Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Tes Golongan Darah


__ADS_3

Begitu melihat Aves datang, semua murid duduk di kursi masing-masing. Begitu juga dengan Corazòn. Untungnya meja yang rusak telah diganti dengan yang baru.


Aves mengamati mereka semua. Lalu memanggil murid yang paling dekat dengannya. Dan mengajak murid itu keluar kelas. Mereka pun mengambil jarak aman untuk berbicara.


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kalian semua bertingkah seperti Corazòn?" tanya Aves.


Dia mengira kalau mereka itu mengalami kepribadian ganda awal.


"Apa tugas berpura-pura menjadi seorang murid sangat melelahkan?" tanya Aves lebih menyelidik.


"Tidak, Aku sangat menyukai tugas ini. Aku bisa sedikit bersantai dan merasakan rasanya menjadi seorang murid. Seperti anak-anak di sekolah pada umumnya."


"Lalu kenapa?" tanya Aves sambil membuat lingkaran dengan jari telunjuk di wajahnya sendiri. Yang artinya ia bertanya tentang wajah murid itu.


"Oh, ini karena Corazòn mengatakan untuk menjadi bintang kelas kami harus wangi. Dengan memakai bedak. Jadi kami melakukan hal yang seharusnya kami lakukan di hari pertama masuk kelas."


Aves menepuk keningnya. "Aku tidak percaya hanya dalam sehari kalian bisa menjadi idiot," gumam Aves.


"Apa maksud pak dokter?"


"Apa kamu tidak tahu, kalau dia itu tidak normal? Dia memiliki kepribadian ganda. Dan seharusnya kalian tidak menuruti perkataan anak itu."


Murid itu mengerutkan keningnya. "Jadi sebenarnya bagaimana? Apakah ke sekolah dilarang pakai bedak?"


"Tidak, "jawab Aves.


"Kalau begitu yang dikatakan Corazòn benar."


"Tidak."


"Anda tahu dari mana? Memangnya dokter pernah sekolah, seperti murid umum lainnya?"


"Tentu saja Aku pernah sekolah," jawab Aves dengan ketus.


"Tapi kenapa anda tidak tahu cara menjadi bintang kelas?"


"Aku selalu meraih peringkat pertama di kelas. Dan semua itu bukan dengan memakai bedak."


"Itu, kan dulu. Sekarang peraturan pasti sudah berubah."


"Tidak ada yang berubah. Untuk menjadi bintang kelas kamu harus pintar. Bukan bedakmu yang harus tebal."

__ADS_1


"Oh begitu, jadi apa Aku harus menghapus bedak ini?" tanya anak itu pada Aves.


"Terserah kamu saja," jawab Aves dengan malas. Lalu ia mengajak anak itu masuk.


Ternyata anak tersebut memilih tidak menghapus bedaknya. Karena ia merasa mungkin murid normal melakukan hal itu. Dan mengira kalau Aves salah satu murid jenius, pasti peraturan di sekolahnya berbeda dengan sekolah normal.


"Aku sedang menjalankan tugas sebagai murid normal. Jadi yang perlu Aku ikuti itu adalah Corazòn dan bukan anda," kata anak itu sambil mendahului Aves masuk ke ruang kelas.


Mendengar kata-kata murid tersebut Aves hanya menghela nafas dengan kasar dan menggelengkan kepala.


Saat ini di luar tampak sepi, seolah tidak ada seorang pun yang menyaksikan proses belajar mengajar tersebut. Tapi kenyataannya ada banyak kamera berjejer terpasang di dinding kelas. Sehingga anak-anak lain yang penasaran tetang kelas bisa melihat melalui laptop milik mereka.


Dan mereka seolah membuat kalau saat belajar berlangsung adalah saatnya untuk menyaksikan sebuah hiburan. Mereka juga sampai mencatat merk dari bedak yang Corazòn bawa. Lalu memesan pada pihak pengelola toko.


"Hari ini, hari apa? Kenapa banyak sekali yang memesan bedak dengan merek yang sama? Dan itu adalah bedak bayi," tanya seorang petugas toko yang sedang membungkus bedak untuk pelanggan.


"Aku tidak tahu, mungkin untuk bahan percobaan di laboratorium," ujar petugas lain yang juga sama-sama membungkus bedak.


"Kalau begitu, kita harus berhati-hati saat membungkusnya," ujar salah satu dari mereka sambil membungkus dengan sangat serius.


Sementara itu Aves melancarkan rencananya. Yaitu mengambil sampel darah Corazòn dengan alasan untuk melakukan pemeriksaan golongan darah. Setiap murid dipanggil satu per satu.


Mereka yang dipanggil harus pergi ke ruangan sebelah untuk melakukan pemeriksaan. Tapi itu hanyalah pemeriksaan bohongan.


Sebab saat mereka tiba, dokter kembar siam tidak melakukan apapun pada mereka. Dan justru tampak sibuk membaca.


"Tidak, dan untuk apa?" tanya dokter itu.


"Tentu untuk pemeriksaan. Biar bagaimanapun itu bagian dari proses belajar mengajar, bukan?"


"Hah... merepotkan saja," ujar dokter itu lalu mengambil setetes darah dari ujung jari murid itu. Lalu meneteskannya dalam kaca kecil.


Ia tampak malas melakukannya. Hingga akhirnya giliran Corazòn tiba. Ia mengganti alatnya dengan jarum suntik. Lalu meminta Cresen menyinsingkan legan bajunya. Kemudian mengambil sebanyak satu tabung kecil jarum suntik.


Setelah ia selesai melakukannya anak itu bertanya. "Untuk apa darahku diambil sebanyak itu?"


"Untuk sample mengecek golongan darahmu."


"Jika hanya untuk mengecek golongan darahku, Anda hanya membutuhkan satu tetes saja dokter," balas Cresen.


Dokter itu tercekat lalu menoleh pada manik mata anak itu. Warna keduanya biru. Membuat sang Dokter pun teringat ucapan Aves.

__ADS_1


"Jika warna manik matanya merah, kamu mungkin bisa membodohi anak itu. Tapi kamu tidak akan bisa menipunya ketika warna manik matanya berwarna biru. Dan kamu akan kebingungan jika kedua manik matanya berbeda warna," ujar Aves kala mereka berbicara tentang mengajak Cresen bergabung di lab.


"Baiklah, ini ... untuk uji coba di laboratorium," jawab dokter kemudian setelah sadar dari lamunannya.


"Begitu ya. Apa kakekku mengetahui hal ini?"


"Ya, tuan besar juga sudah memberi izin."


"Kalau begitu berhati-hatilah," pesan Cresen lalu pergi meninggalkan dokter itu.


"Apa itu tadi? Kenapa Aku tiba-tiba merasa tertekan?" gumam dokter kembar siam setelah Cresen pergi.


Setelah Cresen keluar ruangan Cirazòn muncul dari bagian tubuh sebelah kanan.


"Untuknya kakak menggantikan Aku. Kalau tidak aku pasti ketakutan saat melihat jarum itu," kata Corazòn.


"Aku tidak mau dibawa ke rumah sakit lagi," lanjut anak itu. Yang melihat ingatan Cresen.


Cresen tersenyum lalu memberikan kendali penuh pada Corazón. Membuat anak itu mengelus bagian lengan yang baru disuntik.


"Ternyata bekas suntikkannya tidak terasa sakit. Kalau Aku tahu seperti itu, seharusnya tidak perlu meminta kakak melakukannya untukku," sesal Corazón.


"Ah, bisa-bisa mendali anak kuat didapat oleh kakak tahun ini," katanya lagi sambil menyelipkan sepuluh jari ke rambutnya.


Anak itu pun berjalan dengan gontai ke kelasnya. Membuat Aves salah paham.


"Ada apa dengan Corazòn? Apa darahnya diambil kebanyakan? Gawat... tuan bisa marah," gumam Aves pelan.


"Corazòn, apa kamu baik-baik saja?" tanya Aves dengan wajah panik.


"Tidak..." ujar Corazòn. Dengan wajah yang tampak lebih sedih dari sebelumnya.


"Ka-kalau begitu... sekolah sampai di sini saja. Ayo, aku akan mengantarkanmu ke rumahku. Lebih baik kamu makan dulu sebelum menemui papamu," ujar Aves pada Cresen.


"Semuanya, kelas telah selesai. Kalian sudah boleh pulang," ujar Aves pada murid-muridnya.


"Hah... jadi hari ini hanya begini saja? Tidak bisakah kita lanjutkan ke pelajaran berikutnya?" tanya salah satu dari murid Aves.


"Tidak, teman kalian Corazòn sedang tidak enak badan. Jadi sebagai guru bidang studi sekaligus wali kelas, Aku harus mengantarnya," jawab Aves mempersingkat proses tanya jawab tersebut.


Para penonton proses belajar mengajar di pulau pun berseru nyaring.

__ADS_1


"Yah... hari ini tidak ada sihir dan meja yang rusak..." ujar mereka serempak.


__ADS_2