebuah kapal besar. Benda itu berhasil menjauh dari pusaran air yang tiba-tiba muncul di laut dan tiba-tiba menghilang.
Sebab saat Corazòn membuka lapisan pelindung, sesaat kapal besar itu melintas ke kawasan lindungan Cenayang. Tapi ketika Corazòn keluar wilayah tersebut, maka pusaran air muncul kembali. Dan hampir saja menenggelamkan kapal tersebut.
Corazòn mengikuti kapal tersebut. Berharap bisa bertemu dengan dokter yang ada di dalam ingatan Cresen. Dan akhirnya perahu itu berhenti di sebuah pulau. Orang-orang turun satu persatu.
Corazòn naik melihat mereka dari dalam air. Dengan posisi hanya kepala yang muncul di permukaan air. Lalu ia memutuskan untuk mampir ke daratan. Dan hari sudah petang di tempat itu. Matahari mulai terbenam. Corazòn kelelahan dan akhirnya rubuh di tepi pantai.
Seseorang menemukan tubuh Cresen tergeletak di pasir dan membawanya ke suatu tempat. Pakaian Cresen yang aneh membuat orang itu mengira kalau ia adalah bagian dari pemain sirkus yang baru saja turun dari kapal sore tadi.
"Dia bukan anggota kami," kata ketua tim sirkus.
"Jadi siapa anak ini?" tanya orang yang menemukan anak itu.
"Kami tidak tahu. Dan sebaiknya bawa ia ke rumah sakit. Tubuhnya sangat dingin. Aku khawatir kalau ia tidak akan bisa bertahan sampai matahari terbit besok."
Orang itu pun membawa Cresen ke satu-satunya rumah sakit di pulau itu. Di sana Cresen segera mendapatkan perawatan dengan baik. Dan ia tidak bangun sampai matahari pagi menyambutnya.
"Putraku... kamu sudah bangun? Apa kamu merasa sakit? Katakan... di bagian mana yang sakit?" tanya seorang wanita pada Cresen.
"Anda siapa? Ini di mana? Dan kenapa aku bisa ada di sini?"
__ADS_1
"Ini mama, Nak! Apa kamu sudah tidak mengenal mama?" tanya wanita itu menangis.