Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Menyamar


__ADS_3

Cresen terjatuh semakin cepat. Detak jantung yang baru kembali menarik perhatian. Lebih hebat dari yang biasa. Bahkan hewan di laut pun bisa merasakannya.


Jadi Oryza Sativa terpaksa menghalau para burung di udara yang hendak memangsa Cresen dengan kekuatannya. Sambil berusaha menyelamatkan putra angkatnya.


Pilot dari pesawat yang ditumpangi Cresen melihat sebuah peluang ketika alat-alat di pesawat bisa berfungsi. Tapi alat mendeteksi serangan rusak. Maka segera ia mengirim signal pada pesawat lain untuk melakukan serangan balasan.


Pesawat pihak musuh yang belum menyadari masih mencoba mengejar pesawat pihak tim kakek tanpa serangan. Mereka berencana meledakkan pesawat tim kakek dengan tabrakan pesawat. Mengorbankan salah satu pesawat. Dan penumpang pesawat yang dikorbankan memilih untuk turun dengan parasut.


Tapi sebelum terjadi tabrakan pesawat tim kakek Cresen berhasil meledakkan pesawat musuh. Dan pengorbanan itu sia-sia. Tim yang terpaksa turun dengan parasut mengumpat pemilik ide gila yang membuat mereka kehilangan pesawat.


Oryza Sativa tidak menghiraukan pesawat yang saling serang. Melihat kondisi putranya yang tidak baik-baik saja, membuatnya memilih kembali ke perkampungan.


Cresen mencoba berbicara pada Kepala Suku dengan suara terbata-bata sambil menahan rasa sakit pada jantungnya. Bahkan ia terbatuk dan muntah darah. Oryza Sativa memeluk Cresen dan memintanya untuk tidak berkata apa-apa dulu.


Di hutan bagian lain, Panthera Tigris telah melihat sekelompok pria berseragam hitam menuju perkampungan. Dengan kemampuan berburunya, Panthera Tigris mampu membuat keberadaannya tidak diketahui oleh para pria berseragam hitam.


Ia melihat bagaimana para pendatang itu mengalahkan hewan liar yang menjadi penghalang mereka.


"Apa ini yang dimaksud oleh putraku, untuk tidak mempercayai orang-orang yang berasal dari dunianya. Malang sekali nasibnya. Berada di antara orang-orang jahat. Walau seluruh dunianya hanya dihuni oleh para bayi," batinnya.


"Itu sebabnya harus ada orang dewasa yang mengajarkan sopan santun pada para bayi di sana," lanjutnya lagi bergumam dalam hati.


Sambil terus mengikuti para pria berseragam hitam menuju perkampungan.


Di saat ini di perkampungan orang-orang mengumpulkan benda-benda yang bisa dibawa untuk mengungsi. Setelah mengobati mereka yang terluka, para penduduk mulai pergi dipimpin oleh Cenayang.


Saat ini para pria yang kembali dari tepi pantai sudah bergabung dengan para wanita. Membawa senjata dan menjadi pengawal selama perjalanan.


Mereka meninggalkan sebuah petunjuk untuk para penduduk pulau lain jika tiba di perkampungan. Petunjuk tentang tempat yang akan mereka tuju.


Tiga penculik bayaran berhasil mendapatkan senjata milik pria berseragam hitam yang mati akibat ledakan. Kini mereka mempunyai senjata, untuk setiap orang. Segala perlengkapan milik para pria berseragam hitam yang masih berfungsi diambil.

__ADS_1


"Sebaiknya kita ikuti orang-orang besar itu," kata Paula.


"Tapi jika ketahuan, kita akan dimakan hidup-hidup." Supir palsu mempraktekkan ucapannya.


"Tidak akan, kita hanya perlu menyamar. Cari sesuatu yang bisa kita pakai!" kata yang lain.


Paula dan kedua rekannya pun mencari pakaian penduduk yang tertinggal. Lalu memakainya. Mereka melihat arah dan menghaluskannya. Kemudian melumuri tubuh mereka dengan tepung arang.


Jika bukan dalam kondisi seperti ini, mereka tidak akan mau melakukan hal itu. Terutama Paula. Setelah persiapan penyamaran selesai. Secara diam-diam mereka mengikuti jejak penduduk pulau yang mengungsi.


Di perjalanan mereka kehilangan jejak. Tidak ada tanda apapun lagi yang ditinggalkan sebab penduduk pulau tidak melalui jalanan. Melainkan berpindah dengan melompat dari pohon ke pohon.


Ketiganya hanya bisa menebak-nebak dan mereka akhirnya bertemu tim penyerang kelompok Cresen saat di pantai. Pria berseragam itu mengira mereka adalah penduduk asli. Yang terpisah dari kawanannya.


"Angkat tangan!" perintah salah satu dari mereka.


Paula dan kedua rekannya angkat tangan.


Pria berseragam berpikir kalau penduduk pulau ternyata mengerti bahasa mereka. Tanpa curiga kalau tiga orang tersebut adalah penculik bayaran.


"Bawa kami ke kelompokmu!" perintah orang yang sejak tadi memerintah.


"Tunggu!" katanya lagi saat Paula dan rekannya berjalan.


"Letakkan semua yang kalian bawa."


Supir palsu Cresen berbalik badan begitupun dengan yang lain. Mereka berpura-pura hendak melepaskan senjata mereka. Supir palsu Cresen mengambil sesuatu yang sebesar genggaman tangannya dari sebuah bungkusan kecil.


"Menunduk!" teriaknya.


Ia dengan cepat melempar benda di tangannya ke arah kelompok pria berseragam. Pada saat melihat benda itu melayang ke arah mereka, maka para pria berseragam berlari menjauh sejauh mungkin. Berlindung di balik pohon dan menutup telinga.

__ADS_1


Menunggu dengan sabar benda yang mendarat di tanah meledak saat mereka berhasil berlindung. Membuka lubang telinga yang mereka tutup dengan satu jari perlahan-lahan sambil membuka mata.


Mendadak sepi. Tiga penculik bayaran menghilang. Dan membuat para pria berseragam curiga. Mereka keluar dari persembunyian. Salah satu dari mereka dengan was-was mendekat ke arah benda padat di tanah.


Melihat benda itu tidak bereaksi membuatnya makin berani mendekat. Setelah cukup dekat ia mengambil sebuah kayu. Melempar benda itu. Tapi tetap saja tidak ada reaksi.


Dengan menarik napas dalam-dalam ia pun berjalan lebih mendekat. Udara dihirup dan dilepaskan dengan slow motion. Kini satu pria berseragam benar-benar dekat dan melihat dengan jelas.


"Sial kita ditipu. Ini batu!" Pria itu mengumpat dan membanting benda padat di tangannya.


Masih kesal. Ia pun menginjak-injak batu itu. Sampai seseorang menepuk pundaknya.


"Ayo jalan. Dan cari penduduk pulau itu. Kita habisi mereka. Ternyata mereka sangat cerdik!" seru Ketua Timnya.


Panthera Tigris yang melihat kejadian itu mengikuti tiga penculik bayaran. Yang akhirnya jadi buruan para pria berseragam hitam.


Mereka mengikuti jejak ketiga penculik bayaran, yang terpaksa berhenti karena ada seekor harimau di depan mereka.


"Hebat, sekarang kalian mau ke mana?" ejek ketua tim pria berseragam hitam.


Supir palsu melihat kedua rekannya. Dan ia mulai berakting. Seolah mengenal harimau itu. Lalu berbicara pada harimau itu.


"Tolong kami harimau yang baik. Bekerja samalah dengan kami. Nanti kami beri kamu daging segar." Supir palsu berkata dengan membalikkan urutan huruf dari belakang ke depan.


"Gnolot imak uamirah gnay kaib. Ajrekeb halamas nagned imak. Itnan imak ireb umak gnigad rages!" ujarnya.


Karena diucapkan dengan cepat, maka para pria berseragam hitam mengira itu kode rahasia. Dan saat mengucapkannya supir palsu itu menunjuk-nunjuk pada para pria berseragam.


Mereka masih menunggu reaksi harimau tersebut. Ketiga penculik bayaran bersiap. Saling memberi kode. Lalu ia dan rekannya membelakangi harimau dan berjalan dengan angkuh ke arah pria berseragam.


Supir palsu menggerakkan empat jarinya, seperti mengatakan 'kemari kalau berani' dan kemudian mengacungkan ibu jari ke atas lalu memutarnya ke bawah. Bertingkah seperti seorang mafia yang menang dalam pertandingan.

__ADS_1


"Mereka menyebalkan sekali!" ujar para pria berseragam hitam.


__ADS_2