
"Hei, hati-hati...!" tegur Musa Paradisiaca.
Perlahan mereka mundur teratur. Dan bergantian dengan Kepala Suku yang kini mendekat. Ia tidak bisa berkata-kata. Tapi Cresen terkejut saat melihat mamanya dengan jelas. Ia pun bersembunyi.
"Corazòn...! Corazòn, Kamu ke mana...? Sayang, Mama ingin melihatmu.... Mama merindukanmu." Suara Oryza Sativa terasa berat seperti menahan tangis.
Cresen merasa bersalah lalu perlahan muncul kembali. "Mama, Corazòn minta maaf...."
"Sayang... apa yang terjadi? Kenapa, Kamupergi tanpa menunggu, Mama bangun dulu? Apa itu karena, Kamu takut kalau, Mama tidak akan mengizinkanmu pergi ke sekolah?" Oryza Sativa bertanya ketika ia teringat akan ucapan Cresen, saat anak itu masih berada di pulau.
"Tidak... Aku ke sini karena ingin mencari dokter untuk, Mama," ujar Cresen mulai terisak.
"Dokter? Untuk apa, Kamu mencari dokter, Sayang?" tanya wanita itu bingung.
"Untuk mengobati Mama, karena mama tidak bangun-bangun." Cresen pun menceritakan alasannya. Panthera Tigris menatap bayinya dengan lembut lalu mengusap rambut anak itu.
"Sekarang, Mama sudah bangun, jadi kalian akan segera pulang, kan?" tanya Kepala Suku.
"Tapi... papa masih terluka..." jawab Cresen.
"Sayang... apa yang telah terjadi pada papamu?" tanya Oryza Sativa.
"Um... itu... itu karena, Papa melindungiku dari bahan peledak. Papa juga berhasil menyelamatkan seorang tante yang kehilangan ingatan," jawab Cresen.
"Apa? Apakah itu benar suamiku?" tanya Oryza Sativa pada suaminya.
Panthera Tigris masih kebingungan dan belum tahu berbuat apa-apa. Memperhatikan istri dan anaknya saling berbincang. Saat ditanya ia pun masih diam saja. Seolah ia sedang melihat hal yang tidak masuk akal.
"Corazòn sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Mengapa mereka semua jadi kecil? Bagaimana mereka bisa berada di dalam? Bagaimana cara mengeluarkan mereka?" tanya Panthera Tigris secara beruntun.
"Hei, Kakek apa yang kamu lakukan pada istriku?" tanyanya kini pada kakek.
Kakek hanya memandang Cresen. Berharap anak itu bisa mengerti kebingungannya.
"Papa... mama dan yang lainnya tidak mengecil...." Cresen menimpali. Ia menggelengkan kepala lalu menepuk keningnya.
"Masa begitu saja, Papa tidak tahu...? Ini karena kamera, Pa."
"Kamera? Apa lagi itu?"
Cresen memutar bola matanya satu lingkaran.
"Aduh... ini kameranya... dan di sana juga ada kameranya. Pokoknya semua itu karena kamera. Dan mereka tidak ada di dalam laptop ini."
__ADS_1
"Oh, begitu."
Panthera Tigris mengucapkan sebuah jawaban singkat. Seolah ia mengerti. Tapi sesungguhnya ia tidak paham sedikit pun.
"Mama, tadi bertanya pada, Papa. Sekarang ayo jawab."
"Tadi mama bertanya tentang apa? Papa lupa."
Cresen menjawab papanya. Dan pria itu mulai berbicara pada istrinya. Ia sebenarnya tidak menjawab pertanyaan. Tapi malah balik bertanya.
"Apa, kalian semua baik-baik saja?" tanya pria itu.
"Ya kami baik-baik saja," jawab Oryza Sativa.
"Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanya Oryza Sativa
"Ya, mereka merawatku dengan baik."
"Lalu kapan kalian akan pulang?"
"Secepatnya, kami akan segera pulang," kata Panthera Tigris sambil menyibak selimutnya.
Tapi ia merasa kesakitan. Dan kakek menyuruhnya untuk tetap berbaring. Sebab ia masih belum pulih.
"Sayang, jangan memaksakan diri. Meskipun, Aku sudah sangat merindukan kalian. Tapi, Aku tidak ingin kamu membahayakan diri sendiri. Corazòn, bisakah mama percayakan papa padamu? Bisakah, Kamu menjaga papa?"
Selanjutnya giliran para penduduk berbicara pada Cresen. Di banding bertanya, mereka lebih banyak memandang, lalu mencoba menarik anak itu keluar dari laptop. Ada pula yang mencoba mencari Cresen dari balik laptop.
Setelah puas bertanya ini dan itu, maka Oryza Sativa ingin memastikan sesuatu pada Musa Paradisiaca. Dan meminta Cresen untuk menerjemahkan ucapannya. Begitu pula ucapan Musa Paradisiaca.
"Kapan kalian akan kembali ke kota?" tanya wanita itu.
"Sebelum tuan Cresen pulang ke pulau tempat tinggal kalian, kami juga akan terus berada di sini," jawab Musa Paradisiaca.
"Itu artinya, malam ini kalian menginap di tengah laut?" tanya Oryza Sativa. Musa Paradisiaca menggangguk.
"Lalu bagaimana dengan makanan dan minuman kalia?" tanya penduduk.
"Bagaimana kalau kita bawakan mereka makanan?" tanya yang lainnya.
Akhirnya mereka pun sepakat membawakan makanan untuk para tamu di lautan itu.
Oryza Sativa pun pamit undur diri. Lalu mengatakan bahwa ia akan kembali hari. Dan berjanji akan membawa makanan.
__ADS_1
"Terima kasih atas niat baik, Anda." Musa Paradisiaca menyilangkan tangan lalu membungkuk.
Tidak lama kemudian laptop pun ditutup. Dan para penduduk mulai mengayuh. Setelah lebih dahulu membuka ikatan-ikatan tali, yang membuat perahu mereka tertaut dengan perahu karet milik Musa Paradisiaca dan anggotanya.
Begitu Kepala Suku dan penduduk kembali ke pulau, orang-orang datang berduyun-duyun. Menyambut kedatangan mereka sambil melontarkan pertanyaan.
"Di mana putra dan suami Kepala Suku? Kenapa tidak dibawa pulang?
"Bagaimana? Apa Panthera Leo dan tuan Panthera Tigris tidak bisa dikeluarkan dari batu licin?"
"Tenang semuanya, putraku dan suamiku baik-baik saja. Benda yang kalian lihat, sebenarnya sudah pernah kulihat. Dan benda itu tidak seperti yang kalian kira. Tidak ada putraku dan suamiku di dalam. Itu hanyalah sihir dari dunia para bayi. Dan tidak berbahay." Kepala Suku menjelaskan.
"Oh, jadi benda itu tidak berbahaya," ucap pria yang menemani Pengasuh Cresen menemui para tamu.
Para penduduk dan Pengasuh Cresen bernafas dengan lega.
Malam hari tiba, untuk pertama kalinya para penduduk berbicara tentang dunia yang berada di luar dunia mereka. Dengan penuh semangat mereka mendengarkan kisah orang-orang yang melihat laptop hari ini.
"Kepala Suku, jika diizinkan bolehkah kami juga melihat benda pipih itu?" tanya seoeang penduduk pria.
"Bagaimana jika secara bergantian kalian ikut keluar dari perisai pelindung? Untuk melihat benda itu dan keajaiban yang bisa terjadi dalam benda tersebut.
"Aku, aku mau pergi!" teriak salah satu penduduk.
Semua orang pun akhirnya melakukan hal yang sama. Dan yang terakhir buka suara adalah Cenayang. Ia juga sama penasarannya dengan yang lain. Hanya saja di awal dia merasa ragu-ragu.
Berbeda dengan di tempat Cresen berada, Panthera Tigris sangat terkejut.
"Oh dewa, tolong maafkan aku," ujarnya saat melihat pria berseragam dokter memiliki dua kepala.
Ia berusaha untuk bangkit agar bisa bersujud.
"Papa, bukankah dokter mengatakan kalau papa harus lebih banyak beristirahat?" tanya Cresen sambil mengingatkan.
"Ta-tapi i-itu ada dewa," jawab Panthera Tigris.
"Papa mereka itu bukan dewa," balas Cresen.
"Kalau bukan dewa, lalu dia itu apa?"
"Mereka manusia juga," jawab Cresen.
"Mereka? Ada dua dalam satu tubuh? Seperti kalian?" tanya Panthera Tigris pada putranya.
__ADS_1
Mendengar kata-kata papanya, seketika putranya terdiam. Ia teringat kalau salah satu dari mereka sudah lama tidak muncul. Ia pun merasa bingung.
"Cresen?" batin putra Oryza Sativa sambil menyentuh dadanya.