
"Sebenarnya Aku ingin meminta bantuanmu untuk membujuk Corazòn agar tetap mau tinggal di pulau ini selama tiga kali bulan purnama naik turun," ujar Pantera Tigris.
"Apa penyakit pada punggungmu belum sembuh?" tanya Oryza Sativa.
"Bukan, bukan itu masalahnya. Lukaku sudah pulih dan aku sekarang sudah bebas bergerak. Tetapi ada satu hal yang sangat penting, yaitu tentang kedua putra kita. Di sini ada bayi yang mampu menciptakan tubuh baru untuk kedua putra kita dan membutuhkan waktu selama yang aku katakan tadi." Panthera Tigris menerangkan seperti yang bisa ia pahami.
"Benarkah itu?" tanya Oryza Sativa kepada Cresen. Cresen pun menganggukkan kepalanya.
Pada akhirnya Oryza Sativa pun setuju untuk membujuk putranya yang bungsu, agar mau tetap tinggal di sana. Selama waktu yang dijanjikan oleh putra tertuanya pada sang kakek.
"Mama akan menangkap banyak hewan peliharaan untukmu. Dan membuatkan rumah untuk mereka agar para hewan bisa tidur dengan nyaman di malam hari," kata Oryza Sativa.
Siapa sangka bujukan sang mama mampu membuat Corazòn rela untuk tinggal beberapa bulan lagi di pulau itu. Tentu saja hal itu tidak disia-siakan oleh Cresen dan para dokter yang ada dalam rencana menghidupkan kedua orang tua Cresen.
Malam harinya mereka segera menyusun rencana untuk pertemuan selanjutnya. Dan sejak hari itu setiap pulang sekolah Cresen akan pergi ke laboratorium untuk melakukan penelitian dan sebelum melakukan uji coba.
Agar bisa menepati janji pada sang kakek, Cresen bekerja siang dan malam. Namun hal itu hanya bisa ia lakukan kala Corazòn tertidur. Dan tentu saja hal itu terjadi jika perutnya kekenyangan.
"Baiklah sekarang kita akan melakukan uji coba pertama kita. Apa kamu sudah siap?" tanya Aji pada Cresen. Cresen mengangguk.
Lalu keduanya mengetik sesuatu di laptop yang ada dihadapan mereka dengan kecepatan yang sama. Diakhiri dengan mengklik Enter pada saat yang sama. Membuat beberapa cairan menetes dengan kecepatan dan aturan yang telah ditentukan.
Seluruh cairan bergerak menuju sebuah kapsul yang berisi jantung palsu. Benda itu dibuat menggunakan cara yang sama dilakukan oleh papa Cresen. Tapi Aji melakukan sedikit modifikasi pada bahannya.
Dan akhirnya seluruh tetesan telah memenuhi kapsul. Namun jantung itu belum bereaksi sama sekali. Percobaan pertama pun dinyatakan gagal.
Tapi uji coba dalam menghidupkan kedua orang tua Cresen mendapatkan peningkatan. jantung keduanya pun berdetak dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat pelan. Namun gerakan itu masih dapat terdeteksi oleh layar monitor.
Uji coba berikutnya detak jantung lebih kuat dari sebelumnya. Para dokter optimis bisa menghidupkan keduanya dalam waktu dekat dengan menambahkan takaran bahan uji coba.
"Jangan tergesa-gesa, sebab jika mengubah takaran bisa menimbulkan efek negatif pada tubuh itu nantinya," ujar Cresen saat kakek bertanya akan pendapatnya.
"Tetapi para dokter sangat yakin kalau ini akan berhasil. Bukankah dengan begitu tidak perlu menunggu selama tiga bulan. Tapi cukup dengan menambah takarannya. Kemungkinan kita bahkan tidak perlu menunggu selama seminggu, agar kedua orang tuamu bisa kembali bersama kita."
"Kakek... tubuh kedua orang tuaku sudah tidak memiliki sel hidup yang bisa mengobati luka. Ataupun yang bisa beregenerasi, jika terjadi sesuatu pada bagian dalam dari tubuh tersebut. Banyak otot tubuh yang telah kaku dan jaringan yang tidak lagi berfungsi dengan baik. Jika dipaksakan Aku takut akan terjadi kerusakan yang lebih parah nantinya."
Kakek mendengus kesal, karena merasa cucunya tidak setuju dengan rencana para dokter. Yang akan menambahkan takaran dari bahan uji coba.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan percobaan yang kamu lakukan dengan Aji?" tanya Kakek.
"Masih jalan di tempat," jawab Cresen.
Kakek tidak keberatan jika pada akhirnya sang cucu tidak berhasil membuat tubuh baru. Setidaknya ia bisa mendapatkan alasan, untuk menahan sang cucu agar tetap tinggal di pulau tersebut bersamanya.
"Maaf kek, Aku harus segera ke laboratorium sama pekerjaan kami masih sangat banyak."
"Ya baiklah. Maaf sudah mengganggu waktumu," ujar kakek.
Setelah Cresen meninggalkan ruangannya maka kakek segera menghubungi dokter Aves.
"Aku gagal untuk membujuknya," ujar kakek.
"Lalu bagaimana dengan keputusan Anda sendiri?" tanyak Aves.
"Lakukan saja seperti yang dikatakan oleh cucuku. Tapi tetap lakukan seperti yang kalian rencanakan secara diam-diam, tanpa diketahui oleh cucuku. Tambahkan dosisnya sedikit demi sedikit agar ia tidak curiga. Lakukan saat ia berada di kelas."
"Baiklah kalau begitu," jawab Aves.
Segera Aves membicarakan hal tersebut pada para dokter tanpa diketahui oleh Cresen. Tapi ternyata Aji yang berada di ruangan itu menentang rencana mereka.
"Ya, tapi kita belum pernah mengujinya. Dan bahan yang kita miliki terbatas. Aku sudah membicarakan hal itu juga pada Cresen. Alasannya cukup masuk akal."
Semua orang saling menatap satu dengan yang lain. Lalu mereka sepakat untuk melakukan pemungutan suara. Tentu saja hasilnya Aji kalah jumlah.
"Kami setuju dosisnya ditambah. Karena darah Corazòn itulah energi yang dibutuhkan oleh sel-sel mati dan jaringan-jaringan yang sudah mati untuk hidup kembali," ujar para dokter.
"Baiklah kalau memang itu keputusan kalian. Sepertinya Aku tidak bisa lagi ikut campur dalam proyek itu. Dan Aku pun bisa fokus pada proyekku sendiri," ujar Aji.
"Proyek yang jalan di tempat itu?" ujar para dokter. Terdengar seperti cemoohan bagi Aji.
"Kita lihat saja nanti," ujar Aji bergegas pergi ke ruangannya sendiri.
Di ruang kerjanya Aji mendapati Cresen yang sedang sibuk dengan microskopnya.
"Ada hal baru?" tanya Aji.
__ADS_1
"Seperti virus baru yang kita buat kemarin juga gagal. Virus ini hanya merusak sel darah merah."
"Coba Aku lihat," pinta Aji.
Lalu Aji memijat keningnya.
"Mengubah virus yang merusak sel menjadi virus yang mengandakan sel hidup ternyata sangat sulit." Aji bergumam.
Cresen mengganti bahan penelitiannya. Dan melihat ada sesuatu yang menarik.
"Tapi coba lihat ini," kata Cresen setelah menggantikan bahan untuk diamati dengan microskop.
"Perlahan, tapi perubahan terjadi pada bahan ini," lanjut Cresen.
Aji yang penasaran mengambil alih bergantian melihat sesuatu yang dimaksud oleh Cresen.
"Darah ini mengental tapi tidak mengering, dan tampak seperti serat." Aji pun mengangkat kepalanya.
"Ya, mirip seperti susunan daging merah," ujar Cresen.
"Darahmu dan darah Corazòn..." gumam Aji mengingat-ingat sesuatu sambil melihat tanda dari wadah tempat bahan percobaan tersebut.
"Ya," jawab Cresen.
Aji membelalakkan mata lalu meraih laptop dan mengetik sesuatu. Mencari daftar bahan apa saja yang ia gunakan untuk bahan yang telah mengalami perubahan tersebut.
"Ini dia," ujar Aji.
"Ayo kita mulai pekerjaan kita. Lanjutkan dari bahan ini. Jika kita berhasil maka kita bisa memberi anggota tubuh baru bagi mereka yang lahir tidak sempurna."
Aji tersenyum. Lalu mereka mendapatkan hasil yang mereka harapkan. Darah campuran itu perlahan membentuk gumpalan daging. Tapi setelah itu tidak terjadi perubahan apapun.
"Apa kita gagal lagi?" tanya Aji.
"Tidak. Kita berhasil membuat darah menjadi daging. Sekarang kita coba membuat darah menjadi tulang. Lalu hasilnya kita gabungkan. Dengan begitu kita berhasil membuat daging dan tulang. Kita bisa mengunakan hal itu untuk menumbuhkan tangan dan kaki, bagi mereka yang lahir tidak sempurna."
Tiga hari kemudian mereka pun mendapatkan cara menumbuhkan bagian tubuh. Kemudian mereka mengujinya pada seekor kelinci. Yang kebetulan terlahir tanpa kaki kiri.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita uji sekarang juga."