
Tinggallah ketua bagian penjaga keamanan yang berusaha menghalangi manusia buatan untuk mendekati sang pemimpin yang sedang kabur.
"Jangan mendekat atau aku akan menembakmu," ancam ketua keamanan. Menodongkan senjata.
Tapi Manusia Buatan yang kini telah sampai di hadapannya, tidak gentar dan malah mendekat. Tanpa terluka akibat serangan yang lontarkan oleh ketua keamanan. Lalu tanpa bisa memberikan perlawanan, leher ketua keamanan itu pun dicengkram oleh Manusia Buatan.
"Flute... tolong Aku...!" teriaknya pada seorang dokter yang berada di sana.
Dokter itu sedang berusaha membuka tembok yang memagari lapangan. Agar warga area E bisa meloloskan diri. Setelah pemimpin pulau itu pergi bersama pengawalnya.
"Apa yang kau lakukan... akh! Ayo cepat tembak dia!" perintah ketua bagian keamanan.
Tapi dokter yang bernama Flute itu tidak mendengarkannya. Ia masih berusaha untuk membukakan Jalan bagi mereka yang berada di lapangan. Sebelum akhirnya ia sendiri pun melarikan diri, karena takut jika Manusia Buatan itu akan menyerangnya.
Manusia Buatan melemparkan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi itu, ke tengah lapangan. Orang-orang yang tadinya dikurung di sana, telah melarikan diri. Pada saat tembok penghalang sudah dibuka oleh dokter Flute.
Dokter Flute sedang menuruni tangga saat Manusia Buatan muncul di belakangnya. Ia sangat ketakutan dan menutupi kepalanya sambil berjongkok di tangga. Tapi secepat kilat Manusia buatan itu melintas tanpa menyentuh dokter itu.
"Hampir saja..." ujarnya setelah menghela nafas dan melangkahkan kaki.
"Aku harus melepaskan orang-orang buangan yang dikurung di ruang bawah tanah. Pasti ada beberapa dari mereka yang masih hidup. Keadaan sudah kacau. Tidak akan ada yang tahu siapa pemimpin di pulau ini selanjutnya," ujar dokter Flute dan bergegas pergi.
Ia mengetahui banyak rahasia dari sang pemimpin. Apalagi tentang hal yang menyangkut warga dari area E. Dokter Flute mengagumi kecerdasan dokter yang berasal dari area itu. Dan kesal karena pemimpin pulau memperlakukan mereka secara tidak adil.
Pada saat itu Pemimpin pulau sudah memasuki area A dan menutup pintu masuk. Serta memasang aliran listrik di bagian atas tembok. Berharap kalau Manusia Buatan akan tersetrum dan terbakar pada saat tersengat listrik.
"Semuanya berkumpul di titik aman!" ujar wakil ketua keamanan pada warga area A.
Maka para warga pun memasuki sebuah kubah yang dibangun sebagai tempat berlindung. Mulanya tempat itu dibangun untuk berlindung dari gempa. Dan sekarang digunakan untuk menghindari seorang Manusia Buatan yang semakin kuat.
__ADS_1
Pada bagian luar dijaga oleh Manusia Super. Mereka bisa merasakan kalau Manusia Buatan sudah dekat. Begitu juga orang yang sedang memantau layar CCTV.
"Manusia Buatan sudah mendekat!" kata pemantau satu.
"Serang!" kata sang pemimpin yang ada di ruangan itu.
Tembakan pun diluncurkan. Tapi Manusia Buatan berhasil menghindarinya. Hingga kini ia berada tepat di depan pintu area E. Namun tempat itu telah ditutup dengan tembok semen yang bisa bergerak dengan menekan tombol kendali.
Manusia buatan terdiam di luar dinding. Memperhitungkan kekuatan yang ia butuhkan. Mengingat saat menghancurkan dinding pertama kali, tangannya terluka dan berdarah. Jadi dia berpikir bagaimana caranya agar ia bisa menghancurkan benda itu tanpa terluka.
"Lihat... dia tidak bisa berbuat apa-apa," ujar pemantau pertama.
"Sepertinya dia kehabisan tenaga dan perlu melakukan isi ulang," balas pemantau kedua.
Apapun yang dikatakan oleh para pemantau, hal itu adalah kabar baik bagi sang pemimpin. Ia pun tersenyum. Tapi beberapa detik kemudian senyumnya pun menghilang pada saat melihat Manusia buatan itu bergerak lagi. Dan memanjat dinding tersebut.
"Pastikan dia meledak!" seru sang pemimpin.
Pemantau pertama tidak bisa berkata apa-apa saat melihat Manusia Buatan tidak meledak saat tersengat listrik. Malah sebaliknya pagar besi itu dibengkokkan dan Manusia itu berhasil masuk ke area A. Dia pun disambut oleh Manusia Super.
Satu persatu Manusia Super dilumpuhkan dan kekuatannya semakin bertambah. Manusia super yang berhasil bangkit kembali mencoba menyerang tapi tiba-tiba tubuh mereka terbagi dua secara perlahan. Akibat darah Manusia Super yang secara sengaja di teteskan pada mereka saat perkelahian.
"Manusia Buatan itu mengetahui titik lemah manusia super. Dan sepertinya virus dalam darahnya lebih cepat bereaksi pada Manusia Super," ujar seorang dokter yang tadinya menyimpan jari Manusia buatan.
"Cepat! Lakukan sesuatu!" perintah pemimpin pulau panik.
Belum sempat mereka melakukan sesuatu, Manusia Buatan terlihat memukul dinding kubah. Dan bergetarlah tempat itu. Terlihat retakan kecil di sana, pelahan-lahan retakan itu melebar dan runtuhlah dinding kubah tersebut.
Manusia buatan kini mampu memusatkan kekuatannya pada satu bagian tubuh. Maka ia pun memusatkan kemampuannya pada bagian mata. Dan dengan begitu ia mampu melihat apa yang terjadi di atas permukaan bumi.
__ADS_1
Pada saat itu di pulau tempat tinggal Oryza Sativa muncullah sumber mata air yang jernih. Dan tempat itu melebar tiap detiknya. Di bawah sumber mata air ada pasir-pasir khusus yang berasal dari tubuh penduduk pulau itu. Pada saat sumber mata air itu melebar dan membentuk sumur, maka satu persatu bermunculan makhluk-makhluk hidup yang pernah hidup di tempat tersebut.
Tapi tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Manusia Buatan yang mampu melihat segalanya. Tapi saat ini Manusia Buatan tidak mengerti banyak hal. Ia baru saja terbangun. Dan memiliki kesadaran untuk tetap hidup. Lalu muncul rasa marah saat melihat kejahatan terjadi di sekitarnya. Sehingga ia mendapatkan kesadaran lainnya untuk menghukum orang-orang jahat.
Ia juga bisa melihat dokter Flute melepaskan orang buangan yang akan menjadi korban. Jika organ tubuh mereka diambil secara paksa menggantikan organ tubuh anak sang pemimpin. Dan dokter itu kini bergabung dengan warga area E.
Membantu mengobati luka-luka mereka, termasuk anak remaja yang menimpa tubuh Manusia Buatan saat di tengah lapangan. Meski sebenarnya luka anak itu sudah mengecil dengan sendirinya.
"Apa yang terjadi? Bukankah kamu terkena tembakan?" tanya dokter Flute.
"Aku tidak tahu. Aku merasa lukaku tiba-tiba sembuh dari dalam dan menutup lubang yang menembus tubuhku," ujarnya.
"Ini luar biasa," ujar dokter Flute.
Gadis itu tersenyum begitu juga dengan mamanya. Mereka saling berangkulan dan merasa terharu.
"Mungkinkah ini kekuatan Manusia Super itu? Aku merasakan ada ikatan yang kuat saat berada di dekatnya," ujar gadis itu.
Hal yang sama dirasakan oleh Manusia Baru itu. Saat gadis itu merasakan rasa senang ia pun bisa merasakannya. Perlahan kesadaran lain pun muncul dalam setiap aliran darahnya. Begitu juga dengan bayangan-bayangan masa lalu.
Tapi ia belum mengerti jika semua itu mengarahkannya untuk mengenal penemunya yang merupakan leluhur dari gadis tersebut.
"Violin, aku meminta izin meminjam mamamu. Karena di sana masih banyak yang butuh perawatan," ujar dokter Flute tiba-tiba setelah merasa gadis itu baik-baik saja.
Mama Violin pun segera menyerahkan anak angkatnya pada Violin. "Tolong jaga adikmu," ujarnya. Violin mengangguk.
Dan wanita itu pergi ke tempat orang-orang yang terluka. Mereka terluka ketika akhirnya dinding penghalang lapangan dibuka oleh dokter Flute. Saat mereka keluar para Manusia super melepaskan beberapa serangan sebelum ditarik mundur ke area A.
Sekarang keadaan telah berubah. Para manusia super telah ditakhlukkan oleh Manusia Buatan. Dan sang pemimpin kini berada tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Aku mohon... ampuni Aku..." ujar pria itu berlutut di hadapan Manusia Buatan.