
Musa Paradiaca akhirnya mendapat ide. Yaitu dengan membuat Cresen berbicara secara langsung pada penduduk pulau. Tapi sebelum itu ia harus mundur dulu. Mengingat saat ini putri Cenayang sedang tidak bersahabat. Lalu memberi kode agar perahu mereka ditarik.
Putri Cenayang berusaha untuk menahan Musa Paradisiaca pergi. Tapi perahu kayu mereka tidak bisa mengejar perahu karet milik Musa Paradisiaca. Yang ditarik dengan tali khusus dari arah pesawat.
Pengasuh Cresen mencoba mengerahkan kekuatannya. Namun sia-sia. Di luar dari jarak yang bisa terlindungi oleh lapisan pelindung buatan Cenayang, dia tidak punya kekuatan supranatural. Dia hanya bisa menggunakan kekuatan fisik saja.
Salah seorang pria menahannya.
"Sebaiknya kita jangan bertindak gegabah. Ayo kita kembali ke pulau dan melaporkan hal ini pada Cenayang," ujarnya.
Putri Cenayang pun mengurungkan niatnya, yaitu melompat ke laut. Lalu mereka bersama-sama memutuskan kembali ke pulau.
Musa paradisiaca sudah tiba lebih dahulu ke pesawat yang ia tumpangi. Lalu menghubungi seseorang yang bisa berbicara secara langsung dengan Cresen. Dan orang itu adalah kakek. Karena saat ini beliau masih berada di rumah sakit.
Panggilannya berhasil masuk setelah menunggu beberapa menit, sejak menghubungi ke nomor kontak Kakek. Sebab Kakek harus memastikan keadaan aman terlebih dahulu, sebelum akhirnya menerima panggilan dari Musa Paradisiaca.
Musa paradisiaca mengatakan bahwa ia harus berbicara dengan Cresen. Karena hanya Cresen yang mengerti bahasa suku dari penduduk pulau tempat Oryza Sativa berada.
"Kami memiliki sedikit masalah dengan penduduk pulau. Mereka terlihat sangat marah saat, Aku memperlihatkan rekaman Cresen dan pria besar itu di ruang rawat."
"Begitu ternyata tapi sebelum itu, Aku ingin bertanya tentang keadaan di pulau tersebut. Apakah pulaunya baik-baik saja? Bagaimana kondisi para penduduk?"
Musa Paradisiaca tidak bisa memberikan jawaban dengan jelas. Sebab ia sendiri tidak bisa melihat pulau dari lokasinya berada. Saat bertemu dengan penduduk pulau.
"Maaf, Tuan untuk hal itu, Saya tidak bisa mengatakan keadaan pulau. Sebab kami tidak bisa melihat apa-apa. Tapi, Saya melihat lima orang yang bertemu dengan kami dalam keadaan baik."
Kakek pun mengerti dan akhirnya mendatangi ruangan Cresen berada. Ternyata saat itu Cresen sedang tertidur dengan lelap.
"Saat bangun nanti, lehernya pasti sakit," batin Kakek. Saat melihat Cresen meletakkan kepalanya di atas tempat tidur Panthera Tigris berbaring.
__ADS_1
Kakek pun mengatakan keadaan yang sedang berlangsung di ruangan Panthera Tigris.
"Ia baru saja tertidur. Bisakah kita menundanya dulu. Jika keadaan kalian tidak bagus, sebaiknya mundur dan menjaulah sejauh mungkin," pesan Kakek.
"Tuan tidak perlu cemas, kami baik-baik saja dan semuanya masih dalam kendali," jawab Musa Paradisiaca. Kakek menghela nafas dengan lega.
Sementara Putri Cenayang tampak berlari tergesa-gesa begitu tiba di tepi pantai. Bersama rekannya menuju perkampungan dengan pikiran yang hampir sama.
"Gawat! Mama di sana! Di luar perisai pelindung. Ada bayi-bayi!" teriaknya pada Cenayang.
"Hah? Bayi?" Satu per satu penduduk mendatangi Putri Cenayang untuk memastikan pendengaran mereka.
"Ya benar. Dan mereka menyihir tuan Panthera Tigris dan Panthera Leo dalam batu pipih yang licin," lapornya.
Mendengar keributan Oryza Sativa pun keluar dari rumahnya. Lalu menanyakan apa yang terjadi. Saat Putri Cenayang menceritakan tentang Panthera Tigris dan putranya yang disihir menjadi kecil, ia pun menautkan alisnya. Lalu mengambil sepotong ranting.
"Apa benda itu bentuknya seperti ini?" tanya Oryza Sativa menggambar di tanah.
"Kalau tidak salah bentuknya seperti ini!" ujar seorang pria menunjukkan gambarannya. Dia adalah ahli tato di pulau itu.
Semua orang melihat, tapi yang belum melihat secara langsung masih bingung. Mereka mencubit dagu sambil memperhatikan gambar itu yang mirip gambar tegak dan lurus. Atau seperti gambar siku. Sebab ia menggambar bagian yang tampak dari samping.
Hingga kemudian seseorang mengambil batu besar dan memahatnya. Dan mengukirnya sama persis dengan yang ia lihat.
"Bentuknya seperti ini!" serunya. Semua orang mengerumuni benda itu.
Bentuknya lebih mirip dengan yang asli walau dalam pahatan yang masih kasar. Melihat benda itu, Oryza Sativa mengingat sesuatu.
"Jika tebakanku benar, maka benda itu bukanlah benda untuk menyimpan suami dan putraku. Sebab benda itu benda sihir. Benda itu bisa membuatmu ada di dalam. Padahal kamu tidak ada di dalam." Oryza Sativa mencoba menjelaskan seperti yang dulu pernah Cresen ucapkan.
__ADS_1
"Jadi itu hanya tipuan? Berani sekali bayi itu menakutiku!" Putri Cenayang mengepal tangannya dengan geram.
"Tadi, Aku sempat merasa sangat takut jika apa yang, Aku pikirkan benar. Jika bayi itu bisa memperkecil tubuhku lalu memasukkannya ke dalam batu licin tersebut. Tidak kusangka itu hanyalah tipuan sihir!" batinnya mengingat kejadian di pulau.
"Tapi untuk memastikannya, Aku harus keluar dari area perisai pelindung. Dan melihat siapa yang melakukan sihir itu!" seru Kepala Suku.
"Kepala Suku, di luar perisai pelindung sangat berbahaya. Kita tidak bisa menggunakan kekuatan yang berasal dari pikiran," ujar Putri Cenayang memperingatkan.
"Aku tahu itu. Akan tetapi tetap saja, Aku harus pergi!" balas Kepala Suku.
"Aku ikut, jika terjadi sesuatu maka, Aku bisa segera menolong," ujar Cenayang.
"Mama tidak mungkin bisa menolong. Sebaiknya mereka yang punya tubuh kuat dan perenang cepat saja yang berangkat," saran Putri Cenayang.
"Kalau soal berenang, serahkan padaku. Tidak hanya sekedar berenang, Aku bahkan bisa bertarung di dalam air," ujar wanita yang pertama kali membawa Cresen ke pulau.
Beberapa saat mereka pun berembuk untuk memastikan siapa saja yang pergi. Sebenarnya Cenayang ingin ikut pergi, hanya untuk memastikan, Kepala Suku tidak akan berpikir untuk meninggalkan pulau. Tapi dia tidak punya alasan untuk ikut.
Dan akhirnya Oryza Sativa pun berangkat. Kali ini mereka tidak menggunakan kekuatan Cenayang untuk pergi keluar perisai pelindung. Sebab Wanita yang menangkap Cresen saat pertama kali dibuang ke laut, bisa membuat beberapa ekor ikan mengantar mereka ke luar batas.
Setelah tiba di luar batas, Oryza Sativa dan lainnya tidak melihat apapun. Mereka tidak tahu kalau saat ini Musa Paradisiaca sedang berada di kedalaman. Sambil memperhatikan Oryza Sativa dan yang lainnya di permukaan laut melalui teropong.
"Jumlah mereka lebih banyak dari yang tadi. Apa itu artinya mereka siap bertarung?" ujar anggota Musa Paradisiaca.
"Mungkin saja, tapi kita harus menghindari pertikaian," jawab Musa Paradisiaca.
Di permukaan air tampak penduduk pulau melompat ke air. Sebab mereka mengingat kalau pesawat yang pernah datang ke pulau bisa menyelam. Beberapa orang seperti sedang mencari pesawat dari dalam air.
Tapi tidak berhasil menemukannya. Sebab jarak mereka cukup jauh jika hanya dilihat dengan cara biasa. Mereka pun kembali naik ke atas dan melaporkan kalau tidak ada apa-apa di sana.
__ADS_1
"Bagaimana sekarang, apa kita akan melanjutkan perjalanan, Kepala Suku?" tanya mereka.