Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Kelompok yang Berbeda


__ADS_3

Para penumpang pesawat juga beristirahat. Dan makan persedian yang ada untuk sekedar mengganjal perut. Mereka kesulitan untuk lebih dekat ke titik pusat lokasi keberadaan Cresen.


"Tidak tahu berapa banyak pusaran air yang harus kita lewati. Dan pusaran air ini lebih kuat dari yang sebelumnya. Sepertinya kita harus cari cara lain. Di tambah lagi, hilangnya kontak dengan tim yang lain."


Setiap ketua grup dalam pesawat mulai memikirkan cara untuk mengetahui keadaan pesawat lainnya. Sejak kehilangan kontak, sulit bagi mereka untuk menentukan langkah selanjutnya.


"Semoga semua penumpang pesawat baik-baik saja. Kita istirahat sejenak. Lalu kita akan melakukan peledakan berikutnya."


"Tapi, Pak! Jika kita tidak melakukan secara serentak, takutnya usaha kita akan sia-sia."


"Kamu benar, tapi kalau diam saja juga percuma. Kita hanya akan buang-buang bahan bakar."


Semua akhirnya diam dan mengakhiri perdebatan tersebut. Sambil mengistirahatkan tubuh mereka. Tanpa menyadari rombongan lainnya telah tiba di lapisan pelindung pertama.


"Tuan, pesawat ini tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ada pusaran angin di depan kita!" tanya seorang Pilot.


Pria yang paling disegani di dalam pesawat itu pun memicingkan matanya. Memperhatikan apa yang diucapkan oleh sang Pilot. Lalu membuat gerakan dengan tangan, agar mereka terus melanjutkan perjalanan.


"Tapi Tuan, pusaran angin di depan sangat besar dan berbahaya."


"Apa hal seperti itu saja tidak bisa kamu atasi?!"


"Ma-maaf Tuan, saya akan berusaha."


Maka perjalanan pun dilanjutkan tanpa mengubah arah. Namun mereka tidak berhasil melewati pusaran angin tersebut. Bahkan beberapa pesawat yang mencoba menerobos pusaran itu, saling berbenturan.


"Gawat! Awas!" teriak orang-orang.


Pesawat yang saling bertabrakan mengakibatkan ledakan yang amat dahsyat di udara. Puing-puing pesawat yang meledak malah menjadi masalah baru bagi pesawat lainnya.


Secepatnya pesawat yang selamat memilih memutar haluan. Dan ada yang dengan sigap menekan beberapa tombol. Membuat pesawat berubah pungsi. Dari kendaraan udara menjadi kendaraan laut.


Mereka mendarat dengan selamat menarik napas dengan lega. Sebelum menyadari kalau pusaran air menanti mereka di bawah. Pesawat yang sudah menjadi kapal selam itu pun terlempar menuju luar pusaran air. Penumpangnya mengalami guncangan cukup keras dan pesawat masih berputar-putar sangat lama, sampai bisa dikendalikan kembali.

__ADS_1


"Hey, kalian! Beritahu kami apa yang harus dilakukan untuk bisa melewati pusaran tersebut!" Dengan berteriak Pria paling disegani di pesawat yang selamat itu bertanya pada tiga penumpang khusus.


Ketiganya saling berpandangan. Mereka tidak menyangka kalau ada hal seperti itu untuk dihadapi. Melihat mereka masih diam saja, yang bertanya makin kesal dan menyuruh seseorang untuk menyiksa mereka.


"Tunggu! Aku akan bicara! Aku rasa itu akibat alat khusus yang dibuat untuk menghalangi tamu tidak diundang!" karangnya.


"Jadi kamu tidak yakin?!"


"Yakin! Aku yakin!" jawabnya kemudian dengan pasti.


Orang yang ditanya menahan napasnya beberapa detik untuk menyembunyikan kegugupannya. Dan menahan diri untuk tidak berkedip sedikitpun saat menatap si Penanya.


"Baiklah! Sekarang katakan! Bagaimana melewatinya!"


"Ledakan! Ya kita harus meledakkannya. Tapi hanya bisa dilakukan dengan arah yang berlawanan secara serentak!" ujar pria yang terikat tali pada tangan dan kakinya di tiang.


Ia sengaja mengarang cerita itu. Tujuannya agar pesawat yang tersisa bisa tercerai-berai. Agar jika beruntung, saat mereka berhasil menyelamatkan diri, tidak akan ada yang curiga kalau pesawat itu dibawa pergi.


Ketua regu memeriksa monitor dan mengirim kode pada pesawat lainnya. Untuk memastikan kalau penumpang di pesawat itu masih bernyawa. Dan untungnya mereka yang berada dalam kendaraan itu masih hidup, juga bisa berkomunikasi dengan baik.


"Ada tujuh pesawat, Tuan."


"Baik. Lakukan seperti yang dikatakan orang itu!" ujar Pria pemilik posisi tertinggi.


Ia adalah dalang penculikan Cresen. Dan karena percaya pada kebohongan tiga orang bayarannya, mereka tiba di laut, tempat Kakek Cresen juga berada. Meski demikian kelompok Kakek Cresen dan kelompok dari Pria itu belum saling mengetahui kalau mereka ada di tempat yang sama.


"Tuan, Malvado! Pesawat telah berada di posisinya masing-masing. Dan kami siap meluncurkan bahan peledak!" ujar ketua memberi aba-aba.


Seluruh penumpang mempersiapkan diri untuk peledakan.


Satu! Dua! Tiga!


Ledakan yang sudah diatur itu pun terjadi. Pesawat dari kelompok Kakek Cresen merasakan guncangan dan akhirnya mereka terbangun. Terbukanya pelindung pertama membuat signal dapat terkirim dari satu pesawat ke pesawat lainnya.

__ADS_1


"Tuan Sean, pesawat lain ternyata selamat dan mampu melewati pusaran air!" ujar ketua pesawat yang ditumpangi Kakek Cresen.


Ia tidak tahu kalau sebagian signal yang diterima bukan berasal dari kelompoknya. Tapi karena mereka menggunakan pesawat jenis yang sama, sehingga tidak ada rasa curiga.


Tapi sebagai kebiasaan, maka tetap saja signal yang muncul harus diperiksa. Melalui pesan singkat. Berupa kode-kode khusus. Namun akibat sesuatu yang tidak mereka ketahui, tanda keberadaan pesawat lain itu menghilang. Dan pesan tidak terkirim.


Sebab saat itu seorang wanita yang bermimpi buruk berada di tepi pantai. Membaca mantra. Memperbaiki lapisan pelindung. Dan kali ini tidak hanya sekedar mantra. Ia juga mengorbankan darahnya dalam ritual itu.


Ia masih berjaga di tepi pantai hingga matahari mulai memancarkan sinarnya dari timur. Melihat tidak ada tanda-tanda ikan-ikan aneh dalam mimpinya melompat dari dalam laut ke darat, maka ia pun pulang ke gubuknya.


"Cenayang! Ada apa! Kenapa Cenayang berjalan dari arah laut?" tanya Panthera Tigris.


"Bukan apa-apa. Jadi tidak perlu khawatir. Aku mau pergi tidur dulu. Tapi alangkah baiknya mulailah membuat pagar di tepi pantai."


Cenayang pergi begitu saja meninggalkan Pantheta Tigris yang masih kebingungan. Ia berlari menuju pantai. Tapi tidak ada hal yang janggal terlihat di sana. Ia melanjutkan penyelidikan dengan mengelilingi tepi pantai. Dan menemukan benda aneh yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya.


"Benda apa ini?" gumamnya heran.


Sambil berjalan menuju perkampungan ia memperhatikan benda itu dengan seksama. Namun kemudian ia membuangnya dan menganggapnya seperti bukan apa-apa.


Kembali keperkampungan dan melihat istrinya yang sedang menemani Cresen makan. Lalu menceritakan yang dikatakan oleh Cenayang padanya. Oryza Sativa mengernyitkan keningnya. Lalu membelai rambut Cresen sebelum meninggalkan anak itu pada pengasuhnya.


"Jika demikian. Perintahkan orang-orang untuk membuat pagar di tepi pantai. Bawa kayu-kayu besar dan akar-akar yang kuat sebagai tali selain rotan."


"Baiklah, akan aku laksanakan."


Setelah suaminya pergi Oryza Sativa mengambil busur dan anak panahnya. Memanggil burung Raja Wali tunggangannya. Dan mengitari pulau untuk melakukan pemeriksaan.


"Kenapa wajah mereka sangat cemas?" batin Cresen di sela-sela makannya.


Ia memandang ke arah laut. Dan berharap ada tanda-tanda kedatangan kakeknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2