
Wanita itu kemudian berpikir cara terbaik saat ini adalah menyerah. Sekalipun Cresen kabur, pasti sulit membawa pria yang sangat besar itu.
Keduanya diam dan tidak melakukan apapun. Mobil mendekat dan seseorang sebaya dengan Cresen turun dari mobil. Lalu berlari menuju wanita itu dan Cresen. Seorang pria ikut menyusulnya dari belakang.
Sinar lampu menyoroti ke arah lain. Namun masih mampu menerangi jalan anak remaja dan pria dewasa itu.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" tanya anak itu.
Wanita itu mundur dan memeluk Cresen. "Jika kalian menolong pria ini, Aku akan ikut dengan kalian secara suka rela," ujarnya.
"Nyonya, apakah ... oh sepertinya lupa. Tapi, Aku adalah Aji. Kita pernah ber-te-mu ... hmm. Bagaimana ini?" Pemilik akun 011009 memijat keningnya. Terasa berdenyut. Pusing memikirkan cara memperkenalkan dirinya.
Lalu ia menatap wajah anak remaja yang dilindungi oleh wanita itu. Ia ingat siapa anak itu. Dia adalah anak dalam foto yang dikirim oleh Aves.
"Tuan muda, sedang apa anda di sini?" tanya pria yang datang bersama anak remaja itu.
Pertanyaan pria itu sontak membuat anak itu terkejut. Bagaimana pria itu bisa mengenal anak yang ada di pelukan mama Aves.
Pria itu segera mengenali Cresen meski belum melihat jelas wajahnya. Sebab ada pria besar yang ia kenali tergeletak di tanah. Dan orang itu bukan manusia yang sering ia jumpai.
Cresen mengenal suara itu lalu keluar dari pelukan wanita tersebut. "Paman Musa Paradisiaca!" serunya.
Cresen melompat lalu menangis. "Paman... tolong selamatkan papaku. Dia tidak mau bangun!"
Musa Paradisiaca segera melambaikan tangannya. Untuk memanggil orang-orangnya. Tapi wanita itu menarik Cresen.
"Kemari! Mereka itu orang jahat!" ujarnya pada Cresen.
Rasa takut pada pria bersenjata membuatnya was-was. Sehingga wanita itu mengira kalau mereka juga penjahat. Dia gemetaran saat memeluk Cresen.
Musa Paradisiaca tidak menghiraukannya, justru ia segera menghubungi seseorang. Lalu mengatakan apa yang terjadi. Meminta mereka untuk mendatangkan alat yang bisa membawa suami Oryza Sativa. Dan mengajak Cresen untuk naik ke atas mobil.
"Tuan Aji, kami harus membawa pria ini lebih dulu. Dan, Anda bisa mencari tuan Aves bersama yang lainnya," ujar Musa Paradisiaca.
Mendengar kata Aves, wanita itu segera melerai pelukannya pada Cresen, lalu memegangi lengan Musa Paradisiaca.
"Aves? Kamu bilang Aves? Aves putraku? Di mana, di mana dia? Ayo katakan padaku!" Wanita itu menangis.
__ADS_1
"Nyonya tenanglah dan tetaplah bersama kami. Mereka akan mencarikan Aves putra anda. Kita harus segera pergi ke tempat aman." Musa Paradisiaca mengingatkan kondisi pulau yang sedang kacau.
Wanita itu terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Lalu memilih tenang.
..."Setidaknya mereka tidak menyakitiku dan anak ini," pikirnya....
"Kalau begitu kami akan melanjutkan pencarian!" ujar Aji lalu menaiki sebuah kendaraan. Sekilas ia sempat melirik Cresen.
Selang beberapa menit sebuah mobil besar datang dengan kecepatan tinggi. Ada peralatan medis di dalamnya. Lalu mereka mencoba membersihkan dan membalut luka Panthera Togris. Sebelum dipindahkan.
Pengawalan diperketat. Dan setelah mereka berhasil memindahkan suami Oryza Sativa, ke sebuah ruang rahasia, maka Musa Paradisiaca membantu yang lainnya.
Kali ini sang "Papa" terdesak setelah balabantuan datang menolong Aves. Pria itu masih mencoba meloloskan diri dengan menyandra Aves. Agar Aji tidak melakukan sesuatu.
"Jangan mendekat! Atau , Aku akan melubangi kepalanya!" acam si Papa.
Tapi Aves yang ada di sana, bukan Aves yang sama. Dia berpura-pura pingsan setelah dihajar berkali-kali. Kekuatan fisik dan mentalnya cukup meningkat. Tanpa sepengetahuan si Papa.
Aji menyebut beberapa angka.
"19. 01. 06. 05," ujarnya seraya melihat ke jam tangannya.
Setelah ia tahu mamanya aman. Ia pun segera melepaskan diri dalam satu gerakan. Dilanjutkan dengan menendang kepala si "Papa" dan menjatuhkannya ke tanah. Tempat tubuhnya tadi berbaring.
Merebut pistol yang ada di tangan si "Papa" sebelum orang itu bisa melawan.
"Jangan coba-coba bergerak!" ancamnya sambil menodongkan senjata.
"Suruh "Anak-anakmu" mundur...!" tegas Aves.
"Hei, Nak jangan kurang ajar pada Papamu. Itu tidak baik. Aku sudah memasang alat peledak di pulau ini. Jika, Aku mati. Maka seluruh alat peledak akan aktif."
"Maksudmu yang ini?" tanya Aji sambil menekan sebuah tombol di laptop kecilnya
Terjadilah ledakan. Tapi bukan di pulau itu. Melainkan di tempat lain. Sebuah panggilan masuk. Aves merogoh kantung pria itu dan mengambil ponselnya. Menerima panggilan.
"Tuan, laboratorium tiba-tiba meledak!" ujar seseorang di ujung panggilan.
__ADS_1
Aji tersenyum. Ia telah meretas sistem ke amanan lokasi baru sang papa. Melalui beberapa alat elektronik milik anak buahnya yang tersita. Dan tersambung ke lokasi baru itu.
Tentu Aji tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dan segera melakukan peretasan. Juga melaporkan lokasi tersebut pada pihak terpercaya.
"Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi, Aku tetap hidup. Tapi, Aku tidak akan mati sendirian!" teriaknya sambil meraba tangannya.
Aves menyadari hal buruk akan terjadi menjauh dan meninggalkan pria itu. Terjadilah ledakan. Pria itu meledakkan diri. Memanfaatkan alat peledak yang ia pasang di dalam tubuhnya.
Beberapa tempat di pulau itu juga mengalami ledakan. Tetapi beberapa bahan peledak telah berhasil di dapatkan. Dan diamankan. Semua itu dilakukan setelah salah seorang dari anak buah si Papa membuat sebuah pengakuan.
Memberitahukan Aji jika beberapa tempat telah dipasangi alat peledak. Lengkap dengan datanya. Sebelum akhirnya tewas karena kehabisan darah.
"Berjanjilah, Kamu akan menghentikan kekejian orang itu," pesannya pada Aji.
Aji yang pernah jadi "Anak Papa" tentu mengerti perasaan orang tersebut. Jika tidak berakhir di tempat tugas, maka akan berakhir juga di "Ruang Operasi" setelah tidak berguna. Sebab dijadikan kelinci percobaan.
Setelah kepergian sang "Papa" para anak buahnya satu per satu buang senjata. Kecuali orang-orang bayaran yang bekerja sama dengan si Papa. Tapi kemudian setelah menyadari mereka telah kalah jumlah, akhirnya ikut buang senjata dan menyerah.
Orang-orang berhasil diselamatkan dari ledakan. Sebab mereka telah lebih dulu diungsikan.
Matahari bersinar. Pesawat yang membawa para penjahat untuk dijebloskan ke penjara telah pergi. Panthera Tigris sudah berada di ruang perawatan. Dan Cresen menungguinya.
Kakek Cresen datang menjenguk tapi ditolak oleh Cresen. "Jangan dekati papaku!" ujarnya dengan mata merah menyala.
Kakek yang merindukan Cresen harus bersabar untuk menahan niatnya memeluk tubuh cucu kesayangannya. Sebab ia sadar, saat ini yang terjaga adalah Corazòn.
Sedangkan di rumah Aves, sang mama duduk sendirian. Sambil memandangi sebuah foto yang berisikan tiga orang. Sepasang suami istri dan seorang putra. Wajah pria yang ada di sampingnya mirip dengan Aves.
Wanita itu berdiri di cermin.
"Rambut putihku sudah banyak, Aku tidak lagi secantik dulu. Namun jika, Kamu masih hidup akankah, Kamu tetap mencintaiku?" tanya wanita itu pada pantulan cermin.
Seseorang muncul dalam pantulan cermin. Wajahnya mirip dengan suaminya. Wanita itu menutup bibirnya dan tidak dapat menahan tetesan air matanya. Tubuhnya terguncang dab perlahan ia membalikkan badan.
"Aves... putraku.... Bayiku tersayang. Maafkan mamamu yang bodoh ini, Nak," ujarnya menundukkan kepala.
Aves hanya bisa tersenyum bahagia dan haru. Lalu memeluk mamanya.
__ADS_1
"Selamat datang kembali mama. Jangan menangis lagi, karena Aku juga sudah pulang."