Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Membuat Pagar


__ADS_3

Setelah kenyang makan Cresen yang sudah mandi pagi itu, beranjak dari tempatnya. Pelan-pelan ia berjalan ke arah para bayi yang bermain dengan alat pemintal buatannya yang sekilas mirip mainan buat mereka. Dan seperti alat musik bagi lainnya.


Cresen melihat ada beberapa helai daun di tanah. Lalu ia memungutinya. Pengasuh Cresen memperhatikan tingkah anak itu beberapa menit, tanpa mendekatinya. Dan Cresen mulai berpikir cara pergi ke arah laut. Ia sangat yakin cara ini tidak akan terlihat seperti disengaja.


Lalu muncul ide saat ia melihat ada daun kuning dan daun kering. Jumlah daun kuning lebih sedikit. Jadi ia memilih untuk mengumpulkan daun yang masih berwarna kuning. Sambil berlari kecil dan terlihat bersemangat.


"Jika aku mengutip setiap daun yang berwarna kuning maka tanganku akan cepat penuh," batin Cresen.


Ia menyadari akan terasa aneh jika ia tetap mengutip daun saat tangannya sudah penuh. Tapi ia tidak langsung kehilangan akal. Saat ia mengambil daun baru, maka satu daun dalam genggaman ia jatuhkan.


"Dia pasti tidak akan curiga, kan?" batin Cresen bertanya pada diri sendiri.


"Anak ini sebenarnya sedang apa?" gumam Pengasuh Cresen.


Sambil makan buah di tangannya, si Pengasuh ikut berjalan di belakang Cresen. Sesekali Cresen berpura-pura berbelok dari jalan. Seolah benar-benar serius mengumpulkan dedaunan. Agar tangannya tidak cepat penuh ia pura-pura tidak melihat beberapa helai daun lainnya.


"Ia sebenarnya cari daun yang bagaimana," gumam wanita Pengasuh itu sambil terus mengunyah.


Memperhatikan melihat lebih lama, wanita itu akhirnya menyadari, kalau Cresen hanya mengambil daun yang berwarna kuning saja. Setelah beberapa menit, buah yang ada di tangannya habis dimakan. Maka ia mulai mengumpulkan daun yang jatuh dari tangan Cresen.


"Sebenarnya anak ini mau buat apa lagi? Aku jadi penasaran. Daun ini bisa buat apa untuk seorang bayi seperti dia?"


Saat itu tiba-tiba Cresen diam dan berhenti di tengah keseruannya. Ia melihat benda yang asing di pulau tersebut. Puing pesawat. Tapi Cresen belum menyentuh benda itu. Ia tidak ingin terlihat mencurigakan atau aneh.


Ia menengadah ke atas dan mengelilingi sebuah pohon yang terlihat memiliki buah yang ukurannya sebesar kepalan tangan Kepala Suku. Lalu menunjuk-nunjuk ke arah buah pohon itu.


"Buah itu tidak bisa dimakan, itu untuk obat," ujar Pengasuh Cresen.


Tapi Cresen terus saja menunjuk ke atas. Sehingga pengasuhnya memanjat pohon itu. Saat pengasuhnya memanjat pohon, Cresen memperhatikan puing itu lebih seksama.


"Apa ini puing pesawat yang sering aku lihat?" Pelan-pelan Cresen menyentuh benda itu dan melirik ke segela arah.


"Benar, ini bangkai pesawat. Tapi kenapa bisa ada di sini. Aku tidak melihat ada pesawat satu pun yang melintas di awan." Sekilas Cresen menengadah ke langit.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan pesawatnya jatuh di tempat jauh. Dan bangkainya terseret ombak sampai ke tepi pantai. Lalu seseorang memungutnya." Kembali Cresen berpendapat.


Pengasuhnya turun dengan banyak buah di tangannya. Cresen dengan cepat menyembunyikan bangkai pesawat tersebut. Ukurannya tidak terlalu besar dan dengan cepat tertutup oleh daun-daun.


Anak itu berpura-pura tidak melakukan apapun. Dan berdiri tegak. Menunggu pengasuhnya memberikan apa yang diminta. Setelah wanita itu turun, buah dalam balutan pun diserahkan pada Cresen.


"Ini ambillah!" ujarnya.


Cresen tidak tahu buah apa itu. Warnanya merah cerah dan mengiurkan. Tapi ketika ia hendak menggigitnya, pengasuh itu melarang.


"Ini bukan makanan!"


Tapi karena Cresen terus memaksa, maka buah itu dibiarkan digigit oleh Cresen. Seketika anak itu membuat wajahnya tampak mirip dengan kakeknya. Kerutan buatan di wajahnya tampak lucu.


"Aku bilang juga apa? Kan, sudah aku bilang ini bukan makanan. Tapi baguslah. Karena itu bukan racun. Juga bisa jadi obat perut. Hahaha!" ejek pengasuh Cresen.


Karena kesal ditertawakan Cresen memasukkan buah itu ke mulut pengasuhnya yang terbuka lebar. Hasilnya bisa ditebak.


"Argh! Dasar kamu ya!" marahnya.


Anak itu juga menyadari hal itu. Dan memanfaatkannya. Berpura-pura berlari menyelamatkan diri. Padahal ia dengan sengaja ingin melihat situasi di tepi pantai.


"Huh... capek... ."


Cresen yang berlari dengan tenaga 100 persen kelelahan dan harus mengatur nafasnya. Melihat hal itu pengasuhnya yang berniat menggodanya, tidak jadi menggelitik anak itu.


"Hei, sedang apa kalian di sini?" tanya Oryza Sativa yang melintasi tempat itu.


Ia baru saja mengelilingi pulau tersebut untuk melihat situasi. Cresen diam saja ia masih menatap sekitar pantai. Dan pengasuhnya menceritakan kenapa mereka bisa sampai di sana, saat Oryza Sativa turun dari punggung burung Rajawali.


"Kepala Suku, anda sedang apa di sini?" tanya pengasuh Cresen.


"Aku sedang mengawasi pantai. Cenayang mengkhawatirkan sesuatu yang katanya berasal dari laut. Jadi aku kemari untuk mengawasi keadaan," jawab Kepala Suku.

__ADS_1


Lalu ia menghampiri putranya yang terlihat kelelahan.


"Hei, Panthera Leo, kamu haus?" tanya Oryza Sativa kemudian pada putranya.


Melihat tempat air yang terbuat dari bambu diarahkan padanya. Cresen mengulurkan tangannya dan minum air dari wadah bambu itu. Lalu menyerahkan benda itu pada pengasuhnya.


"Oh, dia manis sekali," ujar pengasuhnya tersenyum.


Ia merasa tersanjung akan perhatian kecil dari putra Kepala Suku. Sementara Cresen menyadari kalau pengasuhnya pasti sedang merasa pahit di lidahnya. Dan perlu ditawarkan dengan air.


"Kita akan membuat pagar di tepi pantai. Jadi ayo kita kembali sekarang," ajak Kepala Suku pada mereka berdua.


Segera ia menggendong putranya naik burung Raja Wali miliknya. Dan kemudian ia sendiri naik. Lalu mengajak pengasuh itu ikut serta. Sebelum ke perkampungan, sekali lagi untuk terakhir kalinya burung itu mengelilingi pulau.


"Kami sudah mengumpulkan batang pohon dan dahan yang siap untuk membuat pagar!" ujar Panthera Tigris begitu Oryza Sativa mendarat.


Ia menerima Cresen yang diserahkan padanya. Lalu melepaskan anak itu saat kedua kakinya sudah menginjak tanah. Sedangkan pengasuh Cresen turun sendiri. Begitu juga dengan Kepala Suku.


"Kalau begitu, ayo kita mulai pengerjaannya!" ujar Oryza Sativa.


Maka kayu-kayu besar itu pun dipikul di atas pundak oleh orang-orang yang mendengar ucapannya. Cresen memperhatikan semuanya. Beberapa kata yang ia ingat disusun olehnya dalam hati. Dan menebak artinya.


"Batang pohon ke laut?" tanya Cresen pada Oryza Sativa.


"Bukan batang pohon ke laut. Tapi membuat pagar di tepi pantai," jawab Oryza Sativa tersenyum.


Orang-orang mengikuti yang lainnya memanggul satu batang pohon setiap bahu. Sehingga masing-masing dari mereka membawa dua batang pohon. Para bayi melihat yang dilakukan pada orang dewasa mencontoh tindakan itu.


Bayi yang suka menggigit ternyata cukup kuat untuk membawa satu batang pohon dengan kedua tangannya. Meskipun hanya dengan satu bagian yang terangkat dan bagian lain masih terletak.


"Aku penasaran mereka akan bawa kayu ini ke mana. Aku juga akan ikut mereka mengantar kayu-kayu ini," batin Cresen sambil mencoba menggulingkan batang pohon tersebut.


"Hei! Kalian bantu Aku!" teriak Cresen pada para bayi.

__ADS_1


Sebab saat mencoba menggulingkan batang pohon yang baru ditumbangkan tersebut, benda itu tidak bergerak sedikitpun.


Bersambung...


__ADS_2