Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Mengalah


__ADS_3

"Hewan peliharaan itu, hewan yang dipelihara, diberi makan," jawab Corazòn.


"Apa...! Kita harus memberi makan hewan yang akan kita makan?"


"Bukan, kita tidak boleh memakannya. Kita hanya boleh memberinya makan sampai mati."


Penduduk pulau menautkan alis mereka karena bingung.


"Untuk apa memberinya makan sampai mati? Sementara kita tidak boleh memakannya. Kalau ingin membunuh hewan cukup dipukul saja sampai mati. Tidak perlu susah-susah diberi makan."


Corazòn menepuk jidad Cresen.


"Bukan begitu, kalau memelihara hewan peliharaan ya harus memberi mereka makan," jawab Cresen bermata merah kesal.


"Maksudmu seperti memberi mereka makan makanan mereka? Eh... tunggu ... jadi kalau aku ingin memelihara ular, aku harus memberikan bayiku untuk dimakan ular?! Ah... ini tidak benar. Ini hal buruk." Para pria itu mengingat kalau ular bisa memakan manusia.


"Siapa bilang kalian harus memberi bayi kalian untuk dimakan ular?"


"Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kita harus memberi hewan peliharaan itu makan. Dan ular itu pemakan manusia," kata penduduk pulau kesal.


"Siapa yang bilang? Hewan peliharaan itu makan wortel, bukan manusia," kata Corazòn. Ia melihat salah satu hewan peliharaan teman Cresen memberi wortel pada kelinci kesayangan mereka.


"Ular tidak makan wortel Panthera Leo.... Siapa yang sudah mengajarimu hal itu?"


"Dia," jawab Corazòn menunjuk batang hidung Cresen. Dengan artian kalau ia mengetahui hal itu lewat ingatan Cresen.


"Aku rasa putra Kepala Suku ini linglung karena sempat ditelan seekor ular. Lebih baik kamu bawa dia pulang," suruh penduduk pulau pada pengasuh Cresen.


Akhirnya Cresen dimasukkan dalam keranjang. Tapi Corazòn menahan tubuh Cresen dan meminta agar ular calon peliharaannya ikut masuk ke dalam keranjang.


"Untuk apa? Ular itu tidak bisa diberi makan. Ularnya sudah mati. Biar mereka saja yang bawa pulang untuk dipanggang nanti," jawab pengasuh Cresen.

__ADS_1


"Jadi dia sudah mati? Padahal aku sudah punya nama yang bagus untuknya," kata Corazòn sedih.


"Dan kenapa kalian menyebutnya ular? Bukan cacing?" tanya Corazòn. Dan pertanyaannya tidak dijawab oleh siapapun.


Pengasuh Cresen segera memasukkan anak Kepala Suku sebelum ia berceloteh panjang lebar. Lalu membawa anak itu pulang bersama penduduk pulau. Saat tiba di perkampungan, orang-orang menceritakan apa yang telah terjadi pada Cresen.


"Apa? Putraku membunuh seekor ular... sendirian?!" tanya Panthera Tigris ragu. Orang-orang yang melihat tadi mengangguk lalu meyakinkan suami Kepala Suku tersebut.


"Luar biasa... dia lebih hebat darimu!" kata para bayi membandingkan Cresen dengan bayi tertua di antara mereka.


"Itu tidak mungkin, Panthera Leo takut dengan hewan. Bahkan dia takut pada si Lembekku," kata bayi tertua.


Maka terjadi perdebatan di pulau itu. Mereka tidak percaya cerita orang-orang yang melihat Cresen membunuh ular.


"Kalau kalian tidak percaya, ketika berburu besok, ajak anak itu ikut serta."


"Tidak, putraku masih bayi. Kulitnya selembut kapas. Nanti dia terluka." Kepala Suku menolak permintaan itu.


Lalu mereka menikmati daging ular yang dipanggang. Berbeda dengan Corazòn, sejak ia menginginkan seekor hewan peliharaan, ia sudah tidak mau makan daging. Dan Cresen sendiri belum sadarkan diri sejak melihat ular di hutan tadi.


Hari berikutnya tiba. Corazòn bertekat akan mendapatkan hewan peliharaan hari ini. Jadi saat ia selesai makan, dengan segera ia keluar rumah. Kepala Suku heran melihat Cresen begitu bersemangat.


"Corazòn mau ke mana?" tanya Oryza Sativa. Hari ini dia tidak pergi ke mana pun. Dan punya banyak waktu di rumah.


Cresen yang kini bermata merah menceritakan niatnya memiliki hewan peliharaan. Dan Kepala Suku mulanya merasa keberatan. Tapi kemudian ia setuju. Dengan syarat kalau hewan peliharaan putranya tidak berbahaya.


Dan ia memberikan seekor anak keong mas untuk anak itu di dalam kendi. Corazòn yang pertama kali melihat hewan itu merasa sangat senang. Tapi kemudian ia bingung. Sebab ia tidak melihat bagian mulut hewan itu. Juga tidak melihat mata, tangan dan kaki hewan itu.


"Mama, aku mau hewan peliharaan yang punya mata," ujar Cresen bermata merah. Oryza Sativa memberikannya seekor anak ikan.


"Mama aku ingin yang punya kaki.

__ADS_1


Mama aku ingin yang punya bulu seperti bajuku.


Mama aku mau yang begini....


Mama aku mau yang begitu...." Dan akhirnya berbagai bayi hewan ditaruh di rumah Kepala Suku.


"Sekarang pilih salah satu. Dan lepaskan yang lain," saran Oryza Sativa.


"Tidak, aku akan memelihara semuanya," bantah Corazòn melalui bibir Cresen. Kepala Suku menepuk jidadnya.


"Sudah biarkan saja, yang penting dia diam dulu. Nanti saat dia lengah. Kembalikan hewan-hewan itu ke tempatnya. Lagi pula bayi cepat bosan. Nanti dia pasti akan membiarkan mereka pergi."


Panthera Tigris menasehati istrinya. Karena wanita itu ingin mengembalikan para bayi hewan-hewan itu ke hutan. Sebab rumah mereka sudah penuh dengan penghuni barunya. Tapi dugaan mereka salah. Corazòn tidak mau melepaskan hewan-hewan itu. Sehingga akhirnya mereka harus mengungsikan hewan-hewan itu.


"Corazòn, mereka tinggal di sini saja ya. Tempat ini akan jadi rumah mereka," bujuk Oryza Sativa. Untungnya Cresen bermata merah itu setuju.


Matahari tenggelam dan bintang mulai bermunculan, Oryza Sativa meminta Panthera Tigris untuk melepas ikatan hewan itu. Ketika Corazòn sudah tidur di dalam tubuh Cresen. Karena seharian sudah menghabiskan waktu untuk menyuapi hewan peliharaannya sepanjang hari.


Setelah tertidur cukup lama Cresen akhirnya tersadar dan memegang kendali. Ia melirik kiri dan kanan. Lalu bernapas lega karena ia berada di antara kedua orang tuanya. Sebab Corazòn tidak suka tidur sendirian.


Keesokan harinya mereka berdua terbangun di waktu yang sama. Mata kiri Cresen berwarna biru dan mata kanannya berwarna merah. Dan hal itu tentu saja membuat keduanya kebingungan. Terutama saat makan. Tangan kanan memegang buah apel dan tangan kiri memegang jambu air. Lalu keduanya mencoba memakan buah itu diwaktu yang bersamaan.


Tentu saja Cresen harus mengalah dan menunggu gilirannya setelah anak itu kenyang menyantap buah yang ia suka. Dan saat giliran Cresen makan, perutnya sudah tidak menerima makanan lagi. Karena sudah penuh terisi.


Selain hal makan, mereka juga bermasalah saat berjalan. Mereka menyadarinya ketika tiba di sungai dan Oryza Sativa mengeluarkan Cresen dari keranjang. Kaki kiri dan kanan bergerak bersamaan saat hendak masum sungai sehingga mereka terjungkal. Dan menjadi tertawaan orang yang melihat mereka.


Kedua jiwa itu pun bertengkar dan saling menyalahkan satu dengan yang lain. Oryza Sativa hanya bisa menghela napas. Dan memilih menggendong mereka berdua masuk ke dalam air.


Masalahpun makin bertambah. Corazòn ingin menyelam sambil mengumpulkan batu putih. Tapi Cresen ingin segera selesai mandi. Sebab ia tidak ingin berlama-lama di antara wanita tanpa busana yang sedang mandi. Dan ia juga tidak suka harus melepas pakaian di tempat umum. Tapi Corazòn lebih suka mandi tanpa pakaian.


"Mama... mengapa aku harus berbagi tubuhku dengan kakak? Para bayi lain punya tangan dan kaki mereka sendiri juga punya mata dan mulut mereka sendiri. Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau."

__ADS_1


Mendengar hal itu Oryza Sativa merasakan rasa nyeri di dadanya. Dan Cresen akhirnya memilih menarik diri. Melepaskan keinginannya, kemudian membiarkan Corazòn menguasai tubuh itu seutuhnya.


__ADS_2