
Pembuatan pagar di tepi pantai terus dilanjutkan. Cresen dibawa pulang oleh Oryza Sativa. Setiba di perkampungan ia dibantu oleh pengasuh Cresen untuk mengoleskan minyak khusus.
"Maafkan saya Kepala Suku, saya kurang memperhatikan para bayi," ujar Pengasuh Cresen merasa bersalah.
"Bukan salahmu, sepertinya Cresen sedang belajar hal baru. Dan dia itu anak yang unik. Cara pikirnya sulit ditebak."
Cresen diam di dalam kamarnya. Ia merasa bersalah telah membuat mama angkatnya kesakitan. Tapi ia tidak meminta maaf secara langsung dan memilih sembunyi di dalam kamar.
"Panthera Leo, ayo keluar dari kamarmu. Makanlah," ujar Kepala Suku tanpa ada nada marah sedikipun dalam suaranya.
Ia mengira putranya masih ketakutan dan mendekatinya. Lalu menyentuh bahu putranya yang pura-pura tidur saat ia datang. Melihat hal itu Kepala Suku tersenyum dan mencium pipi putranya. Meninggalkan buah-buahan dan umbi-umbian di dekat kamar Cresen.
Cresen baru bangkit dari tidur pura-puranya saat tidak mendengar suara apapun lagi. Dan memakan makanan yang ada sampai kenyang.
Pagi harinya orang-orang masih melanjutkan kegiatan pembuatan pagar di tepi pantai. Cresen diawasi lebih ketat dari sebelumnya. Dan dilarang pergi dari sisi pengasuhnya. Cresen hanya diam saja dan melakukan hal yang bisa ia lakukan.
Saat makan buah-buahan ia melihat barisan semut berjalan di tanah. Lalu muncul sebuah ide. Ia mengambil buah jambu biji yang sudah dipotong-potong. Memakan dagingnya dan menyusun biji-biji buah itu dengan rapi. Pengasuh Cresen diam saja.
Dan membiarkan anak itu menyusun biji-biji tersebut berbaris sambil menikmati buah di tangannya. Cresen menyusun biji itu berkelok-kelok. Hingga biji-biji itu tersusun berbaris menuju luar gubuk ia dikurung.
Ia terus saja melanjutkan aksinya. Kini ia harus menjulurkan tangannya untuk melanjutkan barisan biji tersebut. Dan ketika tangannya tidak sampai lagi untuk menjangkau, ia pun merangkak melewati pembatas atau dinding kayu gubuk itu. Berkat hal tersebut Cresen berhasil keluar dari tempat ia dikurung.
Gubuk yang khusus untuk para bayi. Celahnya sangat lebar dan mudah untuk dilalui oleh Cresen. Pengasuh yang melihat tingkah Cresen kebingungan. Anak itu sangat serius menyusun biji-biji tersebut seperti iringan semut berjalan.
"Anak ini, dia selalu punya banyak hal yang aku sendiri tidak mengerti," gumam Pengasuh Cresen.
"Sudahlah, menyusun biji-bijian tidak akan membuatnya dalam bahaya, bukan?" tanya sang Pengasuh pada dirinya sendiri.
Tapi tiba-tiba ia ingin pergi buang air kecil. Semua orang terlalu sibuk. Pengasuh Cresen ragu-ragu untuk meninggalkan anak itu. Sebelum memutuskan pergi.
"Maaf, aku harus pergi sebentar," ujar wanita itu dan mengikat salah satu kaki Cresen di tiang gubuk dengan akar pohon.
"Baguslah," katanya lagi saat melihat Cresen diam saja.
Cresen masih melanjutkan kegiatannya dengan kaki terikat. Pengasuhnya pergi berlari kencang mencari tempat untuk buang air kecil. Setelah wanita itu tidak terlihat lagi, ia pun dengan segera melepas ikatan yang longgar itu.
Ikatan tersebut sengaja dibuat longgar agar tidak menyakiti kulit halus Cresen. Tapi itu justru mempermudahnya lepas. Setelah kaki yang diikat bebas, ia mencoba pergi kabur. Tapi dia tidak menyadari Panthera Tigris mengawasinya dari kejauhan kini ada di belakangnya.
__ADS_1
"Arrgghh!" Cresen terkejut saat seseorang mengangkatnya.
Ia berhenti berteriak saat melihat orang yang mengangkatnya. Lalu hanya bisa pasrah dimasukkan dalam keranjang bayinya.
"Tuan Pantera Tigris?!" ujar Pengasuh Cresen terkejut saat kembali.
"Aku akan menjaga anak ini," ujar suami Oryza Sativa.
Pengasuh itu mengangguk. Lalu memukul pelan jidadnya. Merasa bersalah karena lengah namun juga lega. Kini ia memilih membantu mengangkat bahan pembuatan pagar.
"Lapor, ada awan aneh di jurang sebelah timur!" ujar beberapa orang.
Mereka sedang mencari batang pohon untuk membuat pagar. Dan melihat helai kain hasil dari alat pintal. Mereka mengira itu adalah awan sebab warnanya putih.
"Awan aneh?" tanya Panthera Tigris mengulang ucapan mereka.
"Ya, itu benar," jawab mereka.
Pantera Tigris membawa Cresen bersamanya melihat awan aneb yang dimaksud.
"Itu di sana, awannya ada di sana," ujar penunjuk arah.
"Lihat, itu dia awan anehnya," kata si Penunjuk arah.
Cresen mulai tidak tenang. Teringat saat benang-benangnya dibakar. Dan ia jadi frustasi.
"Jangan! Jangan apa-apakan layarku!" batin Cresen berseru.
Panthera Tigris mengamati benda yang pertama kali ia lihat. Benda itu terhubung ke benang-benang yang bergerak dari arah yang berbeda. Tiap gerakan menghasilkan kumpulan belang saling bertautan.
"Ini luar biasa, tapi juga aneh!" seru suami dari Kepala Suku.
Ia memegang benang yang terhubung dengan 'awan aneh' tersebut. Lalu menyusurinya. Terputus pada kayu-kayu yang berputar-putar memintal kapas menjadi benang.
Setiap ia menemukan kebenaran ia terus berdecak kagum campur heran Cresen cuma berani bersembunyi di dalam keranjannya. Hingga mereka tiba di perkampungan. Setelah melihat kayu-kayu yang terhubung satu dengan yang lain.
Para bayi masih asik bermain. Sadarlah Panthera Tigris kalau 'awan aneh' itu ada kaitannya dengan Cresen.
__ADS_1
"Panggilkan Cenayang!" perintahnya.
Cenayang yang sedang berpuasa akhirnya datang. Cresen menarik penutup keranjangnya. Bersembunyi.
"Cenayang apa anda bisa tahu benda apa ini?"
Wanita itu menggeleng. Lalu ia dibawa ke jurang yang menjadi tempat kain bahan layar, perahu kayu Cresen nantinya. Cenayang tercengang. Benda yang selalu muncul dalam mimpinya ada dihadapannya.
"Matilah aku kali ini!" batin Cresen menutupi wajahnya.
"Jika tuan mengizinkan, bolehkah saya membaca pikiran anak itu?" tanya Cenayang pada suami Oryza Sativa.
"Jawabannya ada pada anak itu. Aku tidak bisa menebaknya dengan pasti. Dan kita tidak bisa memintanya menjawab pertanyaan karena ia belum pandai berbicara."
Panthera Tigris menatap Cenayang dan memikirkan kata-katanya.
"Apakah membaca pikiran seorang bayi bisa berakibat buruk pada si anak?"
"Tidak, tapi ia akan merasa kesakitan saat aku sedang membaca pikirannya. Saya bertanya demikian karena tidak ingin menyakiti anak itu," jawab Cenayang.
"Kalau begitu bawa benda itu ke desa. Jika benda itu berbahaya maka kita akan membakarnya. Masalah Panthera Leo biar Oryza Sativa yang memutuskan!"
Maka kain yang sudah lebar itu dibawa ke desa. Kepala Suku dipanggil dan menceritakan tentang penemuan itu.
"Cenayang, benda apa ini?"
"Saya tidak tahu. Tapi saya yakin. Kalau putra anda pasti tahu. Dia selalu melakukan hal di luar perkiraan."
Oryza Sativa membuka keranjang tempat Cresen bersembunyi.
"Sayang. Jangan takut. Beritahu mama, benda apa itu?"
Cresen tidak paham ucapan Kepala Suku. Tapi ia menebak kalau itu ada kaitannya dengan kain yang dibawa dari jurang tersebut.
Cresen diam saja. Dia tidak tahu cara menjelaskan tentang kain itu. Membuat Oryza Sativa tidak punya pilihan.
"Lakukanlah membaca pikiran putraku. Tapi jangan terlalu keras padanya. Agar ia tidak terlalu kesakitan. Karena ia masih bayi."
__ADS_1
Bersambung...