Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Anak yang Hilang


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan pada putraku...! Pergi...! Pergi...!" teriak pemilik rumah sambil memukuli pria berpakaian putih itu.


Lagi-lagi pria itu hanya melindungi kepalanya. Kemudian pergi begitu saja tanpa perlawanan. Dan wanita itu segera menghampiri Cresen. Ia tampak cemas. Cresen bisa merasakannya.


"Kamu tidak apa-apa, kan? tanya wanita itu.


"Iya aku tidak apa-apa," jawab Cresen.


Wanita itu menarik Cresen ke kursi, lalu keduanya pun duduk di kursi, tanpa berkata-kata. Wanita itu mengamati Cresen lebih dekat.


"Apa kamu takut?" tanyanya dengan lembut. Cresen menjawab dengan menggeleng.


"Untunglah, sepertinya Aku datang tepat waktu," kata wanita itu lagi. Cresen hanya diam membisu.


Beberapa detik kemudian perut Cresen bersuara. Menandakan kalau ia sedang lapar. Dan Cresen baru ingat, kalau ia belum makan apapun sejak keluar rumah mamanya. Wanita itu mengajak Cresen ke bagian dapur. Lalu menyuruh Cresen untuk duduk, sambil mengambil makanan dari lemari. Kemudian menghidangkannya di meja.


"Ayo kita makan bersama, kamu pasti sudah sangat lapar," ajak wanita itu.


Cresen masih diam sambil melihat sekeliling. Ia masih sedikit merasa ada yang aneh. Dan membuatnya was-was. Setelah melihat bahwa tidak ada bahaya yang akan datang, Cresen mulai mendekati makanan yang ada di meja, dengan tangan. Mengambil sebuah pisang lalu mengupasnya.


Sementara wanita itu mengisi satu piring, lalu menyerahkannya pada Cresen. "Makanlah ini. Makanan kesukaanmu. Mama sudah tahu kamu pasti kembali. Jadi pagi ini mama bangun dengan cepat," kisah wanita itu.


Cresen menatap wanita itu dengan memicingkan mata. "Hah, apa dia masih mengira kalau aku adalah putranya?" batin Cresen.


Sesaat Cresen menumbuk telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanannya, seperti sedang memalu.


"Ah... Aku mengerti sekarang!" serunya.


"Mengerti apa?" tanya wanita yang baru saja selesai mengisi piring untuk dirinya sendiri.


"Tante, hilang ingatankan?!" tanya Cresen setengah berteriak.

__ADS_1


Wanita itu memicingkan matanya. "Kasihan putraku. Yang sedang mengalami hilang ingatan itu adalah dia. Tapi ia, malah mengira Aku, yang hilang ingatan. Baiklah, asal ia tetap ingin bersamaku. Aku akan berpura-pura hilang ingatan saja," batinnya.


"Hah Aku hilang ingatan? Aduh... kepalaku sakit." Dengan sedikit merengutkan wajahnya, wanita itu berpura-pura di hadapan Cresen.


"Aku rasa, mungkin saja yang kamu katakan itu benar. Sebab Aku tidak mengingat apapun, kecuali kalau aku punya seorang putra. Dan kamu adalah putraku ya, kan?"


"Tidak, Aku bukanlah putramu," jawab Cresen.


"Tapi itu tidak mungkin. Jika kamu bukan putraku, lalu di mana putraku?" tanya wanita itu. Wajahnya tiba-tiba terlihat sendu.


Cresen menjadi bingung lalu terdiam, ia menatap wajah wanita itu yang terlihat sedih. Seketika ia teringat pada kedua orang tuanya.


"Apakah saat ini Mama sudah bangun? Dan sedang memikirkanku. Jika mama sedang mengingatku ia pasti akan bersedih. Sebab aku tidak ada di hadapannya," batin Cresen dan ia jadi murung.


"Oh, iya aku harus segera menemukan seorang dokter yang bisa mengobati mama. Tapi bagaimana caranya aku pergi. Aku tidak bisa membiarkan wanita ini sendirian di sini. Kasihan dia, jadi aku akan membantunya untuk menemukan putranya. Sambil mencari seorang dokter, yang akan mengobati mama!" gumam Cresen dalam hati.


"Mama jangan sedih. Sebab ada aku di sini," hibur Cresen sambil menepuk dadanya.


"Aku akan jadi pahlawan. Menolong seorang wanita yang kehilangan putranya. Dengan begitu, lencana anak baik milikku akan bertambah," hayalnya.


Maka Cresen pun memutuskan untuk tinggal di tempat itu lebih lama.


"Putraku akan segera mengingatku," batin wanita itu dan ia pun tersenyum.


Lalu wanita itu mengantar Cresen berkeliling rumah. Dan berakhir di sebuah kamar.


"Sayang ini adalah kamarmu dan di dalam lemari itu adalah pakaianmu, mama ke dapur dulu untuk menyiapkan makan malam untuk kita nanti," tutur wanita itu. Cresen mengangguk.


Cresen membuka lemari itu, lalu melihat banyak pakaian anak laki-laki yang seukuran dengannya.


"Wah... sepertinya anak tante itu sebaya denganku. Apa mungkin kami sekelas? Coba aku ingat-ingat dulu. Mungkin ada temanku yang wajahnya mirip dengan wanita itu," gumam Cresen mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada," keluhnya. Lalu ia memutuskan untuk pergi mandi.


Setelah mandi dan mengganti pakaian, Cresen berpikir seperti apa rupa anak wanita itu.


"Dan di mana dia sekarang?" Sambil berpikir Cresen berbaring di tempat tidur.


Lalu wanita itu memanggilnya dan mengajaknya makan malam bersama. Kemudian setelah makan, wanita itu mengajak Cresen untuk melihat sebuah album foto. Tapi album tersebut tampak seperti album koleksi foto-foto bayi yang berbeda.


"Lihat... ini adalah kamu umur 1 bulan, ini saat kamu makan sendiri. Dan ini saat kamu belajar berjalan. Lalu...," celotehnya terhenti. Cresen telah tertidur.


Wanita itu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Cresen. Memeriksa semua pintu dan jendela lalu menguncinya.


"Tidak akan ada yang bisa membawa putraku lagi mulai dari sekarang. Mama akan menjagamu." Wanita itu pun pergi ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur.


"Suamiku. Putra kita sudah aman. Beristirahatlah dengan tenang di sana," gumamnya sambil berurai air mata.


Ia pun akhirnyq tertidur. Dan malam sudah sangat larut. Lalu seseorang membuka pintu. Kemudian masuk ke rumah itu dan menghampiri Cresen. Tampaknya tamu tidak diundang itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dan botol kecil berisi cairan.


Ia pun membius Cresen, lalu anak itu dibawa ke sebuah ruangan. Di ruangan itu ada banyak layar monitor dan peralatan-peralatan. Cresen dibaringkan di sebuah tempat tidur. Dengan cepat penculik itu mengikat tangan dan kaki Cresen.


Penculik itu mengeluarkan sebuah buku album foto. Memembuka lembarannya dan melihat foto-foto yang tertempel di sana. Ada banyak foto anak-anak sebaya Cresen di sana. Dan setelah ia membuka lembaran terakhir, ia pun mengembalikan album foto itu. Lalu mengambil album yang lain. Kemudian melakukan hal seperti tadi.


Dua jam kemudian Cresen pun terbangun, dan terkejut melihat seorang berdiri di hadapannya. Pria yang sudah ia lihat beberapa kali selama satu hari di pulai ini. Pria itu menatapnya dengan tajam lalu menekan sebuah tombol.


Dengan perlahan tempat tidur Cresen berbaring berubah bentuk menjadi kursi. Pria itu melangkahkan kaki dan berdiri di sisi kiri.


"Apakah kau sudah sadar?" tanya pria itu. Cresen diam saja dan bingung.


"Lepaskan aku!" teriaknya kemudian. Tapi pria itu diam saja. Dan tersenyum sinis ke arah Cresen.


"Sekarang lebih baik, kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur. Sebab jika tidak aku akan menyetrummu dan menyiksamu. Dan kamu akan merasakan rasa sakit, seperti yang pernah aku rasakan dulu," kata pria itu.

__ADS_1


__ADS_2