
Mendengar Cresen kesal pada para bayi, Panthera Tigris akhirnya berbalik badan.
"Sudah..., jangan marah. Ayo buat lagi," bujuknya pada Cresen.
"Kami juga mau!" teriak para bayi lagi dan kali ini mereka memunggungi Cresen.
Cresen berdiri.
"Hah, tidak ada gunanya." Cresen bergumam menutup matanya dengan telapak tangan untuk menenangkan diri.
"Apa tidak mau dilanjutkan lagi?" tanya Panthera Tigris.
Cresen menggeleng lalu meninggalkan papa angkatnya dan para bayi. Para bayi akhirnya bermain dengan sisa bahan yang dipakai oleh Cresen.
"Susahnya mengajarkan mereka membaca. Bagaimana nanti kalau mereka kesasar di kota? Padahal aku ingin mengajak mereka juga," batin Cresen.
Sementara itu di lautan, kabar keberadaan dari pesawat lain masuk ke layar monitor.
"Lihat! Ada balasan dari pesawat lain!"
"Benarkah?!" tanya yang lain terperanjat dan segera melompat turun dari kursinya.
"Bagus! Kita bisa melakukan serangan segera ke pulau itu!"
"Tapi ... ini aneh! Jumlah pesawat yang mengirim tanda posisi keberadaan mereka lebih banyak dari yang seharusnya."
"Mungkin itu pengaruh signal yang buruk. Sehingga terlihat banyak. Saat satu pesawat mengirim pesan, lalu berpindah. Maka tanda di tempat semula masih tertinggal walau pesawat yang tadi mengirim pesan kedua, di tempat berbeda," kata salah satu dari mereka.
Semua diam dan saling memikirkan perkataan salah satu anggota tim tersebut, dan akhirnya mengangguk.
"Hm, sepertinya mungkin juga," jawab mereka.
"Ya sudah, ayo kirim pesan pada yang lain agar kita keluar dari pesawat. Dan hanya satu orang tinggal untuk menjaga pesawat masing-masing," kata si Ketua.
"Lalu satu lagi, jangan ada pesawat yang keluar dari air. Agar jangan mengundang perhatian musuh," lanjutnya.
Semua orang mengangguk dan bersiap-siap. Kali ini kakek Cresen yang mendengarkan angkat bicara.
"Aku juga ikut!" serunya.
__ADS_1
"Tapi, Tuan!" Ketua tim kaget mendengar ucapan kakek Cresen yang tiba-tiba.
"Jangan khawatir. Aku pasti bisa jaga diri," katanya.
Ia mulai tidak bisa menahan diri untuk bertemu dengan cucunya. Tapi meski ia bersikeras untuk ikut, Ketua tim tetap menolak permintaan si kakek. Dan berjanji akan membawa Cresen bagaimana pun caranya. Dengan begitu si kakek akhirnya menyerah dan menyetujui untuk tetap tinggal di pesawat.
Maka para anggota yang dipimpin oleh setiap ketua tim mereka masing-masing bergerak menuju pulau. Dari arah yang berbeda-beda. Dan setiap tim menemui masalah yang berbeda-beda pula.
"Astaga! Pulau ini benar-benar luar biasa. Mulai dari tumbuhan sampai makhluk hidup lainnya. Semua berukuran besar!" Memanjat ke atas pohon menghindari beberapa buaya di bawah.
"Kamu benar, bagaimana sekarang? Senjata tidak bisa melukai mereka!" Ikut memanjat setinggi mungkin sampai buaya yang ada di bawah tidak bisa menjangkau.
"Tidak ada jalan lain, kita hanya bisa kabur. Mungkin mereka sengaja disebar di hutan agar kita tidak bisa mendekati gedung tempat tuan Cresen disekap." Sambil terus bergerak menuju puncak pohon dan melihat situasi menggunakan teropong.
"Aku tidak melihat tanda-tanda adanya gedung di sini!" Sambil menyerahkan teropong pada anggota lainnya.
"Apa karena hutannya terlalu rindang?"
"Lihat buaya itu masih menunggu di bawah!" Cemas dan mulai berpikir untuk turun.
"Sepertinya kita hanya bisa berpindah dari pohon ke pohon. Ayo bergerak!"
"Apa mungkin mereka menyimpan tuan Cresen di sana? Hebat sekali jika mereka membuat markas dari sebuah gunung batu!" Berseru sambil turun ke tanah.
Buaya-buaya itu tidak bisa menemukan mereka dan kini mereka semua mendarat turun dari atas pohon. Lalu berjalan menuju gunung batu. Mereka menemukan sebuah gua dengan mulut gua yang cukup luas dan memilih masuk.
"Hati-hati, tempat ini terlihat sepi. Sepertinya ini memang markasnya." Sambil berbisik pada rekannya.
Satu orang membuat kode dan yang lainnya mengikuti intruksi tersebut. Mereka masuk perlahan-lahan.
"Lihat, di sana ada banyak lorong!" seru seseorang setengah berbisik.
"Kecilkan suaramu!"
Mereka melihat ke seluruh arah untuk memastikan tidak ada serangan. Lalu membagi anggota menjadi dua kelompok, dan memasuki lorong-lorong tersebut.
Semakin masuk ke dalam, maka semakin gelaplah di sana. Mereka memutuskan untuk menyalakan sebuah senter. Terus berjalan masuk. Lorong itu berkelok dan ketika melewati kelokan akhirnya mereka melihat ada beberapa orang yang sedang duduk di ujung lorong.
Senter pun di arahkan ke orang-orang tersebut. Dan tampaknya mereka tidak menyadari ada yang datang. Mereka masih duduk di tempatnya masing-masing.
__ADS_1
"Jumlah mereka cukup banyak, dan ukuran mereka cukup besar! Apa yang harus kita lakukan?" tanya seseorang berbisik.
"Sebaiknya kita pergi. Karena sepertinya mereka itu sedang beristirahat. Dan tidak ada apa-apa di sini. Lorong ini sudah berakhir di tempat mereka semua berkumpul."
Senter pun di matikan lalu mereka berbalik dan menuju ke luar. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika ada beberapa orang yang masuk ke lorong itu. Dengan membawa sebuah obor setiap orang di tangan kanan.
"Gawat, kita ketahuan!" Mereka bersiap mengambil ancang-ancang, saat pandangan mata orang-orang yang membawa obor, dan mereka saling beradu.
Sementara yang baru datang juga ikut terkejut melihat orang-orang di dalam lorong tersebut.
"Siapa kalian?!" seru salah satu dari mereka dengan suara kuat.
"Mereka bilang apa?" tanya salah satu anggota tim pencari pada yang lain.
"Tidak tahu, apa mereka penjaga? Pakaian mereka aneh!"
"Tidak usah perdulikan! Ayo sekarang kabur! Selagi mereka belum siap!"
"Tunggu, kita jangan kabur. Lebih baik kita menyerah. Dengan begitu kita akan dibawa ke tempat tuan Cresen berada," jawab yang lain.
Ketiganya setuju dan mengangguk. Tanpa melakukan apa-apa mereka menunggu orang-orang yang membawa obor mendekat.
"Siapa kalian?" tanya orang-orang berbadan besar itu lagi.
Kini jarak mereka sudah sangat dekat. Para anggota tim pencari Cresen bisa melihat wajah orang-orang besar itu. Tampak seperti manusia purba. Dan mereka ternyata menggendong sesuatu di belakang mereka.
"Sudahlah. Ayo kita bawa mereka. Kini kita hanya bertiga di pulau ini. Jika ada mereka, bukankah jumlah kita jadi bertambah."
"Ya benar, sepertinya mereka juga kehilangan orang tua mereka. Kita bisa mengasuh mereka seperti anak sendiri," ujar yang lain.
"Kalian bertiga, tunggulah di sini. Kami akan mengantar jasad ini dulu. Lalu kita bisa keluar bersama," kata mereka yang bertubuh besar.
Ketiganya memasuki lorong dan melewati ketiga anggota tim pencari. Membuat para anggota tim pencari kebingungan. Mereka mengikuti para pria yang bertubuh besar dengan pandangan mereka.
Lalu melihat kalau mereka meletakkan seseorang yang mereka bawa ke ujung lorong. Di sandingkan dengan yang sudah ada di sana sejak lama. Dan mereka semua itu tidak bergerak sedikit pun.
"Jadi mereka itu mumi?" gumam salah satu anggota tim pencari saat menyadari sesuatu.
Bersambung...
__ADS_1