Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Korban Berjatuhan


__ADS_3

Serangan pertama gagal dan ternyata serangan berikutnya telah menyusul. Penduduk pulau ketakutan melihat ledakan yang baru pertama kali mereka lihat. Selain ledakan dari gunung berapi ribuan tahun lalu.


Cresen melihat penduduk pulau berlarian menuju hutan. Akan tetapi Oryza Sativa justru melompat ke laut karena mengkhawatirkan keadaan Cresen yang ada di dalam pesawat. Hal itu membuat Panthera Tigris melakukan hal yang sama.


Tapi sebelum itu ia sudah menyuruh penduduk pulau lain untuk kembali ke perkampungan. Dan memberi tahu keadaan di tepi laut.


"Pergilah dan temui semua orang. Katakan ada bola api yang beterbangan. Cari tempat berlindung!" kata Panthera Tigris sebelum menyelam.


Pesawat ikut menyelam. Dan Oryza Sativa memanggil Cresen yang ada di dalam pesawat agar keluar. Tapi Cresen justru menyuruhnya untuk masuk ke dalam pesawat. Namun ukuran tubuh Oryza Sativa yang terlalu besar tidak muat melewati pintu masuk.


Sebuah serangan muncul dari dalam air. Ternyata pesawat dari pihak musuh telah mendekat. Tapi serangan itu kembali berhasil digagalkan dengan serangan balasan. Hanya saja ledakan tersebut membuat gelombang tinggi di laut.


Panthera Tigris dan Oryza Sativa terbawa gelombang. Begitupun dengan pesawat lainnya.


Penduduk pulau yang kembali ke perkampungan bertemu penduduk pulau yang berjalan menuju lautan. Karena penasaran dengan apa yang terjadi. Sedangkan di perkampungan tinggallah pengasuh Cresen dan Cenayang serta para bayi dan para wanita.


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh pihak musuh mendatangi tempat tersebut. Para pria berseragam hitam menemukan lokasi perkampungan dari api unggun yang dinyalakan ketika pesta penyambutan Kakek dan rombongannya.


"Kalian semua! Angkat tangan!" perintah ketua dari kelompok tersebut.


Para wanita, dan para bayi tidak paham ucapan pria berserangam serba hitam tersebut. Justru mereka tampak senang saat melihat orang itu.


"Para bayi," seru mereka.


Saat salah satu bayi mendekati pria berseragam, satu tembakan melesat. Menembak bagian jidad bayi itu. Dan seketika anak itu ambruk.


Mama dari anak itu berlari hendak melihat kondisi putrinya. Satu tembakan pun dilepaskan kembali. Tapi wanita itu melindungi wajah dengan tangannya.


Sehingga bagian lengan yang melindungi keningnya, terluka. Ia menjadi marah. Dan mendekati putrinya dengan cemas. Kini ia lebih marah saat melihat putrinya bersimbah darah dan tidak bergerak lagi. Saat memeluk putrinya.


"Binatang buas!" teriaknya murka.


Segera ia melompat dan menerjang ke arah penembak putrinya. Dan pria berseragam hitam segera menembakkan beberapa tembakan lagi. Sehingga timah panas bersarang di tubuh wanita itu. Namun wanita itu masih dapat bergerak dengan lincah. Tidak menghiraukan luka-lukanya.

__ADS_1


Para wanita yang lain berlari menyelamatkan para bayi. Dan sebagian dari mereka mencoba menolong wanita yang terluka itu. Dan akibatnya mereka ikut terluka. Meski begitu para wanita hampir saja mengalahkan para pria berseragam hitam.


Tapi pria berseragam mengunakan tali khusus untuk naik ke pohon dan melempar bahan peledak. Dan lenyaplah beberapa nyawa.


Saat para pria berseragam melihat penduduk pulau kabur. Mereka pun menembaki kaki penduduk pulau. Dari atas pohon.


Akhirnya beberapa penduduk pulau berbalik dan memilih menyerang dengan tanpa senjata. Memanjat pohon dan mencoba mengalihkan perhatian pria berseragam. Agar mereka yang belum terluka dapat menyelamatkan diri.


Penduduk pulau berhasil menangkap salah satu pria berseragam yang terus menembak. Dan akhirnya penduduk pulau melakukan sesuatu pada tangan pria itu. Sehingga pria itu tidak sanggup lagi mengangkat kedua tangannya.


Dengan penuh amarah penduduk pulau melemparkan tubuh pria itu ke sebuah pohon, dan terdengar bunyi tulang yang remuk. Pria berseragam lainnya mulai lebih waspada.


Setelah menyadari kalau tembakan tidak cukup untuk melumpuhkan mereka, maka pilihan lain pun di lakukan. Mereka melempar bahan peledak pada penduduk pulau yang mengejar mereka.


Penduduk pulau lainnya berhasil kabur. Tapi pria berseragam tidak melepas mereka begitu saja. Setelah memastikan kalau Cresen tidak ada di antara mereka, bahan peledak pun dilemparkan kembali.


Sehingga orang yang terluka dan kehilangan nyawa bertambah.


Pesawat yang ditumpangi Cresen kini sudah mengudara. Dan Cresen yang merasakan ada sesuatu terjadi pada perkampungan, secara tidak sadar melihat ke jendela. Dan melihat ada ledakan di pulau.


Secepatnya ia menyelam ke daratan. Dan tidak lagi mengikuti pesawat yang ditumpangi Cresen. Sebab ia yakin Cresen sudah aman. Merelakan Cresen kembali bersama kakeknya ke dunianya.


"Putar balik pesawatnya!" teriak Cresen.


"Cresen. Jangan bodoh. Kita harus secepatnya pergi dari sini!" teriak kakek.


Karena saat ini mereka juga sedang diserang oleh pesawat-pesawat lain. Dan mereka sedang menuju perjalanan pulang.


"Lihat. Asap di pulau itu. Telah terjadi sesuatu di sana! Penduduk pulau dalam bahaya!" kata Cresen.


"Kita juga akan dalam bahaya," kata kakek.


"Pilihan yang tepat adalah kembali. Sebab tujuan utamanya, kamu sudah ditemukan," ujar kakek.

__ADS_1


"Kakek tidak akan pernah bisa menemukanku jika penduduk pulau itu tidak pernah menyelamatkanku!" teriak Cresen.


Lalu merebut senjata api dan menodongkan pada sang pilot. Suasana menjadi tegang.


"Cresen!" teriak kakek.


"Putar balik dan selamatkan penduduk pulau. Atau aku akan menembak!"ancam Cresen.


Semua orang diam. Cresen menyadari kalau ancamannya tidak dihiraukan. Akhirnya Cresen menodongkan senjata api itu pada dirinya sendiri.


"Jika aku pergi tanpa membantu mereka sedikitpun aku akan hidup dalam penyesalan. Jadi lebih baik aku mati!" teriak Cresen.


Ia menarik pelatuk. Suara tembakan memenuhi ruangan di pesawat. Dan jika sedetik saja tidak ada yang menangkap tangan Cresen, dan menghalanginya maka anak itu sudah pasti tewas.


Tubuh Cresen terjatuh dan tertimpa tubuh orang yang menggagalkan rencananya. Melihat keseriusan Cresen mengakhiri hidupnya membuat kakek menyerah.


"Putar kembali pesawatnya!" perintah kakek.


Oryza Sativa tiba dengan selamat di tepi pantai. Tidak ada yang mengincarnya karena pesawat saling tembak dan tidak menghiraukannya.


Di udara seekor burung Raja Wali terbang ke arahnya. Seolah tahu apa yang harus diperbuat. Oryza Sativa langsung menaikinya dan menuju ke perkampungan.


Ternyata Panthera Tigris sudah berlari lebih dahulu ke perkampungan saat melihat pesawat Cresen bertempur melawan pesawat lain. Ia merasa tidak akan membantu jika terus berada di sana.


Ia memutuskan pergi kehutan ke arah datangnya tembakan. Dan memastikan apa yang menyerang mereka saat di tepi pantai.


"Seluruh pasukan! Kembali ke pulau!" ujar pilot pesawat yang ditumpangi kakek.


Tentu saja perintah itu hanya bisa diterima oleh anggota tim yang berpihak pada kakek. Sebab pesan itu dikirim dalam kode khusus. Tapi pesawat yang menyerang ikut kembali ke pulau.


Saat itu pesawat tim dari pihak kakek memilih untuk tidak melakukan serangan balik pada pesawat yang menyerang dari belakang. Sebab mereka tidak akan berhasil menyerang. Setelah menyadari pesawat musuh dan pesawat mereka punya alat khusus menangkal serangan.


Jadi mereka harus melakukan dengan cara berbeda. Tidak bisa jika melakukan serangan langsung. Pesawat musuh juga menyadari hal itu memilih berhenti menyerang.

__ADS_1


Dan sekarang Oryza Sativa tiba di perkampungan.


__ADS_2