Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Memasuki Pulau


__ADS_3

Setelah seluruh hadiah yang tidak disukai oleh Cresen diberikan pada orang yang memberikan hadiah terakhir, maka suasana di depan rumah Kepala Suku menjadi sepi kembali.


Orang-orang mulai melakukan kegiatan mereka masing-masing. Berburu atau mencari buah-buahan di hutan. Sementara Kepala Suku berdiam diri di rumah.


Sedangkan Cresen hanya bisa berharap seseorang akan datang menjemputnya. Apalagi setelah mengingat kejadian yang ia alami di lautan. Tidak mungkin ia bisa pulang dengan menggunakan kapal buatan alakadarnya.


Sementara di lautan, seluruh penumpang bernafas lega. Setelah kemarin, pesawat mereka berkali-kali terkena terjangan hewan-hewan, di laut yang tiba-tiba bertindak liar. Mereka menuju lokasi yang sama. Lokasi keberadaan Cresen pada saat jantungnya berdetak dengan kencang.


Dan kini para penumpang kapal memantau pulau yang ada di hadapan mereka melalui sebuah teropong. Dari teropong itu mereka bisa melihat apa yang ada di atas permukaan laut lewat monitor yang tersambung dengan lensa teropong tersebut.


"Kenapa pulau itu tidak ada di peta?" tanya seseorang yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Ya benar. Dan tuan muda berada di sana." Seseorang menjawab sambil memperhatikan sebuah peta dunia.


"Apa mungkin pulau itu muncul ke permukaan akibat pergeseran bumi?" tanya yang lain menambah satu pertanyaan lagi.


"Apa mungkin begitu? Rasanya tidak mungkin."


"Sudah. Berhenti berdebat. Hubungi pesawat lain. Kita belum dapat kabat tentang mereka sejak terakhir kali."


Sambil menghubungi pesawat lain beberapa orang masih asik menebak-nebak tentang pulau yang tidak ada di peta. Dan ada juga yang membicarakan soal ikan-ikan berukuran besar tersebut.


"Apa seseorang sedang melakukan experimen di pulau itu?"


"Maksudmu?"


"Kenapa bisa ada ikan-ikan yang begitu besar?"


"Ini adalah samudra. Tidak ada yang memburu mereka. Makanan berlimpah dan tidak ada pencemaran air. Maka mereka terus dan terus hidup. Sehingga mereka menjadi lebih besar dari pada di tempat lain." Salah satu dari mereka mencoba menjawab. Meskipun sebenarnya ia tidak yakin.


Sementara satu orang yang fokus memberikan panggilan pada pesawat lain, tidak menemukan jawaban. Dan melaporkan hal itu pada ketua mereka.


"Baiklah kalau begitu. Kalian berdua, turun dan periksa keadaan di pulau itu!" ujar seorang ketua dan yang disuruh mengangguk.


Dua orang keluar lewat pintu khusus. Sehingga meskipun pintu dibuka, air tidak akan masuk. Kakek Cresen hanya berdiam saja. Tapi pikirannya tidak. Banyak hal yang ia pikirkan setelah melihat kondisi lautan tersebut.


"Semoga Cresen baik-baik saja. Aku sudah tiba. Tidak lama lagi kita akan bertemu. Penculikmu akan menerima ganjaran atas perbuatan mereka!" batin kakek Cresen.


Dua orang telah keluar. Mereka dilengkapi dengan senjata. Berharap tidak ada ikan pemangsa manusia di sekitar mereka. Beruntung mereka berhasil sampai ke tepi pantai. Lalu memberi aba-aba kalau semua masih terkendali.

__ADS_1


"Tembok kayu ini untuk apa? Cara pembuatannya primitif sekali. Tali pengingat antara satu dengan yang lainnya dibuat dengan akar pohon dan rotan." Berbicara dengan suara berbisik.


"Jangan berisik!" Ikut berbisik.


Lalu keduanya berlari sambil menunduk dengan cepat menuju tembok kayu yang baru saja bicaraka. Melihat keadaan lewat celah kayu. Tidak ada siapa-siapa di sana.


"Aku harap tembok kayu ini cukup kokoh." Sambil memanjat pagar.


"Sepertinya cukup kokoh," kata yang lain.


Keduanya melompat setelah berhasil memanjat gerbang tersebut. Masih dengan berlari sambil membungkukkan badan mereka melanjutkan perjalanan. Melihat kiri kanan, bersembunyi di balik pohon dan memberi aba-aba untuk maju.


"Mereka sudah berhasil masuk dan tidak ada kejadian apapun. Kalau begitu, dua orang menyusul. Kalian berdua. Pergilah!"


"Siap! Laksanakan Ketua!"


Maka dua orang lainnya menyusul dua orang pertama. Melalui jejak kaki yang tertinggal mereka berhasil menyusul teman mereka.


"Bagaiman?" tanya mereka yang baru datang.


"Kami belum menemukan apapun selain buah-buahan di hutan ini juga berukuran besar!" tunjuknya pada tanaman yang merambat.


Mereka berbicara dengan sangat hati-hati dan bergerakpun sangat hati-hati. Lalu mereka melihat hewan-hewan besar lainnya. Makin membuat mereka lebih waspada dari sebelumnya.


"Apa mungkin ada CCTV di pulau ini? Barangkali pulau ini dikelola oleh seseorang untuk tempat uji coba!"


"Tidak tahu. Tapi yang jelas kita kedatangan tamu."


Beberapa ekor Kalajengkik mendekati mereka. Dan untuk melindungi diri, mereka pun berlari dan hewan Kalajengkik itu mengejar mereka. Saat salah satu dari mereka hampir diserang, yang lainnya mencoba menghalangi. Dengan memukul Kalajengking itu menggunakan kayu.


"Gawat! Kulitnya sekeras batu!" ujar yang memukul saat kayunya patah.


"Lari!"


Mereka berlari setelah berhasil mengalihkan Kalajengking yang mencoba melukai teman mereka. Berlari dengan berkelok-kelok dan sampailah mereka pada akhirnya mereka memanjat pohon yang memiliki banyak cabang.


"Penjaga pulau ini sungguh luar biasa!" gumamnya setelah memanjat ke cabang yang lebih tinggi.


"Bagaimana sekarang?"

__ADS_1


"Tunggu aba-aba, jika mereka masih mengejar kita tembak saja."


"Apa tidak berbahaya? Bukankan suaranya akan membuat pemilik pulau ini tahu kita ada di sini?"


"Jangan khawatir, senjata ini kedap suara."


Setelah orang-orang itu memanjat ke cabang yang lebih tinggi Kalajengking itu melakukan hal serupa. Dan akhirnya tidak ada pilihan. Mereka pun menembak hewan itu. Tapi ternyata tidak mempan.


"Gawat!"


Semuanya melempar tali pada cabang pohon terdekat dengan alat yang bisa menembakkan tali kusus tersebut. Lalu mereka berpindah pohon. Kalajengkik ikut melompat tapi mereka terjatuh ke tanah.


"Apa mereka mati?" tanya salah satu dari mereka.


"Sepertinya tidak. Tapi mereka mendapat pelajaran berharga hari ini! Sepandai-pandainya Kalajengking melompat, Tupai lebih pandai melompat!"


"Hahaha, peribahasa apa itu?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaan tersebut. Dan mereka melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan tali khusus. Yang bisa ditembakkan ke tempat yang diinginkan dan ditarik kembali. Lalu bisa menggulung sendiri saat sebuah tombol ditekan.


Sementara di perkampungan Cresen mulai mengajari para bayi membaca dan menulis bahasa dari negaranya. Tapi karena ia tidak punya papan untuk menulis, maka ia menggunakan punggung Panthera Tigris sebagai papan tulis.


Dan Cresen menggunakan abu bekas bakaran tulang belulang hewan yang ia kumpulkan di sebuah tempurung dan mencampurnya dengan air. Kemudian menaruhnya di dalam pucuk daun yang lebar.


Membentuknya seperti kerucut lalu membolongi bagian unjungnya. Dengan memencet daun tersebut ia membuat huruf-huruf dan menyuruh para bayi membacanya.


"Aku juga mau tato itu!"


"Aku juga!"


"Aku taruh di sini!" ujar para bayi bersemangat karena mengira huruf-huruf yang dibentuk oleh Cresen adalah tato.


Mereka justru lebih tertarik dengan huruf-huruf di punggung Panthera Tigris ada di tubuh mereka dari pada ada di otak mereka. Lalu karena Cresen diam saja, salah satu dari mereka menyentuh huruf itu. Maka rusaklah bentuknya.


Dan krim itu lengket di jari bayi tersebut. Lalu ia berniat mengembalikannya tapi justru ia merusak huruf lainnya. Melihat hal itu para bayi lain justru ikut-ikutan dan pada akhirnya huruf-huruf itu rusak.


Tidak berhenti di sana, krim itu pada akhirnya mereka oleskan ke wajah temannya. Aksi saling oles pun terjadi. Sisa bahan untuk membuat huruf pun jadi sasaran. Dan kini wajah para bayi putih, belang-belang.


"Hei, ini waktunya belajar!" teriak Cresen kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2