
Panthera Tigris menatap mereka dengan tajam. Ada rasa was-was jika terjadi pertikaian maka Oryza Sativa dan Cresen akan kehilangan nyawa. Mengingat para pendatang yang mengenakan pakaian serba hitam tidak punya belas kasihan.
Ia jadi berpikir kalau Cresen benar-benar berbeda. Sebab Cresen tidak pernah membunuh hewan kecil sekalipun. Bahkan tidak memakannya. Sedangkan para pria yang dihadapannya terasa seperti orang-orang yang tega memandikan darah saudaranya sendiri.
Panthera Tigris mengangkat senjata api di kedua tangannya. Mengikuti tiap gerakan para tamu tidak diundang tersebut. Lalu memilih melakukan serangan terlebih dahulu.
Para tamu tidak diundang segera berlindung di balik pepohonan. Jarak mereka cukup jauh. Sehingga Panthera Tigris kesulitan untuk mengenai mereka. Ditambah lagi ia tidak paham mengarahkannya dengan tepat. Dan setelah serangan brutal dari Panthera Tigris berhenti maka mereka muncul kambali.
"Kenapa tongkat ini tidak melakukan apapun lagi?" gumam Panthera Tigris setelah timah panas sudah habis.
Ia tidak mengerti kalau timah panas di senjata itu terbatas dan harus di isi. Dan ia tidak mengerti cara mengisinya kembali. Ia jadi tampak seperti orang bodoh.
"Sepertinya jagoan kita, tidak sepintar yang dikira," ejek dalang penculikan Cresen.
Mereka pun menertawakan Panthera Tigris, lalu mulai mempermaikannya. Menembak kaki Panthera Tigris sekali. Panthera Trigis terjatuh. Tapi ia segera bangkit.
Para tamu tidak diundang mendekat. Panthera menyiapkan busur dan anak panahnya. Ia pun bersiap menyerang. Tapi ia tidak melepaskan anak panah begitu saja. Sebab musuhnya lagi-lagi bersembunyi di balik pohon.
Tapi musuh dengan bebas menembak ke arahnya. Tembakan di arahkan pada bagian yang tidak akan membuatnya mati dengan cepat. Sebab mereka hanya ingin melumpuhkannya.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa menghindari serangan mereka. Jika aku pergi mereka pasti akan melukai istri dan putraku," batin Pantheta Tigris yang sudah terluka di berbagai bagian di tubuhnya.
Pihak musuh tampak sangat menikmati penderitaan Panthera Tigris. Tapi ada tiga orang yang menyamar sebagai penduduk asli merasa geram. Mereka kesal melihat para pria berseragam mempermainkan Panthera Tigris.
Akhirnya mereka berpikir untuk menolong dan menyerang komplotan pria berseragam. Satu persatu dari mereka terkena tembakan. Meskipun tidak fatal tapi mereka jadi berhenti menembaki Panthera Tigris untuk melumpuhkannya.
"Gawat, sepertinya kita di serang dari belakang!" seru pria berseragam yang terluka.
__ADS_1
Panthera Tigris tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ia melihat sebuah peluang saat para pria berseragam berhenti menembak. Ia mendekat dan saat mendapat posisi yang pas untuk melepas anak panah, ia pun melakukannya.
"Ah Dasar! Cepat lakukan sesuatu. Sebagian cari penembak dan sebagian cepat lumpuhkan jagoan itu!" seru dalang penculik Cresen.
Tiga orang yang menyamar sebagai penduduk pulau pun ketahuan dan diketahui posisinya. Lalu mereka pun mendapat serangan balasan. Untuk mengirit timah panas, tiga orang tersebut memilih kabur. Dan mereka pun dibiarkan begitu saja.
Kini para musuh berbalik lagi mencoba melumpuhkan Panthera Tigris, yang mulai menyerang mereka saat perhatian mereka terbagi.
"Hah, dasar! Kalian... serang benda yang ia lindungi itu!" ujar dalang penculikan Cresen.
Maka pria bersenjata itu bersiap menembak Oryza Sativa dan Cresen. Dan saat itu tanpa di duga bumi terasa bergerak. Hewan-hewan berlari dari segala arah. Kebingungan dan ketakutan. Lalu mencari tempat berlindung.
Akibat hal tersebut, tembakan yang seharusnya di arahkan pada Oryza Sativa dan Cresen justru mengenai hewan yang kabur dari api kebakaran hutan. Membuat mereka semakin kalap. Dan menyerang pria berseragam yang berada di arah serangan berasal.
Keuntungan itu di manfaatkan oleh Panthera Tigris untuk melakukan sesuatu. Segera ia membungkus Cresen lalu mengikatnya di bagian dadanya. Dan menggendong istrinya dari belakang. Lalu melarikan diri dari sana.
*Dor! Dor! Dor!
Darah keluar dari kulit yang ditembus oleh tiga senjata tersebut. Dan tiga orang pria berseragam rubuh. Namun masih mencoba bangkit. Lalu menodongkan senjata pada Panthera Tigris. Tapi ia malah dimangsa seekor ular besar. Dan yang lainnya terinjak kaki gajah.
Salah satu dari mereka mencoba bangkit terkena tembakan dari supir palsu Cresen. Melihat kejadian itu, Panthera Tigris merasa kalau mereka bertiga adalah kaumnya. Tapi ia heran karena tidak pernah melihat mereka.
Ia pun tidak punya waktu untuk mengingat. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya satu. Pergi ke pengungsian.
"Ayo ikut denganku!" katanya pada ketiga penculik bayaran.
Ketiga penculik bayaran tidak mengerti ucapannya tapi melihat gerakan tubuh Panthera Tigris, ia paham kalau mereka diajak pergi.
__ADS_1
Mereka pun pergi bersama dan kali ini mereka bertemu dengan pihak kakek Cresen. Mereka sedang mencari Cresen. Dan saat melihat Panthera Tigris mereka mencoba mengajaknya bicara. Tapi Panthera Tigris sudah terlanjur membenci orang asing.
Dia melanjutkan perjalanannya dan menerjang mereka yang mencoba menghentikannya. Hal itu membuat anggota tim kakek kebingungan. Mereka tidak menyangka kalau suami Oryza Sativa akan melakukan hal tersebut.
"Apa yang terjadi? Dia terluka parah!" kata salah satu tim pihak kakek.
"Kejar dan ikuti dia. Sepertinya yang dibalut itu adalah Cresen!" kata salah satu dari tim pihak kakek.
Tapi mereka melihat tiga orang berlari dari arah Panthera Tigris datang. Namun mereka bertiga malah berbalik arah saat melihat anggota tim kakek. Hal itu membuat para pria berseragam pihak kakek mengerutkan kening.
Lalu sebagian mengejar Panthera Tigris, dan sebagian lainnya mengejar ketiga orang tersebut. Dan ketiga penculik bayaran menembaki siapapun yang mendekat, walau tidak mengenai siapapun.
Anggota tim tersebut tetap mengejar mereka dan berhasil menangkap ketiga penculik bayaran. Senjata mereka bertiga pun dirampas. Lalu anggota tim pencari Cresen mencoba mengajak mereka bicara. Dan mencari tahu kenapa mereka kabur.
"Tenang-tenang... jangan panik... kami hanya ingin mencari Cresen," kata pria berseragam pihak kakek.
Sikap ketiga orang itu mencurigakan, dan penampilan mereka terasa janggal. Meskipun menyamar para anggota tersebut akhirnya mengetahui kalau mereka bukan penduduk asli. Walau memakai kulit hewan sebagai pakaiannya. Dan mereka menerka kalau ketiga orang itu adalah bagian dari para pria berseragam hitam yang sedang menyamar.
"Di mana boss kalian?" kata salah satu dari mereka pada tiga penculik bayaran.
"Kami tidak punya boss. Tapi aku yakin kita punya musuh yang sama," kata supir palsu.
Ia tidak seperti rekan-rekannya yang masih mencoba berpura-pura sebagai penduduk pulau. Sebab ia yakin mereka telah ketahuan. Lagi pula tidak ada untungnya berpura-pura.
Ia yakin kalau para pria yang ada di hadapannya bisa diajak bicara. Sebab mereka tidak menyerang Panthera Tigris. Walau Panthera Tigris tampak tidak menghiraukan mereka dan malah menerobos mereka begitu saja tadi.
"Apa maksudmu kalau musuh kita sama?" tanya salah satu anggota pihak kakek.
__ADS_1