
Perjalanan berjalan dengan lancar. Tapi di pesawat Cresen tidak bisa diam. Karena jiwa bayi Oryza Sativa dalam tubuhnya punya rasa ingin tahu yang cukup tinggi melihat tombol-tombol yang ada. Oryza Sativa bahkan harus memeluknya erat-erat karena tidak bisa diam.
Beruntung tidak terjadi masalah akibat ulahnya yang tidak bisa diam. Dan akhirnya ia tertidur di pelukan Oryza Sativa setelah kekenyangan makan. Sebab hanya dengan memberinya cemilan barulah ia sibuk dengan makanannya.
Mereka tiba di tempat tujuan setelah menempuh perjalanan berjam-jam. Namun tanda-tanda kenlberadaan pulau asal Oryza Sativa belum juga terlihat. Dan akhirnya pesawat itu mendarat di laut, berubah menjadi kapal selam.
"Putraku... kita pulang...," ujar Oryza Sativa melihat dari jendela.
Cresen yang telah tidur cukup lama terbangun. Dia melihat pemandangan laut di luar. Sadarlah ia kalau mereka telah tiba. Dilihatnya sang kakek. Pria tua itu menatap monitor.
"Apa benar kita telah tiba?" tanya kakek pada pilot.
"Ya, tapi tempat ini terlalu tenang. Tidak seperti saat pertama kali kita datang," kata Musa Paradisiaca.
"Panthera Leo... ayo kita keluar," kata Oryza Sativa.
"Tapi aku tidak melihat pulaunya," jawab Cresen.
"Kamu akan melihatnya," kata mama angkat Cresen.
Lalu Cresen mengatakan kalau ia, kakek dan Oryza Sativa harus keluar. Dan sebuah perahu karet pun dikeluarkan. Sehingga ketiganya bisa berpindah tempat. Tapi Oryza Sativa justru melompat ke laut. Lalu mengajak Cresen untuk melakukan hal yang sama.
"Kenapa kita harus berenang? Mereka akan mengantar kita ke pulau, dan sebenarnya di mana pulau itu?" Cresen masih mencari pulau yang mereka tuju.
"Percayalah padaku!" seru Oryza Sativa.
Cresen ragu untuk melompat. Tapi tubuhnya bergerak sendiri dan melompat ke laut. Tiba-tiba air di laut berubah. Dari yang tenang menjadi bergelombang.
__ADS_1
"Ayo pergi," kata Oryza Sativa menarik Cresen menyelam ke dasar laut.
"Cresen...!" teriak kakek.
Cresen melihat kakeknya berteriak lalu ikut melompat. Saat ia melompat pusaran air muncul. Musa Paradisiaca merasakan firasat buruk dan ikut menyelam menangkap kakek lalu menariknya ke atas.
"Cresen...!" teriak kakek. Tapi anak itu tidak muncul.
Cresen yang melihat pusaran air sempat membawa kakeknya merasa khawatir. Ia mencoba menolong kakek. Tapi tubuhnya tidak bisa ia kendalikan. Sebab putra Oryza Sativa menguasai tubuhnya. Dan anak itu mengikuti ke mana mamanya pergi.
Meski berenang cukup lama, Cresen baik-baik saja. Sampai akhirnya pulau tempat Oryza Sativa berasal mulai terlihat. Hal itu juga disaksikan oleh kakek dan yang lainnya. Mereka pun melajukan perahu menuju pulau itu. Namun jarak mereka tidak kunjung mendekat.
Cresen dan Oryza Sativa tiba di pulau. Satu persatu penduduk pulau bermunculan. Panthera Tigris mengejar mereka. Cenayang dan penduduk pulau melakukan hal yang sama.
"Aku merindukanmu," kata Oryza Sativa pada suaminya.
"Aku juga merindukanmu." Panthera Tigris membelai rambut istrinya.
Ia hendak mundur dan menjauh. Tapi lagi-lagi tubuhnya tidak bisa ia kendalikan. Kakinya bergerak dan memeluk kedua orang tuanya. Panthera Tigris merasa senang. Tapi kemudian ia merasa ada yang janggal. Sebab Cresen tidak semanja itu.
"Dia putra kita, bayi kita. Darah daging kita," kata Oryza Sativa.
"Sayang... dia papamu...," kata Oryza Sativa meneteskan air mata.
Semua orang yang ada di sana dan mendengar ucapan Kepala Suku heran. Tapi kemudian Oryza Sativa mengajak mereka pergi dari tepi pantai. Dan berjanji akan menceritakan semuanya.
Di tempat kakek, pulau yang tadi terlihat jelas perlahan-lahan menghilang. Sadarlah kakek kalau ia tidak diterima di pulau itu. Hatinya sangat sedih. Ia menangis. Siapa sangka kalau ia tidak akan bisa melihat cucunya lagi.
__ADS_1
Malam pun tiba, Oryza Sativa menceritakan segalanya. Cresen hanya bisa diam. Ada rasa takut di hatinya. Apalagi penduduk pulau yang tampak bengong dengan penuturan Oryza Sativa. Hanya Cenayang yang menghela napas dalam-dalam.
"Selamat buat Kepala Suku dan Tuan Panthera Tigria. Kalau begitu kita harus mengadakan api unggung untuk menyambut putra kalian." Ia pun membungkuk memberi hormat pada Cresen yang duduk di tengah kedua orang tuanya.
Dengan segera api unggun dinyalakan. Cenayang membaca mantra. Ia akan memandikan Oryza Sativa di dekat sumur khusus. Sumur yang hanya boleh di datangi oleh wanita. Dan cuma akan berair saat ada wanita yang akan melahirkan.
Saat Cenayang selesai membaca mantra, ia terkejut. Sumur tempat para wanita hamil melahirkan penuh dengan air. Dan meluber ke luar. Cenayang tidak mengerti apa yang terjadi. Malam itu bulan bersinar sangat terang.
Cenayang menengadah dan melihat banyak bintang dan membaca ramalan. Ia membelalakkan matanya kemudian menyuruh seseorang memanggil Cresen.
Cresen tiba dan akhirnya ia dan Oryza Sativa disuruh masuk ke dalam sumur. Hal itu membuat Cresen bingung. Airnya terlihat beruap. Juga dalam. Tapi ia mengikuti langkah Oryza Sativa masuk ke dalam sumur. Menuruni anak tangga.
Oryza Sativa menuntun Cresen lalu cenayang menyuruh Cresen untuk membenamkan seluruh tubuhnya. Saat tubuh Cresen telah tenggelam sampai leher. Cresen membenamkan seluruh tubuhnya. Lalu dengan cepat ia menyembulkan kepalanya.
Air sumur segera surut dan segera kering. Pemandangan itu cukup aneh untuknya. Tapi Cenayang tersenyum melihat kejadian itu. Cresen telah sepenuhnya menjadi dirinya sendiri dan juga putra biologis Oryza Sativa. Lalu di malam itu Cresen diberi nama, Corazon.
Pesta pun berlangsung meriah malam itu. Meski masih sulit untuk penduduk pulau pahami, tapi mereka ikut gembira menyambut kehadiran putra Kepala Suku yang ada di tubuh Cresen.
Pagi hari tiba, saatnya semua orang memberi hadiah untuk bayi yang baru lahir. Mengingat kejadian saat ia diberi hadiah, Cresen pun mencoba melarikan diri dari kursinya. Saat melihat benda-benda aneh yang ada di tangan pengunjungnya.
Tapi apa boleh buat, selera Corazon cukup aneh. Dengan senang hati ia menerima hadiah-hadiah tersebut. Dan memeluknya erat-erat. Tapi saat Cresen menguasai tubuh itu dengan cepat Cresen melemparkan benda-benda itu.
"Corazon...! Berhenti menerima hadiah-hadiah itu!" seru Cresen pada dirinya sendiri. Lalu berlari dari kursinya meninggalkan semua hadiah tersebut.
Saatnya makan pun tiba, Cresen di hadapkan pada meja makan yang menghidangkan anekan macam makanan. Ia diizinkan memilih terlebih dahulu. Cresen yang tidak suka makan daging melewatkan bagian itu. Sehingga para bayi dan lainnya mengambil semua sampai habis.
Cresen tiba-tiba menangis. "Kembalikan makananku!" teriaknya.
__ADS_1
Para penduduk mengembalikan daging ditangan mereka dan memberikannya pada Cresen. Tapi baru saja Cresen menyentuhnya anak itu berteriak.
"Aku tidak mau daging!" katanya kesal.