Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Tentang Rumah


__ADS_3

Cresen mencoba melepaskan diri dengan cara meronta. Tapi sebelum dia berhasil melepaskan diri, pria itu menekan sebuah tombol. Dan tempat tidur itu tiba-tiba bergetar. Karena gelang besi yang mengunci tangan Cresen mengalirkan listrik dengan cepat ke tubuh anak itu.


Namun di luar dugaan alat itu segera rusak. Dan seluruh listrik yang berada, dalam satu gedung dengan ruangan itu menjadi padam.


"Hah, apa-apaan ini? Dasar! Kenapa harus mati lampu di saat penting seperti ini?" ujarnya. Sambil keluar dari ruangan itu.


Ia pun merogoh kantung celana dan mengambil ponselnya, kemudian menghubungi sebuah nomor kontak. Terdengar seseorang menjawab. Segera pria itu memerintahkan agar orang yang ia hubungi memperbaiki masalah listrik secapatnya.


Beberapa menit kemudian lampu menyala. Pria itu kembali ke ruangan tempat Cresen disekap. Namun ternyata anak itu sudah tidak ada lagi di kursi listrik tersebut. Ia sudah kabur. Pria itu melihat gelang yang tadi membelenggu tangan dan kaki Cresen telah terbuka.


"Wow anak itu ternyata sangat luar biasa. Tapi bagaimana caranya ia bisa keluar? Bagaimana ia melepas gelang besi ini. Apa dia sangat jenius, sampai ia bisa melepaskan diri. Jika benar, aku harus bisa memilikinya. Sebab jika ia berada di tangan yang lain, maka akan terjadi masalah besar," gumam pria itu tersenyum.


Sementara itu Cresen sedang berlari. Mencari jalan keluar. Dan menemukan sebuah kenyataan kalau ia berada di gedung yang tidak jauh dari tempat pertama kali ia tersadar setelah pingsan.


"Pasti rumah tante itu juga ada di sekitar sini," gumamnya.


Setelah berhasil menemukan jalan ke luar, maka ia segera menuju rumah wanita tempat ia menumpang sekarang. Lalu ia membuka pintu yang sudah tidak terkunci lagi. Segera bersembunyi di dalam kamar, menguncinya dari dalam.


"Gawat... ternyata yang dikatakan wanita itu benar. Pria itu jahat dan ia pasti menginginkan tubuhku. Seperti di film-film horror. Bagaimana jika ia mengambil mataku? Pasti Aku tidak akan bisa melihat lagi." Cresen menyentuh kelopak matanya.


"Jika aku tidak bisa melihat, bagaimana cara Aku mencari seorang dokter, yang bisa mengobati mama? Dan jika ia mengambil kakiku Aku tidak akan bisa lagi berlari. Bila ia mengambil tanganku, bagaimana aku bisa mengambil makanan yang aku suka nanti?" gumam Cresen bergidik ngeri.


"Mama... Aku ingin segera pulang," lirihnya.

__ADS_1


Ia mengambil selimut dan membungkus tubuhnya sampai tidak terlihat. Berjongkok di sudut kamar. Di tepi tempat tidur.


Keesokan paginya wanita pemilik rumah itu bangun. Saat keluar kamar ia mencari Cresen. Ia terkejut sebab tidak melihat anak itu di sofa. Pintu terbuka. Ia pun berteriak, memanggil anak yang ia sangka putranya.


"Sayang... kamu ada dimana?! teriaknya. Dan ia hampir menangis.


Cresen terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan wanita itu, lalu ia keluar dari kamar. Dan mencari pemilik rumah itu.


"Mama aku ada sini," jawabnya.


Wanita itu segera menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Cresen berdiri di sana. Maka dengan segera wanita itu berhambur ke tubuh Cresen. Lalu memeluknya dengan erat.


"Sayang, jangan pergi lagi... jangan tinggalkan mama..." ujarnya sambil menangis.


"Tadi Mama, sempat mengira kalau kamu pergi dan meninggalkan mama. Mama juga berpikir kalau orang-orang jahat itu datang dan menculikmu lagi," kata wanita itu.


"Mama... jangan sedih. Karena aku tidak akan pergi. Jadi Mama tidak perlu takut, dan orang-orang jahat itu tidak akan bisa menangkapku. Jadi Mama tenang saja."


Cresen memilih untuk tidak menceritakan apa yang terjadi padanya tadi malam. Karena ia tidak ingin wanita yang ada bersamanya menjadi khawatir. Namun ia berpikir untuk membawa wanita itu pergi jauh.


"Mama Bagaimana kalau kita pindah dari rumah ini? Karena aku takut, kalau suatu hari nanti mereka akan menculik Mama. Kemudian menjauhkan Mama dariku. Jadi lebih baik kita pergi, dan mencari papa!"


Wanita itu tertegun mendengar ucapan anak yang ada di hadapannya. Wajahnya kembalu sendu. Tapi kemudian dia pun menyentuh tangan Cresen lalu mengusapnya dengan pelan.

__ADS_1


"Sayang... papamu sudah tiada. Orang-orang jahat itu menculiknya saat papamu berangkat bekerja. Aku melihatnya saat hendak mengantarkan berkas papamu yang ketinggalan. Mereka menarik papamu ke dalam mobil hitam, saat papamu sedang menunggu bus untuk berangkat kerja," kisah wanita itu.


"Mereka menghubungi Mama, setelah dua hari lamanya. Menyuruh mama datang ke sebuah tempat. Dan ternyata papamu sudah tidak bernyawa. Mereka mengambil beberapa bagian tubuh papamu. Dan mama hanya bisa memakamkan tubuh papamu yang tidak utuh itu." Air mata wanita itu mengalir dengan deras.


"Percayalah pada mama tempat ini adalah tempat yang paling aman. Jika kita keluar, maka kita akan mengalami hal yang sama, seperti yang dialami oleh papamu. Jadi lebih baik kita tinggal di sini saja. Karena papamu yang telah tiada pasti akan melindungi kita."


"Apa yang dipikirkan tante ini? Ia tidak tahu, kalau tadi malam saja aku sudah diculik, dan hampir saja Aku mati. Jika seandainya aku tidak bisa melarikan diri pada saat mati lampu."


"Baiklah kalau begitu Mama pergi memasak sarapan untuk kita berdua dulu, kamu pasti sudah lapar," ujar wanita itu. Cresen hanya bisa mengangguk dan menghela nafas.


"Astaga, tante tidak mau pergi dan orang jahat itu tinggal dekat dengan tempat ini. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa yang bisa aku lakukan?" batin Cresen.


Lalu ia berpikir untuk membuat wanita itu, dapat mengingat kembali ingatannya, yang sudah ia lupakan. Cresen mengingat jika ia pernah menonton sebuah film. Tentang orang yang sedang Amnesia.


Dari film itu ia tahu kalau seseorang bisa terkena Amnesia, akibat sebuah benturan. Ingatannya bisa kembali jika mengalami benturan lagi di bagian kepala. Cresen berpikir untuk melakukan adegan yang sama.


Cresen pun mencari sesuatu yang akan dipakai untuk memukul kepala wanita itu. Ia memeriksa setiap benda di dalam lemari yang ada di ruang tamu. Menimang-nimang berat benda tersebut. Jika ia merasa benda itu tidak cocok, maka pencarian pun dilanjutkan lagi.


"Ini tidak cocok. Bisa pecah, bahaya! Ini terlalu ringan. Tidak cocok juga. Kenapa tidak ada benda yang cocok di lemari ini. Kenapa hanya ada barang hiasan?"


"Aku harus tanya tante, dari pada buang waktu mencari. Kalau ada tongkat kayu seperti tongkat bisbol itu lebih bagus."


Dengan segera Cresen pergi ke dapur. Tanpa menghiraukan isi dari lemari yang sudah keluar dari tempatnya. Lalu mendapati wanita itu sedang mengiris sayuran segar dan menatanya di atas piring.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu sudah lapar? Sabar ya, sebentar lagi makanannya sudah masak," ujarnya tanpa menghentikan kegiatannya.


__ADS_2