Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Selamat Tinggal


__ADS_3

Cenayang mengangguk lalu membaca mantra dan memusatkan pikiran. Menyentuh kedua pipi Cresen yang berdiri di hadapannya. Anak itu mencoba menjauh tapi Oryza Sativa memeganginya agar tidak kabur.


"Perlihatkan padaku!" ujar Cenayang setelah selesai membaca mantra.


Mulanya Cresen tidak merasakan apa-apa. Dan Cenayang masih belum melihat apa yang ingin ia ketahui. Wanita itu kini memasuki alam pikiran Cresen lebih dalam.


Ia terkejut saat mengetahui kalau Cresen sudah berkali-kali mencoba kabur dari pulau itu. Membuat Cenayang penasaran. Lalu ia melihat pikiran yang lebih dalam lagi.


Cresen yang berniat membuat perahu dan kapas sebagai bahan pembuat layarnya. Wanita itu melihat hal yang tidak pernah ia lihat di sepanjang hidupnya. Semakin lama ia makin terbawa oleh rasa penasaran.


Tanpa menyadari Cresen kini justru mampu melihat alam pikirannya. Anak itu kini mulai merasakan rasa sakit di kepalanya. Saat menerima informasi yang memenuhi kepalanya. Bahwa Cenayang dan orang-orang yang hidup di pulau itu adalah manusia yang telah hidup ribuan tahun.


Berbagai pengalaman telah dilalui oleh Cenayang. Berputar di kepalanya. Dan Cresen tidak sanggup menerima informasi sebanyak itu dalam waktu singkat.


"Aarrgghhhkk!" pekik Cresen.


Cenayang rubuh bertelut di tanah. Ia tidak menyangka memori seorang bayi bisa serumit itu. Banyak benda yang ia tidak tahu apa itu berada dalam bayangan alam sadar Cresen.


"Sayang kamu baik-baik saja?" tanya Oryza Sativa cemas.


Cresen diam pikirannya terasa tiba-tiba kosong. Tubuhnya deman. Kepala Suku cemas dan membawa anak itu ke rumahnya. Membaringkan Cresen dan mencoba menurunkan demamnya.


"Cenayang, apa anda baik-baik saja?" tanya Panthera Tigris.


Cenayang menggeleng. Kepalanya terasa sakit. Lebih sakit dari sekedar menenangkan roh yang hidup ribuan tahun di pulau itu.


"Saya butuh istirahat," jawabnya lalu berlalu pergi.


Pengusuh Cresen menatap mamanya pergi dan mengekor dari belakang. Sampai di rumah Cenayang duduk di lantai bambu rumahnya dan berpikir.


"Putra Kepala Suku, bukanlah bayi biasa. Ia berasal dari dunia yang sangat berbeda dengan kita. Dunia tempat orang-orang memotong rambut mereka. Tempat rambut bisa tumbuh lebih cepat."


"Apa yang mama katakan? Aku tidak mengerti."


Cenayang lalu mengambil kulit kayu dan arang. Menggambarkan apa yang ia lihat lalu menunjukkan pada putrinya.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Pengasuh Cresen.


"Ini kayu-kayu yang disusun lalu diikat menjadi satu dengan akar pohon dan rotan. Ini juga kayu berdiri tegak di tengah kayu-kayu. Lalu ini adalah benda itu. Bukan awan yang muncul secara tiba-tiba. Tapi muncul karena mainan itu!" ujar Cenayang membuka celah rumahnya.


Dari celah itu tampak alat tenun buatan Cresen.


"Anak itu berasal dari negri ajaib. Benda benda terbang. Dan juga bercahaya seperti matahari ada di sana. Tidak panas seperti api mau pun matahari."


"Mama, aku tidak paham."


"Pergilah, aku butuh istirahat. Aku tidak sanggup mencerna apa yang baru aku lihat."


Cenayang tampak kesakitan. Pengasuh Cresen pergi sesuai perintahnya.


Sore hari Cresen bangun dari tidurnya, tubuhnya tidak demam lagi. Ia sudah tidak ingat apa yang dilihat dari bayangan alam sadar Cenayang. Oryza Sativa lega saat melihatnya dan meminta maaf.


Malam hari, Cenayang meminta Oryza Sativa untuk menemuinya bersama Panthera Tigris. Maka malam itu Cresen dititipkan pada Pengasuhnya.


Di gubuk tua itu Cenayang memperlihatkan apa yang ia gambar. Benda-benda dalam benak Cresen. Sulit baginya menjelaskan semua itu.


Oryza Sativa seakan berhenti bernapas saat mendengar kata-kata Cenayang tentang Cresen yang ingin pergi.


"Bagaimana Cenayang bisa seyakin itu?" tanya Kepala Suku menolak kenyataan.


"Saya tahu ini berat untuk Kepala Suku, tapi anak itu butuh keluarga aslinya. Dan tempatnya bukan di sini," ujar Cenayang.


Suami Oryza Sativa mengerti situasi tersebut hanya bisa merangkul istrinya.


"Kita akan membantu anak itu untuk kembali pada keluarganya."


"Bagaimana caranya?" tanya Panthera Tigris.


"Dengan cara membuat benda ini dan meletakkannya di tepi laut. Lalu keputusan akan berada di tangan Pantera Leo. Jika ia menaikinya dan memutuskan pergi, kita tidak boleh menahannya."


Malam itu seluruh pria dewasa membawa kayu besar dan membuat perahu kayu untuk Cresen sesuai dengan yang ada di benak Cresen. Hingga matahari terbit barulah perahu itu selesai. Ditambatkan pada sebuah batang pohon yang ditanamkan di atas pasir.

__ADS_1


Pagi itu Oryza Sativa tampak sayu. Ia memandang putranya sepanjang malam tanpa berkata-kata.


"Hanya ini kesempatan kita untuk mengembalikannya ke dunianya. Karena saat ini mereka yang menjemputnya sudah dekat. Biarkan mereka bertemu di lautan."


Kata-kata Cenayang terus terngiang di benak Kepala Suku. Ia tidak menyangka kebersamaannya dengan Cresen begitu singkat. Dan seandainya bisa, ia ingin menahan anak itu lebih lama.


"Ikan hidup di laut. Jika dipaksa hidup di darat ia akan mati, cepat atau lambat. Putra anda tidak berasal dari dunia ini. Kelak umurnya akan lebih pendek dari yang seharusnya."


"Aku tahu, tidak bisa menahanmu lebih lama lagi. Tapi biarkan kenangan bersamamu selamanya bersamaku," ujar Oryza Sativa setelah mengingat dan memikirkan kembali ucapan Cenayang.


Kalung Cresen selama berada di tempat itu ia lepaskan. Hiasan yang menunjukkan sudah berapa lama ia berada di sana, akan menjadi bukti keberadaannya.


"Setidaknya, kalaupun kamu tidak kembali lagi. Kalung ini akan menemaniku kemana pun aku pergi. Aku tidak akan melupakanmu, sayang."


Kepala Suku mencium kening putranya. Setetes air bening mengalir di pelupuk matanya. Saat Cresen bangun ia sudah tidak ada di sana. Cresen baru bertemu dengannya saat ia dibawa ke tepi pantai.


"Ada apa ini ramai-ramai?" batin Cresen.


Ia menatap sebuah perahu kayu tidak jauh dari tepi pantai. Oryza Sativa tersenyum lalu menunjukkan perahu itu padanya.


"Kami sudah membuatkannya untukmu. Pergilah dengan damai. Dan jangan pernah melupakan kami," ujar Oryza Sativa memeluk putranya untuk terakhir kali.


Para penduduk desa juga memberikan salam perpisahan pada Cresen. Anak yang selalu ingin kabur itu mengerti kalau ia bisa pergi sekarang juga. Tapi entah kenapa, ia merasa berat.


Phantera Leo menepuk pundaknya lalu menunjuk kapal itu. Seperti mengatakan pada Cresen, kalau sudah waktunya pergi. Anak itu pun melangkah dengan ragu. Sesekali ia masih menoleh ke belakang.


Tapi ketika kakinya menyentuh air. Ia mengingat kakeknya dan tujuannya selama di pulau itu. Dengan cepat ia melangkah. Tiap langkahnya merupakan pukulan bagi Oryza Sativa.


Cresen menaiki perahu itu lalu melepas tali yang menahannya. Cenayang menatap Kepala Suku yang mulai menangis. Cresen ingin mengucapkan selamat tinggal dengan tersenyum dan melambaikan tangan. Tapi kenyataannya ia hanya sanggup menarik napas dalam-dalam. Tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.


"Selamat tinggal," ucapnya pelan lalu duduk di tengah perahu bersama dengan tumpukan buah-buahan.


Cenayang membaca mantra agar angin meniup layar perahu Cresen dan perlahan perahu itu berlayar ke tengah laut.


"Panthera Leo! Jangan tinggalkan mama!" Isak tangis Kepala Suku yang tidak berdaya di tepi pantai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2