
Ia pun menjewer telinga bagian kiri dengan tangan kanannya. Secepat itu pula Cresen berpindah ke kanan.
"Kamu... ugh...." Corazòn menangis.
Cresen kembali ke posisi semula. "Maakan Aku," ujarnya menyentuh pipi kanan dengan telapak tangan kiri.
"Kamu jahat... Aku sampai menangis pun Kamu tetap tidak muncul secepatnya. Ugh... kakak yang jahat...!" kesal Corazòn.
Orang-orang yang ada di dekat mereka bingung dengan tingkah Cresen yang tampak seperti bicara sendiri. Tapi kemudian seorang dokter memintanya turun dari atas tempat tidur.
"Permisi... pasien harus kembali ke kamarnya," ujar dokter tersebut.
"Biar kami saja yang melakukannya dokter!" seru Cresen. Dengan kedua manik mata berbeda warna.
Lalu keduanya tertawa. Sebab ternyata mereka memiliki pemikiran yang sama. Tapi saat mendorong tempat tidur itu, Cresen meninggalkan Corazòn melakukannya sendirian.
"Hei, apa yang Kamu lakukan? Kenapa diam saja? Ayo dorong!" Corazòn berteriak.
Dokter itu salah paham. Mengira kalau anak itu berbicara padanya.
"Ah, ba-baiklah akan-" ucapnya terputus.
"Dokter tidak perlu membantu. Kami bisa melakukannya sendiri. Dokter pergilah memeriksa pasien yang lain." Corazòn berbicara dengan penuh wibawa.
Tapi saat dokter itu pergi, lagi-lagi Corazòn berteriak-teriak.
"Dasar pemalas. Kenapa mendorong ini saja tidak mau...? Ayo bantu Aku...!" ujarnya lagi.
Dokter itu berpaling. Lalu membantu mendorong benda tersebut. Bahkan kini seorang perawat ikut membantu.
"Kalian mau apa? Kami bisa me-" ucap Corazòn terputus. Sebab roda tempat tidur itu bergerak.
Lalu anak itu menahan benda tersebut. "Aku bilang jangan membantu kami...! Kalian dengar tidak...?" Corazòn makin kesal. Kakek pun datang.
"Sudah biarkan anak ini yang mengurus pria ini," ujar Kakek kemudian. Dokter dan perawat itu pun pergi dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayo, Kakek bantu..." ujar pria tua itu.
"Ah... tidak usah. Aku sendiri juga bisa..." ujar Corazòn lalu mendorong tempat tidur itu ke dalam ruangannya.
Sekarang ranjang itu sudah berada di posisi semula. Corazòn menepuk-nepukan tangannya. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
"Papa lihat, Aku hebatkan...? Tidak seperti Panthera Leo yang pemalas...." Corazòn berbangga hati.
"Jika Aku membantumu tentu akan lebih sulit. Tanganmu lebih kuat dari tanganku. Pasti susah bergerak dengan gaya dorong yang sama. Bisa-bisa roda kiri dan kanan berputar menyamping. Bukan lurus ke depan." Cresen mengutarakan pendapatnya.
"Itu artinya Kamu mengakui kalau Aku lebih hebat darimu?" tanya Corazòn bersemangat. Cresen menggangguk sambil mengacungkan jempol kirinya.
"Baik, kalau kita masuk sekolah nanti, lencana pramuka untuk anak baik harus jadi milikku! Ok...?"
"Ya... tentu saja. Tapi memangnya Kamu bisa pergi ke sekolah?" tanya Cresen.
Corazòn menurunkan pundak dan kepalanya.
"Oh iya... papa, kan sedang sakit... kita harus merawatnya. Eh, tapi! Aku belum memberi tahu guru kalau papa sedang sakit. Pasti mereka mengira kalau kusengaja bolos sekolah...!" Corazòn tiba-tiba merasa sangat cemas.
"Corazòn bahkan tidak pernah mendaftar masuk sekolah. Jadi bagaimana mungkin anak ini bisa masuk sekolah. Kalaupun dia masuk sekolah, dia akan duduk di kelas berapa? Dan dia sudah mendaftar di sekolah mana? Dasar anak ini. Ada-ada saja tingkahnya," gumam Cresen hampir tidak bersuara sambil membuang muka.
"Apa katamu? Aku tidak bisa sekolah? Siapa bilang? Aku juga sudah bersekolah. Hanya saja Aku lupa selolahku ada di mana." Corazòn cemberut.
"Ah, sudahlah... jangan ribut terus."
Sang papa menengahi keduanya meski ia tidak paham perdebatan kedua putranya itu. Sebab mereka berbicara dalam bahasa negara Cresen.
"Bagaimana kalau kalian bersekolah di sini saja?" tanya Kakek.
"Tapi Kek, kami hanya tinggal sebentar dan harus segera kembali," jawab Cresen.
"Tapi... papa masih sakit. Bagaimana cara kita kembali? Sementara mereka juga tidak bisa mengantar kita dengan pesawat sampai pulau." Corazòn menimpali.
Akhirnya Kakek menawarkan agar Corazòn bersekolah hanya sampai Panthera Tigris pulih. Dan saat mereka menanyakan kondisi pria besar itu, dokter menyatakan bahwa, butuh tiga bulan untuk sembuh. Itupun jika papa Cresen beruntung. Sebab bisa saja waktu yang dibutuhkan lebih dari itu.
"Tapi kalian jangan khawatir. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengobatinya. Agar tulang yang retak bisa segera pulih lebih cepat," ujar sang dokter.
Akhirnya Corazòn bisa bersekolah. Setelah semua hal yang ia butuhkan untuk bersekolah terpenuhi. Seperti seragam, sepatu, tas dan alat-alat tulis, juga yang lainnya. Meskipun sebenarnya di pulau kondisi sekolah berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Tapi demi memenuhi impian anak itu. Kakek dan yang lainnya menyulap sebuah ruangan menjadi sekolah seperti dalam benak Corazòn.
"Kamu ingin sekolah yang bagaimana?" tanya Kakek.
"Aku ingin sekolah yang punya banyak permainan. Juga ada kolam renangnya," ujar Corazòn mengingat masa-masa Cresen saat berada di TK.
Dan malam itu Corazòn terus-terusan memandangi seragam sekolahnya berulang-ulang. Ia bahkan membuat papanya pusing karena terus membuka dan menutup lemari pakaian yang ada di kamar tersebut.
__ADS_1
Sebab saat ini Panthera Tigris telah dipindahkan ke ruangan yang lebih luas. Dan ruangan itu disulap seperti rumah kecil untuk mereka. Selama tinggal di sana.
Ada meja belajar, dan rak buku. Serta disediakan juga meja makan beserta kursi. Yang bisa di susun dan dilipat. Agar tidak makan tempat saat tidak dibutuhkan.
"Corazòn tidurlah. Jika Kamu tidak tidur, esok pagi Kamu akan kesulitan bangun."
Mendengar ucapan itu Corazòn menutup lemari dan menaiki tempat tidur yang berada di sebelah ranjang papanya.
"Selamat tidur papa," ujarnya kemudian. Tidak lama ia pun menguap dan menemukan bunga tidurnya.
Pagi hari tiba, anak itu masih tidur nyenyak. Cresen akhirnya bangun dan mengambil alih tubuh itu. Bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dan merapikan diri seadanya. Corazòn terbangun setelah Cresen melangkahkan kaki melewati gerbang sekolah barunya.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Corazòn menguasai setengah tubuh kanan.
"Tunggu...! Aku belum memakai bedak...!" teriak anak itu dan berbalik pulang.
Setibanya di kamar. Panthera merasa heran. Lalu ia pun bertanya, "Apa ada yang ketinggalan?"
"Iya... Aku belum memakai bedak," ujar anak itu.
Corazòn mencari benda yang ia butuhkan. Sebuah botol plastik yang bertuliskan BEDAK UNTUK BAYI. Lalu anak tersebut memutar tutupnya dan menaburkan bedak itu di tangan. Lalu memoleskan benda bubuk tersebut di wajahnya.
"Hei, itu terlalu tebal," ujar Cresen mencoba mengurangi ketebalan bedak di wajahnya.
Tapi ternyata Corazòn malah menambahkan bedak di bagian wajah, telinga dan leher. Ia bahkan membedaki tangan dan kakinya.
"Corazòn, untuk apa Kamu membedaki semuanya?" tanya Cresen.
"Biar bedaknya tidak cepat terhapus," jawab Corazòn dan masih membedaki tubuhnya.
Dia melakukan semua itu karena melihat dalam ingatan Cresen. Saat seorang murid di hukum berdiri di depan kelas. Akibat bedaknya luntur sehabis bermain. Ketika kelas pertama belum dimulai.
Sebab ada peraturan di TK, bahwa setiap anak wajib mandi pagi. Dan harus memakai bedak sebagai bukti sudah mandi. Meski terkadang ada juga yang hanya pakai bedak walau belum mandi. Dan berangkat sekolah.
Tapi ada juga yang meski sudah mandi, bedaknya luntur karena berkeringat saat bermain menunggu tanda masuk kelas. Sehingga dihukum beberapa menit berdiri di depan kelas.
"Kalau sudah begini, meskipun sehabis pulang sekolah, bedaknya tidak akan habis," ujar Corazòn merasa puas setelah menghabiskan sebotol bedak.
Tidak lupa ia membawa satu botol bedak lagi. Untuk persiapan jika bedaknya sudah tidak tebal lagi.
"Sekarang, ayo kita berangkat...!" serunya penuh semangat.
__ADS_1