
"Ah... jari tangan dan kakiku terasa kram. Apa ini efek samping karena mengeluarkan banyak darah? Kuharap ini bisa segera berakhir. Aku tidak tahu bisa bertahan berapa lama. Dan berapa banyak yang harus aku keluarkan."
Cresen bergumam sambil terus mengawasi aliran listrik yang mengalir.
Sementara itu di luar kakek duduk di lantai yang dingin.
"Tuan, sebaiknya tuan beristirahar," saran Aves. Tapi kakek menggeleng.
"Ini semua salahku..." gumam kakek.
"Kalian semua pergilah," ujarnya lagi.
Semua orang merasa enggan beranjak dari tempatnya, sejak Cresen menutup pintu. Anak itu juga mematikan kamera pemantau. Agar tidak seorang pun yang tahu apa yang ia lakukan.
Aji merasa tidak ada gunanya terus berada di sana. Dan ia pun pergi ke laboratoriumnya sendiri. Lalu memeriksa setiap data dan mencoba melakukan pekerjaannya sendirian.
Pandangannya tertuju pada sebuah video saat darah Cresen terbakar di dalam tabung reaksi.
"Ada yang harus kuselidiki dari darah Cresen. Penyebab darah itu terbakar saat sesuatu dicampurkan."
Jari tangannya dengan lincah berada di atas labtop dan matanya menatap lurus ke depan.
"Ini dia datanya. Kurasa, Aku bisa memulainya dari sini."
Ada beberapa cairan disatukan dalam satu wadah dan diteteskan dengan darah Cresen. Cairan darah itu mengental mengering dan akhirnya berasap lalu terbakar.
"Aku butuh cairan yang bisa menahan terjadinya api," ujar Aji.
Lalu ia tampak serius membongkar isi lemarinya dengan sangat hati-hati. Kemudian menuangkan beberapa tetes ke dalam sebuah tabung kecil.
"Aku ingin tahu, apakah virus ini bisa mati dengan tetesan darah Cresen," ujar Aji sambil melakukan apa yang ada di dalam benaknya.
Api menyala dalam tabung reaksi lalu Aji memeriksa keadaan virus tersebut. Tampaknya virus itu mati karena terbakar. Lalu Aji meneteskan darah Corazòn bersama beberapa cairan kimia.
"Tidak bisa dipercaya," gumam Aji.
Dia melihat virus itu bergerak kembali, dengan cepat Aji meneteskan darah Cresen juga, yang telah bercampur beberapa zat kimia. Beruntung virus itu tidak terbakar.
"Mungkin Aku bisa mencoba menambahkan sesuatu," ujar Aji.
Ia mengambil kantung darah, berlabel A, lalu memasangkan sebuah selang. Kemudian dihubungkan pada tabung tempat bahan uji coba membuat tubuh baru untuk Cresen dan Corazòn.
__ADS_1
Aji mengambil darah yang ada di tabung reaksi yang telah bervirus dengan jarum suntik. Dan menyuntikkan virus itu ke dalam kantung darah. Yang telah terhubung ke tabung bahan uji coba.
Daging kecil yang terbuat dari tetesan darah tampak bergerak dan membesar. Tapi semakin besar semakin tampak meleleh. Dan akhirnya terlihat benar-benar kembali ke bentuk sel darah merah.
"Hah?! Gagal lagi?!" seru Aji.
Ia menyisipkan jari-jari ke rambutnya dan merasa pusing. Tapi pandangannya tetap tertuju pada tabung tempat daging itu berada. Perlahan tapi pasti. Seluruh tabuh berubah menjadi berwarna merah.
"Apa lagi yang akan terjadi sekarang?" gumam Aji bertanya pada angin.
Seluruh isi tabung tampak mengental. Muncul jaring-jaring tipis berwarna putih. Yang akhirnya menyamarkan warna merah darah. Lalu samar-samar terlihat kalau jaring-jaring putih itu membentuk sesuatu.
"Kenapa reaksinya berhenti?" Tanpa sengaja anak itu pun menoleh ke kantung darah.
"Ternyata sudah habis.... Aku butuh lebih banyak lagi," pikirnya.
Aji keluar dan mencoba mendapatkan beberapa kantung darah golongan A. Tapi pihak yang bertanggung jawab menjaga persedian kantung darah menolak jumlah yang Aji minta.
"Maaf, jumlah yang anda minta tidak bisa kami berikan. Hanya dalam keadaan daruratlah kami bisa memberikannya melebihi jatah setiap pasien." Sebuah jawaban dari seorang petugas membuat Aji harus berpikir ulang.
"Baiklah, kalau begitu berikan Aku golongan darah lainnya juga. Asal berbeda Aku masih bisa menambah jumlah, bukan?"
Petugas menatap Aji sesaat. "Baiklah," jawabnya kemudian.
"Aku tidak boleh berpikir macam-macam. Sebaiknya Aku segera kembali ke laboratorium," gumamnya.
Saat yang sama di pulau tempat Oryza Sativa berada, sang Kepala Suku merasa gelisah. Di tangannya ada selembar kulit kayu. Dan ia baru saja menyelesaikan tulisannya.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak nyaman. Apa karena Aku terlalu gugup, karena ini pertama kalinya aku menulis? Ha...h rasanya tidak sabar untuk melihat reaksi mereka bertiga."
Oryza Sativa memandang ke arah tempat tidur Cresen lalu duduk di sana. Membelai pakaian Cresen yang tersusun rapi bersebelahan dengan tepat tidur itu.
"Apa Aku terlalu rindu, sehingga jantung ini tidak bisa tenang?" Oryza Sativa memilih membaringkan tubuhnya.
Ia tidak menyadari kalau ternyata Cresen kini berada dalam bahaya. Kekuatannya semakin meningkat. Anak itu kini bisa melihat hal-hal yang berada jauh darinya.
"Mama... maafkan Aku. Seharusnya kita tidak pernah bertemu." Cresen menangis saat merasa kalau ia akan meninggalkan dunia ini.
Sebuah harga mahal untuk menghidupkan kedua orang tuanya. Meski demikian ia tetap tidak berhenti. Rasa kesal dan marah karena dihianati membuatnya memilih pergi dari dunia ini.
Tapi kemudian ia melihat sebuah tulisan.
__ADS_1
AKU SAYANG KALIAN
Tulisan yang cukup jelas meski tidak tertulis dengan rapi itu, membuat Cresen menangis.
"Aaarrrgggkkk...!" teriaknya kecang. Suasana hatinya gundah.
Tinggal sedikit lagi kedua orang tuanya akan hidup kembali. Tapi kesadaran yang ia miliki juga semakin menghilang. Bertukar dengan kemampuannya yang bisa melihat segalanya.
Ia kini bisa melihat Oryza Sativa, yang tiba-tiba keluar rumah. Setelah wanita itu merasa telah mendengar teriakan putranya.
"Ada apa ini?" bisiknya.
Pulau itu seperti bergetar, membuat semua orang keluar. Para penduduk ketakutan. Mereka menatap ke langit mencoba membaca isyarat alam.
"Ini pertanda buruk," gumam Cenayang setelah menghitung jarinya.
Cresen juga bisa melihat orang-orang di seluruh bumi menjadi panik. Seluruh lempengan bumi bergerak tidak teratur dalam gerakan lambat.
"Gawat, ada gempa bumi. Segera panggil semua orang untuk keluar gedung," ujar pengawal kakek.
"Tuan, ayo kita segera keluar," ajaknya pada kakek Cresen.
"Tidak, cucuku ada di dalam."
"Tapi ini berbahaya."
Beberapa orang mulai berlari keluar sambil berteriak. Orang-orang yang berada di pulau tempat Cresen berada. Anak itu menyadari kejadian alam terjadi akibat daya tarik dari kekuatannya.
"Cepat keluar! Gedung ini mulai retak!" teriak penjaga gedung.
Bahkan mereka membawa kakek dengan paksa. "Tuan, anda harus segera ke tempat yang aman," ujar mereka.
Sementara Aji yang juga masih berada di dalam ruangannya menjadi panik. Tapi ia tidak bisa keluar begitu saja. Setelah melihat hasil dari uji cobanya mengalami perubahan.
"Semoga saja masih sempat. Cepatlah..." gumam Aji saat melihat wujud dari bahan uji cobanya mulai berbentuk tubuh manusia.
Di lain pihak, orang-orang berusaha memaksa Cresen untuk keluar. Sebab kaca-kaca di gedung itu mulai pecah satu persatu. Gempa disertai hujan, halilintar dan badai menyapa seluruh permukaan bumi.
"Corazòn... maafkan Aku. Tubuh ini akan hancur. Sebab kekuatan ini sudah mencapai titik akhirnya. Aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Mungkin kini saatnya kita mengucapkan selamat tinggal pada semua orang," gumam Cresen.
Ia bisa melihat segalanya, tapi tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan bencana alam. Yang terjadi akibat dari pengaruh kekuatannya.
__ADS_1
"Selamat tinggal," ujar Cresen sebelum akhirnya ia kehilangan seluruh kesadarannya.
Darah mengalir dari mata yang kini mampu melihat segalanya.