Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Corazòn Pergi ke Sungai


__ADS_3

Corazòn ingin menjawab tapi ia kebingungan, saat ia sedang bingung Cresen mengambil alih tubuh itu.


"Bukan apa-apa, mama tidak perlu memikirkannya."


Cresen mencoba untuk tidak mengungkit hal-hal yang berkaitan dengan tempat tinggalnya dulu. Oryza Sativa mengerti dan tidak lagi bertanya.


"Ya sudah ka_" kata Oryza Sativa terputus.


"Sekolah itu tempat makan es krim!" seru Cresen tiba-tiba. Dan matanya merah berbinar penuh semangat.


"Anak ini bicara apa? Semangat sekali dia sampai dengan cepat mengambil alih tubuh ini. Eh, tunggu jangan-jangan itu adalah kuncinya. Siapa yang keinginannya paling kuat, dialah pemenangnya!" Cresen tersenyum karena mengetahui sedikit dari rahasia bertukar tubuh di antara dia dan Corazòn.


"Baiklah terserah kamu saja. Mulai hari ini aku akan jadi pengamat saja. Dan jadi seorang pengamat akan lebih mudah mempelajari masalah pertukaran ini," batin Cresen.


Lalu membiarkan Corazón mengatakan hal-hal yang ingin anak itu ceritakan pada mamanya. Oryza Sativa hanya tersenyum mendengar celoteh anak itu. Ia tidak mengerti tapi berusaha membuat anaknya senang. Karena ada yang mendengar ceritanya. Dan Corazòn merasa bangga.


Tapi di akhir cerita ia berkata kalau ia ingin makan es krim. Tentu hal itu membuat Kepala Suku yang tadinya hanya mendengarkannya sambil menopang dagu terkejut dan menegakkan tubuhnya.


"Apa? Kamu mau makan es krim?"


"Ya, aku mau makan es krim. Ayo kita ke sekolah! Nanti kalau aku terlambat, pak guru bisa marah!"


"Ta-tapi sekolah itu... jauh... dan ..." Kebingungan menjawab Kepala Suku segera berdiri.


"Corazòn apa sudah selesai makan? Ayo mandi di sungai!" ajak Oryza Sativa mengalihkan arah pembicaraan.


"Setelah mandi mama akan mengantarku ke sekolah, kan? Kalau begitu ayo kita mandi!" kata Corazòn bersemangat.


"Corazòn ... kita tidak bisa ke sekolah," kata Oryza Sativa.


"Kenapa? Kalau tidak ke sekolah aku tidak mau mandi, Mama saja yang pergi mandi," rajuknya.


"A-apa yang kau bilang? Kenapa tidak mau mandi? Sayang... ayo mandi biar badan kamu segar. Dari kemarin kamu belum mandi," bujuk mamanya.


Corazon tidak peduli, ia terus merengek dan meminta agar mamanya berjanji akan satu hal. Yaitu mengantarnya ke sekolah. Oryza Sativa kebingungan.

__ADS_1


"Ya sudah... kalau tidak mau mandi. Mama saja yang pergi," katanya kemudian.


Saat ia beranjak pergi Cresen mengikutinya dari belakang dan menangis.


"Mama aku mau ke sekolah. Aku mau es krim..." tangisnya.


Oryza Sativa menghela napas lalu berpaling ke arah putranya dan menggendong anak itu di lengannya. Sambil menghapus air mata dan ingus anak tersebut, ia berusaha untuk mengalihkan pikiran anak itu.


Ia pun melihat serangkaian buah jambu biji yang sudah ranum. Dan muncul ide untuk mengalihkan pikiran Cresen.


"Corazòn, lihat... itu ada buah jambu. Kamu mau?"


"Aku mau sekolah..." jawab Cresen menangis.


"Corazòn itu anggurnya sudah masak, kamu mau?"


"Aku bilang, aku mau sekolah.... Aku mau es krim coklat...!" teriaknya kesal.


Karena kesal Cresen berpaling ke belakang. Dan di belangnya ada para bayi yang sedang berjalan menuju sungai. Para bayi yang menatap Cresen menautkan kedua alis mereka dan membuat bibir melengkung ke bawah. Dengan tujuan mengejek Cresen.


Mulanya Cresen yang tidak menyadari hal itu hanya terus menangis meski mamanya sudah menghapus air matanya. Lalu para bayi makin mengoloknya dengan menjulurkan lidah mereka, sambil bola matanya menghadap ke atas.


Para bayi segera berlari mendahului Cresen dan mamanya. Sebelum Oryza Sativa melihat tingkah laku mereka. Hal buruk yang mereka pelajari dari orang dewasa, saat mencoba mendiamkan tangisan mereka.


"Mama ayo kejar mereka...! teriak Cresen.


"Huh? Kejar mereka?" tanya Oryza Sativa bingung. Tapi kemudian ia berpura-pura berlari dan mengejar para bayi.


"Aduh pinggangku sakit," keluhnya.


"Mama? Pinggang mama sakit?" tanya Cresen khawatir.


Melihat Cresen mulai panik Oryza Sativa berpura-pura kalau ia akan jatuh. Cresen menangkap mamanya, mencoba menopang tubuh wanita besar itu.


"Mama... mama jangan sakit..." tangisnya.

__ADS_1


Kepala Suku ingin sekali tertawa. Tapi ia mencoba menahannya. Lebih tidak tahan saat melihat Cresen berusaha mengobatinya dengan mengunyah selembar daun. Lalu menempelkan kunyahannya di perut Oryza Sativa.


Sentuhan jari-jari kecil Cresen justru terasa menggelitik di kulitnya. Ia berbalik ke samping mencoba menahan tawa dengan menutup mulutnya. Tapi ia justru membuat Cresen makin khawatir dan mengunyah daun lebih banyak lagi. Kemudian mengoleskannya di pinggang Oryza Sativa.


Oryza Sativa yang tidak tahan akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Sambil memegangi perutnya. Cresen diam dan menunggu. Wanita itu akhirnya diam, lalu melihat wajah lugu putranya.


"Pinggang mama sudah sembuh?" tanya Cresen penasaran.


"Ia pinggang mama sudah sembuh. Cresen pintar ya mengobati orang sakit," puji Oryza Sativa.


"Ia, makanya Corazòn mau pergi ke sekolah biar bisa jadi dokter yang hebat!" teriak Cresen.


Ia begitu bersemangat dan mengepal kedua tangannya seperti petinju yang hendak melakukan pertarungan. Matanya berbinar-binar. Kepala Suku menepuk jidadnya. Ia mengira sudah membuat putranya lupa, tapi ternyata gagal.


"Ayo kita mandi. Nanti air sungai habis diminum kakak-kakakmu," kata Oryza Sativa kemudian.


Saat ini, Cresen adalah bayi termuda di pulau itu. Sebab ia dihitung baru lahir setelah masuk ke sumur kelahiran. Dan diakui oleh sumur itu sebagai bagian dari mereka. Sebagai putra Oryza Sativa dan Panthera Tigris.


Mendengar kata sungai akan kering, Cresen terbelalak dan memalingkan kepalanya ke sungai. Meskipun Cresen saat menjadi Corazòn belum pernah ke sungai, tapi anak itu mempunyai sebagian pengetahuan Cresen yang mampu ia serap.


"Hah! Gawat...! Ayo cepat ma... kita cepat pergi ke sungai! Nanti airnya habis, kita tidak bisa mandi!" teriak Cresen tiba-tiba panik.


Oryza Sativa tersenyum lalu menggendong Cresen dan memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Berlari, melompat dan berpindah dari satu dahan ke dahan lain.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Corazòn dan dia menyukainya. Sehingga untuk sementara ia lupa tentang sekolah dan es krim. Kemudian tibalah mereka di sungai.


"Mama... airnya belum habis. Airnya masih banyak!" teriak Cresen. Dan bergabung dengan yang lainnya.


Cresen menyukai air dan ia belum mau keluar meski sudah berjam-jam di dalam sungai. Bahkan para penduduk pulau sudah kembali ke perkampungan. Namun Cresen masih enggan keluar dari air.


Beruntung di saat ia sedang asik mengambil batu-batu kecil yang berwarna putih di sungai, Cresen berhasil mengambil alih tubuh itu. Dengan sendirinya ia keluar dari sungai. Kepala Suku yang dari tadi menopang dagu terkesiap.


"Corazòn sudah selesai mandinya?" tanya Oryza Sativa yang belum menyadari perubahan warna manik mata putranya.


"Panthera Leo," katanya kemudian.

__ADS_1


Cresen menggigil kedinginan dan dengan segera Oryza Sativa membungkusnya dengan kulit harimau yang bersih dan kering.


"Ayo kita pulang," ajak Oryza Sativa tersenyum lalu menggendong Cresen dalam pelukannya.


__ADS_2