
Musa Paradisiaca pun menuliskan sesuatu di papan, lalu memberikannya kepada Kepala Suku. Dengan senang hati wanita tersebut menerima benda itu lalu mereka pun kembali ke pulau.
Sementara itu keadaan di laboratorium tempat kedua orang tua Cresen berada masih kacau. Cairan yang ada di dalam tabung telah berubah warna menjadi merah. Akibat darah yang disemburkan lewat mulut sang mama.
Tabung tempat papa Cresen berada tidak lebih baik. Jantungnya ikut pecah dan akhirnya kedua tabung menjadi berwarna merah. Kakek mengingat ucapan Cresen dan menyesali pilihannya.
"Aku menghancurkan keluargaku..." ujar kakek gemetaran. Lalu Kakek tersungkur lemah.
Sementara yang lain masih sibuk untuk mencoba mematikan kinerja dari tabung tersebut. Dengan mematikan seluruh daya dalam gedung tersebut. Membuat Cresen dan Aji menyadari sesuatu.
Sebab dengan matinya daya berdampak pada bahan uji coba mereka. Akibatnya alarm tanda bahaya berbunyi di ponsel keduanya.
"Laboratorium...?" gumam Cresen.
Keduanya bergegas ke arah gedung tempat praktek uji coba. Aji mencoba mengendarai mobil yang tadi mereka gunakan. Tapi Cresen merasa tidak tenang membuat jantungnya berpacu kencang. Pada akhirnya membangunkan Corazòn.
"Corazòn pinjamkan aku kekuatanmu," batin Cresen.
Cresen pun merasakan aliran panas diseluruh tubuhnya. Sedangkan Corazòn merasakan sesuatu yang tidak biasa. Karena Cresen tidak hanya mengambil alih tubuh itu sepenuhnya, tapi juga kekuatan Corazòn.
Cresen mengambil ancang-angcang untuk berlari. Dan dengan cepat melesat ke arah gedung laboratorium. Seolah sedang membelah angin. Membuat orang-orang yang melihat hal itu tercengang.
Cresen tiba di gedung laboratorium dan menyadari ada hal yang tidak beres di ruang tempat kedua orang tuanya berada. Tanpa pikir panjang ia pun menerobos masuk meski dilarang.
Kakek sudah tidak ada di dalam ruangan itu. Hanya beberapa orang yang tampak sibuk menghancurkan sesuatu. Alat-alat yang tetap aktif sendiri karena memiliki daya sendiri.
"Apa yang terjadi? Kenapa dihancurkan?" tanya Cresen geram.
"Jika tidak tubuh kedua orang tuamu akan hancur seluruhnya," jawab Aves.
Cresen menatap alat-alat yang terpasang. Mempelajari cara kerjanya dengan cepat.
"Minggir!" perintah Cresen.
Lalu dengan satu kali pukulan ia menghacurkan sebuah benda. Berbentuk kotak yang merupakan tempat aliran daya. Tampaklah seperti cahaya kebiruan menandakan aliran listrik menyengat tubuh Cresen. Semua orang tampak ketakutan.
__ADS_1
"Cresen lepaskan benda itu! Itu berbahaya!" teriak Aves.
Tapi Cresen tidak perduli. Lalu melakukan hal yang sama pada kotak yang terhubung pada tabung tempat papanya berada.
"Keluar kalian semua...!" teriak Cresen.
Anak itu memalingkan wajahnya menatap setiap orang yang berada di ruangan tersebut. Membuat mereka bergidik ngeri. Lalu memutuskan untuk keluar.
Cresen tampak sangat sedih dan ia pun bersujud dan menangis di depan jasad kedua orang tuanya. Ia tidak menyangka, kalau saat melihat proses kehancuran kedua jasad orang itu membuat hatinya terasa sakit.
Anak itu bangkit lalu mendekati sebuah laptop. Mengangtifkannya kemudian menyadari kalau telah terjadi perubahan jumlah takaran dari yang seharusnya. Membuat Cresen menjadi kesal.
Aliran listrik belum dinyalakan tapi Cresen menyalakannya dengan menghacker sistem keaman di pulau itu. Listrik pun kembali menyala. Semua orang menatap dengan cemas pada Cresen.
"Cresen jangan gegabah, keluarlah! Di dalam berbahaya," kata Para dokter.
Cresen berjalan mendekati pintu, membuat para dokter mengira kalau ia akan keluar. Tapi di luar dugaan anak itu justru menutup pintu.
"Mulai sekarang kalian tidak perlu ikut campur lagi," ujar Cresen.
"Cresen...!" teriak para dokter berusahan mencegah anak itu berbuat nekat.
"Apa lagi yang akan terjadi selanjutnya?" tanya kakek pada diri sendiri.
Ia pun segera bangkit dari tempat tidur. "Bawa aku menemui cucuku," ujarnya lemah.
"Tapi tuan?" tanya pengawalnya cemas.
"Jangan membantahku, cepat bawa Aku ke sana!" teriak kakek membuat tubuhnya terhuyung.
Tidak ada pilihan lain, penjaga itu pun melakukan perintah dengan berat hati. Lalu membawa kakek ke gedung laboratorium. Sesampainya di sana, kakek memanggil Cresen dan memintanya untuk keluar.
Tapi Cresen tidak mau mendengarkan apapun dari siapapun. Dan terus saja membaca data-data yang ada di laptop. Terjaga senjang malam tanpa beristirahat sedikitpun. Ketika pagi hari tiba ia pun membuka pintu.
"Berikan Aku tabung baru untuk kedua orang tuaku. Aku yang akan mengurus mereka berdua," ujar Cresen.
__ADS_1
Aji yang juga berada di tempat itu merasakan firasat buruk. "Aku akan membantumu," ujarnya.
"Tidak, kali ini biar Aku sendiri. Jangan ada yang ikut campur."
Kakek mendekati Cresen. Tubuhnya tampak lebih rapuh. "Lupakan saja. Biarkan keduanya beristirahat dengan tenang. Kakek re-" kata pria tua itu terpotong.
"Keputusanku sudah bulat. Siapkan Aku dua tabung baru. Atau Aku sendiri yang akan menyediakannya?"
Tidak ada lagi kata bantahan dan semua orang hanya bisa melakukan seperti yang Cresen pinta. Aji juga menyerahkan jantung palsu buatannya untuk menggantikan jantung yang telah pecah. Dan Cresen yang mencangkokkan pada kedua orang tuanya.
"Cresen, setidaknya biarkan kami membantu!" ujar Aves dan dokter lainnya.
Hal itu berlangsung ketika Cresen telah memindahkan kedua orang tuanya ke dalam tabung baru. Cresen hanya menatap mereka dengan tajam.
Lalu berdasarkan data yang telah ia pelajari maka ia pun melakukan sesuatu. Memodifikasi beberapa fungsi dari alat-alat yang tersedia. Semua rampung hanya dalam waktu beberapa jam.
Setelah itu ia mengetik sesuatu pada laptopnya. Akhirnya ia pun menghela nafas. Dan bersiap menyuntikkan selang infus pada kedua tangannya. Tampak alarm di layar monitor menampilkan angka dalam hitungan mundur.
Ketika menampilkan angka nol, semua alat pun berjalan otomatis. Cairan-cairan mengalir dari selang-selang menuju kedua tabung dan jarum impus mengisap darah Cresen.
Ia menatap layar yang menyala di hadapannya. Menampilkan apa yang terjadi pada tubuh kedua orang tuanya. Lalu perubahan pada otak kedua jasad itu.
"Ciri khas Manusia yang hidup adalah memiliki kesadaran. Aku hanya perlu merangsang jaringan syaraf keduanya. Memberikan sedikit memori melalui darahku," batin Cresen.
Setelah menghabiskan banyak darah, sekitar dua kantung tubuh kedua orang tuanya masih belum bereaksi. Cresen menatap seluruh ruangan, serta alat-alat yang ada di ruangan tersebut. Kini ia bisa merasa melihat dengan cara yang berbeda.
"Aku bisa melihat aliran listrik yang mengalir di kabel-kabel yang tertutup. Aku juga bisa melihat aliran darahku. Ada aliran listrik dalam tubuhku," gumam Cresen sendirian.
"Aku mengerti sekarang," ujarnya lagi.
Cresen memusatkan pikirannya. Mendadak iris mata pun berubah menjadi ungu menyala. Darah mereka bercampur menjadi satu. Cresen melihat aliran listrik, lalu berpikir seandainya ia bisa mengalirkan listrik itu ke tubuh kedua orang tuanya.
Secara tiba-tiba aliran listrik itu bergerak sesuai dengan keinginannya. Dan bahkan benda-benda di sana ikut bergerak seperti dalam pikirannya.
"Aku bisa menggerakkan sesuatu sesuai dengan imajinasiku. Ini luar biasa...!" seru Cresen lalu ia pun tertawa.
__ADS_1
Reaksi baru terjadi pada tubuh kedua orang tuanya. Jaringan yang telah mati digantikan menjadi sel baru. Setelah darah campuran mengalir disertai aliran listrik yang terdapat pada darah Cresen.
Jaringan syaraf kedua jasad itu bergerak kembali dan menuntun jaringan lain ditubuh itu bergerak sesuai fungsi. Setelah sel mati berganti dengan sel baru. Tapi darah yang diserap dari tubuh Cresen semakin banyak. Efek samping mulai dirasakan oleh Cresen.