
Mencium aroma masakan, sesaat Cresen tergiur dan lupa pada tujuannya. tapi kemudian ia memukul kepalanya sendiri dengan pelan.
"Bukan, tapi Aku mencari sesuatu. Mama... apakah mama menyimpan sebuah tongkat yang terbuat dari kayu?" tanya Cresen secara langsung.
"Ya, ada di sebuah kotak peralatan, letaknya ada di gudang. Sebab sudah lama tidak ada yang memakainya." Wanita itu mematikan kompor dan menutupi masakannya.
"Ayo kita ambil!" ajaknya.
Mereka pun tiba di sebuah gudang. Lalu di dalam gudang tersebut wanita itu mengeluarkan sebuah tongkat.
"Lihat, ini tongkatnya," ujar wanita itu.
Ia pun menyerahkannya kepada Cresen. Saat ia hendak menutup peti perkakas, dia pun bertanya.
"Sayang... untuk apa kamu mencari tongkat ini?"tanya wanita tersebut. Cresen diam saja dan hanya mengangkat bahu.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita makan dulu," ajak wanita itu.
Ia berjalan keluar ruang gudang terlebih dahulu dan Cresen dengan berhati-hati berjalan berjinjit di belakangnya. Tanpa sepengetahuan pemilik rumah, dengan pelan-pelan Cresen mengangkat pemukul kayu dan bersiap untuk memukul kepala wanita itu.
Namun saat ia hendak memukul kepala wanita itu, seseorang menangkap tangannya dari belakang dan menariknya. Kemudian mendorongnya ke lantai. Wanita itu menoleh ke belakang dan melihat seorang pria menjatuhkan Cresen.
Wanita itu ingin berteriak namun orang yang menjatuhkan Cresen segera membiusnya, dengan sapu tangan. Wanita itu pingsan dan diletakkan dengan perlahan di lantai. Cresen bangkit dan berusaha untuk memukul orang itu. Tapi orang itu mengelak dan menendang perut Cresen. Maka sesaat terjadilah perkelahian di sana.
"Aku tidak menyangka kamu akan berbuat senekat itu, hanya untuk mencuri di rumah ini."
"Apa katamu? Aku mencuri? Aku tidak pernah berpikir untuk mencuri lagipula untuk apa aku mencuri?" Cresen membantah dengan tegas.
"Jangan bohong! Kamu tidak tahu kalau Aku bisa melihat segala yang terjadi di dalam rumah ini. Aku melihat sendiri kalau kamu mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam lemari. Jika bukan untuk mencuri lalu untuk apa?"
"Itu bukan urusanmu, Kamu tidak perlu tahu. Lagipula ini adalah rumah mamaku. Aku tidak mungkin mencuri di rumah mamaku sendiri," balas Cresen.
__ADS_1
"Apa... hahaha Mamamu kamu bilang? Wanita itu mamamu?" tanya pria itu dengan nada mengejek.
"Iya dia mamaku, memangnya kenapa?" tantang Cresen.
"Kamu tidak tahu siapa wanita itu, jangan coba-coba mengaku kalau kamu adalah putranya. Karena putra dari wanita itu adalah aku. Putra kandung satu-satunya. Dan akulah yang membuatkan rumah ini untuknya. Untuk melindunginya dari penjahat sepertimu," ujar pria itu.
"Jadi sekarang sebaiknya mengakulah, sebelum Aku membuatmu mengaku dengan cara paksa yang sadis. Karena Aku tidak akan membiarkan mamaku menderita lagi," lanjutnya.
"Apa katamu? Kamu adalah putranya? Jangan bohong! Apa kamu pikir aku bodoh? Apa buktinya kalau kau adalah putranya?" tantang Cresen.
Pria itu merogoh dompet. Lalu mengeluarkan selembar foto. Kemudian memperlihatkan foto itu kepada Cresen. Di sana terlihat ada wanita yang masih muda bersama dengan seorang anak remaja. Kira-kira seumuran dengan Cresen sedang tersenyum.
Cresen mencoba untuk meraih foto itu, agar ia bisa melihat lebih jelas pada gambar di dalamnya. Sebab bisa saja itu adalah foto palsu. Walau sekilas anak itu mirip pria yang ada di hadapannya.
Namun sebelum Cresen berhasil mengambil selembar foto itu, pria tersebut sudah menarik tangannya dan memasukkan foto itu kembali ke dalam dompetnya.
"Aku belum melihatnya dengan jelas."
Anak itu dengan cepat melihat tangannya. Ada bekas debu tongkat bisbol di tangannya. Lalu ia mengelap kedua tangannya ke celananya berkali-kali. Sampai ia yakin kalau telapak tangannya sudah bersih. Pria itu mengernyitkan keningnya. Heran.
"Sekarang kedua tanganku sudah bersih. Ayo berikan foto itu. Aku mau melihatnya lagi!" suruh Cresen.
"Enak saja. Jangan membuang waktu. Aku memberimu satu kali lagi kesempatan untuk mengaku. Beri tahu Aku Siapa bosmu yang mengutusmu datang ke pulau ini. Atau kamu ingin menghilang dari muka bumi ini, tanpa seorangpun yang akan tahu."
Cresen berpikir dalam hati. "Bagaimana bisa pria ini mengaku sebagai putra dari wanita itu Apakah pria ini, sedang memanfaatkan hilangnya ingatan wanita itu. Sebenernya siapa wanita itu? Dan kenapa pria ini sampai mengaku sebagai putranya?"
"Ok, baiklah jika kamu adalah putranya, kenapa wanita yang kamu sebut sebagai mqmamu tidak mengenalmu?" tanya Cresen berlagak seperti seorang detektif cilik.
"Itu karena Aku diculik pada saat aku sebaya denganmu. Namun ketika Aku kembali, Aku menemukannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Iya dipasung di sebuah tempat yang gelap. Saat melihatku ia sangat ketakutan."
"Hah, dia ketakutan? Itu pasti karena dia bukan mamamu. Sudahlah... mengaku saja," ledek Cresen. Pria itu jengkel
__ADS_1
"Aku belum selesai bicara!" hardik pria itu.
"Ya sudah bicara! Memangnya siapa yang menutup mulutmu!"
Pria itu menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya. "Aku membawanya ke pulau ini untuk membantu mengembalikan ingatan mama. Jadi aku membuat sebuah rumah yang mirip dengan tempat tinggal kami dulu. Dan menatanya sedemikian rupa, sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya."
Meski telah mendengar cerita pria itu, Cresen tetap tidak percaya. Begitu juga dengan pria itu, ia masih tetap mencurigai Cresen ingin menyakiti wanita yang diakui sebagai mamanya. Maka ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Tidak lama kemudian beberapa orang masuk ke rumah. Lalu mereka berusaha untuk menangkap Cresen. Anak itu mencoba untuk melawan, dan di tengah perkelahian pria itu memasukkan sesuatu ke dalam mulut Cresen. Membuat Cresen kehilangan keseimbangannya.
Ia menjadi mabuk dan melihat sesuatu seolah berputar dan akhirnya ia terduduk. Orang-orang itu segera menangkap Cresen. Membawanya ke suatu tempat dengan sebuah mobil ambulans.
Di tempat itu Cresen dipasangkan sebuah alat yang akan mendeteksi jika seseorang sedang berbohong. Lalu ia mengintrogasi Cresen sekali lagi.
"Siapa namamu?"
"Namaku Corazòn."
"Siapa bossmu?"
"Apa itu boss, boss mafia seperti di film?Aku tidak punya boss. Apa kamu seorang boss? Kepalamu ada tiga."
Pria itu menghela nafas, meski pun ia bertanya berkali-kali Cresen tetap menjawab dengan cara yang sama. Bahwa iya datang ke pulau itu atas keinginannya sendiri. Bertujuan mencari seorang dokter, yang bisa mengobati mamanya. Yang menurutnya belum bangun sampai sekarang.
"Katakan padaku di mana tempat tinggalmu!"
Cresen pun menjawab dan mengatakan kalau ia tinggal di sebuah pulau. Lalu menceritakan seperti apa keadaan pulau tempat tinggalnya. Bahwa manusia dan hewan serta tumbuhan berukuran besar di sana. Mendengar hal itu orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut tertawa.
"Hah, sebenarnya anak ini pintar atau bodoh? Kenapa ia tidak jujur saja? Tapi memilih mengucapkan omong kosong," kata salah satu dari mereka.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus menyiksanya agar Ia mau mengaku?" tanya yang lain.
__ADS_1