
Kakek melonggorkan pelukannya setelah beberapa menit, dan menyuruh sang pilot untuk menghubungi tim lain.
"Hubungi semua orang dan bersiaplah untuk pulang," ujar Kakek dengan penuh semangat.
Cresen terdiam. Kata 'pulang' yang selalu ia impikan akhirnya segera terwujud. Tapi tidak tahu kenapa, hatinya terasa hampa. Tanpa sadar ia menoleh pada Kepala Suku dan penduduk pulau.
"Kakek, bukankah kalian baru saja tiba. Dan pasti sudah melakukan perjalanan yang sangat melelahkan. Beristirahatlah sejenak untuk mengumpulkan tenaga." Tanpa sadar Cresen membuat kakeknya mengerutkan kening.
"Apa kamu tidak mau kembali?" tanya kakek kebingungan.
Pikiran kakek berubah. Ia yang mengira kalau Cresen diculik, kini merasa kalau cucunya sengaja kabur darinya.
"Tapi itu tidak mungkinkan?" batin kakek kemudian.
"Tentu saja aku ingin pulang!" seru Cresen tersenyum sambil memeluk kakeknya.
"Tapi aku menemukan harta karun di sini. Aku akan memperlihatkannya pada kakek. Percayalah padaku, kakek tidak akan menyesal."
Saat ini Oryza Sativa dan penduduk asli pulau lainnya menatap Cresen tanpa berkedip. Seolah takut kehilangan waktu berharga, untuk melihat Cresen terakhir kalinya.
Cresen mendekat sambil menggandeng tangan kakeknya. Lalu memperkenalkan kakek pada Kepala Suku dan lainnya.
"Jadi, di duniamu. Bahkan bayi pun bisa mempunyai bayi?" tanya penduduk pulau pada Cresen.
"Bayi yang aneh, kenapa ia terlihat sedih?" tanya penduduk pulau lainnya.
"Sedih? Sedih apanya?" tanya Cresen.
Penduduk pulau menunjukkan kerutan penuaan di wajah kakek. Cresen baru tersadar jika di pulau itu tidak ada yang terlihat setua kakeknya. Karena mereka berumur panjang dan awet muda. Yang paling tua bahkan terlihat seperti berusia 40 tahunan.
"Bukan bayi, ukuran tubuh kami memang segini," jawab Cresen sambil menepuk jidadnya.
"Dan pria ini ukuran tertinggi di negara kami, walau mungkin masih ada yang lebih tinggi. Tapi hanya kebetulan saja." Cresen mencoba menjelaskan.
"Tapi sebelum membahas hal itu. Apa kakekku boleh tinggal di sini?" tanya Cresen.
Mendengar kata tinggal penduduk desa tersenyum. Saling memandang dan menoleh pada Cresen kemudian mengangguk dengan cepat. Tapi senyum itu segera pudar saat Cresen melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Beberapa hari saja, sampai kami kembali pulang," lanjut Cresen.
Hanya Oryza Sativa yang tersenyum. Memeluk Cresen lalu menjawabnya dengan nada yang berat. Tampak jelas ia berusaha tegar.
"Ya... baiklah...," ujarnya.
"Ayo ajak kakek dan ... " Oryza Sativa menghentikan ucapannya dan menunjuk ke arah pria di sebelah kakek.
Pria itu membungkuk memberi hormat. Cresen menanyakan namanya. Dan orang itu menjawab dengan nomor. Lalu Cresen mengatakannya pada Oryza Sativa.
"Tunggu, anggota tim yang lain masih ada di hutan. Dan aku yakin mereka pasti sedang menghadapi bahaya." Pria yang sudah lepas dari ikatannya tiba-tiba bersuara.
Cresen memandang orang itu. Lalu ia berpikir tentang sesuatu. Membayangkan berapa banyak bahaya hewan buas di pulau ini. Terutama di wilayah yang mungkin khusus merupakan habitat mereka.
"Panthera Tigris, bisakan kamu membawa orang-orang untuk mencari kelompok dari pria berseragam itu. Mereka pasti tidak sulit dikenali. Semuanya tentu memakai pakaian yang sama seperti mereka berdua." Cresen mencoba meminta bantuan.
"Tentu saja. Kami akan membantu mencari." Tanpa ragu Panthera Tigris segera mengiyakan.
"Kalau begitu kita kembali dulu. Akan lebih mudah jika yang mencari lebih banyak," kata Oryza Sativa.
"Ya baiklah," jawab Panthera Tigris lagi tanpa menawar.
Oryza Sativa menaiki burung Raja Wali lalu mengajak Cresen untuk naik. Sementara Kakek masuk ke keranjang yang akan dibawa oleh Panthera Tigris. Dan pria berseragam lainnya ikut masuk keranjang salah satu penduduk pulau.
"Kalau begitu saya akan berjaga di pesawat dan mengirim tanda untuk tim lain, agar memanggil anggotanya kembali ke pesawat." Sang pilot pun melakukan apa yang ia katakan.
Segera ia menaiki perahu karet lalu mendayung sampai ke pesawat. Mengirim tanda posisinya pada yang lain. Dan juga memberi tanda agar setiap orang kembali ke posisi.
Cresen dan Oryza Sativa berangkat. Begitu juga dengan yang lainnya menuju perkampungan. Kepala Suku dan Cresen tiba lebih dulu dari pada yang lain.
Lalu Cresen memerintahkan pada penduduk pulau untuk melepaskan para pria berseragam. Dan memberitahukan rencana yang sudah dibicarakan di tepi pantai.
"Jadi tuan muda sudah percaya pada kami?"
"Ya. Dan saatnya mencari anggota tim lainnya." Cresen pun memberikan arahan pada penduduk pulau.
Tanpa buang waktu semua bergerak. Beberapa penduduk pulau pergi dengan satu orang pria berseragam. Tujuannya agar mereka bisa berkomunikasi dengan tim mereka dan bisa ikut berkumpul di perkampungan.
__ADS_1
"Semoga berhasil," ujar Cresen.
Senjata mereka dikembalikan oleh Cresen. Agar bisa digunakan oleh para tim pencari Cresen di saat yang genting.
Tidak lama kemudian Kakek Cresen tiba. Setelah ia keluar dari keranjang, Panthera Tigris membawa pria berseragam bersamanya untuk mencari anggota tim pencari Cresen yang lainnya.
"Apa kamu juga pergi mencari mereka?" tanya Cresen pada Oryza Sativa.
"Tidak, aku akan di sini bersamamu dan ... ," ujarnya bingung menyebut kakek Cresen.
"Kakek." Cresen melengkapi kalimat Oryza Sativa.
Oryza Sativa terenyum dan mengangguk. Seluruh penduduk pulau yang tidak ikut mencari memperhatikan kakek Cresen. Mereka pun bertanya banyak hal pada Cresen.
"Jadi, kakekmu sudah punya bayi. Dan bayinya juga sudah punya bayi. Dan bayi itu adalah kamu," ujar penduduk pulau.
Cresen pun mengangguk.
"Lalu berapa kali purnama naik dan turun yang sudah di lalui oleh kakekmu?" tanya mereka lagi.
Cresen tampak berpikir. Ia pun menghitung usia kakek lalu dikali 12. Dan memberi tahukan jawabannya.
"Ternyata kakekmu masih kecil ya?" ujar mereka.
Sebab jika dibandingkan dengan usia para penduduk, Usia kakek masih tergolong anak-anak.
"Kalau boleh tahu, kulit hewan apa yang dipakai oleh kakekmu? Kelihatannya tidak terlalu tebal dan bentuknya berbeda dengan kulit hewan yang sering kami lihat."
"Ini pakaian yang terbuat dari kapas," jawab Cresen.
Lalu ia menceritakan proses terbuatnya pakaian. Para bayi yang mendengarkan tampak antusias. Mereka diam tanpa bicara seolah sedang mendengar dongeng sebelum tidur.
Meski Cresen menjelaskan secara detail, mereka tetap tidak bisa menangkap arti yang sebenarnya. Dan pada akhirnya mereka tertidur.
"Cerita yang luar biasa, aku belum bisa membayangkannya. Tapi itu luar biasa." Salah satu penduduk memberikan pendapat.
Meski tidak paham. Ia ingin terlihat keren. Dan aksinya diikuti oleh yang lain. Salah satu dari mereka bertepuk tangan. Yang lain juga ikut-ikutan. Kakek Cresen yang tidak paham dengan bahasa mereka hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
"Kalau ceritanya sudah selesai. Waktunya untuk mandi!" seru wanita pengasuh Cresen.