
Setelah kejadian Cresen menggigil di sungai, Corazòn tidak terbangun sama sekali di tubuh itu sampai sore hari. Kesempatan tersebut digunakan oleh Cresen untuk membuat catatan. Dan saat membuat catatan, Kepala Suku menghampirinya.
"Apa kamu juga mau pergi ke sekolah?" tanya wanita itu penuh hati-hati.
"Tidak," jawab Cresen dengan cepat.
"Lalu kenapa kamu menulis?" tanya Oryza Sativa.
Ia mengetahui banyak istilah sejak beberapa hari di kota. Dan oleh karena itu ia mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh Cresen saat ini. Yaitu menulis, walau ia tidak tahu artinya.
"Aku ingin mencatat kegiatanku hari ini, agar tidak lupa," balas Cresen.
"Apa sekolah itu menyenangkan?" tanya Kepala Suku yang kini duduk di sebelah Cresen.
"Tidak," jawab Cresen singkat.
Ia menatap wajah Oryza Sativa dan mencari tahu apa yang dipikirkan oleh mamanya.
"Mama tidak perlu khawatir. Aku tidak akan pergi ke sekolah. Aku tidak pernah suka sekolah. Aku betah di sekolah semata-mata karena di sana aku tidak mencium bau obat-obatan rumah sakit."
Lalu Cresen menceritakan sedikit tentang kisahnya. Yang lebih banyak dihabiskan di rumah sakit. Sering kali ia pingsan dan harus dirawat di rumah yang sudah mirip rumah sakit. Dengan alat-alat medis dan obat-obatan yang lengkap.
"Dulu aku bahkan pernah berkhayal, seandainya aku tinggal di sebuah pulau. Yang jauh dari obat-obatan dan alat suntik, aku akan sangat bahagia." Cresen menghentikan ucapannya dan menatap kosong. Oryza Sativa memeluknya.
"Sayang... mama ada di sini. Jangan pernah berpikir kalau kamu sendirian. Kamu putraku. Kamu juga bagian dari kami semua. Pulau ini adalah milik kita. Kalau kamu kesepian. Ingatlah mama akan selalu ada untukmu."
"Terima kasih mama," jawab Cresen. Lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Kepala Suku.
Kepala Suku meminta Cresen untuk mengajarinya cara menulis dan membaca. Tapi sebelum itu ia bertanya apa gunanya menulis dan membaca.
__ADS_1
"Untuk menyimpan kenangan, kalau-kalau kita lupa, kita bisa baca catatan yang sudah dibuat." Begitulah jawab Cresen.
"Ternyata itu hal yang sangat bagus. Dari mana pikiran membuat tulisan itu berasal?" tanya Oryza Sativa lagi. Cresen tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu.
Setelah mengajari beberapa huruf pada Oryza Sativa, Cresen menyimpan alat tulisnya. Ia khawatir saat Corazòn terbangun nanti, anak itu akan mencoreti catatannya. Corazòn belum juga terbangun. Bahkan Cresen masih sempat menikmati makan malam sebagai dirinya sendiri.
Malam semakin larut. Dan semua orang pun tidur di rumah masing-masing. Cresen tidak sadar kalau Corazòn terbangun. Lalu ia berjalan dan menghampiri kedua orang tuanya. Dan tidur di tengah-tengah mereka.
Cresen yang tadinya tidur nyenyak jadi merasa tidak nyaman. Sebab ia merasakan ada yang menindih tubuhnya. Serasa seperti di lilit ular. Begitu membuka mata, ia pun terkejut. Tangan kedua orang tuanya ada di leher dan dadanya.
Cresen kesulitan bernapas akhirnya berteriak dan membangunkan keduanya. Dengan cepat keduanya terbangun dan terduduk lalu lari ke arah kamar Cresen.
"Panthera Leo, kamu kenapa?" tanya Oryza Sativa menyibak kelambu kamar Cresen.
"Hah? Kemana dia? Apa ada hewan liar masuk dan membawanya?" tanya suami Oryza Sativa saat melihat kamar anak itu kosong.
Hampir saja pasangan suami istri itu memanggil penduduk untuk meminta bantuan mencari Cresen jika anak itu tidak batuk-batuk.
"Kamu tidak mau tidur dengan kami?" tanya Oryza Sativa.
"Aku tidak mau. Tangan kalian berat..." keluh Cresen. Sambil berjalan terkantuk-kantuk ke kamarnya.
Ke esokan paginya ia terkejut lagi. Saat terbangun ia sudah di luar kamar. Dan parahnya wajah Cresen hitam karena arang. Corazòn terbangun lalu mengambil catatan Cresen karena ia tidak bisa tidur lagi. Lalu membuat catatannya sendiri sampai ketiduran di atas kulit kayu yang penuh tulisan.
Cresen ingin marah tapi, ia hanya bisa pasrah mengingat Corazòn hanyalah seorang bayi yang berusia satu minggu sejak berada di tubuhnya. Dan berusia beberapa hari sejak keluar dari sumur kelahiran.
"Apa seperti ini rasanya punya adik laki-laki?" gumam Cresen sambil memijat keningnya.
Tapi ia menyadari lagi akan satu hal tentang adiknya tersebut. Kalau anak itu bisa mengetahui apa yang ada di dalam ingatan Cresen. Seperti membaca sebuah buku lalu mengartikan dengan caranya sendiri.
__ADS_1
"Itu artinya, aku tidak bisa menyimpan apapun darinya. Cepat atau lambat. Semua ingatan dan kenanganku akan menjadi miliknya juga. Aku tidak tahu ini baik atau tidak. Tapi aku harus bisa memanfaatkannya."
Cresen berbicara dalam hati sambil menopang dagunya, selagi berbaring di lantai rumah kayu tersebut. Dan memandangi catatannya yang sudah berantakan.
Saat para bayi melihatnya dari luar ketika pintu rumah terbuka, maka para bayi menertawakannya. Tapi Cresen tidak perduli dan cuek saja. Seolah sudah biasa. Dan merasa tidak perlu berurusan dengan para bayi tersebut.
Hingga akhirnya Corazòn yang menguasai tubuh itu. Lalu mengejar para bayi dengan tangannya yang hitam. Kemudian mengoles wajah para bayi. Dan akhirnya mereka malah bermain arang.
Corazòn melihat kenangan saat Cresen dibaluri dengan arang oleh para bayi. Lalu melihat kenangan saat mereka mendorong batang kayu untuk dijadikan perahu oleh Cresen.
"Oh iya, aku butuh perahu untuk pergi ke sekolah!" serunya. Ia pun meninggalkan para bayi dan mendekati tumpukan kayu-kayu besar.
"Tapi kenapa ini bentuknya tidak sama dengan perahu yang waktu itu?" tanyanya sedikit mengingat kalau Cresen pernah naik perahu kayu.
Sedang asik memikirkan tentang kapal, perutnya berbunyi. Ia lapar dan mencari makan. Lalu menyantap buah yang ada di keranjang tanpa mencuci tangan.
"Panthera Leo, tanganmu masih kotor. Kenapa kamu menjadi penjorok sekarang?" ujar pengasuh Cresen. Lalu membawanya keluar untuk cuci tangan dan muka.
"Aku sudah lapar tahu," ujar Cresen. Yang merasa terlalu lama untuk mencuci tangan dan wajahnya dengan air di dalam kendi.
"Diam, kalau tidak cuci tangan, kamu tidak boleh makan!" Cresen menurut dan setelah tangan dan wajahnya bersih barulah ia bebas menyantap makanannya.
"Panthera Leo, apa ini?" tanya pengasuh Cresen.
"Itu tugas sekolahku. Hah gawat, aku harus segera berangkat sekolah. Atau aku akan terlambat dan dihukum berdiri di depan kelas!" seru Cresen menepuk jidadnya.
Ia bergegas dan mencari pakaian Cresen saat datang dari kota. Lalu memakainya. Dan kemudian ia mencari-cari sesuatu.
"Panthera Leo, kamu cari apa?"
__ADS_1
"Tas sekolahku, di mana tas sekolahku?"
Pengasuh Cresen bingung. Tapi Cresen terus mencari sesuatu yang tidak ada di rumah itu. Dan pikiran tentang sekolah tidak pernah hilang dari ingatannya. Tapi justru semakin kuat melekat.