
Semua orang terperangah melihat kejadian tersebut. Lalu memeriksa catatan yang telah mereka perbuat. Dan melakukan percobaan dengan takaran yang sama. Akan tetapi kali ini tiap tabung ditetesi dengan darah yang diambil dari gudang.
Darah tersebut adalah hasil dari donor darah yang dilakukan oleh penduduk pulau tersebut untuk kebutuhan rumah sakit. Jika sewaktu-waktu ada pasien yang membutuhkan darah dalam jumlah banyak secepatnya.
Sebagai antisipasi untuk keadaan darurat. Karena pulau mereka terisolasi dari pulau-pulau lain. Dan pulau itu secara sengaja dijauhkan dari pandangan dunia luar.
Setelah darah yang berasal dari gudang darah diteteskan ke tabung cairan kimia, para dokter menunggu dengan sabar. Namun tidak ada reaksi apapun. Bahkan tidak terjadi pengentalan. Apalagi kalau sampai terbakar.
Hal ini membuat para dokter yang melakukan uji coba mengernyitkan kening mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya mereka satu dengan yang lain.
Lalu mereka meneteskan darah Cresen pada cairan dalam tabung terakhir. Kejadian serupa pun terjadi. Darah dengan cepat mengental. Dan menimbulkan lidah api.
"Apa sebaiknya kita melakukan pemeriksaan pada darah Corazòn. Sebab ini sangat aneh. Bagaimana bisa darah memicu terjadinya api."
Semua orang saling pandang, lalu mengangguk. Mereka pun melakukan tes pada darah Cresen. Dan menemukan adanya senyawa kimia dari dalam darah tersebut pada keesokan harinya.
Aves menemui kakek Cresen dan membicarakan kejadian aneh di laboratorium. Kakek teringat sesuatu, lalu mengatakan apa yang telah diperbuat putranya pada sang cucu tunggal.
"Jadi ... Papa Corazòn yang melakukan itu?"
"Bukan papa Corazòn. Tapi papa Cresen." Kakek menjawab.
"Apa bedanya Corazòn dan Cresen?"
"Mereka tidak seperti yang kamu pikirkan. Sulit untuk kujelaskan. Namun bisa dibilang mereka ada dua orang. Meskipun berada dalam satu tubuh."
"Apa maksud Anda tuan?"
__ADS_1
"Dokter Aves, cucuku yang asli memiliki manik mata berwarna biru. Namanya Cresen. Sedangkan Corazòn adalah putra kandung pria bertubuh besar tersebut."
"Aku pernah dan sering melihat satu tubuh yang terdiri dari dua orang. Tapi ... untuk mempercayai kalau Corazòn dan Cresen adalah orang yang berbeda, rasanya sangat sulit." Aves memijat keningnya.
Kakek pun menceritakan apa yang terjadi pada Cresen. Sehingga ia memiliki jantung dan akhirnya pemilik jantung hidup di dalam tubuh cucunya.
Setelah kakek menjelaskan panjang lebar, rasanya kepala Aves mau pecah. Menerima informasi yang di luar logikanya. Dan ia pun menghubungi Aji dan menceritakan permasalahan yang ia pikirkan saat itu.
Aji terdiam. Lalu memutuskan mendatangi pulau tempat Aves berada. Dan meminta untuk bergabung dalam proyek uji coba tersebut. Dengan senang hati Aves menerimanya.
"Tapi jangan senang dulu. Sebab kalau pun Aku setuju, yang lain belum tentu setuju," ujar Aves.
[Tenang saja, memangnya ada yang sanggup menolakku?] Aji bertanya dengan nada sedikit angkuh.
Aves tertawa. "Baiklah, datanglah secepatnya. Sebab, lebih cepat akan lebih baik."
Dan ia disambut dengan ramah oleh para penduduk pulau tersebut. Bahkan ia disambut dengan baik. Dalam kelompok yang melakukan uji coba menghidupkan putra dan menantu, dari penyandang dana terbesar di pulau itu.
"Aku ingin kita menguji kedua sample darah dari cucu tuan besar. Darah yang diambil oleh dokter Aves. Juga darah yang diambil oleh dokter Sasip." Tanpa membuang waktu Aji memberi saran.
Semua itu dikatakannya setelah mengumpulkan banyak data dan keterangan. Meski para dokter merasa tidak yakin, tetap saja mereka melakukan percobaan. Dan hasilnya di luar dugaan mereka.
"Kenapa hasilnya berbeda?" tanya mereka setelah hasil tes DNA keluar.
"Jangan-jangan dokter Aves berbohong. DNA sampel darah yang berasal dari tabung suntiknya berbeda."
"Jadi apa itu artinya dokter Aves menipu kita? Tapi ... kenapa?" tanya mereka menatap Aves.
Pria yang dicurigai itu diam. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu Aji maju memberi penjelasan.
__ADS_1
"Dokter Aves tidak berbohong sama sekali. Sebab ada hal di luar logika, pada tubuh cucu dari tuan besar. Perubahan warna merah pada iris anak yang menyebut namanya Corazôn dan iris berwarna biru pada Cresen." Aji mencoba menjelaskan.
"Yang biru itulah cucu tuan besar yang asli. Sedangkan yang merah adalah putra dari pria besar yang sebentar lagi pulih itu," lanjut Aji.
Para dokter saling menatap satu dengan yang lain. Lalu Aji menghidupkan laptopnya. Dan memperlihatkan rekaman pada saat pengambilan darah Cresen, serta pengambilan darah Corazòn.
"Perhatikan pada bagian iris matanya. Ini memang tidak masuk akal. Tapi mungkin suatu hari, seseorang akan mampu menjelaskan secara detail." Aji pun menutup pembelaan terhadap Aves.
"Kalau begitu, ayo kita coba meneteskan darah Corazòn yang diambil oleh dokter Aves. Dan kita lihat hasilnya," ujar para dokter akhirnya.
Tidak terjadi perubahan yang sangat besar pada cairan kimia di tabung-tabung kimia tersebut. Dan mereka melanjutkan dengan uji coba yang lain. Memberikan tetesan darah Corazòn pada kedua raga orang tua kandung Cresen yang telah lama tiada itu.
Terjadi perubahan besar pada kedua raga itu. Setelah cairan darah Corazòn yang diteteskan di atas piring kecil menyatu dengan cairan dalam tabung. Tubuh itu tampak memiliki kehidupan di dalamnya.
"Lihat, layar monitor memperlihatkan adanya pergerakan aliran darah ke jantung!" seru mereka.
Mereka yang melihat hal tersebut pun tersenyum. Namun senyum itu segera menghilang setelah detak jantung di layar monitor kembali memperlihatkan garis lurus.
"Tidak perlu kecewa. Ini adalah kemajuan yang sangat besar. Darah yang hanya setetes, bisa memberi pengaruh besar pada cairan dalam tabung. Sehingga darah bisa mengalir ke jantung. Dan terjadi sebuah aktifitas kehidupan," ujar Aji.
"Bagaimana jika kita mencoba menyuntikkan darah Corazòn pada para pasien lumpuh. Jika yang telah mati saja memiliki reaksi. Apalagi jika diberikan pada orang hidup," ujar Aves kemudian setelah melihat hasil dari uji coba kali ini.
Semua orang setuju. Lalu mereka melanjutkan percobaan pada seorang pasien yang mengalami kelumpuhan pada kakinya. Secara ajaib, kaki itu yang tadinya mati rasa, kini bisa bergerak. Setelah mendapat setetes suntikan darah dari Corazón.
Hal itu segera disampaikan pada kakek Cresen. Membuat pria itu merasa memiliki harapan untuk kembali berkumpul dengan putra dan menantu juga cucunya. Ia juga memberi izin pada para dokter untuk mengambil sample darah Corazòn sebatas yang boleh diambil.
Aves menyampaikan hal tersebut pada yang lainnya. Lalu mereka pun memikirkan cara agar bisa mendapatkan darah Corazòn. Banyak ide yang terkumpul. Namun akhirnya Aves memberikan sebuah ide yang terdengar konyol bagi dokter lain. Kecuali Aji.
"Berikan anak itu hadiah. Aku yakin tidak akan sulit bagi kita membujuknya untuk mendonorkan darah," ujar Aves.
__ADS_1