Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Bekas Luka


__ADS_3

Oryza Sativa duduk kembali dan memposisikan laptop itu di posisi yang nyaman untuk dia lihat. Lalu menutupi dirinya dengan selimut.


Dan kali ini terlihat vidio animasi proses terbentuknya janin hingga proses melahirkan dengan cara operasi. Oryza Sativa memperhatikan dengan seksama saat cikal bakal bayi di dalam rahim berupa organ jantung.


Jantung itu berdetak. Lalu proses perkembangan bayi yang mirip kerang sampai akhirnya berbentuk bayi mungil yang utuh dengan tali pusar yang panjang. Lalu vidio animasi dilanjutkan dengan proses melahirkan secara operasi.


Oryza Sativa membelalakkan matanya saat melihat proses melahirkan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dia juga berusaha menjauhkan tangan yang sedang melakukan proses operasi tersebut.


Ia tidak bersuara. Karena khawatir Cresen jadi semakin ingin tahu hal yang menurut Oryza Sativa tabu bagi bayi. Apalagi bayi laki-laki.


Lalu ia terdiam saat melihat proses bayi diangkat dari rahim. Dan luka dari wanita itu dijahit kembali dengan laser. Kemudian bayi itu diberikan pada wanita yang telah melahirkannya.


Oryza Sativa merasa terharu. Sampai menitikkan air mata. Tanpa sadar ia menyentuh perutnya. Rasa sakit dari lukanya sudah berkurang. Ia mulai berpikir dan menyadari ada sesuatu yang hilang darinya.


Berulang kali ia melihat vidio tersebut dan juga perutnya. Ia pun diam sejenak. Mencoba merasakan sesuatu yang pernah ia rasakan hidup dalam tubuhnya.


"Aku pernah merasakan sesuatu yang hidup dalam perutku, tapi kenapa sekarang tidak ada?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.


Ia menyibak selimutnya. Membuka bajunya dan melihat bekas luka yang sudah mengering sama persis seperti yang ada di perut wanita dalam vidio. Jantung Oryza Sativa berdetak lebih kencang. Lalu ia menoleh pada Cresen dengan wajah pucat pasi.


"Ada apa?" tanya Cresen.


Cresen segera menegakkan tubuhnya dan Oryza Sativa membuka pakaiannya sedikit.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Cresen sedikit berteriak sambil menutup matanya.


"Panthera Leo... lihat aku... coba tanyakan mereka, apa yang mereka lakukan pada perutku!" pinta Oryza Sativa.


"Pe-perut?" tanya Cresen. Lalu perlahan membuka matanya dan melihat bekas operasi di perut Oryza Sativa.


"Sebelumnya aku merasakan ada yang hidup di dalam perutku. Dan itu sama seperti yang terjadi di dalam perut bayi perempuan yang sudah melahirkan dalam kotak itu. Tapi sekarang aku tidak merasakannya lagi di tubuhku," adu Oryza Sativa.


"Coba tanya pada mereka apakah mereka mengambilnya? Lalu di mana mereka menaruhnya? Aku menginginkannya. Ingin lihat, ingin peluk dan juga ingin cium," lanjut Oryza Sativa.


Cresen membelalakkan matanya. Pikiran buruk melintas di benaknya. Ia khawatir jika dokter mengambil bayi Oryza Sativa dan membuatnya sebagai bahan percobaan.

__ADS_1


Segera ia memanggil kakeknya. Cresen melihat kalau di luar kamarnya berdiri dua orang penjaga, dan salah satunya segera pergi. Setelah Cresen berteriak memanggil kakek.


Cresen juga menekan tombol agar ada yang datang. Para dokter dan kakek serta Musa Paradisiaca akhirnya datang dengan cepat di saat yang bersamaan. Kakek terlihat cemas. Sedangkan para dokter tersenyum, sebab mereka sudah bisa menebak saat melihat laptop di atas ranjang Oryza Sativa.


"Cresen ada apa?" tanya kakek.


"Kakek, jawab dengan jujur. Apa yang terjadi pada perut Oryza Sativa?" tanya Cresen secara langsung.


"Perut? Memangnya kenapa dengan perutnya?" tanya kekek yang bingung.


Oryza Sativa tidak paham ucapan mereka tapi melihat Cresen menunjukkan ke arah perutnya ia bisa menebak kalau mereka membicarakan perutnya. Oryza Sativa mengangguk lalu memperlihatkan perutnya yang memiliki bekas jahitan.


Kakek terkejut dan juga bingung. Seingatnya Oryza Sativa tidak punya luka luar. Walau ia tidak tahu kenapa mama angkat Cresen itu bisa tidak sadarkan diri saat di pulau.


Rasa terkejut itu juga dirasakan oleh Musa Paradisiaca. Dia juga ingat kondisi saat Oryza Sativa dibawa ke luar pulau. Tidak ada luka baru dalam tubuhnya yang harus dijahit dengan laser.


Para dokter tersenyum dan salah satu dari mereka mendekati Oryza Sativa. Lalu menyentuh perut Oryza Sativa dan menatap Cresen serta kakek.


"Cresen, jantung yang ada di tubuhmu adalah jantung bayi wanita ini. Ukurannya sangat pas dan sangat cocok untukmu. Lihat... kamu tampak sangat sehat sekarang bukan?"


"Jangan coba-coba berbohong!" ancam Musa Paradisiaca.


"Apa? Bohong? Itu bukan kebohongan," ujar dokter kedua.


Musa Paradisiaca melepas cengkramannya pada dokter yang pertama. Lalu menatap Cresen. Anak itu tampak pucat pasi. Berjalan mundur dan memegangi dadanya.


"Kami adalah dokter, tugas kami adalah menyelamatkan kaum kami. Oleh karena itu kami terpaksa melakukannya tanpa memberitahukan sebelumnya," kata dokter ketiga bangga.


"Ya benar, dan bukankah sejak awal kakek anda setuju mengorbankan jantung wanita besar ini? Oh ya, Oryza Sativa itu, kan namanya?" Dokter keempat memancing emosi Cresen.


"Jadi kakek ... kakek ingin membunuh Oryza Sativa?" tanya Cresen. Kakek terdiam.


"Tenanglah anak muda, kami tidak hanya menyelamatkanmu. Tapi juga menyelamatkan makhluk ini," ujar dokter pertama.


Oryza Sativa mengernyitkan keningnya saat melihat Cresen terlihat seperti orang bodoh. Ia pun menyentuh pundak Cresen.

__ADS_1


"Ada apa? Apa mereka mengambil bayiku? Di mana dia sekarang? Apa bayiku nakal? Dan merusak mainanmu? Sehingga kamu jadi sedih?" Oryza Sativa membrondong Cresen dengan banyak pertanyaan.


Seorang dokter mencoba mendekati Oryza Sativa sekali lagi, namun dihalangi oleh Musa Paradisiaca. Lalu dokter itu menyebut nama Oryza Sativa. Mama angkat Cresen pun menoleh padanya.


"Kamu ingin tahu di mana bayimu?" kata dokter itu sambil menunjuk ke arah perut Oryza Sativa.


"Tanya saja pada mereka!" seru dokter itu menunjuk semua orang termasuk Cresen.


"Panthera Leo... apa yang bayi-bayi berpakaian putih itu katakan? Ayo cepat tanyakan di mana isi dalam perutku yang telah mereka ambil!" ujar Oryza Sativa yang sudah tidak bisa bersabar.


"Maafkan aku... maafkan aku...," kata Cresen sambil berlutut.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Oryza Sativa.


"Itu karena ia merasa bersalah padamu Oryza Sativa," kata dokter pertama. Oryza Sativa masih belum paham.


"Karena putramu ada di dalam tubuhnya!" kata dokter ke empat. Sambil mempraktekkan ucapan dari kalimatnya.


"Dasar, kamu mencoba memperkeruh situasi pecundang!" teriak Musa Paradisiaca pada dokter pertama.


Ia mencengkram lagi kerah sang dokter. Dan kali ini ia memukul wajah dokter itu. Tapi Oryza Sativa menarik tangan Musa Paradisiaca, sebelum memukul dokter untuk kedua kalinya.


Kemudian Oryza Sativa mendorong Musa Paradisiaca agar tidak lagi dekat sang dokter.


Lalu Oryza Sativa menoleh pada Cresen. Jantungnya berdetak dengan kencang.


"Apakah yang dikatakan oleh mereka adalah bayiku ada padamu?" tanya Oryza Sativa ragu juga penasaran. Ia ingin tahu kalau bekas luka di perutnya adalah hal yang sama seperti di vidio.


Cresen mengangguk.


"Lalu di mana kamu menaruhnya?" tanya Oryza Sativa lagi. Cresen dengan lemah menunjuk ke dadanya.


"A-ada di dalam ... tubuhku," jawab Cresen sedih.


Seketika Oryza Sativa marah. Ia tidak bisa berpikir jernih. Lalu dengan cepat ia mencekik Cresen dan mendorongnya ke dinding. Ia marah karena mengira kalau Cresen telah memakan bayinya.

__ADS_1


"Apa tidak ada lagi makanan di duniamu ini sampai kamu tega memakan putraku?"


__ADS_2