Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Usaha Bertahan Hidup


__ADS_3

Kesadaran baru pun muncul kembali. Membuat Manusia Buatan tidak menyentuh pria itu. Ia berbalik dan meninggalkannya begitu saja.


"Dasar bodoh!" batin pria itu sambil tersenyum licik.


Begitu juga dengan pikiran orang-orang yang ada di dalam kubah tersebut. Menganggap suatu kebodohan saat pada saat Manusia baru itu justru melepaskan sang pemimpin.


Kini pria itu mengeluarkan sebuah kotak dan menekan tombol merah, ketika Manusia buatan telah berada di luar kubah perlindungan. Tanpa menyadari kemampuan melihat segalanya masih aktif pada Manusia Baru itu.


Melihat hubungan dari alat pengendali jarak jauh yang ada di tangan sang pemimpin, dengan beberapa benda mematikan yang diarahkan padanya. Juga sebuah lubang rahasia yang dalam tepat di bawah kaki Manusia Baru.


Maka dengan cepat Manusia itu melompat dan memusatkan kemampuannya pada kesadarannya. Sehingga apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan. Benda yang diarahkan padanya justru berbalik menuju kubah perlindungan. Atas perintah dari kesadaran Manusia Baru itu.


Terjadi ledakan kubah itu tidak langsung hancur pada ledakan pertama. Tapi ledakan tidak hanya terjadi sekali saja. Sebab saat tombol merah ditekan maka semua senjata yang terhubung remote tersebut aktif. Dan mengakibatkan kehancuran dari kubah tersebut.


"Tidak...!"


"Tolong...!"


Terdengar teriakan orang-orang di dalam kubah itu sampai akhirnya yang tersisa hanya debu dan puing-puing reruntuhan tempat perlindungan terakhir di pulau itu.


Pulau tersebut bergetar. Dan dirasakan sampai ke area E. Orang-orang ketakutan. Ledakan pun terjadi di beberapa tempat penting.


Ternyata semua itu telah diatur secara otomatis. Jika sang pemimpin telah tiada maka seluruh bahan peledak di pulau itu aktif. Dan terjadilah kebakaran besar-besar di pulau itu.


Orang-orang kembali kocar-kacir. Hal itu dapat diketahui oleh Manusia Baru. Ia pun mempergunakan kemampuannya sekali lagi untuk menahan ledakan dari bahan peledak yang belum sempat meledak.


"Kita harus segera pergi dari pulau ini. Karena kita akan segera binasa jika terus berada di sini!" ujar dokter Flute saat melihat kobaran api di mana-mana.


"Pergi? Ke mana?" tanya mama Violin.


"Ke mana saja, sebab pulau ini akan segera hancur."


Flute menceritakan apa yang ia dengar tentang terjadinya ledakan jika pemimpin di pulau itu tiada. Dan semua orang yang mendengar menjadi lebih panik.


Pada saat itu Manusia Baru menyadari kalau kekuatannya mulai habis. Ia tidak bisa melindungi seluruh pulau. Jadi ia harus mengurangi wilayah yang ia jaga. Dengan melepaskan kekuatannya pada tempat yang kosong. Atau tidak memiliki warga.


Ledakan kembali terjadi. Manusia Baru mengatur agar ledakan terjadi lebih lambat dan orang-orang dapat mengungsi. Dan sebagian orang yang tinggal di area B, C, D telah melarikan diri dengan pesawat ataupun perahu yang ada di area itu.


Meski banyak juga yang tidak bisa terangkut. Korban nyawapun mulai berjatuhan semakin banyak. Dan gempa akibat ledakan mengakibatkan pulau itu mengalami pergeseran.

__ADS_1


"Semuanya, ayo ikut Aku! Kita harus segera pergi!" ajak Flute.


Ia mengajak warga area E ke suatu tempat untuk menaiki pesawat yang ada di tempat latihan militer para Manusia Super. Dan sayang sekali, ternyata sudah tidak ada satupun pesawat lagi yang tersisa.


Orang-orang yang tinggal berdekatan dengan area itu telah menggunakannya. Sistem siapa cepat dia yang dapat pun terjadi. Banyak korban jiwa yang berjatuhan di tempat itu. Memperebutkan tempat dalam pesawat.


"Kita terlambat," gumam Flute.


Pada saat itu orang-orang dari semua area telah berkumpul di lapangan landasan penerbangan. Satu-satunya tempat teraman dari reruntuhan bangunan. Mereka kebingungan.


"Ayo kita cari kendaraan lain," ujar Flute.


Dan baru saja berkata begitu tanah pun terbelah. Orang-orang ditempat itu berlarian dan berpencar. Satu persatu dari mereka pun terjatuh ke dalam lubang akibat retakan.


Violin terjatuh saat berlari karena aksi saling dorong dari beberapa orang di belakangnya. Dan Flute yang menggendong adik Violin yang berusia 4 tahun melihat mama Violin kembali ke belakang untuk menolong Violin. Tapi tanah yang dipijak mama Violin retak dan wanita itu jatuh.


"Harmonica! Pegang tanganku!" ujar Flute pada mama Violin yang berhasil ia tangkap.


Violin berlari memutar menuju tempat mamanya berada. Tapi sekitar lima meter darinya terjadi ledakan.


"Violin...!" teriak mamanya.


"Mama Aku di sini!" teriak Violin yang ternyata berhasil diselamatkan oleh Manusia Baru.


Lalu Flute mengajak mereka ke suatu tempat. Semua berlari. Tapi Manusia Baru diam saja. Ia sedang berpikir bagaimana caranya membawa orang-orang dalam waktu yang bersamaan.


"Hei, ayo pergi!" panggil Violin yang menoleh kebelakang.


Ia berlari berbalik arah. Tapi dicegah oleh Flute.


"Jangan ke sana. Berbahaya!" ujarnya.


"Dia itu kuat, dia pasti baik-baik saja!" teriak Flute di tengah suara ledakan.


Akhirnya mereka menuju suatu tempat yang lebih dulu meledak. Dan berharap ledakan tidak akan terjadi lagi di sana. Orang-orang area E ternyata punya pendapat yang sama. Sehingga mereka kini berkumpul di sana.


"Kapal," gumam Violin saat melihat sebuah kapal di tengah laut.


"Kapal itu kepenuhan muatan. Tinggal menunggu waktu pasti akan tenggelam," ujar Flute.

__ADS_1


"Tapi pulau ini juga akan segera tenggelam," ujar Violin saat melihat permukaan air laut naik.


"Kita harus mencari sesuatu yang bisa dipakai menjadi kapal. Dan pergi ke laut sebelum ledakan benar-benar menghabiskan badan pulau ini," ujar warga area E.


"Ya kalian benar. Berada di laut lebih aman."


"Ayo cari benda-benda yang bisa mengapung dan buat kapal darurat!" ujar mereka sepakat.


Beruntungnya pada saat itu ledakan telah berhenti. Dan warga area E mulai membuat kapal. Pada saat itu mereka mendengar teriakan orang-orang banyak. Ternyata Manusia Baru membawa orang-orang dalam sebuah keranjang besi besar yang ia bentuk sendiri.


"Hah...?" ujar orang-orang yang sedang membuat kapal heran.


Satu persatu orang-orang keluar dari keranjang besar setelah manusia baru menurunkan benda itu dari punggungnya. Ia juga mengeluarkan mereka satu persatu. Lalu menjemput yang orang-orang masih hidup di pulau itu.


"Kalian sedang membuat apa?" tanya Clarinet yang masih terhuyung setelah keluar keranjang.


"Sebuah kapal," jawab Violin. Clarinet adalah teman sekelasnya dari area D.


"Hah? Oh! Baiklah! Katakan apa yang bisa aku bantu!" serunya tiba-tiba dengan penuh semangat.


Akhirnya orang-orang yang ada di sana saling bahu-membahu membuat sebuah kapal. Siapa sangka ternyata Clarinet yang pendiam mampu mengarahkan orang-orang untuk bekerja sama.


Dengan alat dan bahan seadanya perahu pun selesai di buat. Tapi masalahnya jumlah orang yang harus diangkut tidak sesuai dengan kapasitas kapal darurat tersebut.


Dan lagi-lagi orang-orang menjadi semakin kalap setelah air makin tinggi.


"Sebaiknya kita tentukan, siapa yang bisa naik kapal ini dengan cara duel," ujar orang-orang dari area B, C, dan D.


"Tidak bisa seperti itu!" ujar Flute yang tidak setuju.


"Ya itu ide awal kami!" ujar Harmonica.


"Tapi semua orang membuatnya!" teriak warga lainnya.


Lalu salah satu warga mencengkram warga lainnya dan memukulnya.


"Yang mau naik kapal, harus berhadapan denganku!" teriaknya.


Air sudah semakin dekat. Akhirnya para warga dari masing-masing area bertarung. Tapi Flute melarang warga E bertarung.

__ADS_1


Manusia Baru kebingungan orang-orang yang ia selamatkan saling menyakiti. Kesadaran baru muncul lagi. Peristiwa terjadinya kehancuran pulau Oryza Sativa saat dalang penculiknya datang ke pulau itu.


__ADS_2