
Salah satu penduduk pulau, dengan sigap menangkap pergelangan tangan pria yang memegang pisau, lalu mengangkat tangannya ke atas. Sehingga tubuh orang itu juga terangkat.
Tapi orang itu tidak tinggal diam. Kakinya menendang tubuh yang mengangkat tangannya. Sambil berusaha meraih pisau ditangan satu dengan tangan lainnya. Orang yang memeganginya menyadari hal itu dan merebut pisau itu lebih cepat.
Dan tentu saja akibatnya ia justru merasa kesakitan. Ia tidak menyangka tubuh orang itu sangat keras. Rasanya seolah menendang sebuah batu. Pisau pun telah berpindah tangan.
Ia tidak berhenti begitu saja dan masih mencoba melarikan diri. Mendorong tubuh penduduk pulau yang masih mengangkatnya dengan kedua kaki. Akhirnya penduduk pulau itu memilih untuk melepaskannya.
Begitu ia lepas, kedua rekan penculik bayaran itu langsung menariknya pergi. Dan mereka berlari tanpa tahu arah tujuannya. Penduduk pulau hanya bisa mengangkat bahu.
"Penampilan mereka mirip dengan Cresen saat datang. Apa mereka juga lahir dari sebongkah kayu di laut?" Seseorang bertanya pada yang lain, sambil mengingat kisah awal kedatangan Cresen ke pulau itu.
"Atau mungkin orang tua mereka ada di sekitar sini?" tanya yang lain.
"Sudahlah kalau begitu, lebih baik kita kembali ke rumah. Dan hal ini segera kita laporkan pada Kepala Suku." Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.
Di saat salah satu dari ketiga penculik menoleh ke belakang, dan melihat kalau tidak seorang pun yang mengejar mereka, ia pun berhenti berlari.
"Jangan berhenti, ayo lari!" kata yang lain.
"Tidak ada yang mengikuti kita," jawabnya.
Kedua rekannya memperlambat lari mereka dan akhirnya berhenti. Kemudian melihat ke sekeliling. Tiada siapa-siapa di sana. Hanya pohon yang diam di tempat.
"Percuma kita berlari tanpa tujuan, jika perkiraanku benar, maka akan lebih aman jika kita mengikuti orang-orang yang berbadan besar itu."
"Orang? Kamu yakin kalau mereka itu orang?" tanya Paula.
"Setidaknya mereka tampak seperti manusia. Hanya ukuran tubuh mereka yang besar dan tinggi. Mereka juga tidak terlihat jahat."
"Bagaimana kalau mereka itu pemakan manusia?"
"Kalau mereka pemakan manusia, maka kita pasti sudah dibunuh!"
Mereka akhirnya diam sejenak. Beberapa kali mereka mengalami kesialan. Hari ini juga sudah banyak kejadian yang sangat melelahkan. Masih hidup merupakan keajaiban.
"Ok, kita ikuti mereka. Tapi secara diam-diam," ujar Paula kemudian. Dua lainnya mengangguk.
Mereka akhirnya berbalik arah. Dan mencari jejak penduduk pulau. Tetesan darah Harimau menjadi petunjuk arah bagi mereka. Sambil berharap kali ini bukan pilihan yang salah.
__ADS_1
Di tempat lain, para pria yang bertemu penduduk pulau di gua sedang menuju perkampungan.
"Menurutmu, apakah masih ada yang selamat dari kutukan air itu?" tanya salah satu penduduk pulau pada yang lainnya.
"Tidak tahu, tapi aku berharap ada yang selamat. Walau mungkin itu hanya kemungkinan kecil."
"Apa kita sebaiknya ke hutan bunga?" tanya yang lain.
"Tempat itu keramat. Kita tidak bisa ke sana sembarangan. Tapi aku berharap bisa bertemu dengan beberapa pasangan yang seharusnya sudah kembali."
"Celaka! Ayo kita segera ke sana, sebelum mereka tiba di perkampungan. Kita harus mencegah mereka masuk ke perkampungan agar tidak terjangkit!" seru salah satu dari mereka yang tiba-tiba teringat sesuatu.
"Iya benar, ayo kita segera pergi!"
Maka para penduduk asli pulau itu bergerak lebih cepat. Membuat para anggota tim pencari merasakan seperti sedang terbang. Mereka kebingungan, mengapa penduduk asli pulau itu tiba-tiba berlari dengan cepat.
"Wow mereka benar-benar luar biasa!" batin para anggota pencari Cresen.
Mereka memegangi keranjang tempat yang digunakan penduduk asli untuk membawa mereka. Karena kini bukan hanya berlari, tapi penduduk asli juga memanjat pohon. Bergelantungan dengan menggunakan sulur-sulur pohon.
Dari celah keranjang mereka bisa melihat beberapa hewan buas yang dilintasi di bawah pohon. Tidak henti-hentinya mereka merasa takjub dengan tempat itu. Tiba-tiba penduduk asli pulau berhenti.
"Apa yang terjadi?" tanya mereka dalam hati.
"Kalian? Untunglah kalian masih selamat!" seru penduduk pulau yang membawa anggota pencari Cresen.
"Dan kalian? Untuk apa kembali lagi ke sini?" tanya penduduk asli yang sedang berburu.
"Kami ingin kembali ke perkampungan."
"Ya, dan untuk apa? Bukankah kalian sudah kabur!"
"Maafkan kami. Itu kami lakukan karena terpaksa. Kami tidak ingin membakar keluarga kami sendiri. Jadi kami memilih pergi. Dan sekarang kami kembali untuk mengantar jasad mereka ke hutan masa lalu."
"Hah? Jasad siapa yang kamu maksud?"
"Tentu saja jasad semua orang. Setelah memindahkan semua jasad mereka. Kami akan membakar tempat itu."
*Bugh!
__ADS_1
Satu pukulan mendarat. Orang yang dipukul terhuyung dan membuatnya terjungkal ke belakang. Anggota tim pencari Cresen berteriak dari dalam keranjang. Tubuh mereka tertimpa oleh tubuh yang kehilangan keseimbangan itu.
Yang memukul tadi memicingkan matanya lalu melihat dua orang muncul dari satu keranjang.
"Dari mana kalian dapat bayi-bayi itu?" tanyanya kemudian.
Saat itu orang-orang yang kabur dari perkampungan membantu orang yang kena pukul untuk bangun. Dan menolong anggota tim pencari keluar dari keranjang.
"Gawat, apa mereka sedang rebutan hewan buruan?" batin salah satu tim pencari.
Mereka yang berada di dalam keranjang muncul. Dan membuat kelompok penduduk pulau yang sedang berburu terpelongo.
"Apa mereka adalah keluarga dari putra kepala suku?"
"Di mana kalian mendapatkannya?"
"Kami menemukannya di dalam gua."
Akhirnya orang yang ingin pergi ke perkampungan dan orang yang sedang berburu saling bertukar informasi.
"Apa? Jadi kalian semua selamat?!"
"Ya kami semua selamat. Dan itu berkat putra kepala suku. Ia mengobati kami semua."
Ketiga orang yang kabur saat wabah cacar menunduk menyesal.
"Kalau begitu, izinkan kami ikut dengan kalian ke perkampungan. Kami ingin bertemu dengan keluarga kami dan yang lainnya." Dengan memelas memegang lengan lawan bicaranya.
"Aku tidak tahu, apakah kalian masih diterima. Tapi melihat kalian membawa banyak bayi yang sama dengan Cresen mungkin akan ada pertimbangan."
Akhirnya mereka semua melanjutkan perjalanan menuju perkampungan bersama-sama. Dalam hati para anggota tim penyelamat sedang bersiap menghadapi bahaya. Mereka saling memberi kode agar tetap terlihat tenang. Dan berharap bisa bertemu dengan Cresen.
Di perkampungan Cresen sedang mencoba hal-hal baru. Mencoba menyibukkan diri agar tidak terlalu sedih karena gagal pulang. Mempelajari tentang tanaman obat-obatan dari pengasuhnya.
Dan saat ia sedang menulis semua yang diberitahukan oleh cenayang di sebuah kulit kayu dengan menggunakan arang, ternyata para bayi juga ikut melakukan hal yang sama. Saat Cresen mencoba menyusun kulit-kulit kayu yang sudah ia tulis, rasa marah kembali muncul.
Tulisan di atas lembaran-lembaran kulit kayu itu telah bertambah. Hasil tulisan Cresen dan tulisan para bayi sudah berbaur tidak beraturan. Cresen mengambil batu dan menghaluskan arang-arang yang ia gunakan untuk menulis.
"Rasakan ini!" teriak Cresen kesal. Ia melumuri wajah mereka dengan arang-arang yang sudah jadi tepung tersebut.
__ADS_1
Para bayi malah merasa senang saat melihat yang lain menjadi hitam. Lalu mereka mengambil tepung-tepung arang dan bersiap untuk melumuri Cresen dengan tepung hitam tersebut.
Bersambung...