Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Akhir dari Masa Lalu


__ADS_3

Saat bala bantuan datang, pemilik nomor baju 011009 tersenyum puas. Rencananya berhasil. Di tangannya tampak sebuah buku novel yang ditulis oleh seorang author yang bernama Tompealla Kriweal dengan judul novel Miss Yeti Bukan PSK Biasa.


"Rencanaku berhasil," gumamnya.


Mereka pun akhirnya dibawa keluar dari pulau itu.


Para pengawas yang tidak berhasil kabur ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Anak-anak korban penculikan yang masih memiliki keluarga dikembalikan pada keluarga mereka masing-masing. Aves kembali bertemu mamanya. Hanya saja saat bertemu kembali, mama Aves sudah tidak mengenalinya lagi.


Identitas anak-anak jenius yang sudah menjadi anak "Papa" dirahasiakan dari publik. Atas permintaan mereka. Dan mereka mendapatkan penjagaan secara khusus. Tempat tinggal yang nyaman untuk mereka. Sebuah pulau terpencil. Sebab kebiasaan saat tinggal di pulau membuat mereka sulit berbaur di masyarakat. Apalagi mereka yang diculik sejak bayi.


Mereka yang menjadi cacat pun tinggal di pulau itu beserta keluarga mereka. Dan setiap orang yang keluar masuk mendapat pemeriksaan ketat. Menghindari kejahatan yang datang dari pihak luar. Serta agar tidak ada kebocoran data dari dalam.


Oleh sebab itu dipastikan terlebih dahulu, siapa yang ingin tinggal di pulau khusus tempat korban penculikan dan siapa yang ingin kembali ke masyarakat dan menanggung resikonya masing-masing.


Di pulau itu dibangun rumah sakit. Gudang stok makanan dan juga sekolah. Disediakan pula peternakan serta lahan pertanian. Setelah satu tahun pulau itu bahkan tampak seperti pulau yang dihuni penduduk biasa seperti pada umumnya.


Selanjutnya perubahan mulai terjadi. Para korban penculikan belajar beradaptasi. Melakukan perjalanan ke luar pulau. Mengambil pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka. Bahkan sebagian dari mereka telah membentuk klub sirkus.


Tapi tentu saja, identitas mereka di luar dan di dalam pulau berbeda. Setiap orang yang berhasil beradaptasi di luar akhirnya memilih tinggal di luar. Tetapi 99 persen memilih tetap tinggal di pulau.


Mereka merasa lebih aman jika tetap tinggal bersama. Mengingat selama ini mereka telah tinggal di tempat yang sama, membuat ikatan mereka sudah seperti saudara. Nasib yang sama membuat mereka jadi saling mengerti satu sama lain.


Di pulau baru, masing-masing orang mengganti identitasnya. Dan 011009 kebingungan memilih nama untuknya sendiri. Sampai Aves memberinya sebuah saran.


"Pakai saja nama ini!" seru Aves.


AJI


Tulisnya di sebuah buku. Lalu meletakkan sebuah buku novel yang berjudul Anak Genius Namaku Aji karya Tompealla Kriweall.


Aves menulis huruf abjad lalu menomorinya. Dan melingkari tiga nomor dan huruf dalam satu lingkaran. Nomor 01 dan A, 10 dan J, lalu 09 dan I.

__ADS_1


Anak itu tersenyum. Seperti mendapat hadiah baru. Ia pun merasa sangat senang. Dan akhirnya memberi judul pada buku yang ia tulis dengan judul yang sama dengan novel itu. Meskipun isinya sangat berbeda. Sebab buku yang ia tulis adalah kumpulan data yang ia catat sejak pertama kali berhasil membuat sebuah penemuan.


Dan buku itu telah berada di tangan Kakek Cresen. Sebagai syarat bekerjasama dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan dan teknologi informasi.


Lalu pihak kakek memberikan dana serta alat-alat untuk menjaga keamanan pulau baru itu. Bahkan sebagian dari penjaga keamanan adalah anak buah bayaran Kakek Cresen.


Dan tibalah hari ini, si Papa datang ke pulau mereka untuk mengambil alih. Tentu saja "Anak-anaknya" tidak akan terima.


"Kenapa diam? Apa sekarang kamu sudah lupa tatakrama?" tanya si Papa kemudian.


Cresen tidak perduli urusan "Papa-Anak" itu. Di pikirannya hanya membawa Mama Aves pergi.


"Hei, Nak mau kamu bawa ke mana wanita itu? Tinggalkan dia atau timah panas ini akan bersarang di kepalamu?"


Cresen tidak menoleh pada si Papa dan terus berjalan. Aves menyadari kalau si Papa menarik pelatuk senjatanya. Dengan cepat ia mengarahkan senjata api miliknya ke arah si Papa.


Tapi ternyata tangannya lebih dulu ditangkap. Dua timah panas telah keluar dari sarangnya. Satu dari senjata api Aves. Dan satu lagi dari senjata api si Papa. Kedua timah panas itu tidak satupun mengenai sasarannya.


Lalu terdengar suara orang berlari ke lantai atas. Ternyata Cresen berhasil menghindari tembakan dan membawa mama Aves ke lantai atas. Sadarlah Aves sekarang kalau Cresen tidak bermaksud menyakiti mamanya.


Kini ia justru berada dalam bahaya. Ia akhirnya dipukuli dan diikat. Jika bukan karena si Papa merasa masih bisa memperalatnya, ia pasti sudah dihabisi.


Lalu orang-orang bersenjata mengejar Cresen sampai ke lantai atas.


Tidak lama terdengar suara tembakan dari luar gedung. Penjaga keamanan tidak bisa tinggal diam setelah melihat Aves dan mamanya belum juga keluar. Sementara sudah ada dua suara dentingan timah panas.


"Lapor! Kita diserang!" lapor anak buah si Papa.


"Beri serangan balik!" jawab si Papa menyeringai.


Aves dibawa ke luar dan dimasukkan dalam mobil dalam keadaan terikat. Dan Cresen telah berada di atap gedung bersama mama Aves. Wanita itu ketakutan. Cresen menoleh ke bawah. Pria bersenjata telah tiba di atas.

__ADS_1


"Serahkan wanita itu!" perintah salah satu pria.


Cresen mengubah posisinya. Tadinya ia menggendong wanita itu dengan kedua lengan seperti seorang pangeran menggendong seorang putri. Kini ia memindahkan wanita itu kepunggungnya.


"Mama, tutup mata dan pegang yang erat!" perintahnya.


Wanita itu membelalakkan matanya sesaat tapi kemudian menutup mata saat Cresen berlari ke sudut. Selanjutnya memanjat tembok yang menjadi pembatas. Lalu melompat turun.


"Papa...!" teriak Cresen secara tiba-tiba.


Orang-orang melepas tembakan tapi gagal mengenai Cresen. Dan mereka terkejut saat melihat ke bawah. Cresen dan wanita yang ada dipunggungnya baik-baik saja.


Dan yang lebih mengejutkan ada seseorang bertubuh besar menangkap dan membawa mereka kabur.


"Papa...!" teriak Cresen senang.


Wanita itu membuka matanya. Ia menatap dengan heran dan takut pada orang yang sedang membawanya bersama Cresen.


"Mama, perkenalkan! Dia papaku!" seru Cresen memperkenalkan Panthera Tigris.


"Papa, perkenalkan... ini mama!" Kali ini Cresen memperkenalkan wanita itu.


Menggunakan dua bahasa secara bergantian. Sesuai dengan kebutuhan lawan bicaranya.


Mendengar Cresen memanggil wanita itu mama, Panthera Tigris memperlambat larinya.


"Mama...?" tanyanya heran.


Cresen membelalakkan matanya. Ia baru sadar kalau ini situasi yang membingungkan. Wanita itu hilang ingatan dan menganggapnya sebagai putranya. Sedangkan papanya pasti heran mendengar Cresen memanggil wanita lain dengan sebutan mama.


Hanya wanita itu yang masih belum berbuat apa-apa. Ia bingung. Cresen berbicara dalam bahasa asing. Dan terlihat akrab pada orang asing pula.

__ADS_1


"Putraku memanggilnya papa?" batinnya.


__ADS_2