Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Digiring Seperti Ternak


__ADS_3

Dari atas punggung burung raja wali, Oryza Sativa melihat api membakar rumah-rumah penduduk. Dan mayat-mayat bergelimpangan tidak utuh. Bayi-bayi menangis sambil berlari dipegang mamanya.


Seorang pria berseragam tanpa belas kasih melemparkan sebuah bahan peledak. Seolah ingin menghabisi seluruh penduduk. Oryza Sativa tidak mengenal benda yang merupakan bahan peledak itu.


Tapi melihat benda itu di lemparkan pada penduduk pulau yang melarikan diri, maka dengan cepat Oryza Sativa mengarahkan burung raja wali ke arah benda itu.


Dan Oryza Sativa mengeluarkan ke mampuannya menahan benda itu tanpa menyentuh. Kemudian mengarahkan benda itu pada para pria berseragam.


Para Pria berseragam yang tidak sigap melihat keadaan di luar nalar mereka, akhirnya terkena ledakan karena tidak berhasil melarikan diri. Dan akhirnya korban jiwa pun bertambah akibat ledakan, tapi kali ini dari pihak pria berseragam hitam.


Beberapa orang terluka, penduduk desa melihatnya dengan geram dan mengejar mereka dengan alat berburu binatang buas. Untuk pertama kalinya penduduk pulau menghabisi nyawa manusia seperti hewan buruan.


Pesawat melintasi perkampungan. Oryza Sativa yang masih geram akan pendatang di pulau itu, memacu burung raja wali terbang ke angkasa. Tidak mengetahui kalau pesawat itu adalah pesawat yang ditumpangi oleh Cresen dan kakeknya.


Yang ia ketahui kalau pesawat yang ditumpangi Cresen dan para tim di pihak kakek sudah pergi menjauh. Jadi ia menggunakan kekuatan yang lebih besar. Menghentikan udara di langit.


Langit tiba-tiba menjadi gelap dan pesawat seolah mengambang di udara. Tidak bisa maju atau mundur. Tapi juga tidak jatuh. Segala alat tidak satu pun yang berfungsi.


"Apa yang terjadi? Kenapa pesawat tiba-tiba tidak bisa bergerak?"


"Langit juga menjadi sangat gelap seperti mendung ketika hujan akan turun."


"Apa ini sistem dari tim pengamanan pulau ini, untuk melindungi bahan percobaan?"


Para tim pihak dalang penculik bertanya-tanya. Lalu mereka melihat dari kamera pemantau. Seekor burung raja wali dan seorang wanita berdiri di atasnya.


"Hei, lihat. Apakah itu seorang wanita di atas seekor burung besar?" kata seseorang menunjuk pada layar monitor.


"Coba perbesar," kata dalang penculik Cresen.


"Apa kita yang tidak bisa bergerak ini akibat ulahnya?" tanya penumpang di pesawat itu. Setelah semua orang melihat layar dengan jelas.


Lagi-lagi pria dari tim dalang penculik menerka, dan juga merasa takjub. Tapi mereka masih merasa kalau itu semua hasil rekayasa genetika.

__ADS_1


"Hasil percobaan yang luar biasa. Siapa sebenarnya penciptanya. Dan pasti penciptanya adalah orang yang sama dengan yang menciptakan pulau ini," gumam dalang penculik Cresen.


"Benar, kita belum pernah benar-benar bertemu dengan pemilik pulau ini. Atau pun Boss dari ketiga penculik bayaran tersebut." Seseorang menimpali.


"Apa mungkin, tuan dari pulau ini berada di pesawat yang kita serang?" tanya seseorang. Dan tidak ada yang menjawab pertanyaan tersebut.


Berbeda dengan pihak Cresen. Mereka terkagum tapi juga khawatir. Sebab mereka menyadari kalau saat ini Oryza Sativa pasti tidak mengenali mereka. Dan tentunya apapun yang Oryza Sativa lakukan saat ini, akan berakibat buruk pada mereka juga.


Tiba-tiba Oryza Sativa menggerakkan tangannya dan sesuai dengan gerakan itu seluruh pesawat yang ada di udara bergerak.


"Kita bergerak, dan wanita itu yang menggerakkannya," gumam seseorang. Dari pihak kakek Cresen maupun dari pihak dalang penculikan.


"Aku harus melakukan sesuatu," kata Cresen bergumam.


"Apa lagi yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya kakek. Kesal dan khawatir bercampur jadi satu dalam suaranya.


"Jika tidak ada yang melakukan sesuatu maka kita semua akan mati, usaha kalian mencariku juga tidak ada gunanya," kata Cresen.


Ketua tim melihat dengan teropong mencoba menerka ke mana mereka digiring.


"Tuan Cresen, menurut anda, kita akan dibawa ke mana?" tanya Ketua Tim.


Cresen menggeleng kepala. Meski sudah lama tinggal di pulau. Ia belum tahu seluruhnya tentang pulau tersebut. Tapi itu bukan yang terpenting saat ini.


Cresen berpikir, bagaimana caranya. Agar Oryza Sativa menyadari kalau ia ada di dalam pesawat tersebut. Dan ia mengingat sesuatu. Yaitu ketika ia seolah menjadi buruan para hewan.


"Detak jantung ini. Apa karena tempat ini terlalu tinggi, sehingga tiada burung yang datang menghampiri? Ataukah karena pengaruh dari kekuatan Oryza Sativa yang menjadi benteng? Sehingga tiada burung yang menyadari keberadaanku." Cresen bergumam dalam hati.


Setelah mengalami berkali-kali. Cresen pun menyadari kalau detak jantungnya bisa jadi pemicu hewan bersikap liar. Lalu timbul ide gila di kepalanya.


"Apa kalian tidak penasaran akan sesuatu. Apakah hanya pesawat ini yang ada dalam pengaruh kekuatan Oryza Sativa? Bagaimana kalau kita mencoba menjatuhkan sesuatu. Dan lihat hasilnya." Cresen mencoba mencari jalan keluar.


Para penumpang berpikir. Lalu Cresen berkata lagi. "Jika kita bisa menjatuhkan sesuatu, itu artinya kita bisa turun menggunakan parasut."

__ADS_1


Seluruh penumpang melihat ke arah tas parasut. Jumlahnya pas dengan jumlah penumpang termasuk Cresen. Sebab dari awal kakek menghitung Cresen. Seandainya saat kembali pulang pesawat mengalami kecelakaan.


"Baiklah, kira-kira benda apa yang harus dilemparkan?" gumam ketua tim mencari benda.


"Ok, yang ini saja. Satu makanan kaleng," usulnya.


"Bagus, ayo buka pintunya. Dan lemparkan keluar makanan kaleng ini!" seru Cresen.


Saat itu tiada yang menyangka kalau ternyata saat pintu dibuka. Cresen melompat ke luar.


"Cresen...!" teriak mereka.


Saat kakek hendak ikut melompat ia ditahan oleh para pria yang ada di dalam pesawat.


"Lepaskan aku!" teriak kakek.


"Tenanglah tuan. Cucu anda pasti tahu apa yang ia perbuat. Sekarang kita harus bersiap akan hal buruk lainnya." Ketua tim mencoba menenangkan kakek.


"Apa kita melompat juga, seperti Cresen dan membawa parasut?" tanya anggota lain.


"Jangan, itu terlalu mencolok. Pihak musuh akan menyadarinya. Kemungkinan, mereka akan melempar bahan peledak saat kita terjun. Atau menembaki kita. Sebab yang tidak berpungsi adalah bagian pesawat. Tapi tidak untuk yang lainnya," jawab Ketua Tim.


"Semoga Cresen selamat. Saat ini hanya dia yang bisa berbicara dengan penduduk asli pulau," lanjut Ketua Tim harap-harap cemas.


Lalu seseorang melihat kawah lahar di depan sana. Dan mereka menyadari kalau pesawat itu akan menuju kawah lahar tanpa keinginan mereka. Tiba-tiba banyak burung keluar dari balik rindangnya dedaunan di bawah sana. Dan menuju arah yang sama, yaitu Cresen.


Oryza Sativa melihat hal itu mengingat sesuatu. Dan seketika ia melihat kalau ada yang jatuh dari pesawat. Jantungnya berdetak. Segera ia mengenali tubuh yang jatuh itu, adalah Cresen.


"Mereka ingin membunuh putraku selagi aku masih hidup! Tidak akan aku biarkan!"


Secepatnya Oryza Sativa mengarahkan burung raja wali ke arah Cresen. Pikirannya terbagi. Kekuatannya mengendalikan pesawat menuju kawah akhirnya hilang. Pesawat kembali bisa dijalankan.


Tapi di pihak Cresen, penyakit jantungnya kumat. Sebelum sempat mengeluarkan parasutnya.

__ADS_1


__ADS_2