
"Oryza Sativa, kamu salah paham. Aku tidak memakan putramu...!" teriak Cresen.
Saat Oryza Sativa keheranan dan melepas leher Cresen, satu timah panas mengenai lengannya. Dan melihat hal tersebut Cresen maju ke depan Oryza Sativa lalu menjadi benteng untuknya.
"Hentikan! Jangan sakiti dia!" seru Cresen melebarkan kedua tangannya.
Beberapa pria masuk setelah mendengar satu tembakan dan menodongkan senjata. Oryza Sativa secara tidak sadar ingin melindungi Cresen dan memeluknya. Lalu menggeser posisi mereka. Sehingga Oryza Sativa berada di depan.
Gerakan tiba-tiba Oryza Sativa membuat orang-orang berpikir kalau ia masih ingin menghabisi Cresen. Maka timah panas dengan cepat melesat ke arahnya dan melukai tubuh wanita besar itu.
"Oryza Sativa! Lepaskan aku, atau mereka akan terus menembakimu!" kata Cresen pada mama angkatnya.
"Kalian semua hentikan!" teriak Cresen pada para penembak.
Musa Paradisiaca dan anggotanya berhenti menembak. Tapi hal itu membuat para dokter geram. Salah satu dari mereka mengaktifkan sesuatu yang di tanam pada tengkuk Oryza Sativa membuat wanita itu hilang kendali.
Sekali lagi ia mencekik Cresen. Tapi kali ini bukan atas kemauannya. Ia berusahan mengendalikan tubuhnya tapi tidak bisa. Cresen menyadari ada yang salah dengan wanita itu.
Oryza Sativa berteriak kesakitan pada tengkuknya juga marah karena tangannya bergerak sendiri. Ia berusaha melepas leher Cresen yang ada di dalam cengkramannya.
Cresen kesulitan bernapas dan tembakan di arahkan terus menerus pada Oryza Sativa. Cresen sudah tidak bisa berteriak lagi. Ia mencoba sekuat tenaga untuk melepas cengkraman wanita itu.
Oryza Sativa tidak ingin membunuh Cresen. Ia masih percaya kalau Cresen tidak mungkin memakan putranya. Apalagi saat ia ingat kalau Cresen tidak makan daging. Oryza Sativa mencoba menguasai tubuhnya. Sampai ia berhasil melepas cengkramannya pada leher Cresen.
Cresen yang baru saja lepas dari cekikan tidak bergerak sama sekali. Ia pingsan. Wanita itu menangis dan mundur. Ia bahkan tidak melawan saat dirinya diserang. Dan hanya mundur.
Kini wanita itu berjongkok di sudut ruang itu. Kakek di suruh keluar oleh Musa Paradisiaca. Lalu ia maju hendak menggendong tubuh Cresen. Tapi tiba-tiba, tidak seorang pun dapat bergerak di ruangan itu.
__ADS_1
Cresen bernapas dan membuka matanya. Warna matanya berubah menjadi merah dan ia pun bangun. Mendekati Oryza Sativa. Semua orang melihatnya namun tidak seorang pun dapat bergerak.
Cresen menyentuh Oryza Sativa, dan wanita menatap putra angkatnya lalu menangis. Kemudian mendengar suara yang memanggil kata "mama".
Oryza Sativa terdiam. Suara itu mirip suara Cresen. Tapi bibir anak itu tidak bergerak sedikitpun. Cresen meletakkan telapak tangan wanita itu di dadanya. Sehingga wanita itu bisa mendengar detak jantungnya.
"Mama, aku ada di sini!" ujar Cresen. Oryza Sativa menangis makin kencang.
Cresen menyentuh tengkuk Oryza Sativa dan mengambil sebuah benda pipih dan kecil. Leher Oryza Sativa terluka tapi ia tidak melawan. Cresen melakukan hal yang sama pada tengkuknya. Dan mengeluarkan benda yang sama pula.
Mata Cresen berubah seperti semula. Dan ia seperti tersadar. Semua orang kini dapat bergerak lagi. Seorang dokter menekan tombol hendak menghancurkan bukti chip di tangan Cresen. Tapi dengan cepat Cresen melemparkan kedua benda pipih itu pada para dokter.
Ledakan terjadi dan melukai ke empat para dokter. Mereka tidak tewas tapi mereka penuh luka. Akhirnya Musa Paradisiaca menangkap mereka dan membawa mereka ke luar.
Kakek senang Cresen baik-baik saja. Ia sedikit ragu untuk mendekat. Tapi Cresen mendekatinya terlebih dahulu. Dan memeluknya.
Mata Cresen tiba-tiba berubah lagi. Ia mendorong kakek hingga pelukan mereka terlepas. Lalu melompat ke pelukan Oryza Sativa seperti seorang bayi. Mama angkat Cresen tercengang lalu perlahan membalas pelukan itu dan mencium anak tersebut.
"Aku sayang mama...," katanya. Terasa janggal buat Oryza Sativa. Tapi kemudian ia tersenyum senang juga sedih. Kedua putranya kini berada di tubuh yang sama.
Mata Cresen berubah lagi. Dengan sungkan ia melepaskan tubuhnya dari Oryza Sativa. Bukan karena tidak suka dipeluk mama angkatnya tapi ia merasa bersalah karena menyebabkan putra Oryza Sativa kehilangan hidup normalnya.
"Aku Cresen.... Itu nama asliku, meminta maaf padamu dan juga putramu." Sambil berlutut dengan satu kali di tekuk. Dan tangan kanan menyilang di dada.
"Aku tidak bisa mengembalikan putramu dalam wujud yang seharusnya. Jantungnya dan tubuhku telah bersatu. Aku akan menjaga jantung ini dengan nyawaku. Jiwanya telah berada dalam ragaku. Mulai hari ini, aku adalah putramu seutuhnya," lanjut Cresen.
Cresen tidak tahu harus berkata apa, tapi ia merasa kalau ia harus berbicara. Oryza Sativa mengangguk dan memeluk Cresen kembali.
__ADS_1
"Putraku... putraku... putraku...," katanya terharu.
Situasi cukup membingungkan saat itu. Setelah keadaan menjadi lebih tenang, dan Cresen tidak bertukar kepribadian lagi, maka ia menjelaskan kondisi tubuh dan jiwanya. Bahwa ada dua jiwa di tubuhnya. Salah satunya adalah jiwa putra biologis Oryza Sativa dan Panthera Tigris.
Dan pada akhirnya Cresen menjelaskan kalau ia harus tinggal di pulau tempat tinggal Oryza Sativa dan penduduk lainnya berada. Karena ia bukan lagi Cresen yang dulu. Kakek merasa sangat sedih mendengar hal itu.
"Kakek... maafkan aku yang tidak berbakti ini...," isak Cresen.
"Cresen... apa kamu tahu kalau kamu akan membahayakan penduduk pulau itu?" tanya kakek. Lalu kakek menjelaskan tentang jantung dan ledakan dahsyat jika jantungnya berhenti berdetak.
"Aku sudah mendengar hal ini sebelumnya, ketika seseorang membicarakan tentangku pada papa. Oleh karena itu, sebelum ledakan itu terjadi aku akan mencari cara menonaktifkannya."
"Kamu adalah cucuku yang terhebat. Aku selalu bangga padamu. Jika kamu memutuskan tinggal di sana, maka aku juga akan tinggal di sana," jawab kakek. Cresen tercengang.
"Lalu bagaimana dengan_?" pertanyaan Cresen terhenti.
"Aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Seseorang yang bisa dipercaya akan menanganinya."
Kesepakatanpun tercapai. Cresen dan kakek akan pergi dan menetap di pulau Oryza Sativa berasal. Lalu persiapan melakukan perjalanan itu pun dimulai.
Seminggu kemudiaan persiapan selesai. Luka-luka Oryza Sativa dan Cresen telah sembuh. Kakek menyerahkan seluruh asetnya di tangan Musa Paradisiaca. Dan aset itu nantinya digunakan untuk melakukan riset uji coba menonaktifkan bahan peledak di tubuh Cresen dengan sampel darah Cresen. Juga catatan peninggalan papa Cresen yang selama ini disimpan oleh kakek.
Para ilmuan yang menghianati papa Cresen akhirnya ditangkap setelah barang bukti di temukan di sebuah laptop yang dimiliki oleh ke empat dokter bedah Cresen. Banyak transaksi kejahatan di sana.
Kini semua orang yang akan berangkat mengantar kepergian Cresen, kakek dan Oryza Sativa ke pulau telah masuk ke dalam pesawat. Dan mesin pun dinyalakan. Lalu saling menghubungi satu sama lain, untuk memastikan seluruh pesawat siap terbang.
"Satu, dua, tiga... kita berangkat!" seru sang pilot satu, setelah semua pilot di pesawat lain memberitahukan kesiapan mereka untuk terbang.
__ADS_1