
Pria itu menunjuk pada Cresen. Penduduk pulau saling pandang lalu mereka menyingkir dan membuka jalan. Pria itu bangkit dan mendekati Cresen. Saat ia menggendong Cresen, Panthera Tigris mengambil tangan Cresen lalu mengikatnya.
Ternyata tangan Cresen ditambatkan dengan tangan Oryza Sativa. Pria tersebut mengernyitkan keningnnya. Panthera mengambil dua ranting. Satu besar dan satu kecil.
"Jika kalian harus membawanya," kata Panthera mempraktekkan gaya menggendong.
"Untuk mengobatinya," lanjut suami Oryza Sativa. Sambil mengunyah daun dan mengoles ranting kecil dengan kunyahan daun tersebut.
"Maka kalian juga harus membawa istriku!" tegas Panthera Tigris. Menunjuk istrinya lalu mempraktekkan gerakan menggendong.
"Dan jarak mereka berdua tidak boleh lebih dari satu rentangan tangan," ujarnya lagi. Menunjukkan tali yang mengikat Oryza Sativa dan Cresen.
"Sebab jika jarak mereka lebih dari itu." Kali ini ia mengikat kayu besar di salah satu ujung tali dan yang kecil di ujung tali lainnya.
"Mereka berdua akan mati!" ujar Panthera Tigris dengan tegas. Ia memutuskan tali yang mengikat ranting. Lalu menghancurkan ranting besar dan kecil bersamaan.
"Jadi aku mohon, tolong selamatkan keduanya." Kini Panthera Tigris menggendong istrinya lalu menyerahkan pada pria berseragam yang menggendong Cresen.
Tapi tentu saja pria tadi tidak sanggup menggendong Cresen dan Oryza Sativa bersamaan. Maka Panthera Tigris menawarkan akan membawakan mereka berdua ke pesawat untuk dibawa ke kota.
Saat kesepakatan selesai, kakek Cresen tiba. Pria yang menjadi juru bicara menjelaskan pada kakek masalah mereka. Kakek pun merasa lega. Lalu menepuk dada dengan tangan kanan dan membungkuk memberi hormat pada suami Oryza Sativa.
"Baiklah, semuanya... ayo kita segera berangkat!" seru kakek.
Penduduk pulau mendapat suntikan guna mencegah penyebaran virus. Dan Suntikan diberikan pada bagian tubuh mereka yang lunak. Yaitu lidah. Agar tidak sulit untuk disuntik. Dan yang terluka tentu saja pada lukanya.
Penduduk pulau membantu membawa tim kakek yang terluka menuju pesawat berada. Dan saat tiba di sana beberapa bagian pesawat harus dirombak sebab Oryza Sativa sedikit sulit untuk masuk melalui pintu utama.
Setelah Oryza Sativa dan Cresen berada dalam satu pesawat maka semua anggota tim masuk pesawat mereka masing-masing. Tapi sebelum itu mereka sudah mengumpulkan bahan bakar yang tersisa untuk mencukupi bahan bakar pesawat yang akan mereka tumpangi.
__ADS_1
Saat pesawat masuk ke air, Cenayang melakukan ritual. Dan hal itu membuat sebuah gelombang. Mulanya seluruh orang yang ada di dalam pesawat heran dan ketakutan melihat gelombang besar datang tiba-tiba.
Tapi mereka lega saat gelombang itu membawa pesawat mereka ke arah yang mereka tuju tanpa membuat pesawat tersebut oleng. Hingga akhirnya gelombang itu surut. Dan mereka telah melewati kawasan yang sulit mereka masuki saat pertama kali datang.
Setelah gelombang hilang, mereka pun menyalakan mesin dan terbang menuju suatu pulau. Tempat yang dibuat khusus untuk menyimpan jantung pengganti Cresen.
Setelah kepergian kakek yang membawa Oryza Sativa dan Cresen. Tinggallah para penjahat yang tersisa di pulau. Kini mereka dikelilingi oleh penduduk pulau.
"Apa yang akan kita lakukan pada mereka?" tanya salah satu penduduk.
"Mereka telah berbuat keji di dunia kita, merusak rumah. Membunuh dan menghancurkan keluarga kita. Hukuman apa yang pantas untuk mereka?" timpal yang lain.
Seluruh penduduk menatap geram orang asing di pulau mereka yang tertinggal.
"Mereka menghancurkan hutan dan isinya. Maka biarkan hutan dan isinya yang akan menghukum mereka!" ujar Cenayang.
Semua orang saling pandang.
Dan tanpa membuang waktu para pria asing itu pun di bawa kawah lahar. Lalu berakhir di dalam kawah lahar membara. Saat seluruh perusak hutan tewas hujan turun dengan lebatnya. Menyirami hutan yang terbakar. Dan sejak saat itu penduduk berdiam di gua pengungsian sampai waktu yang tidak bisa mereka tentukan.
Sementara para penumpang pesawat sudah hampir tiba di tujuan. Ketua tim memberi laporan pada seseorang untuk mempersiapkan alat mengangkut benda besar. Maka saat mereka mendarat alat itu telah tersedia.
Orang-orang yang ada di lokasi tersebut terkejut saat melihat Oryza Sativa keluar dari pesawat dengan Cresen. Namun segera mereka memusatkan pikiran untuk tujuan awal mereka ada di sana.
Segera Oryza Sativa dan Cresen dibawa ke ruang operasi. Tanpa melepas ikatan mereka. Semua terasa lancar kecuali satu hal. Yaitu jantung untuk dicangkokkan pada Cresen.
Mendengar hal itu para dokter terkejut. Sebab tidak boleh mendonorkan organ tubuh apabila mengancam nyawa seseorang yang masih hidup.
"Lakukan saja, aku rela!" kata kakek.
__ADS_1
"Tuan tenanglah. Kita akan cari cara lain. Setidaknya kita punya alat untuk mempertahankan kondisi tuan Cresen sebelum kita mendapat pendonor. Iya kan?" tanya Ketua Tim pencari Cresen pada Dokter.
"Ya, anda benar, kita tunggu ada pendonor yang lain," kata seorang dokter muda yang penuh semangat.
"Tidak bisa, kita harus melakukan pendonoran secepatnya!" kata seorang dokter yang sangat paham kondisi jantung Cresen.
Ia adalah pria yang menghianati papa Cresen. Tapi kali ini dia tidak punya pilihan selain ikut membantu menyelamatkan Cresen. Agar tidak ada yang curiga pada penghianatannya bersama yang lain.
"Tapi kita tidak punya donor!"
"Bukankan tuan ini bersedia jadi pendonornya?" kata dokter tersebut.
Ia berpikir, jika kakek Cresen mendonorkan jantungnya, maka ia akan segera mati. Dan sebagai gantinya, Cresen yang sebatang kara bisa dia peralat. Dengan berpura-pura menjadi orang tua asuhnya. Sehingga harta kekayaan kakek Cresen bisa dia dapatkan melalui Cresen.
"Tidak bisa, kalau Cresen sadar dan tahu kalau kakek adalah pendonornya, pasti dia akan terluka. Dan terguncang. Tidak baik untuk kondisinya nanti," kata Ketua tim pencari Cresen. Dia tetap tidak setuju jika kakek mendonorkan jantungnya.
"Bagaimana kalau kita menggunakan jantung orang ini?" tanya ketua tersebut menunjukkan Oryza Sativa.
"Keluarganya yang mengizinkan kita membawanya. Dan kondisinya juga memprihatinkan. Bukankah prosedur dalam kedokteran boleh mengorbankan nyawa yang kemungkinan hidupnya lebih kecil?" lanjut Ketua tim.
"Baiklah, sepertinya kita punya pendonor sekarang. Ayo segera lakukan operasi."
"Tidak! Jika kalian lakukan itu, cucuku akan segera bunuh diri begitu ia tahu," kata kalek.
"Kita akan merahasiakan hal ini!" kata Ketua Tim.
Kakek tampak ragu, tapi kemudian ia mengangguk pasrah. Lalu Oryza Sativa dan Cresen pun dipersiapkan menjalani operasi.
Segala alat dipasang di tubuh keduanya. Saat tubuh Oryza Sativa dipasang alat deteksi jantung, muncul dua denyut jantung di layar monitor. Menandakan kalau ia sedang mengandung.
__ADS_1
Para dokter yang siap melakukan pembedahan saling memandang. Lalu mereka membahas hal apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.