Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Piring


__ADS_3

Apa pun yang dikatakan oleh Cresen, pria itu masih belum memberikan reaksi.


Tiba-tiba pria itu teringat sesuatu. Tentang kejadian saat ia hendak menyetrum Cresen. Pada saat itu listrik dalam satu gedung, tiba-tiba padam.


"Apa ... jangan-jangan anak ini adalah penyebabnya?" batinnnya.


Jantungnya berdegup dengan kencang, setelah ia sadar, siapa yang ada di hadapannya sekarang.


"Anak ini bukan hanya tidak merasa sakit, tapi Ia juga bisa merusak ring itu. Mematikan seluruh listrik dalam satu gedung. Sekuat apa Anak ini? Apakah Ia adalah manusia yang telah mengalami proses uji coba?" lanjutnya bertanya dalam hati.


"Kenapa diam saja? Katakan padaku berapa harganya? Aku akan mengambil uang tabunganku untuk membayarnya." Cresen makin panik melihat wajah pucat sang dokter.


Cresen teringat sesuatu. "Baiklah, Aku akan melakukan seperti yang kamu minta. Sekarang namaku adalah Aves. Bagaimana? Apa kamu senang sekarang?"


"Kamu setuju?" tanya pria itu memastikan pendengarannya. Cresen mengangguk.


"Hanya dengan setuju mengganti nama, Dia sudah tidak sedih lagi. Ternyata sangat mudah," batin Cresen.


"Baiklah kalau Kamu setuju. Tapi ada satu hal lagi yang harus Kamu lakukan! Katakan pada mamaku kalau Aku adalah temanmu. Dan yang tadi itu hanya salah paham!" perintah pria itu. Cresen mengangguk.


"Baguslah kalau anak ini setuju. Sekarang Aku harus cari cara menjauhkannya dari mama. Setelah Aku berhasil masuk rumah mama nanti," batin pria itu.


"Ayo kita ke rumah itu! Sebab mamaku sudah sadar. Dan ia sedang mencarimu!" ajaknya.


Cresen menyerahkan gelang rusak itu. Pria itu menghela nafas dan menerima benda tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku seragam putihnya. Melepas seragam putih lalu mengajak Cresen pergi.


Selama di perjalanan, pria itu terus mengingatkan Cresen untuk melakukan apa yang ia minta. Dan anak itu hanya mengangguk. Lalu tibalah mereka di rumah tersebut.


"Sayang... dari mana saja kamu?" tanya wanita itu memeluk Cresen sambil menangis.


Lalu ia melihat pria yang mengantar Cresen.


"Mau apa lagi kamu datang ke mari?" tanya wanita itu dengan nada geram.


Dengan cepat Cresen menjawab kalau pria itu adalah temannya.


"Apa? Teman? Sejak kapan kalian berteman?" Wanita itu penasaran.


"Baru saja," jawab Cresen dengan lugu.

__ADS_1


Wanita itu mengernyitkan keningnya. Mengurai pelukan lalu menatap Cresen. Meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Cresen.


"Apa dia mengancammu?" tanya wanita itu pada Cresen. Cresen menggeleng.


"Aku tidak mungkin bilang kalau aku sudah merusak gelangnya, kan ke tante ini," batin Cresen.


Wanita itu mencoba mencari kebenaran di mata Cresen. Anak itu tersenyum janggal. Lalu terdengar suara perutnya yang keroncongan. Sehingga wanita itu menghentikan penyelidikannya.


"Oh, iya... kamu belum makan. Ayo kita makan sekarang!" ajak wanita itu.


"Mama, apa temanku boleh ikut?" tanya Cresen.


Wanita itu menatap tajam ke arah pria itu. Ia sebenarnya tidak setuju, melihat pria itu sangat mencurigakan. Tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Akhirnya, aku bisa masuk tanpa menunggu mama tertidur dulu," batin pria itu senang.


Tapi rasa senang itu segera berakhir. Setelah melihat wanita tersebut melayani Cresen dan memanjakannya. Ia pun jadi geram. Saat itu Cresen tidak menyadari hal tersebut. Dan hanya menikmati makanan yang dihidangkan padanya.


"Menyebalkan sekali, ia bahkan pintar bertingkah seperti anak kecil juga. Awas saja nanti, saat ingatan mamaku kembali. Jangan harap kamu bisa berada di sisinya lagi!" geram pria itu.


Karena diperhatikan terus-menerus, akhirnya Cresen menyadari kalau ada yang sedang menatapnya. Dengan tatapan seolah ingin membunuh. Lalu dengan cepat Cresen berpikir.


Lalu ia memperhatikan arah tatapan dari pria itu. Hingga ia pun menemukan sebuah jawaban. Kalau pria itu menatap ke arah piringnya.


"Ternyata dari tadi pria itu menatap piringku!" seru Cresen dalam hati.


Cresen berpikir satu cara untuk menghentikan rasa marah yang terpancar dari tatapan pria tersebut. Ia menuangkan makanan yang ada di atas piringnya, ke atas piring pria itu.


"Sayang ... kenapa kamu menuang seluruh makananmu padanya?"


Cresen tidak menjawab. Tapi kemudian Cresen meletakkan piring kosongnya, di depan pria, yang ada di hadapannya. Dilanjutkan dengan mengambil piring, yang sudah terisi penuh, dari hadapan pria itu.


Lalu menarik piring itu ke hadapannya sendiri. Dan lanjut makan dari piring itu. Tanpa perduli kalau ada dua orang yang ada di dekatnya, menatap ke arahnya dengan heran. Sesaat mereka seolah terhipnotis.


"Sa- sayang ... kenapa kamu mengambil semua makanannya?" tanya wanita itu.


Cresen kemudian menoleh lalu menatap ke arah pria itu lagi.


"Jadi dia menginginkan makananku juga?" batin Cresen.

__ADS_1


Lalu dia berpikir untuk membagi dua isi dari piringnya, yang baru saja dia tukar dengan piring pria, yang ada di hadapannya. Namun pria itu menolak.


"Tidak usah, Aku sudah kenyang," kata pria itu. Dan akhirnya pria itu tidak lanjut makan.


Setelah Cresen menghabiskan seluruh makanannya wanita itu meminta Cresen untuk mengajak sang tamu pergi ke ruang depan.


"Sayang ajak temanmu ke ruang depan, ya. Jangan suruh pulang dulu," ujar wanita itu.


Lalu Cresen mengajak pria itu ke ruang depan. Namun sebelum itu ia mengambil piring lalu membilasnya dan memberikan kepada pria itu.


"Tunggu, ini untukmu!" katanya.


"Piring, untuk apa?" tanya pria itu.


Cresen mendorong pria itu ke ruang depan. Lalu seolah sedang merahasiakan sesuatu dari wanita pemilik rumah, dengan hati-hati ia berbicara pria itu.


"Ambillah piring ini, anggap sebagai pengganti gelang yang patah tadi," ujar Cresen setengah berbisik.


"Jadi kamu mengganti gelang itu dengan piring?" tanya pria itu. Cresen mengangguk.


Pria itu geleng-geleng kepala. "Dia benar-benar aneh," gumam pria tersebut.


"Tidak usah, Aku tidak perlu piring."


"Kenapa tidak? Bukankah saat di meja makan, kamu terus-terusan menatap ke arahku dan tante lalu ke piringku secara bergantian? Bukankah itu karena kamu menyukai piring ini?"


Pria itu mau menjawab Cresen. Namun wanita itu keburu datang. Dan membawa tiga piring yang berisi beberapa potong kue di atas piring-piring tersebut.


"Sebelum kamu pulang, ayo makan kue ini dulu!" ajak wanita itu pada si pria.


Ketiganya duduk. Cresen menoleh pada pria yang ada di hadapannya, lagi-lagi pria itu menatapnya seperti saat mereka berada di dapur.


"Gawat, ternyata pria itu menginginkan piring yang sedang aku pakai ini juga," batin Cresen.


Maka Cresen menuang roti yang ada di piringnya lalu menyerahkan piring kosongnya pada pria itu. Dan setelah pria itu menerima piring kosongnya, maka Cresen mengambil piring pria tersebut. Lalu meletakkan di hadapannya dan lanjut memakan kue itu.


"Sayang, kenapa kamu malah mengambil piring tamu? Ini tidak sopan sayang."


Cresen pun mengambil seluruh kue yang ada di dalam piring, dengan kedua tangan. Lalu menggeser piring kosong itu dengan lengan, pada si pria.

__ADS_1


__ADS_2