
Sebelum Corazòn menjawab sebuah pesan masuk ke ponsel Aves. Aves pun membukanya.
[Apapun jawabannya, kamu harus memberinya hadiah!]
Setelah membaca pesan itu ia memutar bola matanya satu putaran.
"O2! Oksigen! Udara!" jawab Corazòn sambil mengangkat tangan.
Suasana hening seketika. Para murid mendapat pesan lalu saling menoleh satu dengan yang lain. Kemudian mereka bertepuk tangan.
"Wow! Hebat! Corazòn luar biasa!" seru mereka serempak seperti robot mempertahankan wajah pura-pura kagum yang justru tampak aneh.
Aves tersenyum lalu menyuruh Corazòn maju ke depan. Dan mempersilahkannya mengambil hadiah terakhir. Tapi anak itu melakukan negosiasi.
"Apa, Aku boleh meminta hadiah yang lain?" tanya Corazòn.
"Memangnya,Kamu mau hadiah apa?" tanya Aves.
"Aku mau gelang yang dulu pernah Pak Guru berikan padaku. Pak Guru masih punya gelang yang lainkah?" Corazòn berbicara dengan mata berbinar.
Aves membuang pandang ke langit-langit lalu mengingat-ingat sesuatu. Terlintaslah gambaran ring yang pernah menyetrum Cresen dalam benaknya. Kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas.
"Gelang ini?" tanya Aves. Nicorazòn mengangguk.
Dan Aves pun menyerahkan benda itu pada Corazòn tanpa berpikir sesuatu. Gelang berserta tombol pengendalinya kini berpindah ketangan putra Panthera Tigris.
"Nah iya, benar! Kalau begitu hadiah ini kuberikan pada Pak Guru. Untuk mengganti gelang yang kemarin." Corazòn dengan cepat memasangkan benda itu pada Aves.
"Nah kita coba," ujar anak itu dan menekan sembarang angka.
"Jangan!" teriak Aves. Dan ia yang terkejut oleh sengatan listrik menjadi pingsan.
"Pak Guru...?! Bapak tidak apa-apa, kan?" tanya Corazòn panik.
Seketika terjadi kekacauan. Aves dilarikan ke rumah sakit. Dan proses belajar mengajar pun dihentikan. Corazòn kebingungan.
Akhirnya ia kembali ke ruangan papanya. Dan berdiam diri. Sebab di sekolah tidak ada siapapun lagi.
"Corazòn, apa yang terjadi?" tanya Panthera Tigris.
"Guruku pingsan." Corazòn menjawab dengan lemah.
"Papa melihat kegiatan di sekolahmu, hanya saja papa tidak mengerti bahasa yang kalian gunakan. Tapi itu hebat. Kamu bisa belajar sihir di sekolah. Dan membuat sebuah cahaya yang cantik. Itu luar biasa. Lalu kamu berhasil mematahkan meja kayu. Putra papa hebat...!" puji pria itu pada putranya.
"Sihir apa yang papa maksud? Tidak ada sihir. Mungkin esok Aku akan dihukum karena telah merusak mejaku."
__ADS_1
"Jadi... kalian tidak sedang berlomba mematahkan meja?"
Corazòn memandang papanya sekilas lalu menepuk keningnya. "Mana ada lomba mematahkan meja di sekolah papa. Itu sebabnya papa seharusnya pergi sekolah. Biar pintar."
Corazòn akhirnya diam dan cemberut sambil menopang dagu dengan tangan kiri. Di atas tempat tidur papanya. Beberapa menit kemudian Aves datang dengan muka kesal. Menarik kerah baju Corazòn dan membawanya ke sebuah lapangan.
"Apa maksudmu melakukan hal itu? Kamu sengaja ingin membunuhku, kan? Kamu mau mau balas dendam?"
"Membunuh apa? Balas dendam apa?" tanya Corazòn pada Aves.
"Jangan bohong ka-" ujar Aves terputus saat melihat remot di tangan Corazòn.
"Berikan padaku!" perintahnya sambil merebut benda itu di tangan Corazòn.
Corazòn tersenyum. Aves semakin jengkel. Dan mencoba memukulnya lagi. Tapi tiba-tiba mata Cresen berubah biru. Dan anak itu menghindar. Sehingga membuat Aves terjerembab.
"Kenapa anda terlihat kesal sekali, Tuan?" tanya Cresen dengan nada formal.
Tatapan matanya dingin dan memancarkan kekesalan yang sama.
"Hei, jangan karena kamu cucu dari penyandang dana di pulau ini, lantas kamu berbuat seenaknya!" seru Aves.
"Berbuat seenaknya dalam hal apa?" tanya Cresen.
"Anda sangat ke kanak-kanakan. Anda marah karena adikku melakukan hal yang sama pada anda, bukan?"
Aves memicingkan matanya. "Adik? Omong kosong apa itu?"
Cresen terdiam lalu tersenyum. Dan matanya kini menjadi merah dan biru.
"Kenapa kamu ingin memukul kakakku? Bukan dia yang merusak meja. Tapi Aku."
Aves makin kesal. Sebab merasa dipermainkan.
"Jangan pura-pura bodoh kamu Corazòn. Kamu ingin membunuhku dengan ring ini dan pura-pura lugu? Heh, siapa yang ingin kamu tipu?"
"Aku tidak bermaksud membunuh Kamu. Untuk apa membunuh Kamu dengan alat penggelitik? Jika Kamu berpikir begitu. Apa itu artinya kalau saat memasangkan benda tersebut padaku, anda juga ingin membunuhku?"
Aves tersentak mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan Corazòn.
"Apa salahku? Saat kamu berpikir untuk membunuhku? Bukan Aku yang meminta mamamu untuk menyayangiku. Aku juga punya mama. Dan dia lebih besar dari mamamu. Lebih tinggi dan lebih kuat," celoteh Corazòn.
Lalu ia menceritakan kehebatan mamanya dan percakapan makin melenceng ke para bayi di pulau. Ia juga menceritakan tentang hewan-hewan besar dan keinginannya untuk mempunyai hewan peliharaan.
"Cukup," ujar Aves.
__ADS_1
Corazòn terdiam. Lalu Aves menundukkan kepala di hadapan Corazòn. Ia menyesali perbuatannya. Dan meminta maaf.
"Hahaha, tidak perlu meminta maaf. Aku tidak mungkin mati hanya karena digelitiki. Bahkan benda itu lebih rapuh daripada meja kayu. Tidak diapa-apakan pun rusak sendiri," ujar Corazòn.
"Jadi kamu memaafkanku?" tanya Aves memastikan. Lalu mengangkat wajahnya.
"Ya, asal kamu memaafkanku karena sudah merusak gelang milikmu. Jadi kita impas." Dengan polos Corazòn menjawab.
"Ya tentu saja. Bagaimana kalau kamu makan di rumahku. Mamaku akan memasak makan yang enak."
"Setuju!" seru Corazòn.
Tapi saat keduanya hendak pergi ke rumah Aves, Cresen menahannya. "Tunggu! Urusan kita belum selesai."
"Apa maksudmu? Bukankah kamu sudah memaafkanku?"
"Hehe, yang memaafkanmu itu dia. Bukan Aku!" seru Cresen dan melayangkan tinjunya di pipi Aves.
"Sekarang baru impas. Apa kita jadi makan?" tanya Cresen tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya.
Aves melongo dan membuang tangan Cresen. Lalu ia berdiri sendiri.
"Huh, dasar bermuka dua. Sebentar pura-pura bodoh. Dan sebentar lagi licik. Dan warna matamu yang bisa berubah-ubah itu membuatku kesal."
"Oh itu, kalau biru itu mata kakakku. Kalau merah itu warna mataku," jawab Corazòn polos sambil mengikuti Aves yang berjalan.
"Berhentilah berbicara omong kosong. Kenapa kamu pakai bedak setebal itu hari ini?"
"Biar tidak dihukum," jawab Corazòn.
Aves makin pusing. Akhirnya tidak berbicara lagi. Ia akhirnya menganggap kalau Corazòn dan Cresen adalah satu orang dengan kepribadian ganda.
"Apa dia juga pernah diculik oleh sindikat penculik anak-anak jenius? Apa itu sebabnya ia jadi memiliki dua kepribadian? Dan kepribadian yang bodoh pasti palsu. Ia pasti berharap ingin jadi anak bodoh. Karena menyesal terlahir pintar tapi jadi korban penculikan." Aves berbicara dalam hati di sepanjang perjalanan.
Pria itu menghentikan langkahnya. Lalu menoleh pada Corazòn yang akhirnya berhenti melangkah juga.
"Ada apa? Apa mamamu belum pulang ke rumah?" tanya Corazòn.
Aves diam saja lalu mendekati Corazòn.
"Ada apa? Apa kamu masih ingin memukulku lagi?" tanya Corazòn.
Aves tidak menjawab. Tapi ia justru menatap anak itu dengan rasa kasihan. Lalu memeluk anak itu dengan erat.
"Aku mengerti sekarang. Pasti berat bagimu selama ini. Aku juga korban, sama sepertimu. Mulai sekarang kita adalah teman. Jika kamu punya kesulitan, kamu bisa meminta bantuan padaku," ujar Aves dengan tulus.
__ADS_1