
"Keduanya dalam keadaan tidak bergerak," jawab Cenayang.
Dan jawaban itu tentu membuat Oryza Sativa makin yakin dengan pikiran buruknya.
"Apa maksud, Cenayang? Mereka ... apakah...?" Kepala Suku tidak sanggup meneruskan kata-katanya.
"Tenanglah Kepala Suku. Aku rasa ini tidak seperti yang anda pikirkan," ujar Cenayang ikut panik melihat reaksi Oryza Sativa.
"Perlihatkan padaku, apa pun yang Cenayang lihat. Aku ingin melihatnya sendiri!" perintah Oryza Sativa dengan air mata yang hampir menetes.
Cenayang merasa ragu. Tapi kemudian menempelkan jidadnya dengan jidad Oryza Sativa dan membaca mantra di dalam hati. Oryza Sativa tersentak. Sebab ia melihat suami dan putranya, berada di tempat yang mirip dengan tepat saat bayinya dikeluarkan, sebelum waktunya.
"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Mereka telah melakukan sesuatu pada suamiku!" teriaknya.
"Kepala Suku, Anda harus tenang. Tuan Panthera Tigris bukan orang lemah. Para bayi itu tidak akan bisa menyakitinya."
"Para bayi katamu? Tidak bisa menyakitinya katamu? Apa Cenayang lupa pada pulau ini saat para bayi jahat itu datang. Di luar sana adalah dunia para bayi-bayi jahat. Kita harus segera me- ... tidak, bukan kita. Tapi, Aku yang harus pergi!"
Cenayang berlutut dan menundukkan kepalanya sampai sejajar lantai.
"Kepala Suku, Saya mengerti perasaan, Anda. Akan tetapi, kali ini percayalah padaku. Kalau mereka berdua baik-baik saja. Ingatlah kelangsungan hidup setiap orang yang ada di pulau ini juga berada di atas pundak, Anda," ucap Cenayang mengingatkan.
"Jika itu terjadi pada keluargamu, apa yang akan Cenayang lakukan?"
"Mohon kebijaksanaan Kepala Suku. Saya memohon belas kasih, Anda!" seru Cenayang sambil mengangkat ke atas dan menurunkan tangan serta kepala secara bersamaan di lantai kayu.
Kepala Suku membuang muka. Lalu menatap langit-langit rumahnya. Dan terduduk.
"Utuslah seseorang untuk menjemput putra-putraku dan suamiku!" perintahnya kemudian.
__ADS_1
Cenayang memejamkan matanya sesaat lalu menganggukkan kepala. "Baik," jawabnya.
Cenayang pun keluar rumah Oryza Sativa. Banyak orang menunggu sesuatu yang akan ia ucapkan. Maka Cenayang memanggil putrinya dan beberapa pria. Untuk mengemban tugas, mencari Cresen dan Panthera Tigris. Serta membawa mereka kembali ke pulau.
Semua orang terlihat cemas. Sebab bagi mereka dunia luar itu sangat menyeramkan. Mengingat dan berpikir bahwa ada banyak bayi-bayi jahat di luar sana. Dengan kemampuan sihir yang luar biasa. Dan mereka bukanlah tandingannya.
"Mama jangan khawatir, Aku pasti bisa melakukan tugas ini dengan baik!" seru pengasuh Cresen. Dan empat pria ikut mengangguk di belakangnya.
Malam itu penduduk pulau bekerjasama membuat perahu kayu yang sama persis seperti yang dibuat oleh mereka untuk Cresen. Untuk mempersingkat waktu, layar dibuat dengan menyatukan kulit-kulit hewan agar bisa menjadi sebuah lembaran yang cukup lebar.
Matahari bersinar. Perahu kayu telah rampung. Tapi para penduduk masih bekerja. Menaruh bekal untuk Putri Cenayang dan empat pria lainnya. Dan mendorong perahu itu ke dalam air.
Tapi sebelum pergi, terlebih dahulu mereka meminta restu dari sang Kepala Suku. Dan Oryza Sativa menumpangkan tangan kanannya di pundak kanan setiap orang yang akan berlayar.
Saat kapal kayu itu hendak berlayar, Cenayang merasakan sesuatu yang mendekat. Lalu meminta seluruh penduduk yang ada di tepi pantai untuk kembali. Tapi meminta putrinya dan keempat pria itu segera pergi.
Cenayang mengerahkan kemampuannya. Membuat sebuah gelombang yang mengantarkan perahu kayu itu berlayar sampai melintasi lapisan pelindung pulau.
Semua orang bersiap begitu melihat lapisan itu akan dilewati oleh perahu tersebut. Dan masing-masing memegang senjata, sebagai antisipasi serangan dari para bayi yang berasal dari dunia lain bagi mereka.
Berbeda halnya dengan orang-orang yang ternyata telah tiba lebih dahulu di perbatasan. Meski tidak bisa mendekat karena ada pusaran air serta perisai pelindung, tapi mereka akhirnya melihat kedatangan penduduk yang keluar dari perisai pelindung.
Salah satu dari keempat pria, yang bersama putri cenayang mengajukan diri untuk berenang lebih dahulu. Memastikan keadaan.
"Hati-hati," ujar putri Cenayang memperingatkan. Pria itu mengangguk.
Sementara seseorang yang melihat melalui teropong segera melapor pada Musa Paradisiaca. Bahwa seseorang sedang mendekat.
Dan Musa memerintahkan agar pesawat ampibi mereka segera muncul ke permukaan. Seletah itu mereka keluar dari pesawat dan menaiki perahu karet. Sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Setelah jarak pandang cukup dekat dan cukup jelas, pria yang berenang itu berhenti. Saat melihat Musa Paradisiaca melambaikan tangannya. Pria itu memutar manik matanya satu lingkaran. Lalu lanjut berenang.
Akhirnya mereka bertemu.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Pria itu.
Musa Paradisiaca tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh pria itu. Tapi ia cukup senang melihat pria itu baik-baik saja.
Musa Paradisiaca membuat gerakan tangan menunjuk ke arah pulau lalu memperlihatkan jempolnya. Pria itu bingung. Kemudian mempraktekkan apa yang dilakukan Musa Paradisiaca.
Jari telunjuk terbuka, lalu di simpan dan jari jempol dibuka. Lalu ia melihat jumlah mereka sama dengan jumlah jari tangan.
"Apa ia ingin, Aku memanggil yang lainnya?" batin Pria itu. Lalu melambaikan tangan memanggil kelompoknya.
Putri Cenayang yang mendapat isyarat itu pun menyuruh anggotanya untuk mulai mengayuh. Sebab kemampuannya tidak berfungsi di luar dari perisai pelindung. "Tetap berhati-hati," sarannya pada yang lain.
Ia masih khawatir sebab belum melihat dengan jelas siapa yang ada di sebelah sana. Dan ia baru bisa bernapas lega saat melihat mereka adalah orang yang dia kenali.
Begitu juga dengan anggota yang dibawa oleh Musa Paradisiaca. Mereka tidak takut atau terkejut dan heran melihat ukuran dari tubuh para penduduk pulau. Sebab mereka sudah pernah memasuki pulau.
Tapi keadaan menjadi membingungkan sebab mereka kesulitan dalam berkomunikasi. Tidak tahu bagaimana memulai percakapan. Hingga akhirnya Musa Paradisiaca memperlihatkan gambar Cresen dan papanya dari sebuah laptop.
"Mereka, ada bersama kami," ujar Musa Paradisiaca. Dengan membuat gerakan menunjuk ke layar laptop lalu menangkupkan kedua telapak tangan ke tubuhnya.
Seketika putri Cenayang dan para penduduk pulau menodongkan senjata pada mereka.
"Jadi, kalian telah melukai tuan Panthera Tigris untuk membawa Panthera Leo dan Nicorazòn bersama kalian?!" tanyanya dengan penuh amarah.
Musa Paradisiaca terkejut tapi masih bisa mengatur raut wajahnya. Sedang yang lain bersiap melakukan perlawanan. Tapi cepat dicegat oleh Musa Paradisiaca agar tidak terjadi pertumpahan darah yang sia-sia.
__ADS_1
Ia menutupi kepala dengan kedua tangannya. Sambil berpikir bagaimana caranya mengatakan dengan jelas yang ingin ia sampaikan. Dan tidak menimbulkan salah paham.