
"Cresen!" panggil anak itu pada jiwa lain yang bersemayam di tubuh tersebut.
Tidak ada jawaban. Dan ia pun mencoba memanggil sekali lagi. Tapi tetap saja tidak ada jawaban. Maka akhirnya ia pun bertanya kepada papanya.
"Pa, kenapa Cresen tidak muncul?" tanya Corazón.
"Apa maksudmu?" tanya Pantera Tigris.
Corazòn pun menceritakan bahwa biasanya, Cresen akan memperlihatkan tanda kehadirannya. Tapi saat ini Nicorazòn tidak merasakan tanda-tanda kehadiran dari Cresen. Meskipun ia sudah memanggil anak itu berkali-kali.
Panthera Tigris tidak mengerti soal raga dan jiwa-Jiwa yang berada di dalam tubuh Cresen. Jadi ia bingung. Lalu menjawab sebisanya.
"Mungkin dia sedang tidur," jawab Pantera Tigris. Mendengar jawaban Papanya anak itu mahalan nafas.
"Tapi ini sudah lebih dari sehari dan sudah berhari sejak kami pergi dari pulau," jawab Corazòn. Pantera Tigris hanya bisa mengenyitkan keningnya.
"Apa mungkin panthera Leo tidak bisa muncul karena jiwanya telah dimakan oleh penunggu laut?" tanya anak itu tiba-tiba dan membelalakkan matanya.
Seketika ia merinding memikirkan jika Cresen hilang di tengah laut, saat mereka sedang berada di perairan. Corazòn merasa bersalah karena tidak menyadari saudaranya telah hilang, dan sudah berhari-hari. Ia pun menjadi cemas. lalu berlari meninggalkan papanya menuju pantai.
"Corazòn, kamu mau ke mana?" tanya Pantera Tigris. Namun Anak itu tidak menggubrisnya, dan terus berlari hingga sampai ke bibir pantai.
"Cresen! Cresen...! Di mana... kamu...! Cresen... jawab Aku...!"
Yang dipanggil masih belum juga menjawab. Dan semua membisu. Air di lautan, pasir dan awan, serta angin bahkan terasa seperti, sedang mengabaikan pertanyaan anak itu.
Anak itu mengulang teriakannya dan kali ini ia sudah mulai menangis.
"Cresen...! Panthera Leo...!" Anak itu mulai putus asa.
Pupil matanya melebar dan warna maniknya semakin gelap. Cuaca juga mengikuti suasana hati anak tersebut. Rasa marah pada lautan. Sebab ia mengira kalau lautanlah yang mengambil jiwa saudaranya.
"Kembalikan saudaraku...!" teriaknya.
Air laut terguncang, angin berhembus dengan kencang. Seketika suasana di pulau tampak akan datang badai topan yang dahsyat. Orang-orang ketakutan.
"Cresen... Panthera Leo... di mana Kamu...! Aku akan datang menolongmu. Aku tidak akan mengambil catatanmu. Tidak akan berebut denganmu. Aku juga akan mendengar kata-katamu...! Jadi kumohon... datanglah. Cresen...! Apa Kamu mendengarku...!"
Di pulau, orang-orang yang berada di latai teratas gedung menatap ke arah laut. Penuh rasa takut. Seseorang melaporkan akan ada gelombang besar. Kepanikan terjadi. Semua orang bersiap dengan skenario terburuk.
__ADS_1
Bahkan orang-orang yang ada di laut segera menepi secepatnya. Lalu berlari menuju rumah untuk menemui keluarganya. Kakek yang merasakan fenomena tidak biasa ikut merasa khawatir.
"Apa terjadi sesuatu pada cucuku?" tanyanya pada diri sendiri.
Panthera Tigris menyadari kejadian alam itu berhubungan dengan putranya ikut merasa cemas. Ia ingin bangun dari tempat tidurnya.
"Tuan, jangan khawatir. Saya akan mendorong benda ini keluar. Anda tidak perlu panik." Seorang dokter berusaha menenangkan Panthera Tigris.
Sementara di tepi pantai, ada yang melihat sesuatu yang aneh mengitari tubuh Cresen. Seolah sebuah pusaran angin menjadi dinding yang membentenginya.
"Hei Nak! Kembali...! Badai akan segera datang...!" teriak seorang pria.
Meski telah berulang-ulang memperingatkan, Cresen tetap tidak bergeming. Awan gelap meneteskan air hujan dan petir pun saling menyambar di langit. Membuat pria itu memilih pergi.
"Corazòn... hentikan semua itu. Kenapa Kamu berisik sekali...?"
Sebuah suara mengubah segalanya. Hujan tiba-tiba berhenti. Langit perlahan cerah kembali. Bahkan ombak di laut bergerang lebih tenang.
Pusaran angin menghilang. Kini warna manik mata Cresen berwarna biru dan merah di waktu yang sama.
"Cresen! Kamu tidak ditelan laut?" tanya Corazòn.
Corazòn menangis. Ia menyadari kalau ia tidak ingin kehilangan saudaranya. Dan saat itu kakek tiba di tepi pantai bersama Aves.
"Cresen...!" teriak kakek begitu ia melihat cucunya.
"Kakek," jawab Cresen. Lalu menoleh.
Seluruh mata berubah menjadi biru. Ia pun memalingkan tubuh lalu melihat kakek turun dari kendaraan beroda empat. Cresen berlari dan memeluk kakek yang datang padanya.
"Aku merindukan Kakek," katanya.
Aves turun dan mendekat secara perlahan.
"Apa semua baik-baik saja?" tanya pria itu.
Mengingat hubungan Cresen dan kakek selama ini tidak baik, cukup aneh bagi Aves melihat mereka berpelukan.
"Ya... semua baik-baik saja..." jawab kakek tanpa menoleh.
__ADS_1
Aves memandangi sekitar. Hanya ada bekas tiupan angin kencang. Namun entah kemana sekarang angin itu berada. Menghilang begitu saja. Pria itu menatap langit. Lalu melihat lautan.
"Aneh!" gumamnya.
Kakek dan Cresen sudah saling melepaskan. Pria tua itu mengajak cucunya ke rumah sakit. Untuk melihat pria besar yang ada di atas ranjang.
"Panthera Leo..." gumamnya penuh arti. Seolah ia menyadari sesuatu telah terjadi.
Dan semua orang tiba-tiba tertawa mengingat kepanikan mereka tadi. Sambil menggelengkan kepala.
"Ya ampun... sebenarnya apa yang terjadi?"
"Ini hal teraneh yang pernah Aku lihat."
"Di mana angin kencang dan awan hitam tadi? Kalau dilihat seolah akan terjadi hujan badai yang memakan waktu lama."
Segala ucapan terlontar dari bibir setiap orang. Sambil memandang sekitar. Masih belum percaya dengan apa yang terjadi.
Kendaraan yang ditumpangi Cresen pun tiba di rumah sakit. Dengan segera Cresen turun dan mencari papanya. Dan saat melihat pria itu ia pun tersenyum. Mempercepat langkahnya lalu sedikit berlari memeluk pria besar itu.
"Papa, Kamu baik-baik saja?" tanya Cresen.
"Ya Papa baik-baik saja. Apa yang terjadi?" tanya pria besar. Mata Cresen kembali menjadi berwarna merah dan biru saat itu juga. Anak itu menghela napas terlebih dahulu. Lalu duduk di samping pria itu.
"Tidak ada yang terjadi. Ternyata Panthera Leo tidak dimakan oleh lautan," jawab Corazòn dengan cepat. Lalu meniupkan udara dengan bibirnya. Seolah ia merasa sangat lega.
"Oh, ya? Lalu di mana Kamu menemukannya?" tanya pria besar itu.
"Di sini, di dalam tubuh ini," jawab Corazòn sambil memegang dadanya dengan tangan kanan.
Mata Cresen kembali menjadi berwarna biru. Dan ia tersenyum. Lalu wajahnya kembali serius. Lalu tampak sedih dan hampir menangis.
"Maafkan Aku papa," sesalnya dan memeluk pria besar itu sekali lagi. Air matanya menetes.
"Kenapa meminta maaf?" tanya pria itu. Lalu merangkul putranya dengan lembut.
"Karena saat Papa terluka, Aku juga ada di sana. Tapi Aku malah hanya diam saja. Dan tidak melakukan apa-apa. Sebab Aku takut. Jika saat itu Aku mencoba menguasai tubuh ini. Maka Aku akan memakainya secara paksa di kemudian hari. Mungkin akhirnya Aku juga akan menjadi manusia yang tamak," jawab Cresen penuh sesal.
"Apa...?! Jadi...! Selama ini Kamu melihat semuanya?! Tapi diam saja. Cresen...!" teriak Corazòn kesal.
__ADS_1