
Pria itu mengangkat jari telunjuk lalu menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.
"Tidak, kurung saja dia dulu. Sebab jika kita melakukan sesuatu padanya, Aku takut mama akan menjadi sedih. Sebab saat ini mama mengira kalau anak ini adalah putranya. Aku harus pastikan dulu, kalau mama tidak mencarinya setelah ia sadar."
Maka cresen dikurung di dalam sebuah kamar kosong. dengan cahaya yang sangat terang. Lalu ada sebuah kaca yang hanya bisa dilihat dari luar ruangan tersebut. Melalui kaca itu pria yang mengaku sebagai anak kandung dari wanita itu, memperhatikan gerak-gerik orang yang ada di dalam.
Saat berada di dalam ruangan tersebut, Cresen tidak melakukan apa-apa dan dia malah tidur. Orang-orang yang mengawasi ruangan itu saling berargumentasi.
"Siapa sebenarnya anak ini? Alat pendeteksi kebohongan tidak menemukan tanda kalau kata-katanya adalah sebuah kebohongan."
"Apa organisasi tempat ia diculik mengajarkan cara menjaga detak jantung saat sedang berbohong? Organisasi itu pasti sudah setaraf internasional."
"Tapi anak itu mabuk? Tidak ada orang yang bisa berbohong saat mereka mabuk. Dosis obat itu juga sangat tinggi. Kemungkinan ia bisa berbohong sangat kecil sekali."
"Sudahlah, kalian terus awasi dia, aku akan memantau layar monitor di pulau ini. Agar tidak ada penyusup yang berhasil masuk."
"Apa kamu sudah memeriksa para pemain sirkus yang baru tiba kemarin?"
"Sudah, untuk sementara tidak ada yang mencurigakan."
Setelah perbincangan tersebut, maka orang itu pun pergi meninggalkan rekannya yang lain untuk mengawasi Cresen. Sementara itu pria yang mengaku sebagai anak dari wanita tadi, memutuskan untuk kembali ke rumah wanita itu.
Ia merapikan barang-barang yang telah berserakan di lantai. Dan ia juga mengendong wanita itu ke atas tempat tidur. Pria itu menghela napasnya lalu berjongkok dan berlutut di samping wanita tersebut.
"Mama memanggilnya seperti mama memanggilku saat masih kecil. Dan kenapa Mama tidak mengenalku, sejak pertama kali kita bertemu. Apa karena aku sudah bukan lagi, anak remaja yang dulu mama manjakan?"
"Ma, maafkan Aku karena baru bisa kembali setelah aku dewasa. Tapi ini bukanlah pilihanku. Sebab aku tidak punya kekuatan untuk melarikan diri dari tempat itu. Tapi aku merasa beruntung. Karena Aku masih bisa bertemu denganmu, setelah bebas dari tempat tersebut. Siapa sangka kami yang diculik bisa keluar bersama."
"Dan Aku harap mama bisa segera mengingatku," ujar pria itu.
__ADS_1
Ia lalu pergi meninggalkan kamar wanita itu dan menuju dapur. Mengambil piring yang telah diisi dengan sayuran segar, tertata rapi. Kemudian mengisinya dengan makanan yang baru saja dimasak oleh wanita itu. Ia pun makan.
"Kenapa nasibku sesial ini. Bahkan untuk makan di rumah mamaku sendiri, Aku seperti pencuri," gumamnya.
Menginat Cresen yang bukan siapa-siapa, namun dimanjakan oleh mamanya membuatnya kesal. Lalu tanpa sadar ia menggebrak meja. Terdengarlah suara ribut dari benda-benda di atas meja itu.
Dia pun terdiam sejenak, mendengarkan situasi di rumah itu. Untuk memastikan kalau kalau mamanya terbangun atau tidak, karena suara bising yang ia buat. Ia bernafas dengan lega setelah memastikan, kalau wanita itu belum bangun.
Lalu dengan cepat ia menyelesaikan makannya. Membersihkan peralatan makan yang ia gunakan, menata makanan seolah belum tersentuh, untuk menghilangkan jejak. Kemudian pergi. Ia kembali ke gedung tempat Cresen disekap.
"Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya pria itu pada rekan-rekannya.
"Tidak ada," jawab orang-orang itu.
Lalu ia masuk ke ruangan, kemudian an memasangkan sebuah ring di pergelangan tangan anak itu. Sebuah alat yang bisa dikendalikan dengan remote dengan jarak jangkauan yang cukup jauh.
Lalu ia melakukan sesuatu, yaitu menekan tombol angka satu pada remote agar Cresen terbangun. "Hei, bangun!" teriaknya. Cresen pun bangun.
"Jadi dengarkan Aku! Kita akan membuat kesepakatan. Aku mengizinkanmu untuk tetap tinggal bersama mamaku, tapi dengan satu syarat. Kamu harus melakukan apapun yang Aku suruh!" ujarnya dengan tegas.
Cresen yang masih setengah sadar, masih belum memberikan respon yang baik. Maka akhirnya pria yang ada di hadapan Crescent menekan pada sebuah tombol remote yang berangka dua. Hal itu membuat gelang yang ada di pergelangan tangan Crescent bergetar.
Ada aliran listrik yang keluar dari gelang yang ada di tangan Cresen. Dengan kesel anak itu menatap pria yang ada di hadapannya, juga gelang yang ada di tangannya, secara bergantian. Kemudian ia melihat sebuah benda kecil yang ada di tangan pria itu.
"Benda apa yang kamu taruh di tanganku ini?" tanya Cresen.
"Tenang saja benda itu tidak akan berbahaya, maksudku tidak akan sampai membuatmu kehilangan nyawa. Akan tetapi jika Kamu macam-macam maka Aku akan membuatmu menderita. Menyetrummu dengan daya yang lebih tinggi!" jelasnya disertai ancaman.
Anak itu diam dan masih memperhatikan gelang yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Benda ini sangat keren, tapi kenapa rasanya geli saat kamu menekan benda itu?" tanya Cresen.
"Kamu bilang geli? Kamu masih bisa bercanda di saat seperti ini?" tanya pria itu.
"Rasanya memang geli, kamu mau coba?" tantang Cresen.
"Hah, ternyata anak itu sangat pintar bersandiwara," gumam pria tersebut. Pelan seperti berbisik pada dirinya sendiri. Sambil menatap ke arah lain.
Lalu terdengar nada dering sebuah panggilan masuk. Pria itu pun mengangkatnya.
"Baiklah, sebentar lagi Aku ke sana. Saat ini aku sedang berbicara dengannya!" Lalu sambungan diputuskan.
"Hei, Nak tadi Kamu mengatakan kalau namamu Corazòn, kan? Tapi mulai sekarang namamu bukalah Corazòn lagi, melainkan Aves."
"Kenapa Aku harus mengatakan kalau itu adalah namaku?" tanyak Cresen dengan nada menolak.
Pria itu tidak menjawab tapi malah menekan sebuah tombol yang menunjukkan angka dua. Tangan Cresen bergetar. Ia menatap pria itu lagi. Tanpa menunjukkan reaksi apapun. Ia tidak terlihat kalau dirinya sedang kesakitan.
"Kenapa kamu menggelitikku lagi dengan alat itu?"
"Menggelitik katanya? Sombong sekali. Rasakan ini!" Pria itu menekan tombol angka 10.
Cresen tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Kenapa Ia tidak terlihat kesakitan? Apakah anak ini ini tidak bisa merasakan sakit? Jika benar, maka Ia adalah mesin pembunuh yang luar biasa. Aku harus hati-hati menempatkannya di sisi mama. Aku harap pilihan ini tidak salah." pikir pria itu.
Ia mulai merasa cemas. Dan kemudian ia pun terkejut saat Cresen melepas gelang itu begitu saja. Lalu gelang itu pun terbagi dua.
"Apa gelang ini harganya mahal?" tanya Cresen hati-hati karena taku kena marah.
__ADS_1
Namun pria itu terpelongo. Lalu mengernyitkan keningnya. Menatap gelang itu, seakan tidak percaya pada penglihatannya. Tapi hal tersebut disalah artikan oleh anak yang ada di hadapannya. Membuat Cresen merasa bersalah karena sudah merusak gelang itu tanpa sengaja.
"Ma-maafkan Aku. A-aku tidak bermaksud untuk merusaknya. Hanya saja dari tadi kamu terus menekan tombol pada remote itu. Aku merasa sangat geli karena benda ini terus bergetar," ujar Cresen mencoba membela diri.