
Keduanya pun saling melepas perasaan senang dan haru mereka. Dan setelah merasa kalau emosi mereka sudah cukup tenang, akhirnya mereka berbagi kisah. Tapi masing-masing menyimpan kenangan paling pahit yang mereka alami.
Sementara Aves dan mamanya saling berbagi cerita. Cresen justru hanya bisa diam menunggui papanya sadar. Dan akhirnya tertidur.
Kakek Cresen hanya bisa menatapnya dari luar ruangan. Ada rasa senang bisa melihat cucunya lagi. Tapi ia juga penasaran kenapa cucunya bisa berada di pulau itu.
"Sebaiknya, Aku segera mengutus seseorang untuk memeriksa keadaan di sekitar pulau tersebut. Aku ingin tahu apakah penyebab kehadiran Cresen dan papa angkatnya di Pulau ini adalah bagian dari akibat tsunami. Yang terjadi beberapa hari yang lalu!" batin Kakek.
Segera ia menghubungi nomor kontak Musa Paradisiaca dan beberapa detik kemudian panggilannya diterima. Dan Kakek menyuruhnya untuk datang ke sebuah ruangan khusus. Sebab ada hal yang ingin ia bicarakan.
"Apakah ada hal yang bisa, Saya lakukan, Tuan?" tanya Musa Paradisiaca. Setelah tiba di sebuah ruangan.
"Ya, Aku memanggilmu karena ada hal penting. Yaitu untuk mengunjungi lokasi dari pulau tempat Oryza Sativa berada. Aka merasa khawatir, kalau-kalau telah terjadi sesuatu pada daerah tersebut. Maka segeralah periksa lokasi itu bersama anggota yang pernah ikut ke pulau itu!" perintah Kakek.
Musa paradisiaca pun tidak membuang waktu dan segera bersiap. Dan bergerak menuju lokasi tersebut.
Di saat yang sama Oryza Sativa terbangun dari tidurnya yang cukup lama. Ia segera duduk lalu mengedarkan pandangannya, ke sekeliling ruangan tempat ia berbaring. Ada beberapa orang di sana, namun ia tidak melihat adanya keberadaan sang suami dan putranya.
"Di mana putraku? Di mana Panthera Leo dan Corazòn? Di mana suamiku?" tanya Kepala Suku. Sambil mencari dengan pandangan matanya.
"Aku harus segera menemui mereka!" seru Oryza Sativa sambil bangkit dari tempat tidur. Sebab tidak seorang pun yang ada di ruangan itu menjawabnya.
Tapi Cenayang menahannya. "Tunggu!" katanya.
"Kepala Suku jangan banyak bergerak dulu. Sebab, Anda baru saja terbangun."
Tapi Oryza Sativa merasa sudah cukup sehat untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Jadi ia tetap berdiri untuk mencari suami dan anak-anaknya. Lagi-lagi Cenayang berjalan lebih cepat dan mendahuluinya. Merentangkan kedua tangannya.
"Apa yang, Cenayang lakukan? Apa telah terjadi sesuatu pada putra-putraku dan suamiku?" tanya Oryza Sativa penuh selidik.
Seketika ia ingat akan tindakan Cenayang yang hampir saja membakar putranya. Maka dengan cepat ia menarik bahu Cenayang, dan menggeser tubuh wanita itu dari hadapannya.
__ADS_1
Ia segera membuka pintu dan menuruni anak tangga lalu memanggil kedua putranya. Selanjutnya ia mengambil obor yang terpasang di sudut luar rumah. Dan memanggil-manggil suami dan putranya.
Orang-orang berkumpul. Senang melihat Oryza Sativa dan kemudian merasa sedih bercampur di benak mereka. Senang karena akhirnya Oryza Sativa bangun, tapi sedih karena orang yang dicari oleh Oryza Sativa tidak ada di pulau itu.
Oryza Sativa menghampiri salah satu dari mereka lalu bertanya, "Apa, Kamu tahu di mana putraku? Di mana suamiku?"
Ia pun bertanya sekali lagi, sambil mengguncang tubuh salah satu penduduk. Ketika pertanyaannya tidak mendapatkan sebuah jawaban. Ia mulai kesal.
"Ayo jawab! Kenapa kalian diam saja?" tanya Kepala Suku kesal.
Lalu Putri cenayang maju dan mengatakan yang sebenarnya telah terjadi. Bahwa Cresen dan panthera Tigris telah pergi meninggalkan pulau. Pada saat Oryza Sativa tidak sadarkan diri.
"Hah, apa katamu?" tanya Oryza Sativa memastikan pendengarannya.
Putri kepala suku menundukkan kepalanya. Dan Oryza Sativa melepas genggamannya dari lengan salah satu penduduk. Lalu berjalan mundur sambil meneriaki nama suami dan anak-anaknya. Ia tidak percaya pada jawaban yang ia dengar.
Pada akhirnya cenayang datang menghampirinya, dan mengatakan hal yang sama. Oryza Sativa tampak menjadi lebih murung dan kemudian menangis. Karena ia khawatir, bahwa apa yang ia lihat dalam mimpinya telah menjadi nyata.
"Bagaimana, Kamu bisa berkata seperti itu? Putraku Pantera Leo sangat lemah. Aku tidak bisa diam saja. Aku harus segera pergi mencarinya!"
Dengan membelah kerumunan, Oriza sativa melangkahkan kakinya dengan cepat dan langkah yang panjang. Tapi kemudian Cenayang dan para penduduk menahannya, lalu bersujud di hadapannya.
Kemudian Cenayang membujuknya agar mau mendengar nasehatnya. Dan tentu saja isi nasehat Cenayang adalah melarangnya pergi.
"Maaf kalau, Saya lancang. Namun sebagai seorang Kepala Suku, Anda tidak boleh bertindak gegabah seperti itu," ujar Cenayang.
"Sebab sebagai seorang Kepala Suku, Anda tidak bisa bersikap egois hanya dengan memikirkan suami dan putra anda saja. Tetapi, Anda juga harus memikirkan nasib para penduduk. Jika, Anda pergi dari pulau ini, di saat tidak ada siapapun yang bisa mewakili anda."
"Tapi bukankah, Aku bisa menyerahkan tugasku kepada Tetua?" Kepala Suku mencoba berkelit dari tugasnya.
"Kepala Suku, setiap orang punya tugas masing-masing dan fungsi mereka masing-masing pula. Dan tentu tidak semua tugas dapat dipindah tangankan kepada orang lain," ujar Cenayang.
__ADS_1
"Percayalah padaku suami dan putra, Anda akan segera kembali secepatnya," bujuk Cenayang.
Oryza Sativa merasa kesal. Lalu pergi ke rumahnya. Mencoba menenangkan diri dan mengirim sinyal pada suaminya. Tentu saja tidak ada balasannya.
Cenayang masuk dan menunggu di belakang. Oryza Sativa hanya bisa menghela nafas.
"Sebelum terbangun, Aku bermimpi buruk," gumamnya hampir tidak bersuara.
Cenayang pun mulai mendekatinya.
"Bisakah, Anda ramalkan arti mimpiku?" tanya Oryza Sativa pada Cenayang.
Cenayang pergi ke luar dan masuk ke rumahnya. Lalu membawa keluar sebuah tempat air yang terbuat dari tanah liat. Menaruhnya di lantai kayu rumah Oryza Sativa.
Cenayang membaca mantra dan Kepala Suku berpaling padanya.
"Bisakah, Aku meminjam benda milik suami dan putra-putramu?" tanya Cenayang.
Kepala Suku mengambil pakaian Cresen dan busur milik suaminya.
"Ini terlalu besar. Tempat ini terlalu kecil untuk menampungnya, ujar Cenayang. Seraya menunjuk tempat air itu.
Oryza Sativa mengambil ikat kepala suaminya dan daun lontar tempat Cresen menulis catatan.
"Jika putra anda kembali, ia bisa marah karena miliknya rusak," ujar Cenayang khawatir daun lontar itu akan rusak terkena air.
Akhirnya Oryza Sativa mengambil arang yang sudah kecil, tetapi telah digunakan oleh Cresen untuk menulis. Cenayang tersenyum mencoba mengurangi kekesalan di raut wajah Oryza Sativa. Dan melanjutkan ritualnya. Memasukkan kedua benda ke dalam air.
"Kepala Suku, Aku bisa melihat suami dan putramu. Tapi ... Aku tidak tahu mereka ada di mana."
"Benarkah? Cepat katakan padaku! Apakah mereka baik-baik saja?"
__ADS_1