Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Membuat Catatan Bersama


__ADS_3

Kakek memulai hidup barunya bekerjasama dengan AJI menciptakan penemuan-penemuan baru yang akan berguna dalam bidang kesehatan. Khususnya untuk menolong orang-orang yang punya masalah jantung.


Dan di tempat lain. Di sebuah pulau. Matahari sudah bersinar terang. Tidak ada siapa pun di rumah. Cresen keluar dari kamarnya dan duduk di dekat tumpukan buah-buahan dan umbi-umbian yang sudah dikukus.


Ia tidak berselera meski kemarin ia tidak makan dengan benar. Hanya memandang buah dan umbi yang ada di keranjang. Lalu ia mengernyitkan keningnya. Menggerakkan seluruh anggota tubuh.


"Aku bisa bebas bergerak, apa anak itu masih tidur?"


Cresen mulai berpikir bagaimana caranya bisa bekerjasama dengan Corazòn. Dengan mulai berpikir membuat sebuah catatan tentang hal-hal apa yang telah terjadi sejak mereka berbagi tubuh. Ia pun mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menulis.


Ia mengambil kulit kayu dan arang lalu menulis hal-hal yang ia ingat setelah berbagi tubuh dengan Corazón. Baru saja ia selesai membuat catatan, tiba-tiba matanya berubah menjadi merah dan mulai mencatat hal-hal yang tidak jelas.


"Corazòn hentikan!" seru Cresen mencoba menguasai tangan kanannya.


Tapi tangan itu bergerak sendiri. Cresen berusaha menghentikan tangan kanan itu dengan tangan kiri. Namun akhirnya kedua tangannya tidak bisa ia kuasai. Dan Corazòn dengan bebas melakukan hal yang ia suka.


Ia terlihat sangat bersemangat. Wajahnya berbinar menulis di atas catatan yang baru selesai itu. Sebab Cresen hanya bisa pasrah catatannya ditimpa dengan catatan cakar ayam milik Corazòn.


"Sudah selesai? Kalau sudah, cepat minggir!" perintah Cresen menyeringai. Lalu manik matanya menjadi biru kembali.


"Dasar Corazòn, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Cresen pada dirinya sendiri.


Lalu ia mengernyitkan keningnya.


"Ia sedang meniruku ...? Begitu ya?" Cresen menebak-nebak.


Tanpa sadar tangan kanannya bergerak sendiri dan mengambil buah anggur dan memakannya. Untungnya leher Cresen tidak sesakit tadi maka Corazòn bisa menikmati anggur itu dengan tenang.


Cresen tiba-tiba ingat satu hal dan ingin segera mencatat. Tapi karena kedua tangannya dikuasai Corazòn ia pun jadi tidak bisa menulis. Dan menunggu adiknya selesai makan. Namun ternyata Corazón tidak berhenti makan. Cresen mulai tidak sabar.


"Corazòn cepat habiskan makananmu!" perintah Cresen.


Ia berbicara sambil mengunyah makanan. Sehingga ucapannya jadi tidak jelas terdengar. Corazòn tertawa sambil makan karena mengira Cresen sedang melucu.


"Terserahlah," ujar Cresen pasrah.

__ADS_1


"Ternyata aku bisa menggunakan mulutku berbicara saat ia sedang makan," batin Cresen.


Lalu ia memikirkan hal-hal apa lagi yang bisa ia tambahkan dalam catatannya nanti. Sambil mencari bagian tubuh mana yang bisa ia gerakkan saat ini. Kemudian ia mendapati kalau kakinya bisa digerakkan.


Segera ia berdiri saat Corazòn ingin mengambil buah lain untuk dimakan setelah buah di kedua tangannya habis. Corazòn menangis sebab ia tidak bisa menggapai buah itu. Karena tubuh Cresen sudah berjalan keluar.


Cresen berteriak dan mengacak-acak rambutnya sambil menangis berjalan keluar. Membuat orang-orang yang mendengar tangisannya berhenti beraktifitas. Lalu mendekati Cresen.


"Panthera Leo... ada apa?" tanya mereka.


"Mau makan..." tangis Cresen menunjukkan makanannya di dalam. Para penduduk melongo.


"Tunggu biar kami ambilkan makanan," ujar para penduduk. Lalu mereka pergi.


Cresen makin menangis sebab Corazòn mengira kalau mereka pergi begitu saja. Dan tidak lama Oryza Sativa datang. Ia baru kembali dari sungai untuk mengambil air. Oryza Sativa dengan cepat meletakkan kendi air itu dan menghampiri Cresen.


"Panthera Leo... ada apa?" tanyanya penuh selidik.


"Mau makan..." rengek Cresen.


Melihat sikap Cresen yang manja Oryza Sativa sadar kalau saat ini yang ada di hadapannya adalah Corazòn. Dan ia semakin yakin sebab manik mata anak itu merah.


"Corazòn ayo masuk... itu di dalam makanannya...."


Kepala Suku menarik tangan putranya. Tetapi kaki anak itu diam tidak bergerak. Dan malah makin menangis.


"Ayo mari masuk. Kenapa diam saja? Apa kakimu sakit?" tanya Kepala Suku bingung.


"Tidak..." jawab Cresen.


"Mama aku lapar. Aku mau makan...."


"Ya kalau lapar tunggu apa lagi? Jangan berdiri di sini ayo masuk."


Sekali lagi Kepala Suku mengajak Cresen masuk tapi karena Cresen tidak berjalan, ia pun membungkuk dan melihat kaki putranya. Saat memeriksa kaki itu, ia tidak menemukan luka sama sekali di sana. Oryza Sativa bingung lalu menghela nafas.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa dengannya?" Oryza Sativa berpikir sambil menggaruk kepalanya.


Penduduk desa datang membawa makanan untuk Cresen. Oryza Sativa terkejut. Saat mencium aroma daging panggang. Lalu ia ingat kejadian kemarin. Ketika Cresen muntah sampai kehabisan tenaga. Menyadari ada yang membawa daging, dengan cepat Kepala Suku menggendong Cresen masuk ke rumah.


"Maaf permisi... kalau perlu sesuatu nanti saja ya," ujar Kepala Suku.


Para penduduk kebingungan. Dan akhirnya memakan makanan yang mereka bawa setelah Kepala Suku menutup pintu rumahnya.


"Kenapa ya putra kepala suku semakin cengeng sejak kembali dari dunianya? Apa dia tidak mau tinggal di sini?" tanya salah satu dari mereka sambil mengigit daging di tangannya.


"Apa jangan-jangan jiwa asli anak itu tertinggal separuh di dunianya. Maka ia jadi lebih bodoh?" terka yang lain.


"Padahal selama ini dia adalah anak yang cerdas tapi sekarang dia menjadi anak yang sangat bodoh," ujar yang lain menyayangkan hal tersebut.


"Sudahlah ayo kita pergi...." Mereka pun mempercepat langkah mereka pergi meninggalkan rumah Kepala Suku.


Di dalam rumah Kepala Suku meletakkan Cresen di depan makanan yang telah tersedia, di dalam keranjang.


"Kamu lapar, kan? Ini makanannya. Ayo dimakan," ujar Kepala Suku.


Tapi anak itu makin menangis. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya. Kepala Suku cemas. Lalu memegang bahu anak itu.


"Panthera Leo... apa yang terjadi? Apa kalian tidak bisa bergerak melakukan hal yang sama?" tanya Kepala Suku.


Cresen terdiam. Lalu menggerakkan tangannya dan mengambil buah-buahan yang ada dengan kedua tangan. Kemudian memasukkan buah-buahan itu ke mulutnya bergantian.


"Panthera Leo, Corazòn makan pelan-pelan..." kata Oryza Sativa.


Kepala Suku menatap putranya dengan diam. Lalu berpikir untuk memandikannya setelah selesai makan. Tapi begitu ia berdiri, bola matanya melihat kulit pohon yang sudah penuh tulisan tapi juga coretan.


"Apa ini? Apa kalian berdua yang membuatnya?" tanya Kepala Suku menoleh pada Cresen.


"Ia ini aku yang tulis," tunjuk Cresen tersenyum bangga.


"Pintarnya putra mama... tapi... ini milik kakakmu," kata Oryza Sativa menasehati putranya.

__ADS_1


"Aku juga buat tugas sekolah," ujar Cresen.


"Apa? Tugas sekolah? Apa itu sekolah?" tanya Oryza Sativa bingung.


__ADS_2