
Tapi kemudian ia seperti memiliki sebuah ingatan saat Cresen membuat perahu kayu, bersama para bayi di pulau Oryza Sativa. Ia pun pergi mencari kayu.
"Lihat! Dia pergi ke mana lagi? Apa mau mengangkut orang-orang lagi? Seandainya ia tidak membawa siapapun kita pasti tidak kehilangan kapal," ujar Violin kesal.
Teman sekelasnya hanya bisa diam. Karena merasa termasuk dari orang yang dimaksud oleh Violin.
"Jangan berkata begitu," ujar Harmonica.
"Ya sebaiknya kita pergi ke tempat yang lebih tinggi," ajak Flute sambil menggendong anak angkat dari Harmonica.
Saat itu diperjalanan mereka melihat banyak pohon tumbang satu per satu.
"Hei lihat... kayu juga bisa mengambang di air," ujar Clarinet.
"Tapi kayu itu terlalu besar. Kita tidak bisa mengangkatnya."
"Sepertinya kita tidak perlu mengangkatnya. Cukup di dorong saja. Kumpulkan di tempat yang paling rendah. Ayo kita potong cabang dan ranting. Agar bisa membuat kapal kayu," ajak Clarinet.
"Tidak! Kamu saja yang buat!" Dengan kesal Violin berteriak pada Clarinet.
Dan ternyata tidak semudah yang dikatakan oleh Clarinet. Tanpa alat ranting kayu itu sulit dipangkas. Meski ranting kecilnya bisa dipatahkan.
"Apa tidak ada alat untuk-" ujar Flute terhenti.
Sebuah kayu melayang ke arah mereka dan mendarat sekitar 5 meter dari tempat mereka berdiri. Ternyata Manusia baru melemparkan semua batang-batang kayu yang tersisa dipulau itu di satu tempat.
"Lihat. Kayunya sudah terkumpul. Sebaiknya cari alat memotong dan-" ujar Clarinet terhenti.
Sebab saat itu tiba-tiba terdengar suara yang sangat kuat. Manusia Baru memecahkan sebuah batu dan membentuk kapak batu. Lalu memotong ranting-ranting kayu dengan cepat.
"Apa kamu bisa mengerti ucapan manusia?" tanya Clarinet pada Manusia Baru.
Setelah manusia itu berhenti. Tapi yang ditanya diam saja sambil menatapnya dalam-dalam. Membuat Clarinet bergidik ngeri. Namun ia mencoba memberanikan diri.
"Apa kamu bisa membentuk batu itu menjadi seperti ini," ujarnya menunjukkan batu runcing.
Ia berpikir untuk membuat paku besar dari batu-batu yang ada di sana. Untuk bahan pembuat kapal. Tanpa buang waktu Manusia Barupun melakukan yang ia katakan.
Orang-orang mulai bersemangat setelah memiliki harapan untuk selamat. Meski kini hanya sebagian kecil dari badan pulau itu yang tersisa.
"Wow, siapa sangka kita bisa membuat kapal kayu yang besar. Dengan begini kita semua bisa naik," seru Clarinet.
"Hei, kamu sangat hebat! Siapa namamu?" tanya Clarinet sambil menepuk pundak Manusia Baru.
Tapi ia tidak menyangka tepukkannya membuat manusia terkuat itu ambruk. Ia sudah mencapai batasannya.
"Air mulai naik. Ayo cepat semua naik ke kapal."
__ADS_1
Mereka pun mengangkat manusia buatan itu naik ke kapal kayu. Tepat waktu sebelum akhirnya pulai itu tenggelam dan amblas secara perlahan. Mereka pun terpaksa mengayuh kapal untuk menjahui tempat amblasnya pulau itu.
Sampai mereka terbawa ombak akibat gempa yang masih terjadi sesekali. Juga hujan deras disertai agin ribut. Menuju tempat asing yang tidak pernah mereka kenali.
Sementara di pulau yang baru muncul. Setelah pepohonan dan hewan-hewan memenuhi pulau itu. Muncullah manusia-manusia yang terbentuk dari pasir khusus. Dari dalam sumur sumber mata air.
Satu orang yang pertama kali keluar adalah seorang perempuan. Berperawakan seperti cenayang tapi dalam versi mini. Dengan ukuran tubuh sama seperti manusia dewasa pada umumnya. Rambutnya pendek seperti bayi yang baru lahir.
"Pohon, rumput, burung, batu," gumamnya.
Perlahan ingatannya tentang benda-benda yang ada di tempat itu muncul. Dan mengajarkannya pada semua orang yang akhirnya muncul dari sumur sumber mata air. Yang dulunya merupakan sumur kelahiran.
Kini semua orang dipulau itu kembali. Beserta kemampuan lama mereka. Tapi tidak dengan ingatan masa lalu di kehidupan sebelumnya. Dan ada dua insan yang paling lemah di antara mereka muncul di bagian paling akhir.
Yaitu Oryza Sativa dan Panthera Tigris. Setelah Oryza Sativa melalaikan tugasnya melindungi pulau secara sengaja. Ia pun dikutuk. Ia terlahir kembali tapi tidak dengan status dan kekuatannya. Kini ia dan suaminya sama seperti manusia biasa.
Ikatan pasangan suami istri itu sangat kuat. Dan jika salah satu melakukan kesalahan. Keduanya yang menanggung akibatnya.
"Hei lihat, kelinci itu melompat-lompat. Lucu sekali," ujar Oryza Sativa seperti anak kecil yang pertama kali melihat hewan.
"Ayo kita tangkap!" ujar Panthera Tigris.
"Untuk apa kalian menangkapnya?" ujar seorang gadis yang dulunya putri cenayang.
"Untuk dipelihara," ujar Oryza Sativa. Tapi ia kemudian bingung dengan kalimatnya.
Oryza Sativa terdiam ia seolah merasakan sesuatu yang hilang darinya. Tanpa sadar ia menoleh ke laut.
Dan di lautan Manusia Baru yang tidak sadarkan diri selama beberapa hari akhinya terjaga. Begitu juga dengan orang-orang di atas kapal kayu itu. Rasa lelah haus dan lapar menghinggapi mereka.
"Apa ini halusinasi. Di sana ada sebuah pulau?" tanya Violin bergumam.
Clarinet yang mendengar hal itu menoleh ke arah pandang Violet. Lalu mengucek matanya.
"Sepertinya aku juga berhalusinasi. Terlalu lapar sampai merasa melihat ada orang-orang di tepi pantai."
Semua orang pun terbangun. Dan melihat apa yang mereka lihat.
Tapi penduduk di pulau itu merasa heran dengan sesuatu yang mengapung di laut.
"Apa itu ikan?" tanya Oryza Sativa.
Cenayang yang juga melihat kapal kayu kini berdiri di tepi pantai bersama yang lainnya. Ia merasakan sesuatu. Tambuk kepemimpinan yang ada di tangannya bercahaya.
"Lihat, mereka benar-benar ada. Apa jangan-jangan kita ini sudah mati?" tanya yang lain.
Dan pada akhirnya kapal itu bergerak didorong ombak ke tepi pantai. Tapi penumpang kapal merasa ragu untuk turun. Hingga akhirnya Manusia Baru membelah kerumunan dan berjalan turun.
__ADS_1
Ikan-ikan di laut, dan burung-burung di atas pepohonan menyambut Manusia baru dengan terbang mengelilinginya.
"Lihat, ada banyak ikan. Air di sini juga jernih," kata penumpang kapal saat melihat air.
Bahkan beberapa dari mereka hendak turun saat melihat Manusia Baru itu terus berjalan. Menuju para penduduk pulau. Tapi saat melihat Cenayang maju dan diikuti oleh para penduduk pulau, mereka naik lagi. Karena takut.
Ternyata ketakutan itu hanya berlangsung singkat. Sebab para penduduk tidak menyakiti Manusia Baru.
"Bienvenindo, Su Majestad," ujar Cenayang pada Manusia Baru sambil membungkuk memberi hormat. Dan diikuti oleh yang lain.
"Kenapa semua orang di pulau itu membungkuk pada Manusia Buatan itu?" tanya Flute.
"Karena dia adalah rajanya," ujar Violin turun dari kapal.
Tambuk kepemimpinan yang baru berbentuk kalung dengan permata rubi ungu diserahkan pada Manusia Baru. Dan ia dipakaikan sebuah jubah yang lebar.
Dan pada saat Manusia Baru itu mengenakannya, kekuatannya terisi penuh. Sel-sel dalam tubuhnya mengalami pembelahan. Lalu tubuh itu membelah dua secara sempurna. Begitu pula dengan kalung tanda kepemimpinan yang tergantung di leher mereka.
Satu orang memiliki manik mata biru mengenakan kalung dengan batu rubi berwarna merah.
Satunya lagi memiliki manik mata merah dengan kalung rubi berwarna biru.
"Terima kasih sudah menjagaku Corazòn," ujar Manusia Baru bermata biru.
"Itu sudah menjadi tugasku, saudaraku," ujar Corazòn.
Berkat kalung tersebut semua kesadaran Cresen dan Corazòn yang ada di tubuh manusia baru kembali. Tapi mereka tidak bisa merasa lega. Karena mulai saat itu mereka bertugas melindungi pulau.
Cresen pun menoleh pada Violin dan mengulurkan tangannya.
"Aku belum sempat mengatakan terimakasih pada Aji, juga padamu. Kuharap ini belum terlambat untuk berterimakasih. Sebagai gantinya, tinggallah di pulau ini bersama kami," ujar Cresen dengan hormat dan sedikit membungkuk.
Tiada yang tahu kecuali Corazòn kalau pada saat terakhir Corazòn membawa jiwa Cresen melalui aliran listrik menuju tubuh manusia buatan. Pada saat itu Aji mengorbankan darahnya untuk memenuhi penyempurnaan dari terbentuknya tubuh baru itu.
Siapa sangka kalau akhirnya, berkat tubuh baru itu Cresen serta Corazòn bisa kembali ke pulau. Dan kini Cresen dan Corazòn memiliki tubuh mereka masing-masing.
Mungkin kisah ini bukan kisah terakhir Cresen pada sebuah pulau. Karena pasti akan banyak kisah-kisah selanjutnya bersama penduduk asli serta penduduk baru. Apapun kisahnya, yang pasti mereka akan hidup bahagia.
"Selamanya?"
"Menurutmu?" tanya Violin pada putrinya bersama Clarinet.
"Ya, selamanya..." ujar gadis kecil berusia 7 tahun itu tersenyum.
Gadis kecil itu pun berlari kecil setelah melihat adik angkat Violin yang merupakan keturunan ketujuh Mangifera Indica. Sedang berjalan bersama dengan Corazòn suaminya. Nama wanita itu adalah Historia Feliz.
...___TAMAT___...
__ADS_1