Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Lapisan Pertama


__ADS_3

Sambil mengangkut barang tersebut ia pun mendekati anggota tim pencari Cresen. Lalu memberi kode pada pria itu. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat. Mereka pun saling berkomunikasi dan berbagi informasi.


"Ughh...!" Berpura-pura menjatuhkan lututnya dan berjimpuh.


"Hei, kamu sedang apa?" tanya penjahat pada anggota pencari Cresen.


Sambil memegang perut orang itu menunjukkan jari kelingking dan kemudian satu tangan memegang bokongnya. Yang bertanya menebak kalau orang itu perlu pergi ke belakang. Maka dengan cepat ia menyepak kaki orang tersebut. Lalu menolehkan wajahnya sebagai isyarat untuk pergi. Orang itu segera pergi.


"Lihat apa kamu?" kata penjahat itu pada anggota penyelamat yang sedang menyamar.


Pria itu membungkuk dan berlari ke arah tumpukan barang yang hendak diangkut. Sambil memastikan anggota pencari Cresen sudah tidak ada di sana. Lalu dengan pelan-pelan ia menyelinap keluar.


"Jangan coba-coba kabur!" ujar seseorang yang sempat melihatnya menyelinap.


Tapi dengan gesit ia memutar lengan orang tersebut dan kemudian memutar lehernya sebelum membuat keributan, sehingga memancing perhatian. Tindakannya itu ternyata diketahui para penjahat yang kebetulan lewat. Maka ia dengan terpaksa memutuskan untuk kabur.


Sebuah tanda untuk menyerang pun dilontarkan ke atas membuat suara gaduh. Orang-orang di pulau itu sempat terdiam. Lalu tiba-tiba dari arah laut muncul orang-orang yang menembak ke arah gudang dan kendaraan di pulau itu.


Dua orang yang melarikan diri tersebut berlari menuju pesawat yang dirampas penjahat. Mengeroyok penjaga dekat pesawat itu berada. Lalu mengambil alih kembali kendaraan mereka yang sempat dijarah.


Beberapa peluru secara serentak ditembakkan beberapa kali ke arah pesawat yang mulai bergerak. Hingga akhirnya benda tersebut menyelam ke dalam laut. Para penembak dari arah laut berada di luar pesawat akhirnya masuk. Dan mereka pergi meninggalkan pulau itu setelah meledakkan seluruh kapal yang ada di tepi pulau.


Para penjahat yang sedang melakukan transaksi itu hanya bisa mengumpat. Dan menghubungi markas mereka. Namun tidak ada jawaban. Karena markas mereka juga telah di serang, para tawanan berhasil dibebaskan.


Seluruh anggota akhirnya berkumpul di satu titik di tengah samudra tersebut. Rapat dadakan dilakukan tanpa buang waktu. Lalu berpencar melakukan tugas berikutnya. Mereka akan mendekati lokasi keberadaan Cresen dari segala penjuru.


Tapi saat seluruh pesawat itu mendekat lagi-lagi pusaran air muncul dan membuat mereka tidak bisa ke titik pusat lokasi Cresen berada. Namun kali ini mereka tidak pergi dari sana.

__ADS_1


Dengan menggunakan aba-aba maka seluruh pesawat melemparkan alat peledak ke arah pusaran air. Sebab mereka mengira kalau pusaran air itu adalah buatan manusia, dan dikendalikan dengan alat. Sehingga hanya akan muncul secara tiba-tiba, saat sesuatu mendekat pada jarak tertentu.


Ledakan yang di hasilkan sempat mengacaukan aliran air tersebut. Tapi hal itu juga membuat pesawat mereka terdorong jauh akibat ledakan. Orang-orang dalam pesawat pasti sudah jungkir balik jika tidak memasang pengaman.


Di pulau tempat Cresen berada, hanya Cenayang yang menyadari guncangan akibat alat peledak. Satu kendi yang ia taruh di atas rak kayunya jatuh dan pecah. Air dalam kendi itu tumpah dan membasahi lantai.


"Mereka sudah datang!" gumamnya terkejut.


Ia berlari ke luar gubuknya. Melihat para bayi melompat dan menekan tiap kayu yang terjungkal. Tanpa mereka sadari, kayu-kayu yang disusun tersebut adalah alat pemintal benang dan alat penenun buatan Cresen.


Cenayang menatap Cresen yang berada di tengah alat bermain bagi para bayi. Lalu ia menghela napas dan berjalan menuju pesisir pantai. Ombak bergerak seperti biasa. Dan tidak ada tanda-tanda datangnya bahaya.


"Tapi kenapa hatiku gusar?" gumam Cenayang.


Ada rasa yang tidak bisa ia gambarkan. Tidak mengetahui penyebab lapisan pelindung pertama pulau tersebut rusak. Sesuatu yang mistis yang selama ini membuat pulau itu tidak bisa dilihat oleh orang-orang luar.


"Pusaran airnya hilang!" ujar salah satu dari mereka dan diiyakan oleh lainnya.


"Bagus kalau begitu, ayo kita mendekat!" ujar salah satu Ketua.


Kakek Cresen yang telah bernapas lega pun mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan menuju titik pusat. Sekilas mereka melihat sebuah pulau yang sangat jauh dari teropong jarak jauh. Tapi pulau itu hanya muncul beberapa detik lalu menghilang.


Penampakan pulau hilang kembali karena, Cenayang yang berada di tepi pantai membaca mantra sambil mengangkat tangan. Pelindung pertama pulau itu pulih kembali. Tapi Kakek Cresen dan rombongannya yang sudah berhasil melalui pelindung pertama tidak menyadari hal tersebut.


Wanita itu kembali ke desa dan merahasiakan hal yang hanya dirasakan olehnya. Sebab kali ini ia belum yakin dengan firasatnya. Setibanya di desa ia mengurung diri di gubuknya. Menaburi bunga dan biji-bijian ke dalam sebuah kendi air. Lalu melihat bayangan samar-samar muncul di air.


"Apakah mereka itu mahluk dari dunia lain?" tanya Cenayang pada udara bisu di gubuknya.

__ADS_1


Ia melihat bentuk pesawat yang datang. Dan mengira kalau itu adalah ikan gaib. Sebab bisa melintasi pelindung pulau tersebut. Lalu ia keluar dari gubuknya. Menemui Kepala Suku. Menceritakan apa yang ia lihat.


"Saya belum pernah melihat ikan jenis itu, Kepala Suku. Jadi belum bisa menyimpulkan mereka jahat atau baik. Berbahaya atau tidak."


"Jangan kuatir Cenayang. Ikan di laut juga banyak dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa selama kita berada di daratan." ujar Oryza Sativa.


Mendengar ucapan itu Cenayang mengangguk dan menghela napas dengan lega. Ia merasa cukup mengawasi saja, agar tiada orang yang masuk ke laut. Dan memperkuat pertahanan pelindung lapisan ke dua.


"Baiklah kalau begitu saya undur diri dahulu."


Cenayang itu pergi dan melewati tempat para bayi bermain dengan riang. Dan Cresen yang sibuk memastikan alat-alatnya bergerak dengan baik. Para pria berburu dan para wanita mengumpulkan bahan makanan.


Malam ini mereka masih bisa bersuka ria sebelum nasib sial menyapa mereka. Dan hal itu tidak bisa dihindari sekalipun Cenayang berpuasa di rumahnya untuk keselamat para penduduk.


"Panthera Leo, ini sudah malam. Berhenti bermain dengan kayu-kayu tersebut."


Oryza Sativa membawa putranya masuk setelah pesta malam itu berakhir. Cresen terlihat sangat gembira. Hasil kerja kerasnya sudah mulai tampak. Selembar kain untuk bahan layar kapalnya nanti hampir selesai. Semua berkat para penduduk yang tidak menyadari telah melakukan hal itu untuknya.


Ia mengatur kayu-kayu dan membuat alat pemintal. Tapi kali ini ia lebih cermat. Benda itu terlihat seperti alat musik. Satu kayu dipukul akan menyenggol kayu lain. Dan kayu lain itu akan menyenggol kayu lainnya lagi.


Semua saling terhubung dan itu berkaitan dengan alat pintal dan alat penenun yang Cresen pasang di jurang yang tidak terlalu dalam. Sehingga tidak ada yang menyadari hal tersebut.


"Putraku sangat pintar, membuat alat musik yang sangat indah. Jika tidak melihat rembulan yang bersinar terang, tidak ada yang mau beranjak ke rumah masing-masing." gumam Oryza Sativa.


Tanpa menyadari alunan musik yang ia maksud adalah suara dari alat pembuat benda untuk kabur bagi Cresen.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2