
"Ayo Aku antar," tawar Aves.
"Tidak usah, Aku bisa pulang sendiri."
"Apa... Kamu akan datang ke sekolah besok?"
Cresen tampak berpikir sejenak. "Ya, tentu," jawabnya kemudian.
Maka Cresen pun pergi ke tempat papanya berada. Di sana pria besar itu menatapnya dengan perasaan heran. Sebab sisa wajah yang baru menangis masih tersirat di wajah putranya.
"Ada apa? Siapa yang melakukan hal jahat padamu?"
Cresen tersenyum lalu memeluk papanya. "Aku baik-baik saja. Tapi Corazòn merindukan mama," balasnya.
Pria besar itu menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu membelai rambut putranya.
"Apa kamu sudah makan? Mari kita makan."
"Jadi papa belum makan?" tanya Cresen merasa bersalah.
"Tentu saja belum. Papa mana mungkin makan duluan."
Dengan cepat Cresen mengambil makanan di meja, lalu mencoba menyuapi papanya.
"Papa bisa makan sendiri, ayo kita makan bersama."
"Aku sudah makan. Di tempat wanita yang kemarin ada bersama kita saat terjadi ledakan," balas Cresen. Panthera Tigris tersenyum kemudian membiarkan Cresen menyuapinya.
Selesai makan Cresen menyalakan laptop. Dan mencoba menghubungi mamanya. Tapi ternyata tidak ada penduduk pulau di sana. Di tempat Musa Paradisiaca berada. Dan di lokasi Musa Paradisiaca hari sudah larut malam. Tentunya para penduduk telah kembali ke pulau.
Sementara itu Aves menghubungi seseorang dan mengatakan akan mengajak Cresen bergabung di laboratorium. Orang yang mengenal cucu dari penanam modal pembangunan pulau merasa ragu.
[Jangan karena dia cucu dari tuan besar, lantas dia diajak bergabung ke dalam kelompok. Ini bukan main-main. Resiko terbesar dari kecelakaan di lab bisa mengakibatkan kematian. Apa kamu mengerti?]
"Ya, Aku mengerti. Percayalah padaku. Anak itu jenius."
[Pak Aves, jika kamu katakan dia kuat, saya mengakuinya. Setelah melihat dia menghancurkan meja sekolah dengan mudah. Tapi jika anda katakan dia jenius dengan berhasil menjawab pertanyaan, saya rasa itu berlebihan.]
"Jika anda ragu, anda bisa menguji anak itu sebelum masuk ke dalam tim."
Seseorang terdengar mendengus kesal lalu memutuskan sambungan panggilan.
__ADS_1
Malam hari tiba, di pulau tempat Oryza Sativa hari telah pagi. Dan setiap orang mulai melakukan kegiatan. Kepala Suku tidak sabar ingin segera melihat keadaan putranya. Lalu pergi ke tempat Musa Paradisiaca berada. Tidak lupa membawa buah-buahan dan umbi-umbian sebagai buah tangan.
Corazòn sangat senang bisa melihat mamanya. Tapi ia juga menangis dan mengatakan ingin pulang. Oryza Sativa menenangkan putranya sampai anak itu tertidur.
Setelah panggilan video itu, Kepala Suku pun merasa lebih sedih dari sebelumnya. Tapi ia diam saja. Ia menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaan.
Saat melihat para bayi bermain, ia hanya bisa menghela nafas berat. Lalu mengajak mereka berkeling satu per satu dengan burung rajawali. Hal itu membuat para bayi sangat gembira.
"Kepala Suku, kenapa Panthera Leo belum pulang juga? Aku dengar dia pergi ke sekolah. Seperti apa bentuk sekolah itu?"
"Ya dia pergi ke sekolah, untuk belajar sihir."
"Sihir seperti apa?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Sayangnya kamu tidak bisa ikut keluar."
"Kenapa?"
"Karena kamu masih bayi. Dan di luar sana sangat berbahaya." Oryza Sativa menarik tali kekang.
Burung rajawali terbang menuju perkampungan.
Mendengar perkataan Kepala Suku Mangifera Indica menganguk. Lalu berlari ke pelukan mamanya. Yang ternyata sudah menunggu mereka turun.
"Terima kasih sudah menemani putriku, Kepala Suku. Saya ingin membawanya pulang," ujar orang tua dari anak yang bersama Oryza Sativa.
Oryza Sativa tersenyum lalu mengangguk. Di perjalanan, anak yang tadi bersama Oryza Sativa bercerita pada mamanya.
"Mama, kepala suku berkata padaku kalau sudah tiba waktunya Aku juga boleh melihat dunia luar. Kapan itu waktunya? Apa yang harus aku persiapkan? Apa aku boleh membawa seluruh mainanku?"
"Waktunya masih lama, kamu tidak perlu terburu-buru."
Keduanya pun menjauh meninggalkan Kepala Suku yang masih menatap punggung mereka.
"Apa boleh aku pergi sebentar saja, melihat keadaan putraku secara langsung?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Lalu berpaling dan pergi ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ia semakin merasa kesepian.
Keesokan harinya di pulau tempat Cresen berada, anak itu tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sementara Corazòn masih tidur. Sampai ia tiba di gerbang, dan anak itu terbangun.
Jika bukan karena Cresen menahannya untuk pulang, maka bayi Oryza Sativa itu pasti sudah berlari kencang.
__ADS_1
"Tidak perlu kembali, bedakmu ada di dalam tas. Tugasku sudah selesai. Silahkan bermain sesukamu. Dan jangan nakal di sekolah," ujar Cresen pada Corazòn.
Corazòn pun segera mengambil alih tubuh itu dan penuh semangat pergi ke kelasnya. Lalu ia mengeluarkan bedak dan memakainya setelah meletakkan tas miliknya di meja.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya murid perempuan.
"Memakai bedak," jawab Corazòn lalu menawarkan pada murid itu.
Gadis itu memperhatikan kelakuan Corazòn dan dengan ragu-ragu memakai bedak itu di wajahnya. Dengan polesan yang tipis. Hampir tidak terlihat kalau ia memakai bedak.
"Pakai yang tebal," tegur Corazòn.
Sambil berkata demikian Corazòn mengambil botol bedak lalu menaburi bedak itu di tangan kirinya. Menyatukan kedua tangan dan memoleskan kedua tangannya ke wajah gadis itu.
"Diam jangan bergerak, nanti bedaknya luntur."
Gadis itu ingin menghindar tapi ia mengingat kalau ia bertugas menjadi seorang murid. Jadi akhirnya ia membiarkan Corazòn membedaki wajahnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya murid yang lainnya yang baru datang.
Gadis itu hanya mengangkat bahu dan memberikan botol bedak pada murid ke-dua. Dan menyuruhnya melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan berdua dengan Corazòn.
Tanpa pikir panjang murid itu melakukan hal yang sama. Dan pada akhirnya seluruh murid melakukan hal yang sama.
"Apa kita memang wajib memakai bedak? Aku tidak melihat ada perintah dari dokter Aves." Murid yang terakhir datang bertanya.
"Jika kamu ingin jadi bintang kelas, kamu harus pakai bedak biar segar. Jika kamu harum, guru akan suka padamu," jawab Corazòn seadanya. Dan mengartikan ingatan Cresen dengan pemikirannya sendiri.
"Ternyata sekolah seperti itu ya, Aku rasa cukup mudah," ujar murid ke-tiga.
"Ok, kalau begitu Aku juga akan membawa sebotol bedak besok."
"Ya Aku juga. Kalau boleh tahu apa bedakku kelihatan? Sebab bedaknya sudah habis. Dan kalaupun aku kembali, Aku harus ke toko untuk mendapatkan bedak yang seperti ini."
"Tenang saja, kita kan tidak bermain kejar-kejaran. Jadi bedak kita pasti tidak akan luntur sampai pulang sekolah," kata Corazòn.
"Oh, begitu. Untunglah," ujar para murid.
"Ya, tapi kalian harus berhati-hati. Jangan sampai kalian lupa dan menghapusnya secara tidak sengaja." Corazòn memperingatkan.
Tidak lama kemudian Aves pun masuk dan bertanya, "Apakah Aku salah ruangan?"
__ADS_1