Pada Sebuah Pulau

Pada Sebuah Pulau
Rindu


__ADS_3

"Baik Aku setuju, mulai hari ini kita berteman," balas Corazòn.


Aves pun mengajaknya sekali lagi ke rumahnya. Dan mereka disambut oleh mama Aves yang ternyata sudah menunggu ke datangan mereka.


"Mama Aku membawa teman untuk makan siang bersama kita di sini. Boleh, kan?" tanya Aves.


"Tentu saja boleh. Ayo masuk, mama sudah memasak banyak hari ini."


Mama Aves mengambil tangan Corazòn dan berkata, "Untunglah Kau baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku minta maaf belum sempat berkunjung melihat kondisi pria besar itu."


"Papaku? Pria besar itu papaku. Tenang saja, papaku sangat kuat.Tidak lama lagi dia akan segera sembuh."


"Aku juga meminta maaf karena sudah merepotkanmu. Karena mengira dirimu adalah putraku."


"Aku tidak terlalu kerepotan, memakan makanan yang tante masak setiap hari," jawab Corazòn.


Karena ia hanya bisa memandang dari sudut pandangnya saja. Selama menjadi anak palsu dari wanita itu.


Wanita yang melahirkan Aves menghela nafas lega dan tersenyum. Lalu menarik Cresen ke dalam dan diikuti oleh Aves. Rasa iri saat pertama kali anak itu dekat pada mamanya tidak ada lagi.


Sampai di meja makan, mama Aves segera mengeluarkan makanan dari lemari makan. Dan dibantu oleh Aves. Tidak tahu kenapa Corazòn merasakan sesuatu yang membuatnya hatinya terganggu.


Perasaan itu semakin jelas saat melihat kedekatan Aves dan mamanya. Kemudian ia pun tampak seperti akan menangis. Pada saat itu Aves tidak mengerti kenapa anak itu ingin menangis. Ia mengira itu karena makanan yang ada di dalam piring.


"Hei, jangan menangis. Aku akan menambah makanannya untukmu," ujar Aves. Sambil menuangkan makanannya sendiri ke dalam piring Corazòn.


Corazòn tampak seperti anak yang batal menangis karena keinginannya terpenuhi. Melihat hal itu Aves memikirkan ide usil dengan menukarkan piring kosongnya. Mengambil piring Corazòn yang telah terisi penuh.


Melihat hal itu mama Aves menepuk punggung tangan putranya. Sedangkan Corazòn yang tadinya seolah batal menangis menjadi benar-benar menangis. Aves tertawa senang. Lalu memberikan piring yang terisi penuh itu.


Ia merasa seperti punya mainan baru. Dan berpikir alangkah serunya jika ia punya adik laki-laki.


"Sudah, jangan menangis. Aku hanya bergurau. Ayo makan yang banyak. Biar Kamu tumbuh tinggi sepertiku," bujuk Aves sambil tertawa kecil.


Sementara mamanya menggelengkan kepala menatap putranya. Kemudian ikut membujuk Corazòn makan. Namun anak itu tidak berhenti menangis. Ia justru semakin menangis sesenggukan.

__ADS_1


Walau sesaat ia berhasil diam dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Lalu ia kembali menangis dengan mulut penuh makanan. Sesaat ia terdiam kembali, mengunyah makanannya perlahan. Tapi ia kembali menangis setelah menelan makanan itu.


"Ada apa? Kenapa menangis lagi? Apa makanannya terlalu pedas?" tanya mama Aves.


Aves mengambil tisu yang ada di hadapannya lalu membersihkan cairan yang hampir menetes ke bibir Cresen.


"Hah... anak ini. Kepribadiannya benar-benar sulit ditebak. Menangis seperti bayi saja," gumam Aves.


"Sudahlah... ayo makan yang benar. Nanti Aku beri hadiah jika makanannya sudah habis. Ayo katakan, Kamu mau hadiah apa?"


"Aku... mau mamaku..." jawab Corazòn makin menangis.


Mama Aves dan Aves akhirnya sadar kalau anak itu iri. Ia juga ingin mendapat perhatian dari mamanya. Sayangnya perhatian mama Aves tidak bisa menggantikan perhatian dari mama Corazòn sendiri. Anak itu tetap menangis sampai suapan terakhir.


Walau saat makan ia didampingi oleh Mama Aves dan Aves sendiri. Seolah seorang bayi yang sedang dirawat oleh dua pengasuh. Di mana yang satu menyuapi sementara yang lain membujuknya.


Setelah selesai makan Corazòn pun berhenti menangis. Aves memberinya sebuah jeruk yang belum dikupas. Corazòn mengambil jeruk itu lalu mengupasnya. Melihat anak itu sudah tenang, barulah Aves dan mamanya makan.


Mereka pun hanya bisa diam saja saat melihat Corazòn sibuk dengan kegiatannya. Ia mengupas semua jeruk yang ada di keranjang buah. Lalu meletakkannya di meja. Setelah semua terkupas ia pindah ke pisang. Lalu melakukan hal yang sama pada pisang-pisang tersebut.


"Aku sudah keyang," jawab Corazòn.


Meski ia menjawab dengan santai, tapi ia tidak menoleh sedikitpun pada lawan bicaranya. Corazòn mengupas kulit pisang dengan wajah yang sangat serius. Dan sangat hati-hati. Seolah ia takut melakukan kesalahan saat mengupas pisang tersebut. Tapi ia tidak memakannya.


"Lalu untuk apa Kamu mengupas semuanya?" tanya Aves sekali lagi.


"Untuk kalian berdua. Bukankah kalian tidak bisa mengupasnya, jadi biar Aku yang mengupaskan untuk kalian," kata Corazòn.


Setelah berkata demikian, ia pun memungut jeruk-jeruk itu satu per satu. Lalu meletakkannya di piring Aves dan mamanya secara bergantian. Lalu ia melanjutkan hal yang sama pada buah pisang yang ia kupas.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Corazòn saat melihat keduanya terdiam.


"Aku sudah kenyang," jawab Aves mengulang jawaban Corazòn.


Sementara mama Aves mengambil satu buah jeruk dan memakannya.

__ADS_1


"Jeruk yang Kamu kupas rasanya manis sekali," puji mama Aves pada Corazòn.


Corazòn pun akhirnya tersenyum bangga.


"Kalau Tante mau makan jeruk, beritahu Aku. Biar Aku kupaskan kulitnya untuk tante."


Mendengar jawaban Corazòn yang kekanakan Aves hanya bisa menghela napas jengkel.


"Hah... baru dipuji sedikit langsung au....!" teriak Aves yang kakinya diinjak oleh mamanya.


Lalu mamanya menatapnya dengan mata melotot. Aves pun hanya membuang muka. Ia menarik kata-kata yang menganggap punya adik laki-laki itu seru. Kini ia tahu berapa repotnya menjadi seorang kakak. Dan berterima kasih pada takdirnya yang hanya anak tunggal.


Setelah itu mama Aves menyuruh Aves dan Corazòn pergi ke ruang tamu. Sementara ia akan membereskan piring-piring dan lainnya. Bahkan saat Aves ingin membantu ia menolak.


"Tidak usah. Pergilah temani dia. Jangan biarkan tamu sendirian. Tidak sopan," ujar sang Mama.


Aves pun pergi bersama Corazòn ke ruang depan. Tapi setelah di sana keduanya tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada hal yang ingin mereka bicarakan. Sampai akhirnya Corazòn undur diri.


Tadinya kedua manik mata Corazòn merah. Tapi saat ia pamit undur diri matanya telah menjadi biru keduanya. Ternyata Corazòn tertidur setelah merasa kekenyangan tanpa Aves sadari.


"Tunggu, kalau boleh Aku tahu... bagaimana caramu mengganti warna manik matamu?" tanya Aves penasaran.


Cresen memandang Aves ia merasa sekalipun ia menjawab dengan jujur, pasti sulit bagi lawan bicaranya untuk menerimanya.


"Aku melakukan sihir," ujar Cresen kemudian.


Aves terpelongo. Lalu mengernyitkan keningnya, tertawa perlahan lalu semakin terbahak. Dan terdiam. Menghela napas.


"Ah, sudahlah. Harusnya Aku tidak menanyakan hal itu. Oh iya Kamu mau pulang, kan? Apa perlu kuantar? Tunggu, Aku panggil mama dulu. Ma... Corazòn mau pulang...!"


"Pulang? Corazòn mau pulang?" tanya wanita itu. Yang ternyata sudah selesai membereskan peralatan makan.


"Iya tante. Saya permisi dulu," jawab Cresen dengan tenang.


Membuat wanita itu membelalakkan matanya. Karena hanya dalam waktu singkat, anak cengeng saat di meja makan menjadi sangat dewasa.

__ADS_1


__ADS_2