
Tidak tahu, apakah para bayi itu mengerti perkataan Cresen atau hanya penasaran dengan perbuatannya, maka para bayi ikut mendorong kayu bersamanya. Tapi kemudian orang dewasa yang melihat hal itu malah mengambil kayu yang sedang mereka dorong.
"Ini bukan mainan, Nak," tegur orang dewasa tersebut.
Cresen dan para bayi lainnya melongo dan bengong. Jalan untuk tahu ke mana kayu itu diangkut sudah hilang. Para bayi kembali ke alat pemintal benang. Bahkan bayi penggigit juga batal mengangkat kayu, saat melihat para bayi pergi. Dan kembali bermain dengan alat pemintal, maupun alat tenun bersama yang lain secara bergantian.
"Gawat, bagaimana sekarang?" gumam Cresen.
Lalu ia melihat seekor burung Raja Wali milik Kepala Suku. Dan ia mulai berpikir untuk menungganginya. Setelah beberapa kali menaikinya Cresen jadi merasa paham cara mengendarainya. Sebab ia sering memperhatikan gerakan Oryza Sativa dan reaksi burung tersebut pada tiap aksi Kepala Suku.
Diam-diam ia melepas ikatan burung yang ditambatkan pada sebuah pohon. Lalu mencoba untuk menungganginya. Para bayi melihatnya dan berlari ke arah Cresen. Sebab mereka mengira ada permainan baru.
"Hei! Apa yang kalian lakukan? Jangan naik!" Cresen berusaha mencegah para bayi untuk naik.
Tapi hasilnya mereka malah berlomba-lomba untuk memanjat punggung burung Raja Wali itu. Saling pijak dan saling tarik serta saling dorong pun terjadi. Cresen juga akhirnya memanfaatkan salah satu punggung mereka sebagai tangga dan naik ke punggung hewan itu.
"Awas! Semuanya minggir!" ujarnya sambil mendorong mereka dengan tangan dan kakinya.
Tapi mereka justru menarik tangan dan kakinya hingga terjungkal ke bawah. Lalu duduk manis di atas. Tapi ternyata mereka terus saja saling tarik menarik. Mengira seperti itulah cara bermainya.
"Dasar kalian! Minggir!" teriak Cresen berulang-ulang.
Ia kembali mengikat tali kekang burung itu. Menarik perhatian para bayi agar meninggalkan hewan tersebut. Mengambil daun-daun kering sebanyak mungkin dan melemparkannya ke langit. Begitu seterusnya.
"Kalian tidak tertarik? Mainan ini sangat seru," gumam Cresen sambil terus bermain dengan daun-daun kering itu.
"Wah...! Wah...!" teriaknya tiap kali melempar setumpuk daun ke atas.
__ADS_1
Para bayi mulai tertarik dengan aksinya dan perlahan mendekatinya. Satu persatu dan akhirnya mereka bermain bersama. Cresen mengambil setumpuk daun dan melemparkan pada salah satu dari mereka bergantian.
"Ayo, terus bermain! Lebih seru bermain daun, kan?" tanya Cresen yang sebenarnya tidak yakin.
Setelah melihat para bayi mulai asik bermain. Diam-diam Cresen mendekati buruk itu. Kini ia menarik hewan itu ke suatu tempat. Dekat dengan sebuah kayu yang tumbang lalu menaikinya.
Ternyata para bayi melihatnya lalu berlari ke arah Cresen. Dengan buru-buru Cresen menarik tali pada burung tersebut. Dan menghentakkannya. Burung itu mengepakkan sayapnya. Saat hewan itu mulai terangkat ke udara, satu bayi menangkap kaki burung tersebut. Lalu bayi lain menarik kaki bayi tersebut.
"Astaga! Apa-apaan mereka ini?"
Tapi Cresen tidak perduli. Sebelum burung itu terbang tinggi, ia mengira para bayi akan melepaskan pegangan mereka. Tapi dugaannya salah. Dua bayi ikut terbang dalam posisi yang tidak nyaman itu.
"Kalian! Turun! Lepaskan!" teriak Cresen tapi tidak dihiraukan dua bayi itu.
Mereka malah mencoba memanjat naik ke atas. Bayi yang berhasil memegang kaki burung kesulitan naik karena kakinya dipegangi bayi lain di bawahnya. Dan Cresen tidak bisa menggapai salah satu dari mereka karena tangannya tidak sampai. Juga ia tidak yakin sanggup menarik mereka ke atas.
"Astaga! Apa-apaan mereka itu. Kita sibuk membuat pagar. Mereka malah buat ulah."
"Bukankah itu bayi Kepala Suku?"
"Iya, itu para bayi."
Para orang dewasa menjadi khawatir dan menunda pekerjaan mereka lalu mengejar burung Raja Wali itu dari bawah. Salah satu bayi membuat hewan yang mereka tumpangi hilang keseimbangan. Cresen jadi bingung.
Ketika melihat kebawah, ternyata bayi yang berada paling bawah sudah terlihat kelelahan. Tangan yang memegang kaki bayi di atasnya mulai kelihatan lelah. Bayi itu menangis. Takut jatuh.
Cresen tidak tahu bagaimana cara membuat burung itu turun. Dan setiap gerakannya pada tali kekang justru membuat burung itu terbang makin tinggi. Ketika bali yang paling bawah mulai meronta, bayi pemegang kali burung juga sudah kepayahan. Kini keduanya menangis.
__ADS_1
Beberapa orang melaporkan kejadian pada Oryza Sativa yang ada di tepi pantai. Dengan cepat wanita itu berlari lalu memanjat pohon, melompat dari dahan ke dahan. Bersiul memanggil burung Rajawali itu.
Para bayi tidak sanggup bertahan dan akhirnya melepas tangan mereka. Jatuh. Cresen secara tidak sadar, mengulurkan kedua tangan untuk mencoba menangkap mereka. Tapi ia justru jadi terjatuh dari tempatnya.
"Arghhkk!" teriak ketiganya.
Oryza Sativa dengan segera melompat lebih cepat. Mencoba menangkap putranya. Ia berhasil menangkap putranya. Tapi gagal mendarat dengan kedua kaki. Dan, terdengarlah suara benda jatuh yang amat keras di tanah.
Sementara kedua bayi lainnya. Masih sempat ditanggakap oleh orang dewasa yang ada di bawah. Tapi keduanya menangis karena takut. Kepala Suku meringis kesakitan. Tapi Cresen baik-baik saja dalam pelukannya.
"Kepala Suku? Apa anda baik-baik saja?!" teriak orang-orang yang melihat cara wanita itu jatuh.
"Iya, aku baik-baik saja. Tapi punggungku sakit sekali... ugh!" ujarnya.
Cresen yang ketakutan seketika merasa tubuhnya kaku dan sulit digerakkan. Detak jantungnya membuat hewan yang mendengar menjadi tidak tenang. Terutama ikan di laut yang dekat dengan posisi keberadaan Cresen saat ini.
Sementara pesawat-pesawat yang kelihangan arah melihat banyak ikan-ikan berukuran besar di laut. Mereka adalah ikan yang biasanya berukuran tidak lebih dari pergelangan tangan dan betis orang dewasa, kini tampak seperti ikan berukuran besar. Labih besar dari seekor harimau normal.
"Apa yang terjadi? Dari mana semua ikan itu muncul. Dan tampaknya menuju arah yang sama," ujar beberapa orang dalam pesawat.
Dan kali ini Kakek Cresen menyuruh pilotnya untuk mengikuti ikan-ikan tersebut. Sebab ia merasa ada sesuatu yang menggerakkan ikan-ikan itu menuju satu tempat.
Pesawat lainnya ternyata juga melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan pesawat yang ditumpangi oleh dalang penculikan Cresen. Setelah salah satu dari tiga mantan orang kepercayaannya berbohong lagi padanya.
"Ikan-ikan itu dipelihara secara khusus oleh Bos kami. Jadi kalau ingin menuju tempat Cresen disembunyikan, maka ikutilah ikan-ikan itu!" ujar pria yang sudah berbohong sejak awal.
Beruntung bagi seluruh pesawat berkat mengikuti ikan tersebut. Mereka berhasil melewati pelindung lapisan kedua pulau tempat Cresen berada.
__ADS_1
Bersambung...