Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Ajakan


__ADS_3

"Baiklah, pelajaran hari ini sampai di sini dulu," ujar Aves menutup kelasnya.


"Dan Corazòn mari ikut saya ke ruang sebelah," kata Aves pada Corazòn.


Di sana Corazòn dengan berani menatap saat jarum menyentuh kulitnya. Ia tidak merasakan sakit sedikit pun, sampai selesai.


"Apa sekarang Aku sudah boleh makan bubur?" tanya Corazòn setelah jarum dilepaskan dari tubuhnya.


"Tentu saja. Ayo kita ke rumahku," ajak Aves.


Saat mereka keluar dari ruangan itu, terlihat kalau Aji sudah menunggu di luar.


"Kalian mau ke mana? Corazòn Aku masih ada janji berbicara dengan kakakmu. Apa kamu lupa?"


"Aku akan ke rumah pak guru, dan makan bubur di sana." Corazòn menjawab dengan ceria.


Aji menatap Aves. Dan arti tatapan itu adalah apakah ia boleh bergabung. Aves memutar bola matanya seakan berkata, sejak kapan kamu butuh izinku datang ke rumah. Aji tersenyum. Tapi Corazòn memasang tampang waspada.


"Gawat, apa dia mau makan bubur kacang hijau juga? Bagaimana jika buburnya tidak cukup?" tanya Corazòn dalam hati.


Tapi Corazòn tidak berbuat apapun. Dan saat tiba waktunya makan, ia pun memakan bubur dengan cepat. Khawatir jika Aji akan menghabiskannya lebih dahulu. Corazòn bahkan tidak menyadari, kalau yang lain sudah merasa kenyang, hanya dengan melihatnya makan tanpa jeda.


"Corazòn makannya pelan-pelan saja. Di dapur masih ada banyak," ujar mama Aves.


Tapi perut Cresen punya daya tampung yang terbatas. Pada akhirnya Corazòn tidak bisa makan makan lagi.


"Tidak... aku sudah... kenyang sekali..." jawab Corazòn. Lalu bersendawa dengan keras.


Satu jam kemudian, Corazòn sudah berada di kamar Panthera Tigris dan pria itu sedang menyantap makan siangnya. Corazòn yang kekenyangan merasa sangat mengantuk. Lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aku sudah mengikuti perintahmu. Sekarang izinkan Aku berbicara dengan kakakmu," pinta Aji pada Corazòn kemudian.


Corazòn hanya menoleh sekilas. "Aku mau tidur dulu," ujarnya.


Manik mata pun bertukar menjadi biru. Cresen menguasai tubuhnya. Tapi ia merasakan kalau perutnya serasa mau pecah.


"Anak ini makan tanpa memikirkan akibatnya. Sekarang Aku yang kena getahnya," gumam Cresen. Lalu turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Aji mengernyitkan keningnya. Lalu menyadari kalau seseorang yang ada di hadapannya adalah Cresen.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aji.


"Tidak, tapi Aku akan menepati janjiku," ujar Cresen turun dari tempat tidur.


"Apa kalian berbagi satu lambung yang sama?" tanya Aji penasaran.


"Menurutmu?" Cresen balik bertanya.


Aji semakin penasaran. Dan ada banyak pertanyaan yang ingin segera ia ajukan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Aku bisa mendengarkannya. Jangan bilang kamu hanya ingin berkenalan denganku?"


"Aku tidak bisa menanyakannya pertanyaanku di sini. Dan Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Jika kamu tidak keberatan. Bisakah kita pergi ke ruang kerjaku?"


Cresen menatap papanya, lalu mengangguk. "Tunggu sampai perutku terasa lebih nyaman. Lambungku sepertinya sedang bekerja keras saat ini," ujar Cresen.


Pada akhirnya setelah satu jam barulah Cresen pergi dengan Aji ke laboratorium.


"Silahkan masuk," ajak Aji.


"Apa kamu bertanya bagaimana kami bisa saling bertukar posisi?" tanya Cresen.


"Ya, bagaimana caranya iris mata kalian bisa merah atau biru. Lalu saat kiri berwarna biru, yang kanan menjadi merah. Dan apakah warna biru hanya bisa berada di sebelah kiri?"


"Tidak, kami bisa berada di sebelah mana yang kami inginkan. Tubuh ini sepenuhnya bisa dikuasai olehku. Tapi juga bisa dikuasai seluruhnya oleh adikku. Dan kami bisa berbagi bagian."


"Kalau boleh tahu, apakah yang terjadi pada adikmu? Kenapa ia terlihat ke kanakan? Tapi terkadang terkesan pintar."


"Ia kekanakan, karena ia masih bayi dan bisa dibilang baru lahir. Usianya bahkan belum tiga bulan," jawab Cresen.


"Tapi bukankah, ia terlalu pintar untuk seorang bayi yang berumur belum genap setengah tahun." Aji mengingat saat Corazò menjawab pertanyaan di hari pertama sekolah.


"Itu karena ia bisa mendapatkan ingatanku. Masalahnya adikku mengartikannya dengan caranya sendiri. Dan terkadang Aku cukup kerepotan dibuatnya," jawab Cresen.


"Jadi begitu, pantas saja rasanya aneh." Aji bergumam setelah mendengar penjelasan Cresen.

__ADS_1


Tanpa buang waktu, Aji menekan layar hitam. Dan tampaklah lingkaran cahaya bersinar di layar. Lalu muncullah beberapa gambar. Aji pun mengambil sebuah remot dan memilih salah satu angka.


"Ini adalah hal yang ingin Aku perlihatkan kepadamu," ujarnya.


Beberapa gambar dari jaringan otot kaki yang memiliki sedikit perbedaan di tiap gambarnya.


"Gambar yang kamu lihat adalah otot kaki orang yang menerima darah adikmu," ujar Aji tanpa basa-basi.


"Lalu apa tujuanmu? Kamu ingin adikku terus-menerus menjadi pendonor?" tanya Cresen.


"Tentu saja tidak. Sebab jika hanya mengandalkan darah adikmu saja, pasti tidak akan cukup. Oleh karena itu Aku punya ide lain." Aji berkata dengan nada serius.


"Apa itu?"


"Mari kita menciptakan Virus yang bisa berguna di masa depan!" jawab Aji pada Cresen dengan mantap.


"Apa kamu sudah kehilangan akal?"


"Tentu saja ini terdengar konyol, tapi ini demi umat manusia. Kita bisa menyelamatkan banyak orang nantinya jika virus ini berhasil."


Aji menekan tombol angka pada remot. Lalu di layar muncul sebuah video animasi, tentang virus baik yang menjadi pelindung tubuh saat virus jahat masuk. Lalu virus baik menular ke tubuh yang lain. Dan jadi pelindung di tubuh lain itu.


"Jika darah adikmu diberi virus yang cara kerjanya memperkuat kegunaan darah adikmu ma_" ujar Aji terpotong.


"Memangnya apa yang kalian lakukan dengan darah adikku?" tanya Cresen menyela ucapan Aji.


"Kami mencampurkannya ke dalam cairan kimia tertentu dengan takaran tertentu. Kemudian menyuntikkan darah itu pada orang lumpuh kemarin. Hasilnya orang lumpuh itu kini sudah bisa berdiri dan berjalan pagi tadi."


"Cresen, Aku ingin menciptakan virus yang bisa mengubah darah dan protein menjadi sel otot, tulang dan lainnya. Bayangkan jika seseorang yang tidak memiliki kaki. Lalu setelah darahnya terinfeksi virus, maka darahnya berubah bentuk sesuai fungsi," papar Aji.


"Darah yang terinfeksi itu akan menjadi tulang dan daging baru. Kemudian kaki yang semula tiada akan menjadi ada. Lalu orang cacat itu akan jadi sempurna. Sebab kakinya tumbuh setelah ia terinfeksi. Dan kaki barunya akan terus bertumbah sampai mencapai kesempurnaan untuk ukuran kakinya yang seharusnya, jika ia terlahir normal," lanjut Aji.


"Tapi bagaimana kalau ternyata kaki itu terus tumbuh?" tanya Cresen.


"Oleh karena itu kita harus mengaturnya. Seperti sebuah batrai ponsel. Setelah batrainya penuh, daya tidak akan masuk lagi."


"Kamu tidak akan bisa mengaturnya, karena virus bisa bermutasi." Cresen menjawab sambil membayangkan resikonya.

__ADS_1


"Bukankah kita bisa melakukan uji coba. Aku mengajakmu untuk berkolaborasi. Tujuannya juga agar kamu dan adikmu, masing-masing bisa memiliki tubuh terpisah," ujar Aji.


"Dan satu hal lagi. Kami sedang mencoba menghidupkan kedua orang tua kandungmu. Bagaimana? Apa kamu setuju bergabung dengan tim?"


__ADS_2